Sahabat,I Love You !

Sahabat,I Love You !
Saran Sesat Lia


__ADS_3

Bayangan Andra dan Lia bermesraan saat dirinya tak ada pun semakin menyiksa batinnya, ingin sekali Mita berteriak dan memaki kedua orang yang sudah membuatnya berada di ambang batas kemarahannya itu.


Mita masuk ke dalam ruangan dan sengaja melewati begitu saja Andra dan Lia yang tiba tiba menghentikan kegiatan masak mereka karena terkejut akan kedatangan Mita yang mengagetkan mereka.


Mita langsung masuk ke kamarnya dan mengunci diri di dalamnya.


Andra melangkahkan kakinya hendak menghampiri Mita yang sepertinya lagi lagi salah paham padanya sebelum sempat dia jelaskan kebenarannya.


Namun Lia secepat kilat menahan lengan Andra,


"Biarkan dia tenang dulu, sepertinya dia salah paham lagi dengan kita," cegah Lia.


"Tapi,,," protes Andra.


"Percaya sama aku, perempuan kadang perlu waktu sendiri untuk meredakan emosinya dan akan membaik dengan sendirinya," kata Lia meyakinkan agar Andra percaya dengan ucapannya.


Andra yang mengira Lia memang berniat baik dan lebih tau tentang perempuan percaya saja pada kata kata Lia yang sepertinya sengaja ingin memperburuk kesalah pahaman antara Andra dan Mita dengan membiarkan mereka tak membahas masalah agar semakin berkepanjangan.


"Berarti aku hanya harus menunggu suasana hatinya sedikit membaik lalu berbicara padanya ?" tanya Andra yang kehilangan akal sehatnya akibat saking bingungnya menghadapi sikap Mita yang tak kunjung mau berbaikan dengannya.


"Tenang saja, nanti aku akan mencoba membantu mu untuk berbicara dengannya pelan pelan, kalau kamu bicara sekarang, malah bisa semakin memanas keadaannya, karena sepertinya kalian sama sama sedang spaneng sekarang," hasut Lia.


Lia lantas menata tiga buah piring berisi makanan yang di masaknya di atas meja makan, dia tau benar kalau Mita tak akan ikut makan, tapi untuk meyakinkan niat baiknya di hadapan Andra, dia tetap menyiapkan piring dan makanan untuk Mita.


"Ayo kita makan dulu !" ajak Lia, setelah sesaat sebelumnya dia mengetuk pintu kamar Mita mengajak gadis itu untuk makan bersama, namun Mita tak memperdulikan ketukan pintu kamarnya dan dia tak bersuara sedikit pun seolah tak berminat mengeluarkan suaranya baranh sedikit pun.


"Sepertinya Mita kelelahan, dan tertidur, sebaiknya kamu makan agar tak sakit, setelah ini aku akan pulang dulu, besok aku akan menemui Mita untuk berbicara," Lia menyodorkan piring dengan nasi dan lauk yang di masaknya ke hadapan Andra.


Bagai terkena ilmu hipnotis, Andra terus saja mengikuti apa yang di arahkan dan di katakan oleh Lia padanya.

__ADS_1


Tentu saja itu membuat Lia merasa berada di atas angin, dan menguntungkan posisinya saat ini yang memang mengharapkan perpisahan di antara Andra dan Mita.


Lia menikmati makan siangnya yang tertunda sampai sore hari karena menunggu kedatangan Mita yang barpu muncul sore hari, namun beruntungnya semua itu bagai menjadi berkah baginya, karena dengan begitu dia bisa merasakan kembali makan berdua dengan Andra seperti saat dulu mereka masih menjadi sepasang kekasih.


***


Sesuai saran Lia, Andra tak mengganggu Mita, dia memberi waktu untuk kekasihnya itu sendirian, bukankah kata Lia nanti juga Mita akan tenang sendiri dan mulai reda emosinya, yang penting dirinya jangan mengganggunya dahulu.


Lain cerita dengan apa yang di rasakan Mita saat ini, dia merasa sangat kecewa dengan sikap Andra yang seolah malah ikut mengabaikannya, dia merasa Andra kini berbeda semenjak dekat kembali dengan Lia, dirinya kembali tersisih seperti dulu saat mereka berpacaran.


Tapi tunggu,,, bukankah saat ini pacar Andra adalah dirinya ? Tapi kenapa justru jadi dirinya yang tersisih ?


Mita bangkit dari tidurnya dan keluar dari kamarnya, langit sudah mulai gelap saat Mita keluar dari tempat persembunyiannya, itu terlihat dari balkon yang terbuka lebar memperlihatkan langit gelap namun di penuhi cahaya bintang.


