
"Syahira! Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu biarin, Brayan pergi dan menikah dengan orang lain?" ucap, Melly ~ Mamanya Syahira.
"Ma, aku gak bisa terus berpura-pura cinta sama dia," sahut, Syahira.
"Syahira, kenapa kamu tidak berusaha untuk cinta sama, Brayan. Kurang apa sih dia dimata kamu. Dia pintar, tampan, baik dan yang lebih penting lagi dia itu anak tunggal dari, Argadana. Brayan adalah satu-satunya pewaris perusahaan milik, Argadana." Melly berucap dengan nada tinggi dan menekankan perkataannya dikalimat terakhirnya.
"Ma, cinta gak bisa dipaksakan. Aku gak bisa cinta sama, Brayan aku cintanya sama, Harry."
"Punya apa dia, Syahira? Apa dia punya seperti yang dimiliki oleh, Brayan. Apa dia punya uang, perusahaan, mobi, rumah mewah dan segalanya yang menjamin hidup kamu bahagia."
"Ma, aku gak butuh semua itu."
"Kamu butuh, Syahira. Kamu pikir penampilan kamu yang sekarang ini tidak butuh uang? Kamu pikir setiap bulan kamu pergi jalan-jalan gak butuh uang? Semua butuh uang, Nak. Menikah tanpa cinta akan membuat kamu selalu bahagia dengan adanya uang dan kekayaan yang mengelilingi hidupmu."
Syahira berdecak kesal. Selama ini dia sudah menuruti semua perkataan, Mamanya tapi sekalipun, Mamanya itu tidak pernah mendengarkan keinginannya.
Syahira mencari, Brayan bukan karena cinta tapi karena paksaan dari, Mamanya sendiri.
Melly memang mengincar, Brayan untuk jadi menantunya karena perusahaannya sudah mendekati kebangkrutan. Jika, Syahira menikah dengan, Brayan dirinya bisa menumpang hidup padanya tanpa harus memusingkan perusahaannya yang mulai bangkrut.
*******
Satu bulan lebih menjalani pernikahan tanpa cinta, bahkan selama itu pula, Alishka dan Brayan tidak pernah melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Sejak mereka menikah, Alishka tidak pernah membiarkan, Brayan mendekatinya apa lagi menyentuhnya.
Selama ini, Alishka tidak tahu siapa, Brayan dan siapa orang tuanya, Brayan yang dia tahu hanyalah, Brayan itu orang jahat.
Alishka tidak pernah mau diajak untuk pergi ke rumah, Brayan. Dia selalu menolak saat, Brayan ataupun, Ashmita mengajaknya berkunjung ke rumah keluarga suaminya itu.
"Al, aku lihat akhir-akhir ini wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya, Brayan.
Alishka yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba membanting sendok yang sedang dia pegang.
"Gak usah sok perhatian sama aku," ketus, Alishka.
Hendra dan Sandra menatap, Alishka yang sedang marah pada suaminya.
"Alishka, kamu mau kemana?" tanya, Sandra saat, Alishka bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menjauhi meja makan.
"Maafkan, Alishka ya, Nak," ucap, Hendra.
"Tidak apa-apa, Ayah," sahut, Brayan.
Mereka semua akhirnya menyudahi sarapan yang sebenarnya baru dimulai itu.
"Kalau gitu, aku berangkat kerja dulu ya, Ayah, Ibu. Aku titip, Alishka karena aku lihat hari ini wajahnya semakin pucat."
"Iya, Ibu juga tahu. Mungkin hari ini, Ibu mau ngajak, Alishka untuk periksa ke dokter takutnya ada penyakit serius yang dideritanya," ucap, Sandra.
__ADS_1
"Iya, Bu sebaiknya, Ibu ajak dia periksa. Ayah khawatir terjadi sesuatu padanya," ucap, Hendra.
Hendra dan Brayan pun mulai berjalan menuju halaman rumahnya, setelah, Brayan aktif bekerja, Hendra selalu berangkat kerja bareng, Brayan karena arah mereka sama.
"Alishka!" teriak, Sandra dari dalam rumah.
Saat, Brayan dan Hendra hendak masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba mereka mendengar suara, Sandra yang berteriak menyebut nama, Alishka.
Brayan dan Hendra pun langsung berlari memasuki rumahnya lagi! Mereka ingin melihat apa yang terjadi di dalam rumah.
"Alishka!" seru, Hendra lalu segera menghampiri putrinya yang sudah tergeletak di lantai.
Brayan langsung mengangkat tubuh, Alishka dan membaringkannya di sofa!
Sandra langsung mengambil minyak angin untuk membantu, Alishka terbangun dari pingsannya.
