
Di rumah Hendra dan Sandra.
Setelah bertemu dengan kecuali orang tua Brayan tadi siang, Alishka sekarang sedang merasa pegal-pegal di seluruh tubuhnya.
Semenjak usia kandungannya menginjak lima bulan, Alishka memang sering merasa pegal-pegal dan sakit di bagian pinggangnya. Dirinya sudah memeriksakan kedokteran sebanyak beberapa kali namun tidak ada perubahan, dia tetap merasa pegal-pegal setelah bepergian meski dirinya pergi tidak berjalan kaki dalam waktu yang lama.
Di kamar Alishka.
Alishka duduk di atas tempat tidurnya sambil memijat kakinya perlahan.
"Ini semua gara-gara Brayan. Aku jadi penyakitan semenjak aku hamil, awas aja kalau dia pulang aku akan menyuruhnya memijat seluruh tubuhku," gerutu Alishka.
Alishka terus memukul-mukul pahanya pelan dengan tangannya sambil terus menggerutu menyalahkan suaminya.
Cklek!
Pintu kamar Alishka terbuka.
Alishka menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang membuka pintu kamarnya.
Brayan tersenyum pada Alishka saat mereka beradu pandang.
Ya, Brayan lah yang membuka pintu kamar itu. Dia baru saja pulang bekerja.
Brayan berjalan menghampiri Alishka yang kini sudah tak menatapnya lagi!
"Al, aku bawakan bakso kesukaan kamu. Kamu makan ya, baksonya aku taruh di atas meja makan," ucap Brayan dengan ramah.
"Aku gak bisa jalan ke dapur, kaki aku pegal-pegal dan pinggang ku sakit," sahut Alishka.
Soal bakso, Alishka memang tak pernah bisa menolaknya karena bakso adalah salah satu makan favoritnya.
"Mau aku bawakan baksonya ke sini atau aku antarkan kamu ke meja makan?"
"Tolong bantu aku untuk ke dapur. Aku mau makan di meja makan saja bareng Ibu."
Brayan tersenyum lalu bersiap untuk memangku sang istri.
"Kamu mau ngapain?"
"Ya mau bawa kamu ke dapur lah. Katanya tadi mau dibantuin untuk sampai ke sana."
"Aku bisa jalan sendiri tapi pelan-pelan, kamu bantu aku berjalan saja biar aku gak jatuh kalau gak kuat."
Orang hamil memang aneh, mereka sering merasakan dan sering menginginkan sesuatu yang tidak masuk akal tapi semua itu memang nyata adanya. Wanita hamil menang memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh para wanita sampai kapanpun dan akan menjadi cerita menarik dalam hidupnya.
"Masa jalan dari sini ke dapur aja gak kuat, rumah ini kan kecil banget," ucap Brayan didalam hatinya.
Brayan tak berani protes pada istrinya itu karena jika istrinya sudah marah, dia tidak akan dapat senyuman sampai besoknya lagi.
Brayan pun segera memapah Alishka menuju ruang makan!
"Al, kamu kenapa?" tanya Sandra yang melihat Alishka berjalan dengan dibantu oleh Brayan.
"Kakinya pegal dan sakit lagi Bu," jelas Brayan.
Sandra tak berucap lagi, dia menggelengkan kepalanya lalu menuang bakso yang Brayan beli saat pulang kerja ke dalam mangkuk.
"Perasaan waktu aku hamil dulu, gak se_manja ini. Apa karena aku dan Mas Hendra terlalu memanjakan Alishka sehingga sekarang dia jadi kekanak-kanakan?" ucap Sandra didalam hatinya sambil terus menuang bakso itu ke dalam mangkuk.
"Ini bakso nya," ucap Sandra sembari meletakkan bakso itu di hadapan Alishka.
Tanpa di suruh, Brayan mengambilkan air minum untuk istrinya lalu setelah itu dia ikut duduk di sana dan menunggu Alishka sampai dia selesai makan.
"Bu, kenapa gak dimakan baksonya?" tanya Brayan pada Sandra.
