
Siang hari sekitar satu jam sebelum waktunya makan siang. Alishka sedang sibuk mengisi rantang kecil dengan makanan yang baru dia masak. Rencananya Alishka akan mengantarkan makanan ke kantor Brayan untuk Brayan majan siang, sebenarnya dia merasa khawatir terhadap sang suami karena tadi pagi oergi dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu.
Meski sebenarnya Alishka belum sepenuhnya mencintai Brayan tapi sebagai manusia dia merasa bahwa dirinya memiliki hutang budi pada Brayan karena selama ini Brayan selalu menjaganya dengan baik walaupun dirinya selalu memaki laki-laki itu.
"Lagi ngapain sih dari tadi perasaan sibuk terus?" tanya Sandra pada Alishka.
"Ini Bu, aku lagi nyiapin makanan buat aku bawa ke kantor," sahut Alishka.
Sandra tersenyum lalu dia duduk di kursi makan itu!
"Buat siapa?" tanyanya lagi.
"Ya buat Brayan lah Bu. Tadi pagi dia gak sempat sarapan dan aku gak mau sekarang dia gak makan siang juga, jadi aku berniat untuk membawakannya makanan."
"Tumben perhatian."
"Bu, aku gak mau dia sakit kalau dia sakit nanti gak ada yang ngurusin aku, gak ada yang bisa aku omelin pas aku lagi pengen marah-marah."
"Terserah kamu aja deh. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan yang penting kamu bahagia agar tidak menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan kamu."
Alishka tersenyum lalu pergi dari dapur untuk mengganti pakaiannya dan berdandan secantik mungkin!
Sandra menatap kepergian Alishka dengan senyuman bahagiakan setelah putrinya urusan sudah tidak terlihat lagi, Sandra menatap rantang yang sudah putrinya isi dengan nasi dan sayur yang Alishka masak.
"Mungkin dia sudah bisa menerima Brayan," gumam Sandra.
*******
Di kediaman Melly.
Hari ini Harry dan keluarganya akan datang ke rumah Melly untuk melamar Syahira. Melly dan Syahira sedang sibuk menyiapkan semua keperluan untuk menyambut mereka datang.
"Syahira! Ruang tamu nya sudah kamu bersihkan?" tanya Melly yang sedang sibuk membuat kue untuk menjamu keluarga Harry.
"Sudah Ma, ini aku mau bersihin teras," sahut Syahira dengan senyumnya.
Tidak ada lagi perdebatan diantara kedua wanita beda usia itu, mereka berdua sudah akur dan tak pernah saling menyalahkan satu sama lain.
Sebenarnya Melly ingin putrinya menikah dengan Brayan namun apa daya, dirinya tak bisa membuat putrinya jatuh cinta pada laki-laki pilihannya. Syahira malah menghancurkan rencana yang sudah dia rancang sejak lama.
Melly tidak berniat untuk menguasai harta keluarga Argadana, dirinya hanya tak mau hidup susah karena perusahaan yang dia kelolanya mulai redup dan berada di ujung kebangkrutan.
Tapi kini dia sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, akhirnya Melly membiarkan Syahira memilih laki-laki yang akan jadi pendamping hidupnya dan lagi semenjak perusahaan mereka dipegang oleh Syahira perlahan kembali bersinar dan mulai berkembang.
Setelah selesai membuat kue, Melly lanjut menyiapkan kebutuhan lainnya. Tadi dia sudah memasak untuk makan siang, kini dia tinggal menatanya saja di atas meja makan.
Sekarang Harry dan keluarganya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, secepat mungkin Melly menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah selesai semua?" tanya Melly lagi pada putrinya.
__ADS_1
"Sudah Ma sekarang aku harus apa lagi?" Syahira bertanya balik.
"Apa lagi kalau ganti baju. Memangnya kamu mau menemui mereka dengan menggunakan pakaian sepertinya ini?"
Syahira menelisik penampilannya lalu nyengir kuda, dia baru sadar kalau dia hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja.
"Eh iya, lupa. Kalau gitu aku ganti dulu deh." Syahira pun pergi meninggalkan Melly di tempat makan!
*******
Alishka berjalan memasuki kantor milik mertuanya untuk mengantarkan makanan yang dia masak pada suaminya.
Dia terus berjalan memasuki lobby kantor itu! Beberapa karyawan menatapnya penuh tanya, pasalnya baru kali ini dia datang ke sana dan belum ada satu pun yang mengenal dirinya.
"Permisi Mbak, ruangan Pak Brayan di sebelah mana ya?" tanya Alishka pada seorang karyawan di sana dengan senyuman ramah.
