Salah Masuk Kamar

Salah Masuk Kamar
Salah Masuk Kamar bab 24


__ADS_3

Pagi hari, Alishka terbangun karena perutnya yang terasa mual dan ingin muntah.


Dia langsung berlari keluar dari kamarnya dan segera memasuki kamar mandi!


Brayan yang sudah terbangun lebih dahulu langsung menyusul, Alishka ke dalam kamar mandi dan seperti biasa dia akan memijat pekan punggung sang istri.


"Kepalamu pusing?" tanya, Brayan pada sang istri.


Alishka mengangguk pelan, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya lemas.


Brayan membantu, Alishka berjalan untuk keluar dari kamar mandi!


"Muntah lagi?" tanya, Sandra yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka sarapan.


"Bu, ini bahaya gak? Aku khawatir jika, Alishka terus muntah-muntah seperti ini."


Alishka duduk di kursi makan lalu meminum air putih hangat yang disiapkan oleh, Brayan.


"Jangan khawatir, Nak. Ini hanya sementara kalau hamilnya udah besar mual dan muntah nya akan berhenti," jelas, Sandra.


Alishka beranjak dari duduknya, dia hendak mengambil sesuatu dari dalam kulkas.


"Kamu mau kemana, Al?" Brayan bersiaga di samping, Alishka takutnya istrinya itu terjatuh karena gaya berjalannya yang sedikit sempoyongan.


Alishka membuka pintu kulkasnya lalu mencari sesuatu yang dia inginkan!


"Dimana buah kedondong nya?" tanya, Alishka karena dirinya tak menemukan buah yang dia inginkan.


"Buah kedondong nya habis, Nak. Nanti Ibu beli lagi di pasar ya," ucap, Sandra.


"Aku mau buah itu sekarang, Bu." Alishka merengek pada sang Ibu.


"Aku akan belikan untukmu. Kamu tunggu di sini ya," ucap, Brayan pada Alishka.


"Jangan, kamu gak boleh pergi. Nanti kalau aku pusing siapa yang mau ngurusin aku?"


Brayan menatap, Alishka dengan tatapan penuh tanya. Dalam pikirannya tumben sekali istrinya itu ramah padanya.


Sandra tersenyum tipis. Dia merasa senang karena, Alishka sudah mulai menerima, Brayan.


"Kalau gitu kamu ikut aku, siapa tahu ada yang lain yang kamu inginkan."


Alishka mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya karena tidak mungkin dia pergi ke tempat ramai dengan menggunakan pakaian khas tidur!


Brayan menatap, Sandra dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Bu, boleh kan aku bawa, Alishka ke rumah orang tuaku?" tanya, Brayan.


Brayan tak ingin men_sia-siakan kesempatan ini. Dia akan membawa, Alishka berkunjung ke rumahnya karena sudah hampir dua bulan mereka menikah, Alishka belum pernah tahu ke rumahnya.


Kapan lagi, Alishka mau pergi bersamanya kalau bukan disaat seperti ini.

__ADS_1


"Boleh, Nak. Dia kan istrimu ajak dia kemanapun kamu mau."


"Terimakasih, Bu. Kalau gitu aku pergi ya." Brayan langsung berjalan menuju kamarnya untuk menyusul sang istri!


Setibanya di dalam kamar, Brayan mendapati Alishka yang sedang merapikan kamarnya. Dia sedang melipat selimut bekas, Brayan tidur.


"Alishka, apa yang kamu lakukan? Ini biar aku yang melalukan." Brayan mengambil alih selimutnya dari tangan Alishka.


"Katanya kamu mau ikut sama aku untuk beli buah yang kamu mau. Kamu sudah siap untuk pergi?"


Alishka mengangguk lagi. Entah kenapa dia mengirit suaranya.


Setelah selesai melipat selimutnya dan merapikan tempat tidurnya, Brayan segera mengajak sang istri untuk pergi. Ada rasa bahagia di hatinya yang tak bisa dia ukur berapa besarnya. Hari ini adalah yang pertama kalinya, Alishka bersikap ramah padanya setelah sebelumnya selau bersikap dingin dan selalu memakinya.


Mereka pun pergi dari rumah itu untuk mencari buah yang diinginkan oleh, Alishka.


"Mereka mau ke mana, Bu? Tumben akur?" tanya, Hendra yang baru keluar dari kamarnya.


Sandra menatap suaminya dengan raut wajah yang penuh rasa bahagia.


"Alishka ingin buah kedondong tapi buahnya habis. Mereka mau membeli buah dan setelah itu, Brayan akan membawa Alishka berkunjung ke rumah orang tuanya," jelas, Sandra.


"Semoga anak kita itu tidak galak lagi sama suaminya ya, Bu kasihan, Brayan yang setiap hari diomelin dan tidak diurusi oleh, Alishka."