Andra tampak sedang duduk sambil menikmati kopinya sendirian, matanya tertuju pada layar ponsel yang sedang di genggamnya.


Mita sengaja menutup pintu kamarnya dengan sedikit agak kasar, agar Andra dapat mendengar kalau dirinya kini sudah keluar dari kamar.


Dada Mita makin bergemuruh, dengan menghentakan kakinya kasar dia berjalan dengan kesal menuju dapur karena tenggorokannya terasa sangat kering, namun karena dia berjalan sambil membawa emosi bersamanya, tanpa sengaja kakinya tersangkut karpet dan badan Mita limbung, tubuh Mita terhuyung dan lututnya menabrak sudut meja yang lancip sehingga darah pun mengalir dari lututnya itu.


"Awwh,,,,!" pekik Mita menahan sakit.


Andra yang sejak tadi sebenarnya menunggui Mita keluar kamar dan tak tahan ingin menyapa kekasihnya saat terdengar suara pintu kamar Mita terbuka, hanya bisa berpura pura memainkan ponselnya karena ingin memberi waktu untuk Mita sendiri, dan tak ingin mengganggunya itu langsung terlonjak dari kursi tempatnya duduk saat mendengar seperti suara benda jatuh, dan di susul pekikan Mita.


Setelah melompati kursi balkon dia setengah berlari menghampiri Mita yang kini terduduk di karpet sambil memegangi lututnya yang terlihat mengeluarkan darah.


"Mit, kamu kenapa ?" panik Andra mendekati Mita yang seperti menahan tangisnya.


Mita tiba tiba menjadi sangat cengeng, saat Andra mendekat padanya, sontak saja Mita langsung memeluk erat kekasihnya itu, entah itu karena memang lututnya yang terasa sakit, atau karena perasaan hatinya yang memang sedang berantakan.

__ADS_1


"Gue jatuh, lutut gue berdarah !" adunya persis bocah yang sedang mengadupada ibunya karena jatuh.


"Gak apa apa, tenang, ada aku, aku liat dulu luka mu ya," ucap Andra mengelus punggung Mita pelan, meski Andra juga panik dan cemas, dia tetap berusaha menenangkan kekasihnya itu.


"Kok bisa seperti ini, sih. Lukanya lebar, lebih baik di bawa ke rumah sakit saja, sepertinya ini harus di jahit," ucap Andra sambil membersihkan darah yang mengalir dari lutut ke betis Mita yang saat itu mengenakan celana pendek.


Lututnya tak hanya menabrak sudut meja yang lancip, tapi juga menghantam pecahan gelas yang tersenggol dan pecah di karpet lalu lutut Mita tak sengaja bertumpu pada pecahan gelas itu, alhasil luka di lutut Mita lumayan lebar dan dalam.


"Gak usah, biar nanti gue obati sendiri ! tolak Mita.


"Jangan keras kepala, masih banyak pecahan kaca yang belum bisa aku bersihkan di luka mu, meskipun kamu mahasiswa kedokteran, kamu tidak bisa mengobati lukamu ini sendiri !" kesal Andra, karena Mita terus menolak fi ajak ke rumah sakit.


Namun Andra tak kehabisan akal, dia lantas menyambar kunci mobilnya, lalu menggendong tubuh Mita dan membawa paksa Mita agar mau ke rumah sakit.


"Lepasin, gue cuma terluka kaki, bukan lumpuh, gue masih bisa jalan sendiri !" Mita berontak saat Andra tetap menggendongnya di depan.


"Aku tau kamu tidak lumpuh, tapi saat kaki mu terluka, biar aku menjadi pengganti kaki mu untuk sementara, kamu perlu di obati segera !" kata Andra.


"Tapi gue pengen jalan aja !" keukeuh Mita.


"Kamu gak pake sandal !" Andra bergeming, dan akhirnya Mita pasrah meski harus menahan malu karena beberapa orang yang mereka lewati saat akan turun ke basement menatapnya dengan tatapan aneh.


"Mandra, orang orang liatin kita, gue malu !" rengek Mita menyembunyikan wajahnya di dada Andra.


"Bodo amat, !" ucap Andra cuek.


***


Dukung karya othor yang baru ya kakak kakak semuanya, judulnya Bodyguard Penjaga Hati, jangan lupa like, favorit dan vote di sana ya, semoga kakak semua selalu dalam lindungan Tuhan dan sehat selalu...

__ADS_1



__ADS_2