Salah Masuk Kamar

Salah Masuk Kamar
Salah Masuk Kamar Bab 52


__ADS_3

"Eh, Ka lo ngapain di sini? Sama siapa, Choky mana?" tanya Brayan yang melihat Azka berjalan memasuki kafe itu.


"Gue sendiri, Choky lagi asyik sama pacarnya," sahut Azka.


"Makanya cari pacar, jangan ngejomblo terus."


"Gue juga pengennya gitu tapi gimana lagi belum ada yang pas."


"Memangnya cari yang gimana sih? Mau aku cariin gak?" ucap Alishka.


"Gak usah, aku cari sendiri aja, nanti malah aku dikasih yang kayak Henny lagi."


"Memangnya Henny kenapa? Kurang cantik?" tanya Brayan.


"Bukan kurang cantik. Dia cantik, cantik banget malah tapi aku gak suka sama yang gendut," sahut Azka.


Alishka tersenyum ke arah Azka lalu berkata. "Bawa-bawa gendut. Kamu nyindir aku?"


"Tidak, bukan begitu Alishka. Maksud aku, aku ...."


"Maksud kamu gimana?" tanya Brayan.


"Maksud aku Alishka kan gendut karena dia hamil kalau Henny kan dia tetap gendut walaupun gak hamil."


"Udah-udah, malah ngebahas yang hamil. Azka kamu makan ngapain ke sini. Mau nongkrong tapi kamu datangnya sendirian," ucap Alishka.


"Aku mau refresing aja, daripada sama Choky dijadiin kambing hitam," sahut Azka.


"Kambing hitam atau semut merah?" tanya Brayan.


"Terserah lo aja Yan, sekarang lo bisa ngomong gini ke gue lihat saja nanti kalau aku punya pacar."


Brayan tertawa lalu menepuk pundak Azka pelan. "Gue cuma bercanda," ucapnya.


"Gue tahu, kapan sih lo bicara serius sama gue," ucap Azka,


"Ka, gue sama Alishka udah mau pulang nih. Sorry ya, bukannya kita gak mau nemenin lo tapi kita udah keburu bosan di sini."


"Gak apa-apa, kalau mau pulang, pulang aja."


"Kalau kamu mau ikut kita, boleh kok," ucap Alishka.


"Ikut Choky aja aku gak mau, apalagi ikut sama kalian yang udah nikah nanti yang ada aku makin ngebet nikah, mana gak ada calon mempelai wanitanya lagi," ucap Azka.


"Lo pikir aku sama Alishka mau ngapain? Sampai bisa bikin lo ngebet pengen nikah."


"Ada lah, gue tahu ya gimana lo. Udahlah kalian berdua pergi saja dari sini."


Brayan dan Alishka pun pergi meninggalkan Azka sendirian di kafe itu!


*******


"Cowok itu siapa ya? Kok dia belum telpon aku?" gumam Caitlyn.


Saat ini Caitlyn sedang berada di kamar hotelnya, dia berjalan mondar-mandir sambil terus menggenggam ponselnya, berharap Aznan menelponnya.

__ADS_1


Merasa mulai lelah, Caitlyn duduk di tepi ranjangnya lalu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya!


"Ngapain juga aku nungguin laki-laki itu nelpon aku. Belum tentu juga dia beneran mau nelpon aku," gumam Caitlyn lagi.


"Tapi sebenarnya aku berharap dia menelpon aku biar aku bisa lupain Brayan," ucap Caitlyn didalam hatinya.


Caitlyn duduk di tepi ranjang sambil merenung, dia harus mulai membuka hatinya untuk orang lain karena tidak ada harapan untuk dirinya memiliki Brayan.


Selama ini, Caitlyn memang menutup hatinya untuk siapa saja laki-laki yang mencoba masuk ke dalam hatinya karena dirinya selalu mengharapkan Brayan dalam hidupnya.


Tapi kini dia harus melupakan Brayan dan mengisi ruang hatinya dengan nama orang lain. Orang yang pantas menggantikan Brayan di hatinya.


"Aku gak bisa terus seperti ini, aku harus segera membuang Brayan dari dalam hatiku karena dia tidak akan pernah bisa menjadi milikku. Aku tahu banyak laki-laki yang menginginkan memiliki hubungan yang lebih dari teman denganku tapi rasanya tidak ada yang seperti Brayan."