Brayan memang membeli bakso bukan hanya untuk Alishka saja tapi dia membelikan untuk kedua mertuanya juga.
"Ibu makan nya nanti aja, nunggu Ayah dulu."
"Memangnya Ayah ke mana? Biasanya jam segini Ayah udah pulang kerja."
"Ayah lagi ke rumah pak RT. Ada sesuatu yang mau dibicarakan."
Brayan tak bertanya lagi, dia rasa dirinya tak perlu tahu dengan urusan pribadi mertuanya itu.
"Al, aku mandi dulu ya," ucap Brayan pada Alishka.
__ADS_1
Karena Alishka masih belum selesai juga, akhirnya Brayan memberanikan diri untuk meminta izin pada Alishka kalau dirinya ingin mandi.
Setelah seharian bekerja, Brayan merasa gerah dan ingin segera membersihkan dirinya agar tubuhnya menjadi fresh lagi.
"Mandi saja. Ada Ibu yang bisa bantu aku pergi dari tempat ini," sahut Alishka.
Brayan tak berucap lagi, dia langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil handuknya!
*******
Di kediaman Melly.
"Ma, Harry mau menikahi aku," ucap Syahira.
Melly menatap putrinya dengan tatapan mata yang terbuka lebar.
"Menikahi kamu? Kamu yakin mau hidup sama dia?"
"Ma, Harry punya banyak cabang usaha kulinernya. Dia bisa menghasilkan uang yang banyak di setiap bulannya. Apa lagi yang Mama cari?"
"Dia itu tidak seperti Brayan dan keluarganya. Kamu tahu gak? Brayan itu banyak dikenal orang dan keluarganya juga sangat terpandang dan banyak disegani orang-orang."
"Ma, aku sama Brayan memang ditakdirkan untuk tidak bersama. Dia sudah menikah dan sudah bahagia dengan istrinya, cobalah Mama mengerti."
*******
Di kediaman Farel.
Farel baru saja tiba di rumahnya setelah mengantarkan Jazline pulang.
Dia berjalan memasuki rumahnya dengan wajah yang menampakkan kebahagiaan!
"Pak guru kenapa? Tumben wajahnya ceria," gumam Sisca.
Karena penasaran Sisca berjalan menghampiri kakaknya ke kamarnya!
"Permisi Pak Guru, boleh aku masuk?" tanya Sisca yang hanya berdiri di depan pintu kamar Farel.
"Masuk saja. Ada apa?"
Sisca berjalan memasuki kamar kakaknya lalu duduk di tepi ranjang.
Farel berbalik badan! Kini dia menatap adiknya dengan senyuman yang terukur di bibirnya.
"Kepo. Masih kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa."
"Kakak apaan sih. Masa gak mau membagi kebahagiaan dengan adik sendiri." Sisca mengerucutkan bibirnya lalu membelakangi Farel.
"Apa yang kamu mau tahu?"
"Semuanya. Bukannya selama ini tidak pernah ada rahasia diantara kita."
"Kakak udah putus dari Alishka dan sekarang sudah punya pacar baru lagi. Puas kamu."
"Apa! Baru aja putus udah punya yang baru lagi? Dasar laki-laki katanya cinta tapi baru cek-cok dikit langsung putus dan langsung punya pacar baru lagi."
"Kenapa kamu kesal gitu? Alishka aja biasa saja gak kayak kamu."
*******
Brayan sedang menonton televisi sedangkan Sandra dan Hendra masih didalam kamarnya setelah menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Brayan!" teriak Alishka dari dalam kamarnya.
Brayan langsung berlari ke kamarnya karena takut Alishka kenapa-kenapa!
Sandra dan Hendra yang baru saja selesai shalat itu pun langsung berlari menghampiri Alishka. Mereka juga khawatir terjadi apa-apa pada putrinya!
"Alishka ada apa? Kamu kenapa?" tanya Brayan yang baru tiba di kamarnya.
Brayan meneliti seluruh tubuh sang istri memastikan dia baik-baik saja.
Sandra dan Hendra pun datang ke kamar mereka.
