
Pagi itu saat hari minggu.
Alishka janjian bertemu dengan teman-temannya di taman tempat mereka biasa nongkrong.
Sudah lama mereka tidak bertemu, Alishka merasa rindu dengan kebersamaannya dengan teman-temannya.
Sengaja mereka memilih bertemu di hari minggu karena Syifa juga bisa ikut berkumpul bersama mereka.
Syifa yang sudah bekerja memang tidak punya waktu untuk bertemu di hari kerja, waktu istirahatnya pun hanya sebentar jadi dia tidak bisa bertemu di teman-temannya saat hari kerja.
"Lihat, penampilan aku udah bagus belum?" tanya Alishka pada Brayan.
Brayan yang sedang melipat selimutnya,menatap Alishka yang berdiri didepannya.
"Sudah. Memangnya kamu mau ke mana?" sahut Brayan.
"Aku mau bertemu dengan teman-temanku. Tolong kamu jangan larang aku."
"Kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau dan kamu boleh menemui teman-temanmu kapan saja dan dimana saja asalkan aku yang mengantarkan kamu pergi."
"Kamu kan tidak setiap hari ada di rumah."
"Kamu bisa pergi dengan ditemani Ibu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa saat di jalan."
"Aku baik-baik saja kok."
Brayan menghampiri Alishka lalu memegang kedua belah bahunya!
"Kamu sedang hamil kamu sering tiba-tiba merasa pusing. Gimana kalau tiba-tiba kamu pusing dan pingsan saat kamu belum bertemu dengan teman-teman kamu? Siapa yang akan menolong mu nanti? Aku cuma khawatir sama kamu dan bayiku."
"Terserah kamu aja deh. Cepat kamu bersiap karena aku mau menghabiskan waktu seharian bersama teman-temanku."
"Baiklah, kamu tunggu aku di meja makan ya."
Alishka segera keluar dari kamarnya dan membiarkan Brayan mengganti pakaiannya!
"Kamu mau kemana udah cantik gitu?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Aku mau ketemu sama Henny dan Milla, Bu. Kebetulan hari ini, Syifa libur bekerja jadi kami mau pergi bersama.".
" Suamimu tahu?" tanya Hendra yang sedang menuang air minum kedalam gelas.
"Dia tahu dan dia mau ikut juga. Aku heran kenapa sekarang aku seperti dipenjara dalam sebuah pernikahan paksa."
"Alishka, semua perempuan harus menuruti suaminya dan harus memiliki izin dari suaminya saat dia akan melakukan sesuatu apapun."
"Aku tahu, Ayah karena Ibu selalu menceramahi aku seperti itu tapi rasanya aku seperti dikawal oleh seorang bodyguard selama dua puluh empat jam." Alishka mengunyah roti yang dari tadi dia olesi dengan selai itu.
Tak lama, Brayan tiba di tempat itu. "Selamat pagi, Ayah, Ibu."
"Selamat pagi, Nak. Ayo sarapan," ucap Sandra.
Brayan duduk di kursi yang ada di sebelah Alishka.
"Ini, aku sudah buatkan roti isi selai kacang dan susu untuk kamu sarapan dan ya vitamin kamu juga. Jangan lupa diminum," ucap Alishka pada Brayan.
Sandra dan Hendra saling bertatapan lalu mereka menatap Alishka dengan tatapan tak percaya.
Brayan juga menatap, Alishka dengan tatapan yang sama dengan tatapan, Sandra dan Hendra.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ucap Alishka yang merasa keluarganya hanya menatapnya dan tak memulai sarapannya.
"Orang kaya biasanya sarapannya roti, susu dan juga setiap hari harus minum vitamin agar mereka mendapat tenaga lebih dan tidak mudah sakit," sambung Alishka.
Saat di rumah, Brayan. Mamanya, Brayan mengatakan pada Alishka kalau Brayan tidak suka sarapan nasi jadi dia membuatkan roti untuknya dan juga setiap hari, Brayan suka minum vitamin untuk menambah daya tahan tubuhnya.
