
Dua hari setelah hari pernikahan Choky dan Syifa.
Alishka, Syifa dan dua teman mereka yang masih gadis pergi berbelanja pakaian di salah satu tempat perbelanjaan terbesar di kota mereka.
"Al, sini biar aku yang gendong bayi kita. Kamu berbelanja lah bersama teman-temanmu," ucap Brayan pada istri tercintanya.
"Memangnya kamu tidak keberatan jika harus membawa Baby Al?" tanya Alishka.
"Sayang ini anak aku, anak kita. Aku tidak akan pernah merasa keberatan meski aku harus mengurusnya seharian."
"Ooh sosweet," ucap Henny.
"Makanya nikah, jangan ngejomblo mulu," ucap Syifa.
"Nikah ... ya mau lah tapi nanti gak sekarang," ucap Henny.
"Udah, kita jalan sama-sama aja biar kita semua bisa gantian gendong Albryant," ucap Choky.
"Ya udah. Sekarang kita mau kemana dulu?" tanya Milla.
"Ke toko pakaian saja," sahut Syifa.
Mereka semua berjalan menghampiri toko pakaian yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka sekarang!
Mereka akan membeli pakaian untuk menghadiri acara pernikahan Azka dan Caitlyn!
"Kalian ambil saja apa yang inginkan nanti biar aku yang bayar," ucap Choky.
Syifa dan teman-temannya menatap Choky dengan tatapan penuh tanya.
"Ya anggap saja ini untuk merayakan pernikahan aku dengan Syifa," ucap Choky lagi sambil menatap empat perempuan yang sedang menatapnya.
"Serius lo Ky?" ucap Brayan.
"Ya serius lah. Memang kapan sih gue bohong."
Syifa memeluk Choky dengan tiba-tiba sambil berkata. "Terimakasih sayang."
Alishka, Henny dan Milla menatap Syifa dengan mata yang tak berkedip. Mereka tak menyangka Syifa yang awalnya pendiam bisa seagresif itu saat setelah menikah.
"Kalian kenapa menatap mereka seperti itu?" tanya Brayan.
"Sayang, kalau kamu iri kamu bisa melakukannya padaku," sambung Brayan pada Alishka.
"Ih, diam kamu. Aku bukan iri hanya saja Syifa jauh sangat berbeda dari Syifa yang sebelumnya," ucap Alishka.
Syifa tersenyum lalu memalingkan wajahnya, dirinya merasa malu saat tahu ternyata teman-temannya tengah memperhatikannya.
"Malu? Kenapa harus malu, kita kan udah nikah," ucap Choky pada Syifa.
"Udah ah, ayo Hen, kita cari baju yang kita suka daripada di sini liatin orang bermesraan," ucap Milla sambil berjalan ke tempat lain.
"Iya deh. Ayo kita cari mumpung dapat traktiran," ucap Henny sambil mengekor dibelakang Milla!
__ADS_1
Syifa tersenyum melihat dua temannya yang pergi meninggalkan dirinya dan suaminya.
"Udah nikah aja berani gitu ya kamu," ucap Alishka.
"Maaf ini tidak sengaja dilakukan," sahut Syifa.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu gak salah, Choky suami kamu jadi terserah kamu mau ngapain dia."
"Kalau gini gimana?" Choky mencium pipi Syifa.
"Boleh gak?" sambung Choky.
"Kamu apaan sih. Malu tahu disini banyak orang," ucap Syifa.
"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Kita bertiga mau cari kostum untuk menghadiri acara pernikahan Azka dulu," ucap Brayan.
Brayan menggandeng Alishka dan membawanya pergi berkeliling toko yang lumayan luas itu!
Mereka pun langsung mencari dan memilih pakaian mereka masing-masing di sana.
*******
Azka memeluk Caitlyn dari belakang lalu mencium pipinya.
"Kamu, ngagetin aja," ucap Caitlyn setelah melihat siapa yang datang ke rumahnya dan memeluknya dengan tiba-tiba.
"Pasti aku lah, memangnya ada laki-laki lain yang berani meluk kamu kayak gini?" Azka terus memeluk Caitlyn dengan erat.
"Untuk sekarang sih cuma kamu, kamu, dan kamu."
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Bohong. Aku lihat kamu seperti sedang cemas."
