
Kini, Alishka sudah pulang dari rumah sakit. Sejak tadi siang dia belum berhenti menangis berapa dia sangat kecewa dengan kehamilannya.
"Jangan terus menangis, Alishka. Jika kamu memang tidak bisa menerima aku setidaknya kamu terima bayi yang dalam kandungan kamu itu," ucap, Brayan yang sedang duduk di samping, Alishka.
"Kamu jahat. Kamu jahat, Brayan," lirih, Alishka.
"Aku memang jahat, Alishka. Aku memang jahat tapi sejahat apapun aku, tolong jaga baik-baik bayi yang ada dalam kandungan kamu. Jika memang kamu tetap ingin lepas dariku. Aku akan menuruti keinginanmu nanti setelah kamu melahirkan anakku."
Alishka menatap dinding kamarnya dengan mata yang terus mengeluarkan cairan bening.
"Kamu tahu, Brayan. Orang tuaku menyekolahkan aku agar aku bisa menjadi orang yang berhasil. Mereka membiayai pendidikan aku dengan penuh kerja keras. Tapi kamu ... dengan mudahnya kamu menghancurkan impian mereka bahkan sebelum aku mendapatkan pekerjaan." Alishka berucap dengan tanpa menatap, Brayan.
Rasanya, Alishka tak ingin melihat wajah laki-laki yang menikahinya karena keterpaksaan itu.
Brayan menatap, Alishka sendu. Dirinya merasa serba salah berada di posisi seperti ini.
"Kamu menghancurkan impian aku dan juga orang tuaku."
"Maafkan aku, Alishka. Harus berapa kali aku meminta maaf padamu? Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku?"
*******
Arga dan Ashmita sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, Alishka!
Setelah, Brayan mengabari mereka kalau, Alishka sakit, mereka langsung bergegas pergi untuk menjenguk menantunya itu.
"Pa, cepat sedikit dong nyetirnya," ucap, Ashmita yang sudah tak sabar ingin cepat sampai di rumah orang tuanya, Alishka.
"Ma, menjaga keselamatan lebih penting dari segalanya."
"Iya, Mama tahu, Pa tapi, Mama udah gak sabar pengen tahu keadaannya, Alishka."
"Gak usah khawatir sampai segitunya kali, Ma. Di sana kan ada orang tuanya, Alishka yang pastinya menjaga dia dengan baik."
"Papa ini gimana sih. Ini tuh kesempatan kita untuk membuat, Alishka bisa memaafkan, Brayan. Perhatian kita ke dia itu sangat penting."
*******
Tok!
Tok!
Tok!
Sandra mengetuk pintu kamar, Alishka dari luar.
"Alishka! Brayan! Makan siang dulu, Nak," ucap, Sandra dari luar kamar.
"Iya, Bu sebentar lagi kami menyusul," sahut, Brayan dari dalam kamarnya.
"Ayo makan! Jangan biarkan bayiku kelaparan," ucap, Brayan pada, Alishka.
Alishka hanya diam seolah tidak ada orang yang berucap padanya.
"Alishka." Brayan menyebut nama Alishka sekali lagi.
"Kamu saja. Aku gak mau makan," ketus, Alishka.
"Kamu tidak kasihan pada bayi itu? Bayi itu tidak akan hidup jika tidak dapat nutrisi dan kamu."
Alishka menatap, Brayan lalu beranjak dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari kamarnya!
Brayan menatap punggung, Alishka sebuah senyuman terukir di bibirnya.
__ADS_1
"Bayi dalam kandungan kamu itu akan menjadi alat untuk aku mendapatkan kamu, Alishka," ucap, Brayan didalam hatinya.
Brayan beranjak dari duduknya lalu menyusul, Alishka ke ruang makan!
*******
"Mil, kita ke rumah, Alishka yuk!" ucap, Henny.
"Ngapain?" tanya, Milla.
"Aku kangen sama dia. Semenjak dia nikah, dia jarang sekali kumpul sama kita."
"Aku juga kangen sama dia tapi gimana lagi, namanya orang sudah menikah pasti sibuk ngurus suaminya."
"Sesibuk-sibuknya seorang istri masa gak ada waktu sedikit saja buat bertemu temannya lagian mereka menikmati tanpa cinta, apa iya Alishka mau ngurus suaminya seperti istri-istri pada umumnya?"
"Mana aku tahu."
"Hai Mill, Hen," ucap Syifa yang baru tiba di tempat itu.
"Lama banget? Henny udah abis dua porsi makanan tuh," ucap, Milla.
"Enak aja kamu, Mill. Milla bohong, Fa orang aku belum makan sedikitpun," sangkal, Henny.
Milla tertawa lalu menyedot minumannya.
