Salah Masuk Kamar

Salah Masuk Kamar
Salah Masuk Kamar Bab 48


__ADS_3

"Siapa wanita simpanan kamu itu?" tanya Alishka yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Dia bukan wanita simpanan sudah aku bilang dia itu teman yang lama tidak bertemu," sahut Brayan.


"Mana ada teman peluk-pelukan gitu."


"Dia memang temanku, hanya teman saja tidak lebih dari sekedar teman biasa."


"Aku tidak percaya."


"Oke, gak apa-apa gak percaya juga. Kalau gitu besok aku mau ketemu dia lagi."


Alishka menatap Brayan lalu melemparnya dengan bantal!


"Temui saja kalau berani."


"Berani lah, gak berani kenapa?"


"Brayaaaan!"


Suara teriakan Alishka terdengar sampai ke ruangan lain di rumah mereka.


Sandra dan Hendra segera berlarian menuju kamar Alishka dan Brayan karena khawatir terjadi sesuatu pada Brayan ataupun Alishka!


Bugh!


Bugh!


Alishka terus memukuli Brayan dengan bantal yang dia pegang sedangkan Brayan hanya diam dan tak melawan.


Brak!


Hendra dan Sandra mendorong pintu kamar itu dengan keras hingga terdengar suara gebrakan yang cukup keras dan membuat Brayan dan Alishka terkejut.


"Ayah! Ibu! Kenapa kalian membuka pintu dengan kasar gitu? Aku kaget, kalau aku jantungan gimana?" tanya Alishka.


"Harusnya Ayah sama Ibu yang tanya sama kamu. Kamu kenapa teriak-teriak? Bikin Ayah dan Ibu khawatir saja," ucap Hendra.


"Maaf Ayah, Ibu kalau teriakan Alishka membuat kalian terkejut. Dia sedang ketakutan makanya dia berteriak," jelas Brayan.


"Ketakutan kenapa? Memangnya ada apa?" tanya Sandra.


"Aku ... aku–" Alishka menundukkan kepalanya karena tak punya jawaban yang tepat.


"Alishka takut aku pergi dan tak kembali," ucap Brayan memotong perkataan Alishka.


Hendra dan Sandra saling menatap lalu tersenyum bahkan sedikit tertawa.


"Kamu ini ada-ada aja. Memangnya Brayan mau pergi kemana, sampai kamu ketakutan gitu?" ucap Sandra pada Alishka.


"Ayah, Ibu kalian keluar deh dari kamar ini. Aku sama Brayan lagi berantem," ucap Alishka mengusir kedua orang tuanya.


"Apa, berantem?"


"Brayan punya wanita lain."

__ADS_1


Hendra menatap Brayan dan Brayan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Itu tidak benar, aku berani bersimpuh untuk itu."


"Katanya gak cinta, katanya gak sayang. Kenapa harus marah saat suamimu ada wanita lain?" ucap Sandra menggoda Alishka.


"Ibu, kenapa Ibu bicara seperti itu."


"Ibu bicara tentang fakta. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu benci sama Brayan."


Alishka terdiam, memang benar dia pernah berkata kalau dirinya benci pada Brayan dan akan selalu membencinya tapi kini beda ceritanya. Kini dia berubah mulai suka dan menerima Brayan dalam hidupnya.


"Maaf Ayah, Ibu bisa kalian pergi dari sini? Aku dan Alishka mau istirahat," ucap Brayan.


"Dasar anak zaman sekarang. Udah menikah tapi masih bersikap kekanak-kanakan," gumam Hendra.


Hendra dan Sandra segera pergi dari kamar Alishka dan membiarkan mereka berdua di sana!


*******


"Brayan, aku tidak menyangka kamu menikah dengan orang lain. Aku pikir selama ini kamu perhatian dan begitu baik padaku karena kamu cinta sama aku tapi ternyata tidak, ternyata aku salah mengartikan perhatian kamu kepadaku," ucap Caitlyn yang sedang duduk di tempat tongkrongan para anak muda.


Malam itu, Caitlyn terus memikirkan tentang Brayan, entah kenapa dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Brayan sudah menikah.


*******


"Kak, kenapa kakak bawa cewek lain? Nanti kalau kak Alishka tahu gimana? Dia pasti marah," ucap Sisca yang baru tahu bahwa Farel habis jalan sama gadis lain.


