
Alishka tersenyum ramah pada Arga lalu dia mencium punggung tangan Ayah mertuanya itu lalu dia menatap sang suami yang dari tadi terus menatapnya dengan mata yang tak berkedip satu kali pun.
"Jangan menatapku seperti itu nanti aku bisa lari," ucap Alishka pada Brayan.
"Jangan, kalau kamu lari nanti aku bisa galau," ucap Brayan.
"Kalian malah bercanda, ayo duduk," ucap Arga.
Mereka semua pun duduk dan menunggu pesanan mereka tiba.
"Al, kamu cantik banget," ucap Brayan tanpa merasa malu kepada kedua orang tuanya.
Alishka hanya diam dan tak menghiraukan perkataan Brayan.
"Alishka, kamu gak apa-apa kan kalau makan bareng Papa dan Brayan?" tanya Ashmita.
"Kenapa tidak. Brayan adalah suamiku dan Papa Arga juga Papaku kan," sahut Alishka.
"Mama hanya takut kamu tidak suka dengan keadaan ini."
"Aku baik-baik saja Ma dan kenapa aku tidak suka? Kalian semua keluarga ku kan."
"Papa sengaja ngajak kalian ke sini karena ada yang mau Papa bicarakan," ucap Arga.
"Permisi," ucap pelayan restoran yang datang mengantarkan pesanan mereka.
Pelayan itu menata makanan yang mereka pesan di atas meja!
"Selamat menikmati," ucap pelayan itu dengan senyuman ramah.
"Terimakasih," ucap Arga.
"Papa mau membicarakan tentang apa?" tanya Brayan.
"Makan dulu, tidak baik makan sambil ngobrol," ucap Ashmita.
Mereka pun langsung menakan makanan yang Arga pesan.
"Sayang kalau kamu gak suka atau tidak cocok dengan rasa makanan yang Papa pesan kamu boleh pesan lagi," ucap Arga pada Alishka.
"Nggak Pa, ini aja aku suka kok," sahut Alishka lalu mulai menyendok makanan itu.
________ ________
Saat mereka sedang makan. Farel dan Jazline baru tiba di restoran itu, mereka berdua berjalan memasuki restoran tersebut dan langsung memesan makanan setelah mereka mendapatkan tempat duduk.
"Kita makan di sini ya," ucap Farel.
"Ya, boleh," sahut Jazline.
_______ _______
Tiba-tiba nafsu makan Alishka hilang begitu saja saat dia melihat Farel sedang duduk berdua dengan wanita lain, entah kenapa dia merasa tidak suka melihat Farel bersama dengan wanita lain.
Alishka terus menatap ke arah Farel dan wanita yang tidak dia kenali itu.
Hatinya sakit saat melihat orang yang dia cintai mempunyai wanita lain padahal dia sendiri tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa bersatu lagi. Di dalam hatinya, Alishka menangis pilu.
__ADS_1
Brayan menyadari istrinya itu berhenti memakan makanannya, dia menatap Alishka dan ternyata Alishka sedang memperhatikan sesuatu.
Brayan mengikuti arah pandangan sang istri dan dia langsung mendapati Farel yang sedang makan berdua dengan seorang wanita.
Brayan menggenggam tangan Alishka lalu mengelus nya dengan lembut.
Alishka beralih menatap Brayan yang duduk di sampingnya lalu dia menundukkan kepalanya. Ada rasa bersalah karena dia sudah bersikap seperti itu di depan suami dan keluarganya tapi dia sendiri tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa didalam hati kecilnya masih tersimpan cinta untuk Farel.
"Pa, Ma. Aku mau ke toilet sebentar ya," ucap Alishka.
Setelah selesai makan, Alishka meminta izin untuk ke toilet sebentar.
Alishka langsung pergi ke toilet!
Sesampainya di dalam toilet, Alishka tidak melakukan apa-apa dia hanya menangis mengeluarkan semua air mata nya yang dari tadi dia tahan agar tidak keluar.
Setelah beberapa saat, Alishka membasuh wajahnya agar dia tidak terlihat seperti habis menangis lalu dia keluar dari toilet itu.
Saat dia membuka pintu itu dia langsung melihat Farel yang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding.
"Farel," ucap Alishka.
"Aku tahu kamu menangis di dalam sana," ucap Farel.
"Tidak, aku tidak menangis." Alishka berbohong.
"Aku tahu Alishka. Beberapa lama kita bersama dan selama itu pula kamu tidak pernah berhasil membohongi aku."
Alishka menundukkan kepalanya, dia tidak ingin menampakkan wajahnya pada Farel.
"Alishka, kamu sendiri yang mengakhiri hubungan kita. Dia adalah kekasihku yang baru, aku harap kamu bisa menerima ini. Aku tahu kamu masih menyimpan rasa cinta itu untukku karena aku masih bisa merasakannya dan aku juga tahu kamu juga pasti masih merasakan cinta dariku."
"Karena aku kalian harus berpisah tapi aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain mempertahankan Alishka bersamaku. Jujur aku sudah mencintai Alishka dan aku semakin tidak ingin jauh dari dia setelah aku tahu Alishka hamil anakku," ucap Brayan yang baru tiba di tempat itu.
