
"Kalian sudah pulang, katanya mau pulang telat?" tanya Sandra yang melihat Brayan sedang duduk di kursi ruang keluarga.
"Iya, Bu niatnya gitu tapi tiba-tiba perut Alishka sakit jadi kami pulang cepat," sahut Brayan.
"Ya ampun. Sekarang dimana dia?"
"Di kamar, Bu. Lagi istirahat.'
Sandra berjalan menuju kamar Alishka dan Brayan untuk memastikan keadaan Alishka!
Brayan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki lalu memejamkan matanya. Pikirannya melayang memikirkan tentang kehidupannya yang berubah menjadi rumit setelah dia melakukan kesalahan pada Alishka.
"Harus apa agar Alishka bisa memaafkan kesalahan aku?" ucap Brayan didalam hatinya.
Di dalam kamar Alishka.
"Al, katanya perutmu sakit?" tanya Sandra.
Alishka membuka matanya lalu duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Nggak Bu. Aku baik-baik saja," sahut Alishka.
Alishka tak ingin berbohong pada Ibunya karena dia tahu Ibunya itu tidak mudah dibohongi dan lagi dia tidak mau menambah dosa dengan berbohong pada Ibunya juga.
"Tadi Brayan bilang katanya perutmu sakit."
"Bu, aku gak mau lama-lama berdua sama dia. Tadi aku pura-pura sakit biar cepat pulang."
Sandra menatap Alishka dengan tatapan tajam, bagaimana bisa dia melakukan itu pada suaminya sendiri.
"Alishka, tidak baik membohongi suamimu sendiri, Nak. Kamu gak liat dia begitu mengkhawatirkan kamu."
"Dia bukan khawatir sama aku Bu tapi dia khawatir sama bayi yang aku kandung ini."
"Berapa kali Ibu bilang, dia itu suamimu. Laki-laki yang berhak atas dirimu, kamu harus patuh sama dia dan jangan pernah kamu berbohong padanya."
"Bu, aku capek. Ibu tolong tinggalin aku sendiri, aku mau istirahat."
*******
Di kediaman Argadana.
Arga baru tiba di rumahnya setelah dari kantornya.
"Papa, tumben pulang telat?" tanya Ashmita.
"Tadi, Papa ada kerjaan tambahan gara-gara Brayan gak balik lagi ke kantor."
"Memangnya kenapa? Seharusnya dia tidak bersikap seenaknya kayak gitu meskipun dia anaknya kamu."
"Istrinya sakit. Katanya perutnya kesakitan."
"Astaga, kenapa dengan menantuku? Bagaimana dengan keadaan bayinya?"
"Papa gak tahu, tadi sih Brayan bilang katanya mau dibawa ke rumah sakit."
"Semoga dia baik-baik saja."
__ADS_1
"Papa harap juga begitu."
Arga segera masuk kamarnya untuk mengganti pakaiannya!
*******
Di rumah Farel.
"Kak aku lihat Kak Alishka kok perutnya gendut, kayak orang hamil," ucap adiknya Farel.
"Kapan kamu ketemu sama dia?" sahut Farel.
"Gak ketemu cuma liat di jalan sedang lewat."
"Kamu salah lihat kali."
Farel memang sengaja tidak memberitahu adiknya tentang Alishka yang sudah menikah dan hubungan mereka sudah berakhir.
Alishka dan adiknya Farel memang sudah dekat, mereka sudah saling mengenal satu sama lain dan adiknya Farel pun menyayangi Alishka seperti dia menyayangi Farel.
"Gak mungkin aku salah lihat. Penglihatan aku masih normal kak."
"Udah ah jangan bahas dia terus. Kita makan yuk! Kamu udah makan belum?"
Farel beranjak dari duduknya lalu melangkah memasuki rumahnya!
*******
"Perutmu sudah gak sakit?" tanya Brayan.
"Syukurlah. Boleh aku bicara dengan bayiku?"
"Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan toh kamu tidak akan mendengarkan aku meski aku melarangnya."
"Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seizin darimu."
"Tadi siang apa?"
"Aku cuma bercanda, aku tidak mungkin memp*****a kamu lagi saat kamu sedang lemah."
"Jadi kalau aku sehat kamu akan melakukan itu lagi?"
"Iya lah, kamu kan istriku, milikku. Kalau bukan sama kamu aku mau melakukannya sama siapa,"
"Ih dasar kamu ya! Aku pikir kamu beneran berubah, kamu akan menjadi suami yang baik untuk aku!" Alishka memukul Brayan dengan bantal sampai berkali-kali hingga bantal itu sobek dan mengeluarkan bulu-bulu halus dari dalamnya.
