Salah Masuk Kamar

Salah Masuk Kamar
Salah Masuk Kamar bab 47


__ADS_3

"Siapa yang jomblo akut? Nggak ya, gue udah punya pacar," ucap Choky.


"Emang ada cewek yang mau sama lo?"


"Ada lah. Ni orangnya." Choky mengarahkan pandangannya pada Syifa.


Syifa tersenyum tipis ke arah Brayan dan Alishka.


"Jadi kalian udah jadian?" tanya Alishka.


"Baru beberapa hari yang lalu," sahut Syifa.


"Awas aja kamu ya kalau kamu mainin Syifa," ucap Alishka sambil menatap Choky tajam.


"Nggak lah. Aku serius lagian aku tahu bagaimana caranya menjaga hati agar tidak berpindah ke tempat lain."


"Baguslah kalau gitu."


Tak lama pesanan bakso yang mereka pesan sudah jadi dan sudah mulai diantarkan pada mereka.


"Punya saya mana Bang?" tanya Alishka.


"Ada, Neng tenang saja."


"Jadi kalian sudah pesan baksonya?" tanya Brayan.


"Udah lah, tinggal lo yang belum," sahut Azka.


"Kamu gak usah pesan. Ini aja," ucap Alishka pada Brayan.


Brayan tersenyum lalu duduk di depan Alishka.


"Selamat makan sayang," ucap Brayan.


Alishka hanya menanggapinya dengan tatapan tajam lalu dia kembali fokus pada baksonya.


Mereka pun mulai makan bakso bersama.


Brayan mulai melahap baksonya tapi belum sempat dikunyah dirinya langsung memuntahkan bakso itu karena kepanasan.


"Aw, awh."


"Brayan pelan-pelan. Tiup dulu nanti mulutmu melepuh," ucap Alishka sembari menyodorkan air minum pada Brayan.


Teman-temannya menatap Alishka yang begitu khawatir terhadap Brayan. Mereka merasa aneh terhadap Alishka karena wanita itu sering berubah-ubah sikap pada Brayan.


Jika tadi dia marah-marah pada Brayan, kini dia begitu khawatir dan perhatian terhadapnya.


"Sakit ya? Yang mana yang sakit? Coba aku lihat," ucap Alishka sembari mengusap bibir Brayan dengan ibu jarinya.


"Nggak, aku gak apa-apa kok. Kamu lanjut makan aja."


"Gak apa-apa gimana? Orang bakso panas kamu makan."


Brayan tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan yang belum pernah dia dapatkan dari Alishka selama ini.


"Tadi berantem sekarang romantisnya bikin iri," ucap Henny.

__ADS_1


Brayan dan Alishka menoleh ke arah teman-temannya. Mereka tidak sadar kalau ternyata mereka sedang tidak berdua saja.


Brayan nyengir kuda menyembunyikan rasa malunya sedangkan Alishka menundukkan kepalanya menyembunyikan pipinya yang merona.


"Gak usah malu. Dalam rumah tangga, perdebatan kecil itu biasa terjadi dan menjadi bumbu agar hubungan pernikahan kalian bertahan lama," ucap Azka.


"Sok tahu lo. Lo aja belum pernah menikah dan sampai sekarang masih menjadi jomblo abadi," ucap Choky.


"Azka benar. Aku sering mendengar nenekku menasihati sepupuku yang baru menikah," ucap Milla.


"Tuh bener kan. Gue juga suka denger Mama gue yang suka nasihati kakak gue," ucap Azka lagi.


"Iya, terserah kalian aja," ucap Choky.


"Kalian lanjutin makan nya. Tuh baksonya udah mulai dingin," ucap Syifa pada Brayan dan Alishka.


"Makan tuh," ucap Alishka pada Brayan.


"Kamu juga. Tadi kamu bilang kami lapar."


"Iya ini mau makan."


Teman-teman Alishka dan Brayan menatap mereka dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.


"Sebenarnya kalian saling menyayangi hanya saja kalian malu atau gengsi untuk saling mengakui," ucap Henny.


Henny memang tak pernah menyimpan apa yang dia ingin katakan. Jika kata hatinya berkata seperti itu maka lisannya juga akan berkata seperti itu pada orang yang ditujunya.


Azka menatap Henny dan sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Kata-kata kamu mewakili apa yang ada dalam hatiku," ucapnya.


Alishka dan Brayan hanya diam sambil terus memakan bakso mereka hingga setelah mereka menghabiskannya, mereka langsung pergi meninggalkan teman-temannya.


*******


Di kediaman Arga.


"Hai tante," ucap seorang gadis sambil berjalan menghampiri Ashmita yang sedang duduk di dekat kolam renang.


Ashmita menoleh ke arah suara!


"Hey, sayang. Kapan tiba di Indonesia?" tanya Ashmita dengan senyum bahagia.