"Maaf ya, tadi aku ada tugas mendadak dari bos." Syifa menghempaskan bokongnya di kursi yang terdapat di antara, Henny dan Milla!
"Yang udah kerja. Enak banget punya bos," ucap, Milla.
Syifa tersenyum, "aku lagi menikmati masa-masa perkenalan dengan pekerjaan dan juga orang-orang di kantor tempat aku bekerja. Ternyata kerja itu gak gampang ya, kadang dimarahi oleh bos dan sering disuruh-suruh."
"Namanya juga kerja, Fa. Kita harus menuruti perintah atasan," ucap, Henny.
*******
Setelah selesai makan tiba-tiba, Alishka merasa mual dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang baru masuk ke dalam perutnya.
Brayan segera menyusul, Alishka ke dalam kamar mandi lalu memijat punggung, Alishka dengan lembut.
Setelah itu, Brayan membersihkan sisa muntah yang belepotan di area bibir dan dagu, Alishka.
Alishka merasa lemas, dia menyandarkan kepalanya di bahu, Brayan agar dia tak terjatuh ke lantai.
"Masih mual?" tanya, Brayan dengan nada pelan.
Alishka menggeleng pelan. "Perutku sakit," lirih, Alishka.
Perlahan, Brayan membantu istrinya berjalan untuk keluar dari dalam kamar mandi.
"Minum, air hangat, Nak," ucap, Sandra sembari menyodorkan segelas air pada mulut, Alishka.
"Bu, kenapa Alishka muntah-muntah gini dan kepalanya juga sering sakit?" tanya, Brayan yang merasa khawatir pada sang istri.
"Orang hamil memang sering gini, Nak."
"Apa semua orang yang hamil akan mengalami mual, muntah dan pusing?"
"Tidak semua, ada sebagian yang tidak mengalami hal seperti yang dialami, Alishka ini. Tergantung orangnya dan bawaan bayinya."
"Apa berbahaya bagi, Ibu dan bayinya?"
__ADS_1
Sandra tersenyum pada, Brayan. Menikah karena kecelakaan dan tanpa cinta, Brayan bisa se_perduli itu pada, Alishka.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah mereka dari luar.
"Sepertinya ada tamu, kamu bawa istrimu ke kamar ya, Ibu mau bukain pintu untuk tamu kita," ucap, Sandra.
Brayan mengangguk lalu membantu, Alishka berjalan ke kamarnya!
Sandra membuka pintu rumahnya, dia melihat ada besannya yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Pak, Bu, mari masuk!" Sandra mempersilahkan orang tuanya, Brayan masuk ke dalam rumahnya.
Arga dan Ashmita pun masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu rumah itu.
"Mau minum apa, Pak, Bu?" tanya, Sandra.
"Apa aja, Bu," sahut, Ashmita dengan senyuman di bibirnya.
Sandra langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum untuk mereka!
"Siapa, Bu?" tanya, Brayan yang sedang mengambil air minum untuk, Alishka.
"Orang tuamu. Mungkin mereka ingin menemui mu," sahut, Sandra.
"Mama sama Papa pasti ingin tahu keadaan, Alishka tadi aku telpon mereka dan mengatakan bahwa, Alishka masuk rumah sakit."
"Kamu ini, ngerepotin mereka aja. Cepat temui orang tuamu."
Brayan segera pergi meninggalkan, Sandra yang sedang membuat teh untuk tamunya.
Sebelum menemui orang tuanya, Brayan mengantarkan air minum itu terlebih dahulu kepada, Alishka yang sudah menunggunya di kamar.
Brayan segera keluar dari kamarnya setelah memberi istrinya minum! Dia berjalan menuju ruang tamu!
"Mama, Papa," ucap, Brayan.
Brayan mencium punggung tangan, Arga dan Ashmita secara bergantian lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Gimana keadaan istrimu?" tanya, Ashmita.
"Baik, eh tapi dia tidak baik-baik saja," sahut, Brayan.
"Kamu gimana sih? Baik atau kurang baik?" ucap, Arga.
"Alishka mual-mual dan muntah, kepalanya juga pusing dan sakit."
"Apa kata dokter, bukannya tadi sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya, Ashmita.
Sandra datang lalu meletakkan teh yang dia bawa di atas meja lalu dia duduk di kursi itu.
"Alishka baik-baik saja, Bu. Dia sedang mengandung dan usia kandungannya menginjak enam minggu," jelas, Sandra.
Ashmita dan Arga saling menatap satu sama lain. Raut wajah bahagia terpancar dari wajah keduanya.
"Hamil? Jadi, Alishka sudah hamil?" ucap, Ashmita.
"Iya, dia sedang hamil anaknya, Brayan."
__ADS_1
Bersambung