"Aku mencemaskan pernikahan kita yang tinggal dua hari lagi."
"Kenapa? Kamu ragu padaku?"
"Tidak, bukan begitu hanya saja aku deg-degan dan ada rasa yang aneh aja gitu."
"Itu karena kamu terlalu memikirkan. Bawa happy aja sayang biarkan waktu yang membawa kita kemanapun mereka ingin membawa kita."
Caitlyn tersenyum, Azka menang orang yang tidak pernah membawa semua masalah kedalam pikirannya karena itulah dia selalu bersikap masa bodo meskipun sedang ada masalah dalam hidupnya.
*******
"Farel," ucap Alishka yang baru selesai berbelanja dan hendak pulang.
"Hai Alishka, kebetulan banget kita bertemu di sini. Lama ya kita gak ketemu," ucap Farel.
Alishka tersenyum sambil menatap Farel dan Jazzline.
__ADS_1
"Dia istrimu?" tanya Brayan yang melihat Jazzline sedang mengandung.
"Iya, dia sedang mengandung anak pertama kami."
"Selamat ya Rel, aku ikut bahagia," ucap Alishka.
"Waw, lama tidak bertemu ternyata kamu sudah mau menyusul kami."
"Kenapa kamu menikah tanpa mengundang aku? Atau kamu takut aku akan merusak acaramu?" ucap Alishka.
"Bukan begitu Alishka. Kami menikah tanpa mengadakan acara mewah, hanya ada akad nikah dengan disaksikan orang-orang terdekat saja," ucap Jazzline.
"Seperti itu rupanya." Brayan meraih tangan Alishka lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Kalian mau belanja ya? Silahkan lanjutkan, aku dan Brayan sudah selesai jadi kami mau pulang," ucap Alishka dengan senyuman terbaiknya.
Bersambung
Teman-teman, mampir juga ke karya aku yang baru ya yang berjudul: Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
Cuplikan Bab:
"Ya Tuhan, semoga dialah malaikat penolongku," ucap Lara didalam hatinya.
Motor itu menepi dan orang yang mengendarai motor itu turun dari motornya lalu menghampiri Lara.
"Nona, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu?" ucap Zara sembari membalikkan tubuh Lara yang menyamping membelakanginya!
"Lara!" Zara begitu terkejut saat tahu ternyata orang itu adalah Lara~saudara kembarnya.
"Zara, sedang apa kau di sini? Pergilah Zara, pergi dari kota ini. Di sini tidak aman untukmu," lirih Lara.
"Lara apa yang terjadi padamu? Aku mencari dirimu sejak dulu, kau dari mana dan kenapa kau seperti ini?" Zara menggenggam tangan Lara dengan sangat erat dan menjadikan pahanya sebagai penopang kepala Lara.
"Zara, aku diculik oleh komplotan mafia dan dijadikan wanita penghibur mereka juga akan menjual organ tubuhku karena aku sudah tidak bisa menghasilkan uang lagi untuk mereka. Pergilah dari sini jangan pernah kau datang kota ini lagi. Aku tidak ingin kau bernasib sama denganku."
Zara mengambil buku hariannya lalu memberikannya pada Zara.
"Ambillah ini dan laporkan pada polisi setelah itu pulanglah ke negara kita," ucap Lara.
Zara mengambil buku kecil itu lalu memadukannya ke dalam saku jaketnya.
"Diamlah, aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau akan selamat, kita akan bersama-sama membalas dendam pada ."
"Aku tidak kuat lagi Zara, tinggalkan saja aku di sini."
"Tidak, itu tidak mungkin."
"Aku menyayangimu Zara, katakan pada kak Wili dan Paman juga Bibi kalau aku sangat menyayangi mereka dan sampaikan maaf ku juga." Lara menutup matanya dan bersamaan dengan itu genggaman tangannya terlepas begitu saja dari tangan Zara.
Elara Sandriana menghembuskan nafas terakhirnya dalam pangkuan saudara kembarnya.
"Lara, Lara." Zara menggoyangkan kepala Lara namun gadis itu sudah tak merespon karena nyawanya sudah terlepas dari raganya.
__ADS_1
"Lara!" Zara berteriak sambil memeluk Lara dengan erat, air matanya keluar dengan begitu derasnya.