Salah Masuk Kamar

Salah Masuk Kamar
Salah Masuk Kamar bab 51


__ADS_3

"Brayan, aku mau mau bilang sama kamu kalau aku mau pulang, besok atau lusa dan mungkin aku tidak akan kesini lagi," ucap Caitlyn pada Brayan.


"Tidak kesini lagi? Kamu mau menetap di sana gitu?"


"Sepertinya begitu. Aku sudah nyaman di sana dan perusahaan aku juga di sana dan ya satu lagi. Aku punya orang spesial di sana yang gak mungkin bisa aku tinggalkan."


"Ow, sudah punya pacar rupanya kamu ya."


"Caitlyn, apa kamu yakin tidak akan kesini lagi? Apa kamu tidak mau menemui aku dan juga temanmu ini?" tanya Alishka.


"Mungkin aku akan kesini untuk menemui kalian tapi aku gak janji. Ditengah kesibukan aku mengurus perusahaan, aku gak yakin bisa kesini disetiap tahunnya."


"Dimanapun kamu berada, meski kita terpisah jauh kamu adalah temanku dan tetap akan menjadi temanku," ucap Brayan.


Caitlyn tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi aku ingin kita lebih dari sekedar teman, Brayan," ucap Caitlyn didalam hatinya.


"Kalian sudah dekat banget ya. Kalau aku jadi Brayan pasti aku sudah jatuh cinta pada gadis secantik kamu Caitlyn," ucap Alishka.


Caitlyn menatap Alishka lalu tersenyum lebar. "Kamu bisa saja Alishka."


"Iya, aku serius dan seandainya aku jadi kamu mungkin aku juga sudah jatuh cinta pada Brayan sejak dulu dan mungkin aku tidak akan membiarkan Brayan menikah dengan orang lain," sambung Alishka.


"Hey, kamu bicara apa sayang?" ucap Brayan.


"Aku memang sudah mencintainya dari dulu tapi aku bisa apa. Brayan mencintaimu dan memilih dirimu dibanding aku," ucap Caitlyn didalam hatinya lagi.


Caitlyn tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Alishka ataupun Brayan. Terlalu takut baginya untuk kehilangan Brayan seutuhnya. Baginya sekarang menjadi teman baiknya Brayan lebih baik daripada tidak sama sekali.


Caitlyn sadar, cinta menang tak harus memiliki. Mengikhlaskan orang yang dicintai demi kebahagiaan orang itu dan membiarkannya memilih kehidupan seperti apa yang dia inginkan, itu juga termasuk dalam cinta.


Saat ini memang Caitlyn belum bisa melihat Brayan bahagia dengan wanita pilihannya tapi nanti dia akan ikut bahagia melihat Brayan bahagia bersama wanita pilihannya.


Cinta memang butuh pengorbanan dan inilah yang dikorbankan oleh Caitlyn untuk orang yang dicintainya. Caitlyn yakin suatu saat dia akan mendapatkan laki-laki terbaik dalam hidupnya.


"Brayan, Alishka, aku pergi duluan ya soalnya aku ada pertemuan dengan seseorang," ucap Caitlyn.


Merasa tak tahan melihat Brayan yang terus nempel sama Alishka, Caitlyn memilih pergi dari tempat itu.


Sebenarnya dia tidak ada pertemuan dengan siapapun dan tidak ada urusan pekerjaan apapun, sebenarnya Caitlyn ke negara itu hanya untuk menemui Brayan karena dirinya sudah rindu pada laki-laki yang tak akan pernah bisa dimilikinya itu.


"Baiklah, terimakasih ya traktirannya," ucap Brayan.


"Santai saja." Caitlyn beranjak dari duduknya.


"Caitlyn, semoga kita bisa bertemu lagi ya dan semoga kita bisa berteman baik seperti hubungan pertemanan kamu dengan suamiku," ucap Alishka.


"Aku juga berharap seperti itu." Caitlyn tersenyum lebar lalu mengusap lengan Alishka.


"Aku pergi. Semoga kalian bahagia selalu dan ya selamat atas pernikahan kalian. Aku lupa mengucapkan selamat untuk kalian berdua."

__ADS_1


Mereka bertiga tertawa bersama sebelum akhirnya, Caitlyn pergi meninggalkan mereka.


Brayan menatap kepergian Caitlyn, "dia adalah teman yang baik," gumam Brayan.


"Kamu yakin kamu tidak mencintai dia?" tanya Alishka.


"Kenapa pertanyaan kamu terus kembali pada pertanyaan yang sudah aku jawab?" Brayan bertanya balik pada Alishka.


"Aku hanya ingin memastikan saja. Aku tidak mau ada luka yang lebih dalam lagi setelah kita lama bersama."


Brayan menghadap Alishka lalu membelai pipi sang istri dengan lembut.


"Tidak akan pernah ada luka pada dirimu, jangankan luka dalam luka sekecil apapun aku tidak akan pernah melakukannya padamu. Aku sudah pernah membuat luka dalam dirimu dengan susah payah aku menyembuhkan luka itu bagaimana mungkin aku menorehkan luka itu."