"Apa yang terjadi, Bu? Kenapa, Alishka bisa pingsan gini?" tanya, Hendra sembari mendekatkan minyak angin itu ke hidung, Alishka.
"Ibu gak tahu, Yah. Tiba-tiba, Alishka terjatuh gitu aja."
"Kita bawa, Alishka ke rumah sakit saja. Takutnya dia kenapa-kenapa," ucap, Brayan.
Brayan memangku, Alishka lagi dan membawanya masuk ke dalam mobilnya untuk segera dibawa ke rumah sakit!
Setibanya di rumah sakit petugas rumah sakit langsung membantu untuk membawa, Alishka masuk ke ruang pemeriksaan!
Hendra, Brayan dan Sandra membiarkan dokter memeriksa keadaan, Alishka. Mereka menunggu di depan ruangan itu.
"Aku selesaikan administrasinya dulu ya, Yah, Bu," ucap, Brayan.
Brayan langsung pergi dari tempat itu tanpa menunggu kedua mertuanya menjawab perkataannya!
*******
Di kantor.
Arga sedang menunggu, Brayan karena hari ini ada meeting pening.
"Brayan kemana? Jam segini belum dateng juga," gumam, Arga.
Sudah jam sembilan lewat lima belas menit namun, Brayan belum juga menampakkan batang hidungnya. Arga sudah beberapa kali menelpon, Brayan tapi tidak tersambung. Nomor ponselnya aktif tapi, Brayan tidak mengangkat telpon dari, Arga.
"Kemana, anak itu? Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku?" ucap, Arga.
Karena sudah telat beberapa menit akhirnya, Arga memulai meeting nya tanpa kehadiran, Brayan.
*******
__ADS_1
Di dalam ruangan tempat, Alishka diperiksa oleh dokter.
Alishka masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keluarganya yang juga ada di tempat itu.
"Dokter gimana keadaan, anak saya?" tanya, Sandra kepada dokter itu.
"Apa anak, Ibu sudah menikah?" dokter itu bertanya balik kepada, Sandra.
"Saya suaminya," ucap, Brayan.
Dokter itu tersenyum, tidak ada sedikitpun ketegangan di wajahnya.
Sandra dan Hendra saling tatap, mereka tidak mengerti dengan sikap dokter itu. Saat ini, Alishka sedang sakit tapi dokter itu malah terlihat bahagia.
"Selamat ya, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah," ucap dokter itu dengan raut wajah bahagia.
Alishka langsung mengeluarkan air matanya setelah mendengar perkataan dokter itu, tangannya meremas baju yang dikenakannya dengan sangat erat.
"Hamil?" Brayan memastikan bahwa dia tidak salah dengan.
Dalam hatinya, Brayan merasa aneh bagaimana bisa, Alishka hamil hanya dengan satu kali melakukan hubungan suami istri itupun dalam keadaan tidak sadar.
"Iya, pasien sedang hamil. Saya akan buatkan resep obatnya dulu ya." Dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan itu!
"Aku gak mau hamil! Aku gak mungkin mengandung anak penjahat ini!" Alishka berteriak sembari memukuli perutnya.
Brayan langsung menerangi tangan, Alishka agar dia tidak memukul perutnya.
"Jangan, Alishka. Jangan sakiti dirimu, Nak," ucap, Sandra yang juga sedang memegangi tangan, Alishka.
"Jangan sakiti bayi yang tidak berdosa ini, Alishka. Jika kamu marah dan ingin memukul, pukul aku saja," ucap Brayan.
"Jahat! Kamu jahat, Brayan! Aku benci kamu, aku benci kamu." Alishka menangis deras, dia tidak bisa menerima semua kenyataan pahit dalam hidupnya.
Alishka memukuli, Brayan tanpa henti dan Brayan pun menerima setiap pukulan itu dengan tanpa melawan sedikitpun.
Sandra dan Hendra tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tahu apa yang dialami oleh putrinya itu sangatlah menyakitkan tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk membela anaknya.
Brayan dan keluarganya sudah bersedia untuk bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada, Alishka dimalam itu, karena itulah, Hendra dan Sandra tidak bisa melaporkan, Brayan ke polisi.
"Maafkan aku," ucap, Brayan dengan nada pelan.
Capek memukuli sang suami, Alishka mulai berhenti, dia terdiam dengan posisi duduk di tempat semula.
Dengan keberaniannya, Brayan memeluk, Alishka dan membawanya ke dalam dekapannya!
Alishka terus menangis tapi dia tak menolak perlakuan, Brayan karena tubuhnya terasa sangat lemah.
__ADS_1
Bersambung