Farel terus berjalan memasuki rumahnya lalu duduk di kursi ruang keluarga!


"Kakak baru datang, kamu malah marah-marah," ucap Farel.


"Sisca, dengar ya. Cewek itu namanya Jazline dan dia adalah kekasih baru kakak."


"Apa! Kenapa?" Sisca menatap Farel dengan bola matanya yang membulat sempurna.


"Alishka sudah menikah dan gak ada salahnya kan kakak punya pacar lagi."


"Menikah? Kapan? Kenapa kalian bisa putus? Kapan kalian putus dan karena apa?" Sisca menghujani Farel dengan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


"Jangan banyak tanya. Kamu masih kecil urus saja urusan sekolahmu."


"Ish kakak." Sisca berdecak kesal karena Farel tak menjawab semua pertanyaannya, malah kayaknya itu menyuruhnya belajar.


*******


Alishka sudah berbaring di atas tempat tidurnya.


Brayan handak tidur bersama dengan Alishka tapi baru dia akan merebahkan tubuhnya, Alishka menyuruhnya menghentikan aksinya.


"Berhenti! Kamu mau ngapain?" ucap Alishka.


"Ya, mau tidur lah."


"Jangan tidur di sini. Tidur di tempat kamu sana."

__ADS_1


"Ya udah, aku tidur sama dia aja yang tadi nemuin aku di kantor." Brayan beranjak dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya menuju pintu!


"Tunggu!"


Brayan berbalik! "Ada apa lagi Alishka?"


"Sini kamu!"


Brayan kembali dan duduk di tepi ranjang! "Apa?"


"Tidur di sini. Enak aja mau pergi, kalau kamu pergi nanti siapa yang memijat kaki aku."


Brayan tersenyum, akhirnya rencananya berhasil. Dia menjadi punya kesempatan untuk tidur bersama dengan istrinya lagi.


Brayan berbaring dengan posisi menghadap Alishka!


"Boleh aku memelukmu?"


"Gak boleh."


"Kalau gitu aku ...."


Belum selesai Brayan berbicara, Alishka sudah memeluknya dengan erat! Padahal awalnya Brayan mau berkata kalau dia mau memeluk bantal guling saja.


"Cepat tidur," ketus Alishka.


Brayan tersenyum lebar, "rupanya kamu mulai takut kehilangan aku," ucap Brayan didalam hatinya.


Bukannya tidur, Brayan malah tetap terjaga. Matanya terus menatap Alishka yang kini tengah menutup matanya.


Brayan mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Alishka lalu merapikan anak rambut yang berantakan di pipi sang istri tercintanya.


Alishka membuat matanya karena merasakan sentuhan lembut dari Brayan lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang suami.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Alishka saat melihat Brayan masih membuka matanya dan kini sedang memperhatikan dirinya.


"Aku ingin menatap istriku sampai aku puas," sahutnya.


"Kenapa?"


"Setiap hari aku menganggap hari ini adalah hati terakhirku jadi aku selalu melakukan apa yang aku mau karena setelah aku tiada, aku tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu yang bisa kulakukan di dunia."


"Jangan bicara seperti itu. Kalau kamu mati, kasihan anak dalam kandungan aku ini tidak punya Ayah nanti."


Brayan kembali mengelus rambut Alishka. "Aku sayang sama kamu, Al. Aku cinta sama kamu."


Alishka menatap Brayan lalu menyusupkan wajahnya ke dada Brayan! "Tidurlah, sekarang sudah malam."


Brayan memeluk Alishka dan tak berucap lagi, dia menutup matanya meski sebenarnya dirinya belum mengantuk.


Brayan dan Alishka saling memeluk satu sama lain.


Brayan sudah mengakui perasaannya pada Alishka, dia sudah jujur tentang semuanya tapi Alishka belum mengakui perasaan bahwa dirinya juga sudah mencintai Brayan.


Alishka sering merasakan benci yang amat sangat pada Brayan saat dia mengingat kejadian malam itu, malam yang membuatnya kehilangan mahkota dalam hidupnya.

__ADS_1


Sampai saat ini dia belum mengerti dengan perasaannya. Dia benci pada Brayan tapi dia juga memiliki rasa cinta pada Brayan.


Bersambung


__ADS_2