
''Apa Kak Ghazi----'' Galang menggantungkan ucapannya, rasanya ia tak pantas mengatai Kakaknya dengan perkataan yang tidak baik dan masih belum tentu jelas kebenarannya.
''Mama juga tidak tau. Mama harap itu semua tidak akan pernah terjadi,'' ucap Mama Mayang.
''Solusi terbaiknya kita harus segera menjodohkan Ghazi dengan anak rekan bisnisku. Kita harus bisa memaksanya agar ia mau,'' ujar Papa Leo.
''Pasti rasanya nggak enak banget di jodohkan. Semoga aku bisa menemukanmu agar kisah asmaraku tidak seperti Kakak,'' batin Galang.
*
*
Di rumah Ghazi, saat ini Cindhi tengah bersiap-siap untuk pergi ke kota B bersama dengan Alex. Cindhi pun memasukkan beberapa helai baju yang akan ia bawa kesana. Cindi tidak membawa banyak pakaian karna di sana hanya beberapa hari saja.
''Semoga Kak Ghazi besok beneran nyusul. Udah rindu berat nih aku sama dia,'' gumam Cindhi.
Deringan telepon membuatnya meninggalkan kopernya. Ia pun berjalan menuju ranjang untuk mengambil ponselnya yang tengah berdering.
❤Kak Ghazi❤
''Halo Kak?'' sapa Cindhi, ia bahagia sekali karna Ghazi menelponnya.
''Halo Cinta, maaf ya Kakak nggak bisa menyusul kamu kesana besok. Mama akan balik ke Jakarta, dan adikku juga ikut. Kamu nggak pa-pa kan cuma sama Alex?'' tanya Ghazi.
''I iya Kak, nggak apa-apa. Memangnya kapan Tante Mayang akan pulang ke Jakarta?'' tanya Cindhi penasaran.
''Rencananya besok Cin. Dan aku harus jemput mereka di Bandara,'' ucap Ghazi terdengar lembut di telepon.
''Iya udah nggak pa-pa Kak. Aku akan menyelesaikan semuanya agar segera pulang,'' ucap Cindhi dengan raut wajah lesu. Baru saja ia bersemangat karna besok akan bertemu dengan Ghazi, namun Ghazi malah tidak bisa menyusulnya ke kota B.
''Ya sudah! Berangkat hati-hati. Aku mencintaimu Cinta,'' ucap Ghazi sebelum menutup panggilannya.
Setelah panggilannya selesai, Cindhi kembali membereskan barang-barang yang ia bawa. Suara klakson mobil sudah terdengar di halaman rumah.
''Yah, itu pasti Pak Alex, cepet banget nyampeknya. Aku aja belum mandi,'' gumamnya.
Cindhi pun langsung menghubungi Alex, agar ia menunggunya di ruang tamu. Alex pun menurut saja apa yang di ucapkan oleh kekasih bosnya itu.
''Gila!! Pak Ghazi sama Cindhi tinggal satu atap gini. Apa mereka udah ehem ehem ya. Secara body Cindhi bak gitar spanyol kayak gitu,'' gumamnya. Alex pun berfikir yang macam-macam kepada atasan dan kekasihnya itu. Pasalnya di rumah itu hanya ada mereka berdua, dan para art ada di rumah belakang sedangkan Mama Mayang masih berada di luar negeri.
__ADS_1
Setelah menunggu hanpir 1 jam an, akhirnya Cindhi keluar dari kamarnya dengan menarik kopernya.
''Apa perlu bantuan?'' tanya Alex.
''Nggak usah Pak. Ini nggak berat kok,'' ujar Cindhi.
Setelah memasukkan semua barang-barangnya, mereka pun segera berangkat ke lokasi kota B. Mungkin jarak antara kota B dan Ibu kota hanya sekitar 2 sampai 3 jam an.
''Pak Ghazi tadi memberi tahu kalau kita hanya perlu memantaunya saja, kita disana hanya 2 hari tidak sampai 3 hari,'' ucap Alex sambil memandang jalanan.
''Benarkah? Jadi besok sore kita sudah bisa pulang dong?'' tanya Cindhi dengan raut wajah bahagia.
''Iya, tapi jika kamu mau di sana ya silahkan!'' ucap Alex.