Alishka meraih tangan Brayan yang sedang membelai nya lembut lalu menciumnya.


"Aku pegang ucapanmu ini dan aku akan menagihnya jika suatu saat kamu melupakan kata-kata kamu ini," ucap Alishka sembari menggenggam erat tangan sang suami.


"Aku tidak akan pernah lupa dengan semua perkataan yang aku ucapkan. Sebentar lagi keluarga kita akan lebih sempurna dengan adanya seorang anak dalam rumah tangga kita." Brayan mengusap perut buncit Alishka dengan tangannya yang satu lagi.


Alishka memeluk sang suami, saat ini dia merasa sangat bahagia karena memiliki suami seperti Brayan. Dia berharap selamanya suaminya akan seperti itu.


"I love you. I love you," ucap Brayan.


"Ya ampun kok aku jadi terharu," ucap salah satu pelanggan kafe itu.


"Oh indahnya hidup dalam cinta," ucap pelanggan yang lainnya.


Awalnya Brayan dan Alishka tidak mengira bahwa para pelanggan itu berkata pada mereka, setelah mereka sadar kalau mereka tengah ditonton barulah mereka sadar perkataan-perkataan pelanggan lain itu tertuju pada mereka.


"Jangan malu, justru kalian adalah pasangan idaman yang didambakan oleh setiap orang," ucap laki-laki paruh baya yang dari tadi menyaksikan kejadian itu.


"Kamu suami idaman banget sih, Mas. Masih ada gak ya stok laki-laki seperti kamu? Kalau ada saya mau pesan satu untuk saya," ucap pelanggan wanita yang sepertinya masih gadis itu.


"Ish kamu tuh ya. Aku jadi malu kan," gumam Alishka pada Brayan.


"Aku juga, tapi gak apa-apa lah biar semua orang tahu kalau aku mencintai kamu," sahut Brayan.


*******


Caitlyn terus berjalan sambil menangis! Sebenarnya dia berat untuk menjauh dari Brayan tapi dia tidak punya pilihan lain selain menjauhinya karena dia tidak ingin dicap sebagai wanita penggoda.


Bruk!


Tiba-tiba Caitlyn menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh!


"Aw!"


Caitlyn membersihkan legan bajunya yang kotor dengan posisi masih duduk di tanah.


Seseorang menyodorkan saputangan padanya sambil berkata. "Kalau jalan jangan sambil menangis jadi nabrak kan?"

__ADS_1


Caitlyn mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang itu, dari suaranya terdengar orang itu adalah laki-laki.


Caitlyn segera berdiri saat melihat orang itu tanpa menerima saputangan yang ditawarkan padanya.


"Kenapa? Ambillah dan hapus air matamu," ucap laki-laki itu.


Caitlyn akhirnya menerima saputangan itu lalu menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


"Terimakasih," ucap Caitlyn.


"Jangan menangis laki-laki yang belum tentu akan menangisi kepergian kamu. Air mata orang secantik kamu itu sangat berharga jadi aku rasa kamu tidak perlu menangisi laki-laki gak tahu diuntung itu."


"Aku memang menangisi seorang laki-laki tapi dia bukan kekasihku," ucap Caitlyn.


Laki-laki itu tersenyum lalu menyodorkan tangannya.


"Perkenalkan nama aku Aznan Karima, siapa namamu?"


"Caitlyn," sahut Caitlyn singkat.


"Kamu mau kemana?"


"Mau pulang."


"Boleh aku antar kamu pulang?"


"Tidak terimakasih, aku bawa mobil sendiri."


"Oke, kalau gitu aku boleh minta nomor ponselmu?"


"Baru kenal sudah minta nomor ponsel?"


"Aku tidak tahu siapa kamu, siapa orang tuamu dan dimana kamu tinggal kalau aku tidak minta nomor ponselmu bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi?"


Caitlyn tersenyum tipis lalu mengambil pulpen yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi di dalam tasnya.


Gadis itu meraih tangan Aznan lalu menulis nomor ponselnya ditelapak tangan laki-laki itu.


"Aku tulis di sini saja ya, aku ada pulpen tapi gak punya buku," ucap Caitlyn.


"Boleh, aku tidak masalah jika harus mengorbankan telapak tanganku demi nomor ponselmu," sahut Aznan.


Caitlyn hanya tersenyum sambil terus menulis nomor ponselnya hingga selesai.


"Sudah selesai. Ini nomor ponselku jangan lupa kamu save ya karena aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua."


"Terimakasih, Caitlyn. Aku akan menelponmu nanti dan semoga kita bisa berteman ya," ucap Aznan.


"Semoga saja. Kalau gitu aku pergi." Caitlyn mulai melangkahkan kakinya dari tempat itu.


Aznan tetap berdiri di sana sampai Caitlyn menaiki mobilnya dan dia juga masih menatap kepergian Caitlyn sampai mobil yang dikendarai gadis itu sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Gadis yang cantik. Aku harap dia masih sendiri," gumam Aznan lalu dia mulai melangkahkan kakinya memasuki kafe itu!


Bersambung


__ADS_2