
Dua minggu berlalu setelah pernikahan, Brayan dan Alishka berlangsung. Kini, Brayan sudah menjalankan aktivitasnya seperti biasa, dia sudah masuk kantor untuk bekerja.
"Brayan, wajahmu kenapa seperti habis dipukuli?" tanya, Arga saat melihat wajah, Brayan yang masih menyisakan bekas luka berwarna kebiruan di beberapa titik di wajahnya.
"Gak apa-apa, Pa," sahut, Brayan.
"Istrimu tidak menyiksa kamu kan? Mertuamu tidak memperlakukan kamu tidak baik kan?"
"Papa, mereka baik kok. Orang tuanya, Alishka menerima aku dengan baik dan Alishka juga, dia tidak pernah menyakiti aku meski dia tidak mencintai aku."
"Lalu kenapa dengan wajahmu? Pantas kamu selalu menolak saat, Mamamu ingin melakukan panggilan video."
"Ada beberapa orang yang berniat merampok aku, Pa. Aku melawan karena aku takut mereka menyakiti, Alishka dan karena mereka berjumlah lebih banyak dari aku, akhirnya aku kalah dan dipukuli oleh tiga preman itu," jelas, Brayan berbohong.
"Lain kali hati-hati. Lebih baik kehilangan sedikit uang daripada terluka parah seperti ini."
"Iya, Pa. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi.
" Yasudah, kerjakan pekerjaanmu dengan baik." Argadana langsung masuk ke dalam ruang pribadinya setelah dirinya selesai bicara dengan, Brayan.
*******
Di rumah, Hendra.
"Al, kamu mau kemana sudah rapi begitu?" tanya, Sandra.
"Aku mau melamar kerja, Bu," sahut, Alishka.
"Kamu tidak perlu bekerja, sekarang kan kamu sudah menikah."
"Bu, biaya sekolah aku tuh gak sedikit. Aku harus mengembalikan modal, Ayah yang sudah aku pakai untuk biaya pendidikan aku."
"Nak, sedikitpun kami sebagai orang tua tidak pernah mengharapkan anaknya membayar apapun itu yang kami pakai untuk membiayai anaknya."
"Bu, setidaknya aku bisa membahagiakan kalian dengan uang hasil jeri payah aku sendiri. Ibu jangan melarang ku karena aku akan tetap melakukan apa yang aku ingin lakukan."
"Kamu memang keras kepala. Suamimu sudah tahu tentang ini?"
"Belum. Aku belum sempat meminta izin padanya."
"Nak, istri itu harus mempunyai izin dari suami dulu sebelum melakukan apa-apa. Karena kamu belum mendapatkan izin dari suamimu jadi lebih baik kamu tidak usah pergi untuk melamar pekerjaan."
"Akhir-akhir ini, Ibu mendadak jadi ustadzah deh, setiap hari ceramah terus. Aku tuh pusing, Bu dengerinnya. Sedikit-sedikit harus patuh sama suami, mau pergi harus minta izin suami. Aku tahu itu, Bu, Ibu tidak harus memberi tahu aku setiap hari."
"Kalau kamu tahu kenapa kamu pergi tanpa seizin suamimu?"
"Aku tidak pernah menganggap dia sebagai suamiku, Bu. Dia bukan suami aku."
"Alishka, jaga bicaramu itu,"
"Lama aku bisa jadi anak durhaka kalau seperti ini terus." Alishka langsung pergi meninggalkan, Sandra di tempat itu.
Sandra menatap, Alishka dengan tatapan tak percaya. Selama ini, Alishka tidak pernah bicara keras pada kedua orang tuanya tapi setelah musibah itu datang padanya, Alishka berubah menjadi pemarah dan sering kali menolak untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mungkin kejadian itu terlalu menyakitkan dirinya sehingga dirinya berubah menjadi emosional apalagi saat melihat, Brayan terlihat dengan jelas dimatanya ada banyak sekali kebencian.
Sandra dan Hendra tidak bisa berbuat apa-apa selain menikahkan putrinya dengan, Brayan sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Alishka berlari sambil terus menangis, dia merasa kini orang tuanya sudah berubah, sudah tak menyayanginya seperti dulu lagi.