Kamar itu terlihat seperti dihiasi oleh salju yang beterbangan, Brayan hanya membiarkan Alishka terus memukulinya dan setelah Alishka kelelahan dia baru menggunakan kesempatan itu untuk memulai aksinya.
"Kamu lelah?" tanya Brayan.
"Aku kesal, aku marah." Alishka memutar tubuhnya menjadi membelakangi Brayan.
Brayan tersenyum lalu memeluk Alishka!
"Suasana kamar ini sangat romantis ya. Lihat dibawah hujan salju kita berpelukan, bermesraan dan akan memadu kasih di sini."
"Lepasin. Kamu jangan pernah berkhayal yang indah tentang kita."
__ADS_1
"Aku tidak berkhayal, ini nyata. Buktinya kamu masih dalam pelukanku."
Brayan mencium leher belakang Alishka dengan sedikit menjilatnya lalu menyusup ke leher samping mencoba mencium pipi sang istri dari belakang.
Alishka menggeliat ingin segera terlepas dari pelukan Brayan.
Brayan tak mau melepaskan Alishka, aroma wangi tubuh Alishka membuat Brayan betah memeluknya. Dia tak ingin melepaskan istrinya itu meski Alishka terus berusaha untuk menghindar.
Brayan terus asyik memainkan apa yang bisa mainkan di tubuh istrinya itu.
Dengan sebelah tangannya, Brayan menahan Alishka agar dia tidak lari dan sebelah tangannya lagi menyusuri setiap lekuk tubuh Alishka.
"Apa yang kamu lakukan. Lepaskan aku," ucap Alishka dengan suaranya yang seperti sedang menikmati perlakuan Brayan padanya.
Siapa yang tidak terpancing jika mendapatkan perlakuan khusus dari seorang laki-laki, terlebih laki-laki itu adalah suaminya sendiri.
Mereka memang menikah tanpa cinta tapi seiring berjalannya waktu, Brayan mulai jatuh cinta pada Alishka dan tak bisa dipungkiri bahwa Alishka juga sudah memberi harapan pada Brayan.
Brayan tak menghiraukan perkataan Alishka, dia malah semakin berani berbuat yang lebih dari itu. Brayan memasukkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan oleh Alishka lalu memainkan benda kenyal milik istrinya itu.
Alishka sedikit mend***h yang membuat Brayan semakin tak ingin menghentikan aksinya.
Brayan memutar balikkan tubuh Alishka hingga kini mereka saling berhadapan.
Alishka menutup matanya dia tak bisa melihat Brayan yang sedang membuka bajunya.
Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Alishka sebagai tanda penolakan. Dia tidak bisa melarang Brayan lagi, ada rasa yang sulit dijelaskan dalam dirinya. Mulutnya bisa saja berkata tidak tapi tubuhnya tak bisa membohongi dirinya bahwa dirinya menikmati apa yang Brayan lakukan padanya saat ini.
Brayan melanjutkan aksinya, dia membawa sang istri ke atas tempat tidur lalu mulai melakukan apa yang selama ini dia tunggu dari istrinya itu.
Setengah jam berlalu, Brayan sudah selesai dengan hasrat yang dia pendam sejak beberapa bulan terakhir. Dia turun dari atas tubuh sang istri lalu menutup tubuh Alishka dengan selimut!
"Istirahatlah," ucap Brayan dengan nada lembut.
Brayan mencium kening Alishka lalu dia memungut pakaiannya yang berceceran di lantai lalu segera mengenakannya.
Alishka tetap menutup matanya, ada rasa malu dan juga marah pada Brayan tapi terlalu lelah baginya untuk berdebat dengan suaminya itu.
"Apa yang aku lakukan. Aku sudah kalah oleh laki-laki itu," ucap Alishka didalam hatinya.
Brayan menatap Alishka beberapa saat, sebuah senyuman tipis terukir di bibir Brayan.
"Terimakasih, karena sudah menjadi istriku yang sesungguhnya," gumam Brayan yang mungkin terdengar oleh Alishka mengingat wanita itu belum sepenuhnya tertidur.
Brayan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum untuknya dan untuk Alishka.
Tenggorokannya terasa kering setelah olahraga malam bersama sang istri!
"Kalian belum makan malam. Cepat makan kalau tidak nanti kalian sakit," ucap Hendra.
Brayan membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Hendra!
"Ayah, aku sama Alishka makan nanti saja. Sebentar lagi, mungkin setengah jam lagi," ucap Brayan.
Hendra hanya menanggapi perkataan Brayan dengan senyuman lalu pergi meninggalkan Brayan di tempat itu!
Bersambung
__ADS_1