
Beberapa bulan berlalu, kini perut Alishka mulai membuncit, dia mulai kesulitan memilih baju yang akan dikenakannya karena semua pakaian yang dia pakai selalu terlihat tidak cocok dikenakannya.
Hari ini Alishka ingin menemui Farel untuk mengakhiri hubungannya untuk selamanya, dia ingin Farel tahu kalau dirinya tengah hamil anaknya Brayan.
Sebenarnya dirinya tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Farel karena sampai saat ini dirinya masih sangat mencintai kekasihnya itu tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengakhiri hubungannya bersama Farel karena Brayan tetap tak ingin menceraikannya.
Alishka menatap tubuhnya dari pantulan cermin yang ada didepannya, dia terus menatap dirinya sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat gendut.
Alishka menangis, dia tak bisa menahan air matanya saat mengingat masa lalu indah bersama Farel.
"Aku harus bisa melupakan kamu Farel. Aku gak mau kamu terus mengharapkan aku sedangkan aku sendiri tidak yakin bisa lepas dari ikatan pernikahan ini."
Alishka mengusap air matanya yang membasahi pipinya lalu dia meraih tasnya yang terletak di atas meja!
Alishka berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri Ibunya yang sedang menonton televisi!
"Bu, aku mau keluar sebentar ya," ucap Alishka.
Sandra yang sedang fokus menonton televisi mengalihkan pandangannya pada Alishka.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau beli sesuatu. Ibu mau aku belikan apa?"
"Tidak ada, Ibu tidak butuh apa-apa hari ini. Kamu hati-hati ya, Nak."
"Iya, Bu." Alishka mencium punggung tangan Ibunya lalu mulai pergi.
*******
Didepan komplek perumahan tempat Alishka tinggal, Farel sudah menunggu Alishka di sana. Mereka memang sudah berkomunikasi lewat chat whtsapp.
Tak lama Alishka datang, dia berjalan menghampiri Farel yang sedang duduk di atas motornya.
Farel menatap Alishka dengan tatapan tak berkedip satu kali pun, dia tak percaya dengan keadaan tubuh Alishka yang sekarang yang sudah berubah banyak setelah terakhir kali mereka bertemu.
"Alishka, kamu?" ucap Farel sambil terus menatap perut Alishka yang terlihat buncit.
"Akan aku ceritakan nanti. Ayo kita pergi dari tempat ini," ucap Alishka.
Alishka naik ke jok belakang mtor Farel lalu Farel segera melajukan motornya!
*******
Di kantor tempat Brayan kerja.
"Bengong aja. Kenapa lo?" tanya Choky yang baru tiba di kantor itu.
Seketika lamunan Brayan buyar begitu saja setelah mendengar suara Choky.
"Choky, sejak kapan lo di sini?" tanya Farel.
"Baru saja. Lo sibuk ya."
"Nggak kok, biasa aja."
"Keluar yuk."
"Emang lo gak kerja?"
__ADS_1
"Kerja lah. Lo gak liat sekarang jam berapa?"
Brayan melihat jam ditangannya dan ternyata sudah waktunya makan siang.
"Eh waktu berjalan cepat banget ya, perasaan bau beberapa jam gue duduk di sini."
"Lo nya aja yang kebanyakan bengong. Udah ayo kita makan bareng."
Choky dan Brayan pun langsung keluar dari ruangan itu dan mulai pergi dari kantornya!
*******
"Al, kamu mau bicara apa? Tumben ngajak aku ketemu," tanya Farel.
"Aku mau menyudahi hubungan kita," ucap Alishka tanpa menatap Farel.
Farel menatap Alishka lalu meraih dan menggenggam tangannya.
"Aku gak mau kita putus," ucapnya.
Alishka menatap Farel dengan air matanya yang mulai keluar dari pelupuk nya.
"Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita. Kita gak mungkin bisa bersama seperti dulu, Rel."
"Kenapa? Aku akan menerima kamu apa adanya."
"Sekarang aku hamil anaknya dia dan dia gak mungkin ngelepasin aku gitu aja."
"Katanya kalian tidak saling cinta, aku yakin dia akan menceraikan kamu setelah kamu melahirkan."
"Aku gak yakin Farel. Lebih baik kita putus saja, aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku."
Alishka menundukkan kepalanya, air matanya terus menetes betapa dalam rasa sakit yang dia rasakan tapi semua harus diterimanya karena ini memang kemauannya.