"Semua ini gara-gara laki-laki itu. Aku jadi seperti dikendalikan oleh laki-laki itu, apa saja yang kulakukan harus dengan izinnya. Aku benci laki-laki itu," ucap, Alishka didalam hatinya.
*******
Ashmita sedang mengemudikan mobilnya sendiri, hari ini dia ingin berkunjung ke rumah mertuanya, Brayan untuk sekedar bersilaturahmi untuk mempererat hubungan kekeluargaan diantara mereka.
"Semoga, Alishka suka dengan hadiah yang aku bawa ini," gumam, Ashmita.
Sebuah senyuman terukir di bibir, Ashmita. Dia berharap, Alishka dapat menerima, Brayan dengan setulus hatinya setelah dia berusaha mendekatinya dan keluarganya.
"Semoga usahaku ini bisa membuat, Alishka memaafkan, Brayan dan bisa menerima, Brayan sebagai suaminya," gumam, Ashmita.
Tak lama, Ashmita tiba di depan rumah orang tuanya, Alishka. Dia memarkirkan mobilnya lalu segera turun dari mobilnya!
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum!"
Tak lama, Sandra membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsallam. Bu Ashmita?"
"Bu Sandra, apa saya mengganggu waktu, Anda?" tanya, Ashmita karena, Sandra hanya berdiri.
"Oh, tidak Bu. Ayo masuk."
Ashmita tersenyum lalu berjalan membuntuti, Sandra!
"Silahkan duduk, saya buatkan minum dulu."
Sandra langsung melanjutkan langkahnya menuju dapurnya!
Tak butuh waktunya lama, Sandra kembali dengan membawa dua cangkir teh di tangannya. Dia menata cangkir berisi teh itu di atas meja lalu setelah itu dirinya duduk di kursi yang berhadapan dengan, Ashmita!
"Silahkan diminum."
"Terimakasih, Bu." Ashmita langsung menyeruput teh itu.
"Oh ya, Bu. Brayan dan Alishka nya ada?" tanya, Ashmita.
"Brayan sudah mulai bekerja hari ini, Bu sedangkan, Alishka sedang keluar katanya ada urusan penting yang harus dia urus."
"Oh gitu, padahal saya ingin sekali bertemu dengan mereka."
__ADS_1
"Semoga dilain waktu, Ibu bisa bertemu dengan mereka ya."
"Kelihatannya, Alishka anak yang baik ya, Bu. Semoga selamanya dia menjadi menantu saya."
Sandra tersenyum ke arah, Ashmita. "Saya juga berharap begitu, Bu. Semoga tidak ada kata berpisah diantara mereka."
"Bu apa hubungan mereka sudah membaik?"
Sandra menundukkan kepalanya lalu kembali menatap, Ashmita.
"Bu sebenarnya sampai saat ini yang saya lihat, Alishka belum juga memaafkan, Brayan."
"Gimana caranya ya, Bu biar mereka bersatu. Saya tidak ingin ada pernikahan yang kedua kalinya dalam hidup anak saya."
"Semoga mereka bisa akur, Bu."
"Oh ya, Bu Sandra saya bawa ini untuk, Ibu dan keluarga dan saya titip ini untuk, Alishka ya." Ashmita menyerah oleh-oleh yang dibawanya kepada, Sandra.
"Ya ampun, Bu terimakasih. Sebenarnya, Ibu tidak usah repot-repot gini."
"Gak apa-apa, Bu. Saya tidak merasa kerepotan kok."
Setelah itu, Ashmita langsung berpamitan setela memberikan bingkisan yang ia bawa kepada, Sandra.
Sebenarnya dia ingin sekali mengobrol dengan, Alishka dan mengenal lebih jauh lagi tentang menantunya itu tapi karena ternyata, Alishka sedang tidak ada di rumah, Ashmita harus menunda keinginannya itu.
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca. Teman-teman sambil nunggu Salah masuk kamar up lagi yuk mampir ke karya temanku yang satu ini!
ceritanya pasti seru dan gak ngebosenin. Yuk kepoin keseruan ceritanya dengan judul film bawah ini.
Judul: Istri Siri Tuan Bryant
Author: Asma Khan
Blurb: Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
__ADS_1