
Sesampainya di Taman itu, mereka berdua langsung turun dari mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya memasuki area Taman itu!
Alishka berjalan lebih dahulu sedangkan Brayan mengekor dibelakangnya!
Setelah melihat teman-teman Alishka sedang duduk menunggunya di tempat biasa mereka berkumpul, Brayan menghentikan langkahnya. Dia hanya berdiri sembari terus melihat punggung Alishka dengan kedua tangannya yang dia masukan ke dalam saku celananya.
Karena tak mendengar suara langkah Brayan dibelakangnya, Alishka menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakng. Dia segera menghampiri Brayan setelah melihat laki-laki itu tidak bergerak di belakangnya!
"Kenapa kamu berdiri di sini?" tanya Alishka.
"Kamu pergi saja, biar aku tunggu kamu di sini saja," sahut Brayan.
"Kenapa? Kamu gak mau bertemu dengan teman-temanku?"
"Tidak. Bukan begitu, aku hanya ingin memberikanmu kebebasan saat bertemu dengan teman-teman kamu. Pergilah dan bersenang-senanglah bersama mereka."
Alishka terdiam sambil menatap Brayan, dia tak menyangka laki-laki yang menikahinya karena kesalahan itu ternyata begitu baik dan penyabar.
Selama ini dirinya selalu berbuat sesuatu yang membuat Brayan kesal agar Brayan merasa jenuh bersamanya dan akhirnya menceraikan dirinya tapi sikapnya selama ini pada Brayan tak berhasil membuat laki-laki itu melepaskannya dari ikatan tali pernikahannya. Brayan malah menjadi lebih menyayanginya apa lagi setelah tahu dirinya tengah hamil anaknya.
"Aku akan menunggumu di sini. Dan kalau kamu pusing atau kenapa-kenapa panggil aku saja ya, aku akan langsung menghampirimu," sambung Brayan.
Alishka mengangguk pelan lalu mulai meninggalkan, Brayan di tempat yang lumayan jauh dari tempat teman-temannya duduk!
Brayan menatap kepergian Alishka dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Semoga mulai hari ini hubungan kita semakin membaik, Alishka. Aku tidak akan pernah menepati janjiku untuk menceraikan kamu setelah kamu melahirkan. Aku tidak mau ada kata perpisahan diantara kita, aku akan berusaha mencintaimu dan membuatmu cinta padaku," gumam Brayan.
"Hai semuanya," ucap Alishka yang baru tiba di tempat itu.
"Hai! Al." Syifa, Henny dan Milla berdiri dan memeluk Alishka secara bersamaan.
"Aku kangen kalian. Kenapa kalian tidak pernah ke rumah aku lagi?" ucap Alishka.
Mereka membawa Alishka duduk di kursi taman lalu mulai berbicara.
"Kamu kan udah punya suami, kalau kita sering-sering ke rumahmu gak enak sama suamimu dan juga Ayah, Ibumu." Milla berbicara sembari menghempaskan bokongnya ke kursi itu.
"Kalian tega, kalian udah gak perduli lagi sama aku."
"Gak lah. Kita semua masih perduli sama kamu, buktinya hari ini kita masih bisa berkumpul di sini," ucap Henny.
__ADS_1
"Al, gimana kabar kamu dan keluarga?" tanya Syifa.
"Baik. Kami semua baik-baik saja."
"Apa hubunganmu dengan Brayan sudah baik-baik saja?" Henny menatap Alishka dengan tatapan sendu.
Alishka tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain, dia mencoba menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang di matanya.
"Ya gitulah. Namanya juga nikah sama orang yang gak dicintai."
"Sabar ya, Al. Mungkin ini sudah takdir hidupmu," ucap Syifa sembari mengelus punggung Alishka dengan lembut.
Milla memeluk, Alishka lalu berkata. "Al, aku yakin suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagiaan kamu."
"Makasih ya teman-teman, kalian memang yang paling baik dan yang paling ngerti aku." Alishka meneteskan air matanya. Dia tak bisa menahan air matanya yang sudah mengantri ingin keluar dari pelupuknya.
"Sudah, jangan bahas ini. Kita bertemu untuk bersenang-senang kan? Mari kita cerita yang indah-indah saja." Syifa menghapus air mata Alishka dengan tissue yang dia bawa didalam tasnya.
