
Dua hari setelah pertemuan di restoran, David meluangkan waktu datang ke apartemen, untuk menemui Lia, selama dua hari ini pekerjaannya sangat sibuk di rumah sakit, belum lagi ada salah satu temannya yang sakit, jadi dia harus menggantikan tugasnya.
Sesungguhnya hati David merasa tak tenang memikirkan kejadian saat di resto dengan Lia, namun apa mau di kata, dia memang belum bisa menemui mantan pacar nya itu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
David memencet bel yang berada di sisi kanan pintu apartemennya, berkali kali di pencet namun sama sekali tak ada respon atau tanda tanda pintu akan di buka, tak habis akal, David juga beberapa kali menghubungi ponsel Lia, namun juga tak ada respon, ponsel Lia tidak aktiv.
Dengan ragu ragu David mengeluarkan kunci cadangan yang dia pegang, sebenarnya dia bisa saja masuk dari tadi, tapi dia juga menghargai privasi Lia, karena bagaimana pun wanita itu yang sekarang menempati apartemennya itu, meski kepemilikan nya masih atas nama dirinya.
Di dorong rasa penasaran dan takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan di dalam sana, David terpaksa menggunakan kunci cadangannya untuk membuka pintu apartemen nya yang tertutup rapat dan terkunci itu.
Pelan pelan David mendorong pintu,
"Li,,, Lia,,, kamu di dalam ?" panggil David dengan ragu melangkah masuk.
"Li,,, aku masuk ya !" seru David lagi, takutnya Lia sedang melakukan kegiatan pribadi seperti mandi atau sedang berbusana kurang pantas dalam menemui tamu.
Namun masih juga tak ada jawaban apapun dari dalam ruangan itu.
'Mungkin Lia sedang ke luar, atau ke mini market bawah,' pikir David dalam hati.
Seluruh ruang apartemen terlihat sangat rapi, seperti tak terjamah manusia, saat David mendudukan dirinya di sofa panjang ruang tengah, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah amplop berwarna biru muda dengan sebuah bolpoin di atasnya.
Karena merasa penasaran, David meraih amplop itu dan dia merasa sangat terkejut karena di muka amplop itu tertulis namanya.
Untuk : David
Seperti itu tulisan yang tertera di sana.
__ADS_1
Dengan tangan yaang sedikit gemetar, David membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas berisi tulisan tangan Lia.
David,
Bila kamu membaca surat ini, berarti aku sudah pergi dari apartemen mu, maaf jika aku tak berpamitan secara langsung pada mu.
Aku hanya belum siap bertemu dan berbicara dengan mu.
Tentang hal yang ingin aku sampaikan saat itu, sebenarnya aku ingin menyatakan perasaan cinta ku pada mu, namun sepertinya aku terlambat karena ternyata kamu sudah menemukan pelabuhan hati mu yang baru.
Tapi tak apa,,, jika saat itu aku bersikap kekanakan dan marah pada mu, sesungguhnya itu hanya karena aku kecewa dan marah dengan perasan ku sendiri.
Bagaimana pun, terimakasih, kamu selalu baik pada ku, dan aku doa kan semoga kamu bahagia bersama kekasih baru mu, sekali lagi,,, terimakasih dan maaf !
Begitu kira kira isi surat yang di tulis Lia untuk David, yang membuat pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
David mengingat ingat siapa saja teman atau saudara Lia yang mungkin dia datangi, tapi karena dia sedang panik jadi tak bisa berpikir apapun.
Alih alih mencari Lia di tempat saudara atau temannya, David justru malah meninggalkan apartemennya dan bergegas menuju tempat tinggal Andra dan Mita, setidaknya hanya itu yang dapat David pikirkan.
Mita mengerutkan keningnya heran saat membuka pintu setelah mendengar beberapa kali bel berbunyi dan mendapati David berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat seperti kebingungan.
"Kak David ?" cicit Mita.