"Ada apa, Nak? Teriak-teriak gitu?" tanya Hendra.
Alishka menatap Brayan lalu menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya memanggil Brayan kenapa Ayah dan Ibu juga ke sini?"
"Kamu berteriak begitu kencang. Kami pikir terjadi sesuatu sama kamu."
"Tidak, aku hanya ingin minum dan aku gak bisa pergi ke dapur karena kakiku masih pegal."
Hendra menggelengkan kepalanya, dia begitu tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran putrinya itu.
Mereka semua pun langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Alishka sendiri!
Brayan langsung menuju dapur untuk mengambilkan air minum sedangkan Hendra dan Sandra berjalan ke ruang keluarga.
Setelah beberapa menit, Brayan kembali ke kamar untuk memberikan air itu pada Alishka.
"Ini minumnya."
Alishka langsung meneguk air itu karena dirinya sudah kehausan.
Brayan duduk di samping Alishka dengan mata yang terus menatap sang istri.
"Kamu mau aku pijitin?" tanya Brayan.
"Dari tadi kek." Alishka berbaring lalu membiarkan Brayan memijat kakinya.
"Ke atas," ucap Alishka.
Brayan berpindah tempat, awalnya dia hanya memijat kaki bagian bawah saja, namun karena Alishka yang meminta dia berpindah ke bagian paha.
"Aw! Jangan keras-keras sakit tahu."
"Maaf," sahut Brayan singkat.
Brayan terus memijat dengan telaten dan penuh kehati-hatian.
"Brayan ke atas sedikit."
"Atas mana?"
Alishka terdiam dia tidak berbicara lagi, dia meraih tangan Brayan lalu mengarahkannya pada paha atasnya mendekati sesuatu bagian sensitif nya!
"Sini!" Alishka menaikkan baju daster nya hingga menampakkan sedikit pakaian dalamnya yang dia kenakan.
Brayan meneguk ludahnya kasar, entah kenapa tiba-tiba kerongkongannya terasa kering saat melihat paha mulus milik sang istri.
Meski begitu dia tetap memijatnya karena tak ingin Alishka marah padanya.
"Masih pegal?" tanya Brayan pada Alishka setelah lumayan lama dia memijat sang istri.
"Sedikit. Aku ngantuk, aku mau tidur."
Brayan menghentikan gerakan tangannya lalu dia segera turun dari atas tempat tidur itu!
Brayan menggelar kasurnya karena dia juga ingin tidur!
"Ngapain?" ketus Alishka.
"Ya ... aku mau gelar kasur lah, aku juga mau tidur."
"Nanti dulu. Pinggang ku sakit, usap-usap dulu."
Brayan duduk lagi di tempat tidur Alishka lalu mulai mengusap pinggang istrinya itu dengan penuh kesabaran.
Alishka berbaring dengan posisi miring menghadap Brayan.
"Kalau pegal tiduran saja. Dari tadi kamu duduk terus."
Brayan menuruti perkataan Alishka, dia berbaring dengan posisi miring menghadap Alishka. Sebelah tangannya terus mengusap pinggang Alishka dengan lembut.
Alishka mulai mengantuk dan merasakan sakitnya mulai berkurang. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Brayan dan mulai menutup matanya.
Merasakan hembusan nafas Alishka di lehernya, membuat Brayan merasakan sesuatu. Rasa yang hanya muncul dalam waktu tertentu, rasa yang tak bisa terpenuhi oleh orang lain selain istrinya.
Meski begitu, dia mencoba untuk menahannya karena dia tidak tega pada Alishka yang kini sedang kesakitan pada bagian tubuhnya.
Brayan terus mengusap pinggang Alishka hingga akhir dia mulai mengantuk dan perlahan gerakan tangannya melambat, matanya mulai tertutup dan akhirnya Brayan pun tertidur dengan posisi masih menghadapi sang istri dan dengan tangannya yang masih berada di atas pinggang Alishka.
Malam itu menjadi malam untuk pertama kalinya pasangan suami istri itu tidur dalam satu tempat tidur yang sama.
__ADS_1
Bersambung