Karena Alishka begitu lama di toilet, Brayan merasa khawatir dan akhirnya dia menyusul Alishka ke toilet untuk memastikan Alishka baik-baik saja.
"Brayan," ucap Alishka dan Farel.
"Maaf tadi gak sengaja aku mendengar percakapan kalian. Farel, apa aku egois jika aku ingin memiliki Alishka sepenuhnya? Apa aku termasuk suami yang kejam karena tak menuruti permintaan istrinya?"
"Brayan apa yang kamu bicarakan? Kamu adalah suaminya Alishka sedangkan aku ... aku hanyalah mantan kekasihnya. Kamu lebih berhak atas dia dan lagi kami sudah memutuskan untuk hidup masing-masing, aku dengan kehidupan ku dan Alishka dengan kehidupannya."
Alishka mengusap air matanya yang tak terasa menetes membasahi pipinya.
Alishka memeluk Farel dengan erat! Dia tak menghiraukan Brayan yang sedang berdiri di sampingnya.
Tidak ada kata yang terucap dari mulut Alishka ataupun Farel, mereka saling memeluk satu sama lain.
Brayan tidak bisa melarang mereka meski sebenarnya dirinya merasa cemburu.
"Aku bahagia bersama Brayan, semoga kamu bahagia dengan dia," ucap Alishka setelah dirinya melerai pelukannya.
"Ayo Alishka kita pergi! Mama dan Papaku sudah menunggu," ucap Brayan sembari meraih tangan sang istri lalu membawanya pergi dari tempat itu.
Farel hanya diam sambil terus menatap kepergian Alishka dan Brayan.
"Mungkin mulai saat ini kita harus mengubur dalam-dalam kisah cinta kita yang indah ini," gumam Farel.
__ADS_1
Farel pun segera pergi untuk menemui Jazline yang dari tadi sedang menunggunya!
______ _____
"Kamu lama banget di toilet, kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya Ashmita.
"Aku baik-baik saja Ma, tadi cuma mual sedikit," sahut Alishka.
"Ya sudah sini duduk lagi."
Brayan dan Alishka pun ikut duduk lagi bersama Arga dan Ashmita.
______ _______
"Jazline, kita pulang sekarang atau mau nongkrong dulu di sini?" tanya Farel.
"Kayaknya kita pulang saja deh. Aku ada urusan lain lagi," ucap Jazline.
"Ya udah kalau gitu kita pulang sekarang."
Farel dan Jazline pun meninggalkan restoran itu!
_____ ______
"Jadi Papa udah belikan rumah untuk kalian berdua. Sebenarnya rumah ini udah Papa belikan sejak beberapa bulan lalu untuk hadiah pernikahan kalian," jelas Arga.
"Rumah? Kok Papa gak bilang-bilang mau kasih rumah?" tanya Brayan.
"Iya ini baru bilang."
"Alishka, kamu mau kan tinggal di rumah kalian yang baru jadi kalian tidak perlu numpang di rumah orang tua kamu?" tanya Ashmita pada Alishka.
"Aku ikut saja kemauan Brayan, Ma," sahut Alishka dengan senyuman tipis.
"Kayaknya untuk sekarang ini nggak dulu deh Ma, Pa soalnya Alishka masih sering mual dan pusing jadi aku khawatir kalau harus ninggalin Alishka sendiri di rumah."
"Kalian boleh isi rumah itu kapan saja," ucap Arga.
"Kalau kamu mau kita pindah dalam waktu dekat, aku gak apa-apa kok sendiri di rumah kan kalau aku pusing atau mual aku bisa telpon Ibu atau Mama," ucap Alishka.
Sebenarnya Alishka belum siap untuk tinggal berdua dengan Brayan dalam satu rumah tapi dia harus berpura-pura menerima dihadapan kedua orang tuanya Brayan.
"Aku terlalu sayang sama kamu jadi aku gak mau kamu sendirian dalam keadaan hamil seperti ini. Untuk sekarang lebih baik kita tetap tinggal di rumah Ayah dan Ibu."
Alishka tersenyum tipis lalu menyedot minuman miliknya.
"Papa harap kalian bisa menerima hadiah dari Papa ini."
"Kami pasti menerimanya Pa, gak mungkin kan aku nolak pemberian Papa," ucap Brayan.
Arga melihat jam ditangannya dan ternyata sudah jan tiga belas lewat tiga puluh menit, dirinya sudah terlambat datang ke kantor sebanyak tiga puluh menit.
"Kayaknya pembicaraan kita selesai sampai disini. Papa udah telat ke kantor."
"Pa, telat sebentar gak apa-apa kan dan kalau pun Papa gak balik ke kantor gak akan ada yang bisa marahin Papa," ucap Ashmita.
"Untuk menjadi orang yang berhadiah butuh usaha dan perjuangan keras. Papa gak mau perhubungan Papa selama ini tersia-siakan."
__ADS_1
Arga memang membangun perusahaannya sendiri, dia tidak pernah menerima bantuan siapapun untuk memajukan perusahaannya karena itulah dia selalu datang dan pergi dari kantornya tepat waktu.
Bersambung