Ashmita memeluk gadis itu lalu menciumnya.


"Kemarin, tante. Maaf aku baru bisa kesini soalnya kemarin aku masih capek banget."


"Gak apa-apa sayang. Mari, tante buatkan kamu minum."


"Gak usah tante, jangan repot-repot nanti kalau aku haus aku ambil sendiri saja."


Ashmita tersenyumlah lalu mengusap lengan gadis itu.


"Oh, ya Caitlyn. Bagaimana kabar orang tuamu?"


"Mommy baik-baik saja sedangkan Papi sedang sakit. Sekarang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit," jelas Caitlyn.


"Semoga Papi mu cepat sembuh ya. Maaf ya, tante gak bisa jenguk soalnya Om kamu dan Brayan masih sibuk di kantor jadi gak bisa pergi ke luar negeri."

__ADS_1


"Tidak apa-apa tante. Sudah didoakan saja, aku sudah bahagia."


Caitlyn Catarina, adalah teman masa kecil Brayan. Orang tua mereka memiliki hubungan baik, namun karena orang tuanya Caitlyn memiliki usaha di luar negeri saat usia Caitlyn menginjak tiga belas tahun mereka memilih untuk menetap di sana.


"Oh ya tante, aku boleh bertemu dengan Brayan?"


"Boleh dong tapi sekarang Brayan gak tinggal di sini, sekarang dia tinggal di rumah mertuanya."


Caitlyn menatap Ashmita tak percaya. "Apa? Mertua? Jadi dia sudah menikah?"


"Iya. Maaf ya kami tidak sempat memberitahu kalian."


"Berarti wanita tadi adalah istrinya Brayan," ucap Caitlyn didalam hatinya.


Caitlyn terdiam untuk beberapa saat, dirinya tak menyangka laki-laki yang dia harapkan kini sudah menjadi milik orang lain.


Caitlyn dan Brayan memang memiliki hubungan dekat, mereka berteman baik, meski mereka tinggal terpisah jauh tapi mereka sering berhubungan lewat telpon dan tak jarang mereka juga bertemu saat Brayan ada urusan di luar negeri atau Caitlyn yang datang ke tanah air untuk menemuinya.


Tanpa Caitlyn sadari dia menaruh hati pada teman masa kecilnya itu tapi dia tidak berani untuk mengutarakan isi hatinya sampai saat ini dia masih menyimpan rasa itu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Saat ini dia sudah terlambat untuk menyatakan cintanya karena kini Brayan sudah menikah. Cinta memang tak harus memiliki tapi kadang cinta itu egois. Meski orang yang dicintai sudah memiliki orang lain kadang ada rasa ingin mengambil dan memilikinya seutuhnya.


"Caitlyn!" ucap Ashmita.


"Caitlyn, kamu kenapa?"


Caitlyn terenyuh dari lamunannya kala mendengar suara Ashmita yang menyebut namanya berulang kali.


"Eh, iya tante. Maaf aku kurang fokus mungkin karena aku sedang banyak kerjaan," ucap Caitlyn berbohong.


"Jangan terlalu memikirkan perusahaan, sayang. Biarkan semuanya berjalan semestinya."


Caitlyn tersenyum tipis. "Semenjak Papi sakit, aku harus mengurus perusahaan karena Mommy gak bisa melakukannya."


"Sabar ya sayang."


"Terimakasih tante. Sekarang aku sudah terbiasa kok. Oh ya tante, aku permisi dulu ya, aku ada pertemuan penting dengan klien."


"Jadi kamu ke sini mau ngurus kerjaan?"


"Iya tante. Aku permisi ya." Caitlyn mencium punggung tangan Ashmita lalu pergi meninggalkan rumah mewah itu!


Setelah mengemudi selama hampir setengah jam, Caitlyn tiba di suatu tempat. Dia memarkirkan mobilnya lalu segera turun dari mobilnya itu!


Caitlyn berjalan menuju tepi danau lalu duduk di bawah pohon besar yang ada di tepu danau itu.


Dia menatap luasnya danau itu sambil melemparkan batu kerikil ke dalam danau itu.


"Brayan, aku gak nyangka kamu sudah menikah. Apa kamu tidak merasa kalau aku cinta sama kamu," gumam Caitlyn.


Tak terasa Caitlyn meneteskan air mata, dia kecewa karena kini Brayan sudah menikah dengan orang lain.


"Apa aku egois jika aku ingin memiliki kamu dan merebut kamu dari dia. Aku gak bisa melihat kamu sama dia karena aku ingin kamu bahagia bersama aku."


Caitlyn terus menangis menumpahkan kekecewaannya. Dia sengaja datang ke Indonesia hanya untuk menemui Brayan namun setibanya di tempat yang dia tuju, dia harus menelan kekecewaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2