"Ibu juga berharap seperti itu, Yah. Yang Ibu lihat Brayan itu anaknya baik tapi kadang Ibu bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal bodoh yang membuat anak kita sampai tersakiti seperti ini."


"Ayah juga berpikir seperti itu, Bu. Anak itu terlihat seperti orang baik-baik dan keluarganya juga terlihat sangat berwibawa dan seperti bukan orang sembarangan."


Hendra yang hanya sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan kecil, jelas saja dia tak tahu dan tak mengenal Argadana dan keluarganya.


Begitu juga dengan, Sandra yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Dia juga tidak mengenali kelurga besannya itu.


"Mungkin mereka memang orang baik-baik, Yah. Semoga saja kebaikan mereka didepan kita akan mereka lakukan juga dibelakang kita. Hari ini, Alishka akan ke rumah mereka, jika anak kita mendapatkan perlakuan tidak baik dari keluarga suaminya, Ibu akan meminta, Brayan melepaskan anak kita. Sudah cukup anak kita tersakiti karena kejadian itu."


Hendra hanya diam. Dia mengelus baju sang istri yang mulai sedih karena mengingat nasib putrinya yang memilukan.


*******


Brayan dan Alishka sudah tiba di pasar.


Alishka berjalan mencari buah yang diinginkannya sementara, Brayan mengikuti sang istri dari belakang sambil terus memperhatikan kiri dan kanannya. Brayan takut bersenggolan dengan orang-orang yang berlalu-lalang di pasar itu terlebih di pagi seperti ini pasar sedang dalam keadaan ramai pengunjung.


"Al, kita beli buahnya di tempat lain aja yuk."


"Di sini juga buahnya bagus-bagus kok," ucap, Alishka.


"Itu buah bekas dipegang-pegang orang lain, apa iya masih higienis?"


"Iya tidak higienis kalau kamu langsung memakannya, makanya sebelum dimakan buah harus dicuci terlebih dahulu biar bersih dan tidak menyebabkan sakit perut." Alishka melanjutkan memilah buah yang akan dia beli.


Setelah selesai, Brayan menanyakan harga semua buah yang dibeli oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Berapa, Pak semuanya?" tanya, Brayan pada penjual buah itu.


"Tujuh puluh ribu, Mas."


"Apa? Tujuh puluh ribu untuk buah sebanyak ini?" Brayan terkejut dengan harga buah yang murah tapi dapat dua kilo kedondong dan dua kilo mangga muda.


"Harganya memang segini. Kamu biasa beli berapa sampai terkejut gitu," ucap, Alishka.


"Tidak. Aku tidak pernah beli buah yang rasanya adam gini." Brayan mengambil selembar uang berwarna merah lalu memberikannya pada penjual itu.


"Ini, Pak ambil saja kembaliannya ya," ucap, Brayan pada penjual buah itu.


"Wah, terimakasih Mas."


Setelah membayar, Alishka dan Brayan pun melanjutkan perjalanan mereka.


"Mau beli apa lagi?" tanya, Brayan sembari menenteng belanjaan istrinya.


"Aku mau beli baju. Kamu ada uang gak?"


"Untuk kamu pasti ada tapi kita beli bajunya jangan di sini kita beli baju kamu di tempat langganan aku aja."


"Terserah kamu, yang penting aku bisa beli baju yang nyaman dipakai."


Mereka pun langsung keluar dari pasar itu dan mulai meninggalkan area pasar tersebut!


"Al, aku mau ajak kamu ke rumah orang tuaku dulu ya. Aku mau ngambil pakaianku, kamu mau kan ke rumah orang tuaku sebentar saja."


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya."


Entah kemana sedari bangun dari tidurnya, Alishka selalu bersikap ramah pada, Brayan. Hal itu membuat Brayan sangat bahagia.


Brayan tersenyum sambil terus fokus berkendara.


Setelah hampir satu jam berkendara akhirnya mereka tiba di depan gerbang yang tinggi dan mewah.


Seorang satpam membuka pintu gerbang itu dan mempersilahkan, Brayan masuk kedalamnya!


Alishka mengedarkan pandangannya ke sekeliling, baru pertama dia melihat rumah yang mewah dengan halaman yang luas seperti taman tempat biasa dia nongkrong bersama dengan teman-temannya.


"Tuan Muda, udah lama banget gak pulang?" tanya seorang laki-laki sembari membukakan pintu mobil, Brayan.


"Tuan Muda?" ucap, Alishka didalam hatinya.


Brayan membukakan pintu mobil untuk, Alishka karena istrinya itu hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Al, ayo turun," ucap Brayan.


Alishka segera turun dari mobilnya lalu berjalan beberapa langkah menapaki lantai yang memantulkan bayangan dirinya.


"Selamat datang di rumah orang tuaku. Mari masuk!" Brayan berjalan dengan menggandeng tangan Alishka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2