Hari sudah semakin dianggap, Abang tukang bakso yang biasa nongkrong di tempat itu sudah datang dan akan mulai berjualan.
"Bang, baksonya lima ya. Jangan pakai lama," ucap Alishka.
Belum juga Abang tukang bakso itu berhenti, Alishka sudah memesan baksonya.
"Satu lagi buat Brayan. Kali aja dia mau makan di tempat kayak gini," sahut Alishka.
"Memangnya dia ikut ke sini?" tanya Milla sambil mengedarkan pandangannya ke semua arah mencari-cari sosok Brayan.
"Siapa dia? Sampai gak mau makan bakso buatan si Abang yang enaknya pakai mantap," sambung Henny.
"Memangnya dia biasa makan dimana? Sampai segitunya," ucap Syifa.
"Kalian akan tahu nanti. Biar waktu yang menjelaskannya pada kalian."
"Kenapa harus waktu yang menjelaskannya pada kami sementara ada kamu yang sudah menjadi istrinya."
Tak lama Abang tukang bakso itu mengantarkan bakso yang mereka pesan dan Alishka segera mengirim pesan pada Brayan agar Brayan datang ke tempat itu dan makan bersama dengan mereka.
"Hen, kalau kamu mau nambah, nambah aja. Hari ini aku yang traktir," ucap Alishka.
"Eh, tadinya aku yang mau traktir kalian karena baru aja gajian," ucap Syifa.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Sekarang biar aku yang bayarin ya, aku kan satu-satunya yang udah bersuami diantara kita."
Tak lama Brayan tiba di tempat itu, dia langsung menghampiri Alishka.
"Ada apa Alishka? Apa kamu merasa pusing atau mual atau ada yang lain yang kamu rasakan?" tanya Brayan dengan penuh kekhawatiran.
Teman-temannya Aliimustofaa terdiam sambil menatap Brayan dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa laki-laki itu begitu perhatian dan sangat mengkhawatirkan Alishka seperti itu sedangkan Alishka terlihat baik-baik saja.
'Tidak apa-apa. Aku memintamu ke sini untuk makan bakso, kamu gak keberatan kan makan di tempat seperti ini?"
Brayan tersenyum lebar, dia lega karena ternyata Alishka baik-baik saja.
Alishka memang tak memberitahunya untuk makan bakso bersama, dia hanya meminta Brayan untuk segera menghampirinya.
"Tentu saja. Kenapa tidak." Brayan langsung duduk bergabung bersama mereka.
Saat Brayan hendak menyendok baksonya tiba-tiba ada pengunjung Taman yang datang yang kebetulan mengenali dirinya.
"Pak Brayan," ucap laki-laki itu.
Brayan menatap wajah orang yang menyebutkan namanya itu lalu dia segera menaruh baksonya di kursi dan berdiri!
"Pak David. Anda di sini juga?"
"Saya yang seharusnya bertanya seperti itu. Kenapa Anda di sini dan makan di tempat ini? Saya tidak menyangka orang seperti Anda bisa makan di tempat terbuka seperti ini."
"Saya di sini sedang menemani istri saya dan ya, makan ditempat seperti ini lebih enak dan juga nyaman kok."
"Saya pikir Anda akan merasa malu atau jijik makan ditempat ini tapi ternyata tidak. Ada banyak orang kaya yang saya kenal dan kebanyakan dari mereka tidak pernah mau makan di tempat seperti ini dengan alasan makanannya tidak higienis."
Tiga teman Alishka terus menyimak obrolan dua laki-laki di depannya tanpa menghiraukan baksonya yang mulai dingin.
"Bagi saya tidak ada yang kaya ataupun yang biasa, semua sama. Saat kita mati tidak ada sepeserpun harta yang kita bawa, hanya sedikit yang kita sedekahkan yang mungkin menemani kita di sana. Oh ya Pak David, Anda mau makan bakso juga?"
"Saya mau beli bakso tapi untuk dibawa pulang. Istri dan anak saya suka makan bakso Abang ini dan kebetulan hari ini mereka tidak bisa datang kesini karena ada suatu urusan jadinya saya datang sendirian ke sini."
"Kalau gitu pesan saja baksonya biar nanti saya yang bayar ya Pak."
"Terimakasih Pak Brayan."
Laki-laki itu pun langsung memesan baksonya dan membiarkan Brayan menyantap baksonya yang mulai dingin itu.
__ADS_1
Bersambung