
''Sepertinya perkiraan Tante Mayang salah besar. Jika Kak Ghazi suka sesama jenis, ia tidak mungkin menciumku seperti layaknya seorang laki-laki kepada seorang perempuan,'' batin Cindhi yang masih mematung di tempatnya. Ia tidak mendengarkan Ghazi berbicara apa di teleponnya, ia malah berperang dengan fikirannya sendiri.
Cindhi yang tidak tau kapan berakhirnya Ghazi menelpon terlonjak kaget saat tangan Ghazi membelai rambut panjangnya.
''Kak, sebaiknya Kakak bersiap,'' ucap Cindhi dengan kegugupan yang melandanya. Namun Ghazi malah mengusap bibir ranum milik Cindhi.
''Cin, bibir ini dan semua yang ada pada dirimu itu milikku. Jangan pernah ada orang lain yang berani menyentuhnya,'' ujar Ghazi. Cindhi pun melebarkan matanya saat Ghazi berkata seperti itu. Otak kecilnya tidak bisa mencerna ucapan Ghazi barusan.
''Ma maksud Kakak?'' tanyanya.
''Kamu sudah dewasa Cin. Seharusnya kamu sudah tau maksudku,'' ujar Ghazi mencium bibir Cindhi lagi. Setelah itu ia berjalan ke arah lemarinya. Ia memilih baju kerja di sana dan memakainya di tempat.
''Ha?'' Cindhi langsung membekap mulutnya sendiri saat melihat Ghazi yang telanjang bulat di depannya.
''Kak Ghazi bisa nggak sih ganti banjunya di kamar mandi aja,'' ucap Cindhi sambil memejamkan matanya.
''Aku terbiasa ganti baju disini Cin. Salah siapa yang tiba-tiba masuk kamarku seenaknya,'' ujar Ghazi.
''Hihh,'' Cindhi yang kesal pun langsung berlari keluar. Ia benar-benar tidak menyangka jika Ghazi akan berperilaku seperti itu di depannya.
''Kak Ghazi udah gila kali ya,'' gerutu Cindhi sambil menuruni anak tangga. Ia pun langsung menuju meja makan untuk sarapan seorang diri tanpa menunggu Ghazi lagi. Ia kesal kepada lelaki tadi.
''Ehm, nggak nungguin calon suami nih makannya?'' tanya Ghazi duduk di hadapan Cindhi. Cindhi yang mendengar ucapan Ghazi barusan tersedak makanan yang baru di telannya.
''Kamu nggak pengen ambilin calon suamimu makan?'' tanya Ghazi sambil menyodorkan piring miliknya.
''Jangan bicara gitu Kak. Kalau ada yang denger nanti salah paham,'' ujar Cindhi.
''Memangnya kenapa? Kan aku udah bilang jika kamu itu hanya milikku. Dan tidak ada yang boleh menyentuhmu walaupun hanya secuil,'' ucap Ghazi.
''Kenapa Kakak jadi aneh gini?'' tanya Cindhi heran.
''Karna aku sudah melihat semua yang ada di tubuhmu,'' jawab Ghazi dengan entengnya.
''Apa?! Kok bisa?'' tanya Cindhi sambil menyilangkan tangan di dadanya.
''Ya bisa. Buktinya tadi malam kita tidur bersama,'' ucap Ghazi.
''Kak Ghazi nggak ngapa-ngapain aku kan?'' tanya Cindhi dengan wajah menelisik.
''Emm, nggak inget sih. Tapi ada yang kerasa empuk-empuk gitu saat kita berpelukan tadi malam. Dan aku ingin mengulanginya lagi,'' ujar Ghazi membuat Cindhi malu dan kesal.
''Kak Ghazi!!!'' pekik Cindhi kesal.
''Apa Cinta. Kamu juga menginginkannya kan. Mumpung kita di rumah berdua kita bisa melakukannya, kapanpun itu,'' ucap Ghazi dengan kedipan sebelah matanya.
*
Sesampainya di kantor, Cindhi masuk ke dalam ruangannya. Namun sampai di dalam ia tidak menemukan meja dan kursi yang biasa ia tempati. Di sana Alex juga terlihat belum datang.
__ADS_1
''Meja sama kursiku kemana? Duhh, kok bisa hilang sih,'' ujar Cindhi sedikit panik.
Ceklek.
Pintu ruangan miliknya pun terbuka. Alex yang baru saja tiba langsung menyunggingkan senyum kepada Cindhi.
''Pak mejaku kemana?'' tanya Cindhi.
