
"Brayan kita mau kemana sih? Kaki aku udah pegal tahu," ucap Alishka.
"Kita mau ke suatu tempat," sahut Brayan.
"Tempat apa?"
"Tempat dimana tidak ada orang lain selain kita."
"Dih, terus kita mau ngapain ke tempat sepi?" tanya Alishka sambil terus berjalan berdampingan dengan Brayan.
"Ya, ngapain kek. Pacaran ... mungkin."
"Ish, mana ada pacaran dalam keadaan hamil gini dan lagi kita kan udah menikah."
"Tapi belum pacaran kan."
Alishka menghentikan langkahnya lalu menatap Brayan.
"Memangnya kamu pernah ngajak aku pacaran?"
Brayan terdiam sambil menatap Alishka hingga kini mereka saling bertatapan.
"Gimana mau ngajak pacaran. Selama ini kan kamu galak sama aku," ucap Brayan didalam hatinya.
"Kita jalan lagi ya," ucap Brayan.
"Aku capek. Lama banget sih nyampenya."
"Sebentar lagi kok. Aku gendong ya."
__ADS_1
"Gak mau."
"Ya udah. Aku maksa aja." Brayan memangku tubuh Alishka ala bridal style.
"Brayan apaan sih. Kamu tuh ya kebiasaan."
"Maaf."
"Maaf tapi terus diulang lagi kesalahannya."
*******
Di sebuah taman, Caitlyn duduk di kursi taman sambil menangis. Entah kenapa dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Brayan sudah menikah padahal sebelumnya mereka sama sekali belum pernah memiliki hubungan spesial selain teman biasa.
"Kenapa rasanya sesakit ini, kenapa? Kenapa aku sama, sekali tidak bisa menerima kenyataan ini? Siapa aku didalam hatinya Brayan? Selama ini dia hanya menganggap ku sebagai teman biasa tidak lebih dari itu," gumam Caitlyn.
Caitlyn terus menangis tanpa menghiraukan orang-orang yang lewat yang memperhatikan dirinya.
*******
"Kita sudah sampai." Brayan menurunkan Alishka di tempat yang dia tuju.
"Wah tempat ini indah banget." Alishka mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, dia begitu terpesona dengan keindahan tempat itu.
Hijaunya rumput di sana dengan banyaknya bunga-bunga yang menghiasi sekeliling tempat itu membuat Alishka begitu menyukai tempat itu ditambah lagi dengan adanya air terjun membuat suasana di sana semakin sejuk.
"Brayan, ini tempat apa?"
"Ini tempat aku kalau aku sedang ingin menghindari banyaknya pekerjaan dan sumpek nya perkotaan."
__ADS_1
"Kamu sering ke sini?"
"Tidak. Hanya saat aku sedang penat dan saat aku sedang ingin sendiri saja."
"Tapi kenapa sekarang kamu ngajak aku ke sini kalau kamu hanya kesini saat kamu ingin sendiri dan saat kamu bosan dengan pekerjaan kamu?"
"Karena aku ingin kamu menemani aku disaat aku sedang dalam keadaan apapun. Aku ingin kamu menjadi istri sekaligus teman untuk aku, tidak hanya sekarang tapi aku mau kita sama-sama sampai nanti sampai ajal yang memisahkan kita."
Alishka terdiam mendengar perkataan Brayan yang begitu begitu menyentuh hatinya.
Brayan menatap Alishka lalu mengangkat kedua tangan Alishka sampai batas dadanya!
"Aku tidak mau kita pacaran, aku mau kita lebih dari pacar. Apa kamu mau menjadi istri aku untuk sekarang, besok dan untuk selamanya. Aku ingin kamu menjadi ratu di kerajaan cintaku dan aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku."
Alishka menatap Brayan namun tetap terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab semua perkataan Brayan.
"Alishka, maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? Maukah kamu menjadi teman hidupku untuk selamanya? Maukah kamu menjadi pelengkap hidupku yang mengisi kekosongan hatiku?"
Alishka menundukkan kepalanya, kini dia tidak berani menatap laki-laki yang sudah menjadi suaminya sejak beberapa bulan lalu itu.
Brayan meraih dagu Alishka lalu sedikit mengangkatnya agar dirinya bisa menatap wajahnya.
"Maukah? Aku butuh jawabannya sekarang," ucap Brayan.
Alishka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Ada rasa malu untuk mengakui perasaannya pada Brayan tapi karena suaminya itu memaksa akhirnya dia mengatakan 'ya' pada suaminya itu.
Brayan tersenyum lega, dia begitu bahagia karena mendapat jawaban yang sesuai dengan yang diinginkannya.
Brayan mencium kening Alishka lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Terimakasih. Terimakasih karena sudah mau menerimaku."
Bersambung