''Ngapain aku di sana Pak, kurang kerjaan banget,'' ujar Cindhi langsung berubah ekspresinya.
''Ya kalau mau aja sih. Kalau nggak ya nggak pa-pa,'' ujar Alex.
Setelah perjalanan memakan waktu 2 jam lebih, akhirnya mereka sampai di lokasi tempat perusahaan cabang milik Pratama Corp di bangun.
''Mending kamu berteduh di sana, cuaca disini panas banget, nanti kalau kamu sakit aku lagi yang di salahin sama kekasih kamu,'' ujar Alex.
''Ya udah deh terserah. Tapi janji jangan pingsan disini, daripada nanti aku yang di pecat,'' ucap Alex.
''Iya iya, udah tenang aja Pak,'' ujar Cindhi ikut mendekat ke arah gedung yang akan di bangun.
*
*
Di lain tempat, saat ini Mama Mayang dan Galang pun telah tiba di Bandara Ibu Kota. Mereka duduk di kursi ruang tunggu menunggu Ghazi menjemput mereka.
Selang beberapa saat Ghazi pun datang.
''Udah lama nunggunya?'' tanya Ghazi membuat Galang dan Mama Mayang mendongak.
''Hai Kak, apa kabar? Tambah tua tambah kece aja,'' ujar Galang saat melihat sang Kakak bertambah tampan.
''Ya iya lah, memangnya kayak situ, tambah gede tambah jelek!'' cibir Ghazi. Ya, mereka selama ini tidak pernah akur. Saat kecil, sering sekali berebut mainan. Padahal mainan yang di belikan oleh orang tua mereka pun sama, namun milik Galang selalu rusak lebih dulu.
__ADS_1
''Jelek-jelek gini pacar aku cantik, semlohay Kak. Kakak nggak tau aja,'' ucap Galang.
''Heleh, nggak percaya!'' ucap Ghazi.
''Memangnya seperti Kakak, tampan-tampan tapi jomblo,'' ejek Galang.
''Udah-udah, kenapa sih kalian ini nggak bisa akur. Dari kecil udah saling mengejek aja. Ingat! Kalian ini udah tua, ingat umur tuh!'' ucap Mama Mayang.
''Iya-iya Ma,'' ucap Ghazi dan Galang bersamaan.
''Iya iya, kalau di bilangin cuma iya iya. Masih sama aja kayak dulu,'' omel Mama Mayang.
''Kita pulang sekarang! Mama pusing nih,'' ucap Mama Mayang menarik tangan kedua anaknya.
Sesampainya di rumah, Mama Mayang mencari keberadaan Cindhi.
''Cindhi mana Zi?'' tanya Mama Mayang.
''Dia lagi keluar kota sama Alex Ma. Besok sore pulang,'' ujar Ghazi. Mama Mayang pun hanya menganggukkan kepalanya.
''Ya udah, Mama istirahat dulu. Urusin tuh adikmu yang bandel itu,'' ujar Mama Mayang meninggalkan mereka.
Galang masih sibuk melihat-lihat isi rumah yang lebih dari 5 tahun ia tinggalkan. Banyak perubahan di rumah itu, dari yang awalnya rumah berlantai 1 saat ini sudah berlantai 2 dan juga sangatlah mewah.
''Kak, gimana caranya bangun rumah sebesar ini?'' tanya Galang kepada sang Kakak.
''Entahlah, aku juga tidak tau. Karna bukan aku yang membangunnya,'' ujarnya enteng.
''Ih Kakak sekarang pinter ya, udah bisa bales pertanyaan jebakanku,'' ujar Galang tertawa pelan.
''Kamu kira Kakakmu ini bodoh. Kalau Kakakmu ini bodoh mana mungkin jadi CEO di perusahaan Pratama Corp yang cabangnya ada dimana-mana. Mikir tuh pakek otak, jangan pakek dengkul,'' ucap Ghazi berlalu begitu saja dari hadapan Galang.
''Hahahaa, Kak Ghazi gitu aja udah ngegas. Dia masih sama aja kayak dulu,'' gumam Galang tertawa sendiri.
Sementara Ghazi lebih memilih pergi ke kamarnya dan menghubungi sang kekasih hati.
*
*
__ADS_1