"Sorry Mit, aku ganggu ya ? Apa Andra ada ? Aku ada sedikit perlu dengannya !" ucap David yang ternyata kedatangannya adalah untuk mencari Andra bukan untuk mencari dirinya, hampir saja Mita merasa ke ge er an.
"Ah,,, Andra ? Ada, masuk Kak !" ajak Mita mempersilahkan mantan pacarnya itu untuk masuk.
__ADS_1
"Siapa Mit ?" ucapan Andra terhenti saat matanya menangkap sosok David tengah berdiri di ruang tamunya, pikiran Andra sudah mengarah pada hal yang tidak tidak,
Untuk apa David masih mencari pacarnya, bukankah dia sudah punya kekasih baru ? batin Andra sedikit merasa tak suka dengan kehadiran David di tempatnya.
"Ndra aku ada perlu dengan mu !" kata David yang sepertinya bisa menangkap rona ketidak sukaan atas kehadirannya.
"Aku ? Kau mencari ku ?" tanya Andra seakan tak percaya, rasanya mereka tak punya kepentingan apapun satu sama lain.
"Lia pergi,!" ucap Andra to the point.
"Maksudnya ?" Andra merasa tak mengerti dengan arah pembicaraan David.
"Lia pergi, dan tak bisa di hubungi," David meyodorkan surat yang di tulis Lia untuknya agar dibaca Andra juga,
Mita beringsut mendekati Andra dan ikut membaca tulisan tangan Lia di atas selembar kertas itu.
"Lantas apa hubungannya dengan ku ? Bukankah ini masalah kalian ? Aku tak ingin ikut campur atau melibatkan diri dalam masalah ini, terutama yang bersangkutan dengan Lia," ucap Andra setelah selesai membaca surat dari LIa untuk David itu.
"Ndra, tolonglah, bantu aku untuk mencari Lia, dia sudah tak punya siapa siapa lagi, dia hidup sendirian, meskipun kita sudah tak ada hubungan lagi dengan nya, bukankah kita semua masih berteman ?" Bujuk David yang yakin dirinya akan kewalahan jika mencari Lia sorang diri, belum lagi kekasihnya bisa saja cemburu dengan Lia, secara dia tau kalau Lia pernah menjadi kekasihnya dan hampir menikah.
"Ndra, gak ada salahnya ikut bantu mencari Lia, kasian Ndra, dia juga temen kita, kan ?" ucap Mita yang merasa iba pada Lia setelah membaca surat yang di tulisnya itu.
Mungkin saat ini Lia sedang merasa putus asa atau bahkan terpuruk sendiri, walaupun mungkin tak bisa membantu banyak, paling tidak kehadiran teman di sisinya akan membuat dia merasa tenang dan tak merasa sendiri, itu yang di pikir Mita saat ini, mungkin itulah kelemahan Mita, selalu tidak tegaan, atau mungkin itu salah satu kelebihannya yang selalu peduli pada teman terlepas si teman itu pernah menyakiti atau bahkan menjahatinya, dia akan dengan mudahnya memaafkan.
"Tapi,,," protes Andra sepertinya kali ini pikiran nya tak sejalan dengan kekasihnya itu, namun melihat Mita dan David yang sepertinya benar benar begitu menghawatirkan Lia, hatinya sedikit terketuk juga.
Jujur saja, rasa kesalnya pada Lia sebenarnya masih ada dan mengganjal di hati Andra atas perbuatan Lia padanya, namun karena Mita yang terus membujuknya untuk bertemu dan memaafkannya, dia akhirnya luluh dan mengikuti saran kekasihnya.
__ADS_1
"Andra, aku mohon, aku takut Lia berpikiran pendek, bantu aku menemukannya, kamu kan satu jurusan dengannya, pasti tau siapa saja teman temannya yang mungkin dia datangi," David tak kenal lelah membujuk Andra yang sepertinya masih menimbang nimbang apa dia harus membantu atau tetap pada pendiriannya untuk tak lagi berurusan dengan Lia lagi.