
"Bu, boleh saya bertemu dengan, Alishka?" tanya, Ashmita.
"Tentu saja boleh, Bu. Alishka ada di kamarnya," ucap, Sandra.
"Brayan tolong antar, Mamamu ke kamar kalian ya," sambung, Sandra pada,, Brayan.
Brayan mengangguk lalu mulai berdiri. "Ayo, Ma!"
Brayan dan Ashmita pun mulai berjalan menuju kamar, Alishka!
Brayan membuka pintu kamarnya dan langsung mendapati, Alishka yang sedang menangis.
Ashmita menatap, Brayan dengan tatapan penuh tanya, Brayan membalas tatapan Mamanya lalu kembali menatap, Alishka.
"Ayo masuk, Ma." Brayan berjalan menghampiri, Alishka yang sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang!
Ashmita mulai memasuki kamar itu lalu duduk di samping, Alishka!
"Sayang, gimana keadaanmu, Nak?" tanya, Ashmita sembari meraih tangan, Alishka dan menggenggamnya.
Alishka hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Al, di depan ada, Papaku juga. Kamu mau nemuin dia gak?" tanya, Brayan dengan nada pelan.
"Aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong tinggalkan aku sendiri," ucap, Alishka.
Alishka menatap, Ashmita dengan tatapan matanya yang penuh air mata.
"Tante, maaf ya sekarang aku masih ingin berdamai dengan hatiku. Aku aku harap tante mengerti."
"Baik, Mama akan keluar tapi kamu jangan menangis terus seperti ini. Wanita sedang hamil jangan stres dan banyak pikiran karena itu berbahaya bagi bagi yang dikandungnya. Mama titip cucu, Mama ya tolong jaga dia dengan baik." Ashmita mencium kening, Alishka dengan penuh kasih sayang lalu mulai pergi dari kamar itu.
Meski sebelumnya, Ashmita tidak mengenal, Alishka namun dia menyayanginya sedeng sepenuh hatinya.
Bukan karena, Brayan yang sudah melakukan kesalahan pada, Alishka tapi, Ashmita menyayangi Alishka tulus karena memang dia sayang sama menantunya itu.
*******
"Syahira, Mama minta kamu dekati lagi, Brayan dan dapatkan dia kembali," ucap, Melly.
Syahira menatap, Melly yang sedang berdiri didepannya itu.
"Mama apa-apaan sih. Brayan itu sudah menikah dengan wanita lain, aku gak mau dibilang pelakor," sahut, Syahira.
"Mama udah gak bisa mencukupi kebutuhan kamu lagi, Syahira. Perusahaan yang, Mama kelola sudah bangkrut."
"Ma, kita hidup sederhana saja bisa kan. Aku gak mau hidup mewah bersama laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai."
"Tapi, Mama gak mau hidup seperti itu. Mama gak bi–"
"Udah lah, Ma. Aku mau pergi mau ketemu sama teman-teman aku."
Sebelum, Melly menyelesaikan ucapannya, Syahira segera pergi meninggalkan, Melly karena tak ingin terus berdebat dengannya.
*******
__ADS_1
Di tempat yang lumayan jauh dari kediaman, Alishka dan keluarga.
Farel kini sedang menenangkan hatinya yang terasa panas dan hancur berkeping-keping. Laki-laki itu kini sedang berada di suatu tempat yang jauh dari keramaian kota, dia berusaha untuk melupakan, Alishka dan menghapus semua kenangan indah bersamanya.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaaa!"
Farel berteriak beberapa kali melampiaskan amarahnya yang belum sepenuhnya keluar dari dalam hatinya.
Dia berdiri di depan pohon besar itu sesekali dia memukul pohon itu dengan sekuat tenaganya.
"Kenapa aku masih mencintai, Alishka? padahal aku tahu sekarang dia sudah menikah dengan laki-laki lain," gumam, Farel.
Dia sudah berusaha keras untuk melupakan kekasih yang meninggalkan dirinya karena harus menikah dengan orang yang sudah merusak bunga mahkotanya, namun kenangan manis bersama, Alishka terlalu indah untuk dilupakan sehingga membuat, Farel semakin tersiksa saat berusaha menghapus semua kenangan itu.
"Apa aku salah jika aku menginginkan dia? Apa aku egois karena hanya menginginkan dia saja meski sekarang dia sudah menjadi milik orang lain?"
*******
"Alishka, kamu makan kue ini ya biar perut kamu tidak kosong," ucap, Brayan sembari menyendok kue yang dia bawa.
Saat itu orang tua, Brayan sudah pergi dari rumah mereka. Setelah menemui dan mengetahui keadaan, Alishka, mereka langsung pamit undur diri.
"Aku gak mau," ucap, Alishka dengan nada lirih.
"Kamu harus makan, kalau gak makan nanti kamu sakit."
"Sudah aku bilang aku gak mau! Kamu bisa denger gak sih."
"Kasihan bayiku," ucapnya.