"Hei kamu bicara apa sih?" ucap Brayan.
"Aku hanya bicara yang sebenarnya." Alishka kembali menggigit rotinya.
Setelah selesai sarapan, Alishka dan Brayan langsung pergi dari rumahnya sedangkan Sandra dan Hendra masih terdiam di tempat semula. Keduanya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh, Alishka, kenapa dia berbicara dengan membawa-bawa kata orang kaya.
"Apa maksud Alishka, Bu? Orang kaya ... siapa yang dia maksud orang kaya itu?" ucap Hendra setelah Brayan dan Alishka pergi.
"Ibu juga gak tahu, Yah. Udahlah jangan pikirkan itu. Mungkin dia lagi ngaco, buktinya pagi ini dia buatkan sarapan untuk Brayan dan dia juga gak marah-marah sama Brayan."
__ADS_1
"Semoga saja mulai hari ini, Alishka tidak marah-marah lagi pada Brayan. Kasihan Brayan, meski dia salah tapi tetap saja, Ayah gak tega melihat setiap hari dia dicuekin sama Alishka sekalinya bicara malah diomelin."
*******
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, Alishka. Brayan menepikan mobilnya didepan sebuah mesin ATM.
"Kok berhenti di sini?" tanya Alishka.
"Aku kehabisan uang tunai," sahut Brayan singkat sembari turun dari mobilnya.
Alishka hanya diam sambil tetap duduk ditempatnya, dia terus memperhatikan Brayan yang kini berada di dalam ruangan itu.
Tak lama, Brayan keluar dan langsung masuk kedalam mobilnya lagi.
Brayan tersenyum tipis pada Alishka lalu mengambil uang dari dalam dompetnya.
"Ini, kamu pegang ya," ucap Brayan sembari memberikan uang lembaran berwarna merah.
Alishka menatap Brayan beberapa saat, dirinya tidak berani menerima uang yang kini masih dalam genggaman suaminya itu.
"Kenapa? Kamu takut aku minta ganti? Kemarin kamu bilang sudah menjadi kewajiban aku untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Ini, aku kasih kamu uang tapi kamu malah diam aja."
"Aku gak bermaksud seperti itu."
"Alishka, kamu pernah bilang. Orang tua kamu membiayai pendidikan kamu dengan penuh kerja keras dan pengorbanan. Saat ini kamu tidak bisa kerja karena kamu sedang hamil, mulai sekarang biar aku yang kerja dan membalas semua yang orang tua kamu korbankan untuk kamu. Setiap bulan aku akan memberimu uang yang nantinya bisa kamu gunakan untuk keperluan kamu, keperluan rumah dan juga untuk keperluan Ayah dan Ibu biar semua pengeluaran menggunakan uang dari aku saja gak usah pakai uang gaji Ayah," jelas Brayan.
"Gak seperti itu Brayan. Semua tidak bisa dan tidak cukup hanya dari uang saja."
"Kita bahas ini nanti ya. Sekarang kamu pegang uang ini dan ayo kita temui teman-temanmu." Brayan meletakkan uang itu di telapak tangan Alishka lalu mengepalkan tangannya.
"Gak mungkin kan kamu makan sama teman-teman kamu dan kamu gak bayarin mereka sedangkan kamu sendiri yang sudah menikah. Aku gak mau dibilang kere sama mereka." Brayan tersenyum sambil terus menatap Alishka.
Alishka tertawa kecil, Akhirnya Alishka menerima uang itu dan mereka pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi.
"Gak mungkinlah mereka mengatai kamu kere sebelum mereka tahu siapa kamu yang sebenarnya."
Brayan hanya diam, dia menatap Alishka sekilas dengan senyuman tipis di bibirnya lalu kembali fokus pada jalan yang sedang dilaluinya.
__ADS_1
Bersambung