Dua insan yang saling mencintai itu harus berpisah karena terpaksa, bukan karena restu orang tua ataupun harta yang mengharuskan mereka berpisah tapi karena kesalahan seseorang lah yang mengharuskan keduanya untuk berpisah.
"Maafkan aku Farel," lirih Alishka.
Farel tak menjawab, rasa sesak atas keputusan Alishka membuat dirinya sulit berkata-kata.
––––– –––––
"Yan, liat deh!" Choky mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah arah.
Farel mengikuti arah yang ditujukan oleh Choky dan dia melihat Alishka dan Farel sedang berduaan.
"Bukannya itu Alishka ya," sambung Choky.
"Ya, dia istri gue," gumam Brayan sambil terus menatap Alishka dan Farel yang sedang duduk berhadapan dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
Entah kenapa dirinya merasa dirinya tak menerima keadaan itu seperti ada rasa cemburu dalam hatinya saat melihat mereka berdua.
Ada rasa yang sulit dijelaskan didalam hatinya, yang pasti dirinya tidak suka melihat Alishka bersama dengan Farel meski dia tahu Farel itu adalah kekasihnya Alishka sejak dari dulu.
Brayan menghampiri Alishka dan Farel dengan perasaan marah!
"Alishka!" seru Brayan.
Choky langsung menyusul Brayan karena takut temannya itu membuat keributan di kafe itu!
__ADS_1
Alishka dan Farel saling menarik tangannya lalu menatap Brayan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Brayan, kenapa kamu ada di sini?" tanya Alishka.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu ada di sini?" ucap Brayan dengan tatapannya yang tajam.
"Aku kesini bersama Farel. Kami sengaja bertemu di sini," ucap Alishka jujur.
"Kenapa kamu gak izin sama aku kalau kamu mau keluar rumah? Kalau kamu kenapa-kenapa saat dijalan gimana? Kamu sedang hamil Alishka."
"Yan, sabar. Lo jangan emosi kayak gini dong," ucap Choky.
"Aku ... maaf aku tahu aku salah tapi aku pergi bersama Farel. Dia pasti jagain aku."
"Alishka kamu sadar gak sih, aku gak suka kamu ketemu sama dia," ucap Farel pada Alishka.
"Dan kamu." Farel mengarahkan jari telunjuknya pada Farel.
"Alishka istri gue. Gue minta jangan pernah lo temui dia lagi," sambung Brayan.
"Brayan, ini gak seperti yang kamu bayangkan," ucap Alishka.
"Lalu apa Alishka. Kalian bertemu di sini, pegang-pegangan tangan sampai sebegitu mesranya. Kamu sadar gak sih Alishka, aku cemburu melihat kamu seperti itu."
"Apa maksud kamu?"
"Aku cinta sama kamu Alishka, aku sudah jatuh cinta sama kamu."
Alishka dan Farel menatap Brayan yang sedang berdiri di hadapan mereka.
"Ya, aku mencintai kamu Alishka. Apa salah aku sebagai suamimu ingin memiliki kamu seutuhnya?"
"Alishka datang ke sini untuk mengakhiri hubungan kami. Dia memilih hidup bersama kamu," ucap Farel.
Brayan terdiam, dia mencoba mencerna perkataan Farel padanya.
Farel meraih pipi Alishka lalu mengusapnya hingga telinga dan kepalanya.
"Aku do'akan semoga kamu bahagia dengan suamimu, aku bahagia kalau bahagia. Jaga baik-baik kandungan kamu ini," ucap Farel.
Alishka menangis betapa sakitnya hatinya saat mendengar perkataan Farel, mulutnya terbungkam tak bisa menyatakan sesuatu pada laki-laki yang begitu dicintainya.
"Tolong jaga kekasihku baik-baik. Jika setelah ini ada kehidupan kedua maka dia akan jadi milikku," ucap Farel pada Brayan.
Brayan hanya diam dalam seribu bahasa.
Farel mulai melangkah namun Alishka sepertinya berat untuk melepaskan Farel.
Alishka meraih tangan Farel lalu menggenggamnya dengan erat, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Selamat tinggal Alishka." Farel terus berjalan meski Alishka terus menegang tangannya! Perlahan pegangan tangan Alishka terlepas sampai akhirnya Farel pergi meninggalkan mereka.
Kini tinggal ada Brayan, Alishka dan Choky di tempat itu.
"Kayaknya gue pergi aja dari sini. Kalian bicarakan masalah kalian dulu deh," ucap Choky.
Choky pergi meninggalkan Brayan dan Alishka, sebelum pergi dia mengusap bahu Brayan terlebih dahulu.
Bersambung
__ADS_1