"Kalau ini bayimu kenapa harus aku yang mengandung? Kenapa tidak kamu saja yang mengandung bayi ini."
Brayan terdiam, bagaimana bisa, Alishka berucap seperti itu sedangkan dia tahu kalau laki-laki tidak bisa hamil karena ditakdirkan untuk tidak pernah hamil.
"Kalau kamu gak mau makan, gak apa-apa sekarang kamu istirahat saja ya."
Brayan membaringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur sedangkan, Alishka hanya diam dan menerima perlakuan, Brayan padanya.
Brayan mengusap pipi sang istri yang masih terdapat sisa air mata yang belum mengering di sana.
*******
Syahira sedang bertemu dengan, Harry di salah satu kafe tempat biasa mereka nongkrong.
Syahira sengaja mengajak kekasihnya bertemu untuk menghilangkan rasa jenuhnya pada, Mamanya.
"Sayang, kenapa sih kamu cemberut gitu?" tanya, Harry pada, Syahira.
"Aku tuh kesal sama, Mama. Mama selalu saja memaksa aku untuk mendekati, Brayan lagi padahal dia itu sudah menikah dengan wanita lain," jelas, Syahira.
"Kamu sabar ya. Aku sedang berusaha untuk meyakinkan, Mama kamu kalau aku bisa membahagiakan kamu. Usaha kuliner ku mulai naik dan sudah banyak dikenali masyarakat, mudah-mudahan aku bisa sukses dan bisa membuat, Mama kamu yakin padaku."
"Tidak harus nunggu kamu sukses seperti yang, Mamaku inginkan. Sekarang pun aku yakin kamu bisa membahagiakan aku."
__ADS_1
"Syahira, jika dibandingkan dengan, Brayan aku ini bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dimata, Mama kamu. Sebenarnya, Mama kamu seperti itu bukan dia tidak sayang sama kamu justru sebaliknya, dia gak mau kamu kesusahan hidup sama aku."
"Tapi buktinya sekarang aku bahagia sama kamu. Dengan penghasilan kamu yang sekarang ini aku rasa cukup untuk membiayai keluarga kita, nanti."
"Sabar sebentar lagi ya. Aku janji aku akan melamar kamu setelah aku bisa membuktikan pada, Mamamu kalau aku layak untuk kamu."
Harry adalah seorang anak dari pengusaha kuliner, usaha mereka terbilang sudah cukup berhasil dan bisa meraup keuntungan yang lumayan besar setiap bulannya hanya saja jika dibandingkan dengan, Brayan memang mereka tidak mungkin menyamainya karena, Arga group adalah salah satu perusahaan terbesar di kota mereka. Wajar saja jika, Melly terus memaksa Syahira untuk tetap bersama, Brayan meski dia tidak mencintai Brayan.
Harry bukanlah orang yang menyerah begitu saja, meski dia tidak bisa menyaingi kekayaan, Brayan tapi dia sudah mendapatkan cinta, Syahira dan dia akan terus memperjuangkannya.
*******
Setelah seharian berada di tempat itu, kini Farel hendak pulang karena hari sudah semakin sore.
Farel menyimpan pilunya di dalam hati dan mulai bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
Diperjalanan pulang, Farel melihat Henny dan Milla sedang berjalan ditepi jalan. Dia menghentikan mobilnya lalu memanggil dua gadis itu.
"Milla! Henny!"
Milla dan Henny menoleh ke arah suara!
"Farel, kamu dari mana, kok ada di sini?" tanya, Milla.
"Aku habis berkeliling. Ayo masuk biar aku antar kemana kalian akan pergi."
Karena sudah mengenal baik, Farel mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil, Farel tanpa sedikitpun penolakan.
"Keliling dari mana?" tanya Henny setelah mereka masuk ke dalam mobil itu.
"Ada lah, dari suatu tempat." Farel mulai melajukan mobilnya perlahan.
"Habis ngapain?"
"Habis membuang kenangan bersama, Alishka."
"Kamu sabar ya Rel, aku yakin kamu bisa mendapatkan ganti yang lebih dari Alishka."
"Lebih apa nya? Bagiku, Alishka sudah sempurna dia cantik, dia baik dan dia juga sholehah."
Henny dan Milla terdiam, mereka masih memikirkan perkataan selanjutnya.
"Kalian mau kemana nih?" tanya, Farel karena dua gadis yang bersamanya itu hanya terdiam.
"Rel, gimana kalau kita nongkrong sebentar di warung kopi tempat biasa kita nongkrong," ucap Milla.
"Udah sore nih. Yakin kalian mau nongkrong dulu," ucap, Farel sembari melihat jam di tangannya.
"Yakin lah, kita bisa pulang setelah azan maghrib," ucap Henny.
"Oke deh kalau gitu. Kita udah lama juga gak nongkrong bareng."
Farel terus melajukan mobilnya menuju warung kopi yang dimaksud oleh, Henny dan Milla!
Bersambung
__ADS_1