Caitlyn masih duduk di posisi semula hingga akhirnya ponselnya berdering tanda adanya telpon masuk.


Dia langsung meraih ponselnya lalu melihat siapa yang menelponnya.


"Nomor baru?" gumam Caitlyn.


Tanpa menunggu lama, Caitlyn langsung mengusap tombol berwarna hijau untuk menerima telpon dari nomor tak dikenal itu.


[Halo.] ucap Caitlyn.


[Halo, apa aku mengganggumu?] tanya seseorang dari sebrang telpon yang memiliki suara laki-laki.


[Tidak. Maaf ini siapa ya?]


[Baru tadi bertemu sudah lupa lagi.]


[Aku Aznan yang tadi minta nomor ponsel kamu. Masih ingat?]


[Oh, kamu. Maaf aku tidak bermaksud melupakan kamu.]


[Tidak apa-apa, tidak masalah. Besok kamu ada waktu gak, buat ketemu sama aku?]


Caitlyn terdiam, dia tak langsung menggunakan jawab pertanyaan laki-laki bernama Aznan itu.


[Kalau gak bisa gak apa-apa. Aku gak maksa kok.] sambung Aznan.


[Nggak-nggak, aku bisa kok. Mau ketemu di mana?]


[Belum tahu. Nanti aku chat kamu deh kalau aku udah nemuin tempat yang cocok.]


[Ya udah, aku tunggu ya.]


Caitlyn mematikan sambungan telepon mereka lalu dia tersenyum bahagia.


"Akhirnya dia menelpon juga," gumam Caitlyn.


*******


"Al, kita ke rumah kita yang diberikan sama Papa yuk!" ajak Brayan pada Alishka.


"Mau ngapain? Katanya kamu belum mau ngisi rumah itu."

__ADS_1


"Kita cek aja dulu. Kamu bisa melihat-lihat dulu kalau gak cocok kan kita bisa beli rumah lain."


"Aku pasti suka sama rumahnya."


"Bukan masalah rumahnya saja tapi tempatnya atau modelnya."


"Iya deh, ayo kita ke sana. Bilang aja kalau kamu gak mau pergi sendiri."


Brayan tersenyum. "Itu kamu tahu," ucapan Brayan.


Alishka membalas senyuman sang suami lalu mengarahkan pandangannya ke depan menatap jalanan yang kini sedang mereka lewati.


*******


Di sebuah pusat perbelanjaan.


Syahira dan Harry sedang mencari sesuatu. Mereka akan membeli perhiasan untuk mas kawinnya Syahira nanti.


"Nanti di toko perhiasan kamu boleh pilih apa aja yang kamu mau," ucap Harry.


"Aku terserah kamu aja maunya beliin apa. Aku gak akan nolak kok," ucap Syahira.


Mereka berdua terus berjalan menuju toko perhiasan yang akan mereka tuju!


*******


"Kamu serius kan mau nikahin aku?" tanya Syifa.


"Serius lah, masa janji sebesar ini aku jadikan mainan," sahut Choky.


"Aku pernah gagal dan aku tidak mau mengalami kegagalan untuk yang kedua kalinya."


"Aku serius, aku gak main-main sama kamu. Kalau kamu gak percaya coba kamu dengarkan isi hati aku ini, kamu pasti mendengar kalau hanya nama kamu saja yang aku sebut didalam sana."


"Mana bisa. Aku bukan Tuhan yang bisa mendengar suara hati orang lain meski orang itu adalah kekasih aku sendiri."


Choky tersenyum lalu meminum minumannya.


*******


"Sampai deh," ucap Brayan sambil menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah.


Alishka menatap rumah itu tanpa berbicara sedikitpun.


"Ayo turun!"


Mereka berdua langsung turun dari mobilnya lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki area rumah itu!


"Ini rumah kita," ucap Brayan.


"Rumahnya luas banget, aku bisa kecapekan ngebersihin rumah ini sendirian," ucap Alishka.


"Kamu tidak perlu capek-capek ngurus rumah ini. Aku akan menyewa jasa asisten rumah tangga untuk meringankan pekerjaan kamu sebagai seorang istri dan juga seorang ibu dari anak kita."


Brayan terus melangkah memasuki setiap ruangan yang ada didalam rumah itu sambil terus menggandeng tangan Alishka!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2