Sahabat,I Love You !

Sahabat,I Love You !
Cinta yang Tak Terucap


__ADS_3

Lia masih memegangi lengan kiri David, menahannya untuk tetap di tempat duduk dan mendengarkan apa yang akan di sampaikan nya, tak pedulimeski di sana masih ada Andra dan Mita, hatinya sudah tidak bisa menahan lagi untuk mengutarakan semua perasaannya.


"Ada apa, Li ?" tanya David seraya tersenyum lembut.


Semakin meleleh saja hati Lia di perlakukan lembut dan di suguhi senyuman manis oleh pria berwajah oriental itu.


"Emhh,,, ada hal pentng yang ingin aku sampaikan pada mu, tapi aku masih harus mengumpulkan keberanian dulu sebentar untuk mengatakannya pada mu," kata Lia sambil menghela nafas dalam beberapa kali.


"Baiklah, sepertinya ada hal serius yang harus kalian bicarakan, sebaiknya kami permisi pulang duluan," pamit Andra yang merasa sepertinya kehadiran dirinya dan Mita akan mengganggu pembicaraan penting antara Lia dan David.


Namun baru saja Andra dan Mita berdiri dari tempat duduknya, justru David yang kini menahan langkahnya,


"Tunggu, aku juga ingin memperkenalkan seseorang, tuh dia sudah daang orangnya !" tunjuk David pada seorang wanita yang baru saja datang dan mendekat ke arah meja tempat mereka berkumpul.


"Hai sayang, maaf apakah aku sangat terlambat ? Tadi ada pasien urgen," selorohnya seraya menganggukkan kepala dengan sopan kepada semua orang yang ada di tempat itu.


Andra dan Mita membalas anggukan kepalanya dan balik tersenyum pada wanita berwajah manis itu, dari caranya memnggil David dengan sebutan 'sayang' sudah bisa di pastikan kalau itu adalah kekasih David yang baru yang ingin dia perkenalkan pada mereka.


Satu satunya orang yang terlihat syok dan tampak sangat kaget di tempat itu hanyalah Lia, wajahnya menegang dan mematung seketika.

__ADS_1


"Perkenalkan semuanya, ini Siska, dia pacar ku," kata David seraya merangkul bahu wanita yang di perkenalkannya bernama Siska itu,


Andra dan Mita berganrian menyalami kekasih baru David itu sambil saling memperkenalkan diri masing masing.


Hanya Lia yang masih tampak terdiam denga wajahnya yang kaku.


"Hai, yang ini pasti Lia ya ? David sering menceritakan tentang kamu padaku," sapa Siska yag menyadari kalau hanya tinggal Lia saja yang tak menyalaminya, dan dia berinisiatif untuk menyapa dan mengulurkan tangan pada wanita yang berubah menjadi sangat pendiam sejak kedatangannya itu.


"Maaf, aku lupa kalau aku ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini, aku permisi pulang duluan, terimakasih atas kebaikan kalian semua, dan terimakasih juga karena sudah memberi ku kesempatan untuk tetap berteman dengan kalian semua, aku pamit !" ucap Lia mengabaikan uluran tangan Siska yang seperti merasa tak enak hati dengan sikap Lia yang seolah tak suka dengan kehadirannya di sana.


Siska menurunkan kembali tangannya, karena merasa tak ada sambutan baik dari lawan bicaranya yaitu Lia, akhirnya Siska pun terdiam.


"Sayang ?" Siska menoleh ke arah David mencari tau akan apa yang terjadi.


"Sebentar, aku akan berbicara padanya, kamu di sini dulu bersama mereka, Mit, Ndra,,, aku titip Siska sebentar !" ucap David yang lalu mengejar Lia yang melangkah cepat setengah berlari menjauh dari mereka semua.


"Li,,, Lia,,, tunggu !" panggil David saat wanita itu sudah hampir keluar dari pintu masuk resto.


Lia yang tetap melangkahkan kakinya tak bergeming, dia seolah menulikan telinganya dan tak menghiraukan panggilan David, hatinya kini terasa perih, mengapa di saat perasaannya baru saja tumbuh, harus di patahkan dan di bunuh begitu saja tanpa ampun.

__ADS_1


Ini bukan salah David atau salah siapa pun, jelas Lia tau ini salah nya sendiri yang terlalu percaya diri akan perasaannya dan perasaan David yang dia yakini masih sama, belum lagi sikap baik dan perhatian David yang seolah menumbuhkan harapan yang begitu besarnya untuk memulai kembali hubungan yang sempat terputus itu.


Namun apa mau di kata, ketika kenyataan tak sesuai harapannya, dia hanya bisa kesal, marah.


Tentu saja kesal dan marah pada dirinya sendiri yang terlalu naif dan bodoh meyakini kalau perhatian David padanya beberapa hari terakhir ini ternyata tak ada hubungannya dengan perasaannya sama sekali, terbukti dengan datangnya seorang wanita yang di perkenalkan David sebagai kekasihnya itu.


Ah,,,, malu ? Tentu saja ! Untungnya dia belum sempat menyatakan perasaannya pada David tadi, anggap saja Tuhan masih berbaik hati padanya, dia di selamatkan dari rasa malu di hadapan David, mungkin juga di hadapan Andra dan Mita.


"Lia, apa yang terjadi ?" David menarik lengan Lia agar langkah wanita itu berhenti, dan mau berbicara dengannya walau sejenak.


"Bukan kah tadi aku sudah bilang kalau aku ada urusan yang harus aku kerjakan hari ini !" Lia tak dapat menutupi kekecewaannya, terdengar dari nada bicaranya yang terdengar agak sedikit ketus.


"Tapi, bukankah tadi kamu bilang ada sesuatu hal yang penting yang ingin kamu sampaikan pada ku ?" tanya David.


"Ah, itu,,, lupakan saja ! Tak penting lagi !" ucap Lia.


"Aku akan ke apartemen nanti setelah selsai tugas, aku yakin ada yang tidak beres dengan mu !" kata David sambil memperhatikan raut wajah Lia yang terus memalingkan wajahnya darinya seolah menghindari tatapan mata lawan bicaranya dan takut kalau kalau David dapat menangkap kebohongan dan kesedihan di matanya.


"Tidak usah, aku sudah bilang bukan hal penting, dan aku juga baik baik saja !" tolak Lia segera melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan David, kemudian berlalu pergi setelah menyetop sebuah taksi yang kebetulan baru saja mengantarkan penumpang ke restoran itu.

__ADS_1


David tertunduk lesu dan mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Lia, apa yang menyebabkan wanita itu tiba tiba berubah menjadi seolah marah, padahal tadi saat berangkat ke tempat itu, wajah Lia terlihat ceria, dia juga sangat bahagia, apalagi setelah tau Andra dan Mita memaafkannya.


__ADS_2