Pak Alex hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak mengerti.
''Apa di perusahaan ini ada hantu yang suka mencuri meja dan kursi?'' tanyanya lagi.
''Coba saja kamu ke ruangan Pak Ghazi. Siapa tau dia yang mengambil meja dan kursimu,'' ucap Alex sambil berbisik di telinga Cindhi.
''Mana ada Kak Ghazi yang ambil. Sejak tadi dia sama aku kok,'' ucap Cindhi, namun langkah kakinya tertuju ke ruangan Ghazi saat Alex bicara seperti itu.
Tok tok tok.
''Masuk!'' ucap Ghazi dari dalam ruangan.
Cindhi pun masuk ke dalam ruangan, dan benar kursi dan mejanya berada di ruang CEO menyebalkan itu.
''Ada apa Cinta?'' tanya Ghazi sambil matanya fokus pada laptop yang berada di depannya.
''Kok kursi sama meja aku ada disini Kak?'' tanya Cindhi.
''Kerja disitu? Satu ruangan sama orang gila ini. Apa kata dunia coba,'' gerutu Cindhi dalam hati.
''Atau kamu mau satu meja denganku?'' tanya Ghazi sambil tersenyum manis.
''Eng enggak. Aku disini aja,'' ujarnya.
Cindhi pun segera duduk di atas kursinya. Ia segera membuka laporan-laporan yang harus ia kerjakan. Sementara Ghazi melihat Cindhi yang sedikit panik hanya menyunggingkan bibirnya.
''Kamu akan menjadi milikku Cin. Bagaimana pun caranya,'' ujar Ghazi dalam hati.
*
Jam makan siang sudah tiba, Cindhi bangkit dari duduknya untuk pergi ke kantin mencari makan. Namun Ghazi menghentikannya.
''Mau kemana?'' tanyanya.
''Kantin, aku lapar Kak,'' ujar Cindhi.
''Duduklah, aku sudah memesankan makanan untuk kita,'' ujar Ghazi.
''Katanya nggak boleh makan di dalam ruangan,'' sindir Cindhi.
''Ya suka-suka aku dong! Kan aku yang buat peraturan,'' ujarnya enteng.
__ADS_1
''Ya, ya. Orang kaya mah bebas,'' batin Cindhi.
Setelah menunggu beberapa menit, makanan yang di pesan oleh Ghazi pun tiba. Mereka pun segera menikmati makan siang mereka.
''Gimana, enak?'' tanya Ghazi.
''Not bad,'' ujar Cindhi. Ghazi pun tertawa pelan saat melihat bibir Cindhi terdapat saus yang menempel disana.
Dengan spontan tangan Ghazi meraih tisu dan mengelapnya. Lagi-lagi pandangan mereka beradu satu dengan yang lain.
''Ada apa dengan diriku. Aku tidak mungkin mencintai Kakakku sendiri,'' batin Cindhi.
''Bibir ini hanya milikku Cin,'' ujar Ghazi lagi-lagi mengusap bibir itu dengan pelan.
''Aku rasa sudah bersih Kak,'' ujar Cindhi meraih tangan Ghazi agar menghentikan aktivitasnya.
Saat mereka melanjutkan makan siangnya. Suara deringan ponsel membuat Cindhi mau tidak mau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya untuk melihat siapa yang menelpon.
Matanya pun membola saat melihat nama di ponsel itu.
❤Nail❤
Ia pun melirik sebentar ke arah Ghazi yang tengah memperhatikan dirinya. Akhirnya panggilan itu ia tolak begitu saja.
''Siapa?'' tanya Ghazi penasaran.
''Teman!'' ujar Cindhi yang ikut duduk lagi di sofa.
Saat ia ingin menyendokkan makanannya lagi. Ponselnya lagi-lagi berbunyi. Ghazi yang merasa geram pun langsung merebut ponsel Cindhi.
''Nail? Siapa dia?'' tanya Ghazi dengan tatapan tajam ke arah Cindhi.
''Dia, dia----''
''Kekasih kamu?'' tebak Ghazi. Mau tidak mau Cindhi menganggukkan kepalanya.
''Angkat, dan putuskan dia!'' perintah Ghazi.
''Ta tapi Kak---''
''Atau harus aku yang angkat dan bilang semuanya?'' tanya Ghazi.
''Iya iya sini ponselnya,'' ucap Cindhi kesal.
''Loudspeaker!'' perintah Ghazi. Cindhi pun menurut, ia tidak mau ribut dengan orang yang setengah waras ini.
*
*
__ADS_1