Karyawan itu membalas senyuman Alishka lalu mulai mengarahkan Alishka ke ruangan Brayan.
"Terimakasih," ucap Alishka setelah mendapat jawaban dari orang yang dia tanya.
Karyawan itu menatap Alishka dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Siapa dia?" gumam perempuan itu.
"Siapa dia?" tanya seseorang pada perempuan yang ditanya oleh Alishka.
"Tidak tahu," sahutnya.
Beberapa karyawan juga tengah memperbincangkan wanita cantik yang sedang hamil yang mencari ruangan laki-laki yang biasa mereka panggil dengan sebutan 'tuan muda' itu.
"Siapa ya orang itu?"
"Mungkin istrinya tuan muda."
"Mungkin."
"Kalau ya, mereka adalah pasangan serasi. Perempuannya cantik dan laki-lakinya ganteng."
Kira-kira seperti itulah perbincangan antara para karyawan itu sebelum akhirnya mereka pergi untuk makan siang.
Alishka membuka pintu ruangan yang ditunjukkan oleh karyawan tadi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Matanya terbuka lebar dan membulat saat melihat pemandangan didalam ruangan itu.
Prang!
Rantang yang Alishka bawa pun tidak sengaja terjatuh dan menumpahkan isinya.
Brayan dan seorang wanita yang berada di dalam ruangan itu terkejut karena mendengar suara gaduh. Mereka menatap ke arah pintu dan langsung nampak Alishka yang sedang berdiri dengan raut wajah kecewa.
__ADS_1
"Alishka," gumam Brayan.
Brayan berjalan menghampiri Alishka, ada rasa bahagia karena istrinya itu datang ke kantornya.
Alishka mulai meneteskan air matanya lalu dia berlari keluar dari area kantor itu! Alishka merasa cemburu dan kecewa saat melihat Brayan berpelukan mesra dengan perempuan itu di dalam ruangannya terlebih ruangan itu sangat tertutup.
Dia tak menyangka, niatnya untuk makan siang bersama dengan suaminya harus gagal karena adanya wanita lain yang bersama dengan laki-laki yang mulai dicintainya.
"Alishka! Alishka tunggu!" Brayan terus berlari mengejar sang istri sambil terus berteriak memanggilnya.
"Alishka tunggu dulu, aku mau bicara!" Brayan terus berlari mengejar Alishka yang kian menjauh.
Beberapa karyawan yang masih berada di sana menatap Alishka dan Brayan dengan tatapan penuh tanya. Apa yang terjadi pada mereka?
"Alishka tunggu." Brayan meraih pergelangan tangan Alishka lalu menahannya agar tidak lari lagi.
"Kamu mau apa?" ucap Alishka dengan berurai air mata.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba kamu lari meninggalkan aku padahal kamu tahu kamu sedang hamil, kamu tidak boleh melakukan ini karena akan membahayakan kandungan kamu."
"Seharusnya aku yang bertanya. Kamu kenapa? Sedang apa kamu dengan wanita itu? Kamu berpelukan dan ...."
"Kamu cemburu?" Brayan bertanya dengan senyuman di bibirnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Alishka, Brayan malah bertanya balik.
"Tidak. Aku mau pulang sekarang."
Brayan tersenyum lagi. "Kamu cemburu?"
Bukannya panik karena istrinya marah-marah sampai menangis deras, Brayan malah menanggapinya dengan senyuman.
Entah apa yang ada dalam pikiran Brayan. Dia berada dalam satu ruangan dengan wanita lain dan berpelukan dengannya sampai membuat istrinya marah tapi Brayan sedikitpun tidak merasa bersalah.
"Alishka, Alishka tunggu. Jangan pulang dulu."
"Aku mau pulang."
"Kita makan dulu, makanan yang kamu bawa sudah berantakan, kita makan di luar saja."
"Makan saja dengan wanita kesayangan kamu itu." Alishka mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
Di tempat yang tak jauh dari mereka.
"Kenapa mereka?"
"Iya, apa yang sedang mereka perdebatkan?" Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu bertanya-tanya apakah yang terjadi pada mereka dan siapa wanita hamil yang bersama dengan Brayan.
Tak lama seorang wanita berjalan melewati mereka. Dengan santainya wanita itu keluar dari kantor tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Dia melihat Brayan dan Alishka yang terdengar sedang berdebat namun sedetik kemudian wanita itu langsung melanjutkan langkahnya dan segera meninggalkan tempat itu!
Bersambung