
''Ha halo,'' sapa Cindhi sambil melirik Ghazi.
''Hallo Baby, kamu di mana? Kenapa tidak pernah mengangkat teleponku?'' tanya Nail dengan bahasa indonesia yang belum begitu lancar.
''A aku, aku----''
Cindhi lagi-lagi melirik ke arah Ghazi. Ghazi pun menaikkan sebelah alisnya.
''Cepetan ngomong!'' ujarnya.
''Halo Baby, apakah kamu masih disana?'' tanya Nail.
''Akhh iya iya sayang. Aku masih disini kok. Sebenarnya sekarang aku berada di Indonesia sayang. Aku bekerja disini,'' ujar Cindhi mendapat tatapan tajam dari Ghazi.
''Why should work? Kita bisa menikah dan kamu tidak usah capek-capek bekerja Baby,'' ujar Nail. Cindhi pun menelan salivanya dengan susah.
''I'am sorry, tapi kita harus mengakhiri hubungan ini Nail. Aku ingin fokus bekerja demi masa depanku. Kamu mengertikan dengan ucapanku?'' ucap Cindhi dengan memejamkan matanya. Ia merasa tidak rela melepas kekasih yang sudah hampir 1 tahun ini bersamanya.
''Sudah berapa kali aku bilang jika aku tidak mau mengakhiri hubungan ini Baby. Aku tidak akan mengganggu dirimu bekerja, tapi jangan akhiri hubungan ini,'' ujar Nail langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Cindhi pun menghembuskan nafas panjangnya.
''Kenapa dia nggak mau memutuskan hubungan denganmu?'' tanya Ghazi sambil menatap Cindhi dengan tajam.
''Ya karna aku cantik dan baik. Mana ada cowok yang mau aku putusin. Bahkan ketiga kekasihku saat ini tidak ada yang mau mengakhiri hubungannya. Meskipun mereka tau, kekasihku tidak hanya satu,'' ujar Cindhi keceplosan. Ia pun langsung membekap mulutnya sendiri.
''Apa kamu bilang? saat ini kamu punya tiga kekasih sekaligus?'' tanya Ghazi menyipitkan matanya. Cindhi pun hanya mengangguk lemah.
''Kamu bangga?'' tanyanya lagi. Dan Cindhi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Detik berikutnya, Ghazi merebut ponsel milik Cindhi. Lalu ia berjalan menuju jendela kaca yang ada di ruangannya. Ponsel milik Cindhi yang baru saja ia pegang pun di terjunkan dari gedung berlantai 20 itu.
''Kakkkkkkk,'' pekik Cindhi. Ia berlari mendekat ke arah Ghazi dan melihat ke bawah.
''Ponselku,'' Cindhi sedih saat ponselnya sudah tidak terlihat lagi.
''Gampang kan. Dengan begitu mereka tidak akan mengganggu kamu lagi,'' ujar Ghazi tanpa merasa berdosa sedikit pun.
''Kak Ghazi nyebelin banget sihhh!'' gerutu Cindhi.
__ADS_1
''Dan sekarang hanya aku laki-laki satu-satunya yang ada di hidupmu Cinta,'' ujar Ghazi tersenyum smirk ke arah Cindhi.
''Terserah deh terserah! Kita ini adik Kakak. Mana ada hubungan konyol seperti ini,'' ujar Cindhi sambil duduk di kursinya dengan kasar.
''Apa kamu lupa jika kita ini saudara jauh, hem?'' tanya Ghazi.
''Ya tetap saja kita tidak boleh menikah Kak!'' ucap Cindhi yang masih kesal.
''Kata siapa? Bahkan aku sudah berbicara kepada Mama jika kita mempunyai hubungan. Dan Mama sangat senang mendengarnya,'' ucap Ghazi berbohong dengan menyangkut pautkan Mamanya di dalam hubungannya.
''Apa?! Kenapa Kakak bisa semenyebalkan ini sih!'' ucap Cindhi menatap kesal ke arah Ghazi, namun yang di tatap malah tersenyum penuh kemenangan.
*
Sepulang dari kerja, Cindhi masih merajuk karna ponselnya di buang oleh Ghazi. Sepanjang perjalanan ia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya pun maju ke depan pertanda ia kesal.
''Bibirnya nggak usah gitu, daripada aku gigit,'' ujar Ghazi fokus pada jalanan yang ada di depannya. Cindhi tak mengindahkan ucapan Ghazi, ia lebih memilih melihat jalanan yang ada di sekitar.
Ckitttt.
Ghazi pun menghentikan laju mobilnya.
''Kakak apaan sih, lihat nih bibirku tadi pagi aja masih bengkak kayak gini. Udah mau di tambahin aja,'' gerutu Cindhi.
''Ya habisnya bibir kamu bikin candu sih,'' ujar Ghazi mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Dan Cup.
''Manis,'' ucap Ghazi lalu menjauhkan wajahnya dan menyalakan mesin mobilnya.
''Ck, kebiasaan banget!'' batin Cindhi. Walaupun mulutnya menggerutu tidak jelas, namun tubuhnya menerima ciuman yang Ghazi berikan.
Setelah beberapa saat perjalanan, mobil Ghazi terparkir di depan toko ponsel yang berada di kota itu. Ghazi pun turun tanpa mengajak Cindhi. Ia berjalan masuk ke dalam toko ponsel itu dengan gaya cool nya.
''Kenapa aku punya Kakak sekeren itu sih. Ya ampun, aku bisa gila jika berdekatan dengannya terus menerus,'' gumam Cindhi memperhatikan Ghazi yang tengah masuk toko ponsel.
Selang beberapa saat, pintu dekat kemudi pun di buka, lalu Ghazi masuk ke dalam.
__ADS_1
''Nih aku belikan ponsel yang baru,'' ujar Ghazi menyerahkan ponsel yang seharga puluhan juta itu.
''Aku nggak butuh!'' ucap Cindhi yang masih mode ngambek.
''Beneran? Ini model terbaru loh. Beneran kamu nggak mau? Kalau beneran nggak mau mending aku kasih ke orang aja,'' tanya Ghazi serius.
''Ya mau lah Kak. Kenapa masih tanya lagi. Ish ish, kalau ngasih yang ikhlas dong!'' ucap Cindhi langsung merebut ponsel itu.
''Thanks Kak,'' ucap Cindhi dengan raut wajah yang gembira.
''Katanya nggak mau,'' ledek Ghazi.
''Ya mau lah. Siapa juga yang nggak mau ponsel sebagus ini,'' ucap Cindhi membuka tempat ponsel itu.
''Hem, aku juga punya nih,'' Ghazi menunjukkan ponsel yang sama dengan yang di pegang Cindhi.
''Lhoh, kok sama!'' ucap Cindhi kaget.
''Iya, aku pengen couplean sama kamu,'' ujar Ghazi enteng.
''Dasar bucin!. Tapi bentar-bentar. Kenapa di belakang ponselku ada tulisan G?'' tanya Cindhi merasa aneh.
''G, inisial namaku. Dan di belakang ponselku ada inisial nama kamu,'' ujar Ghazi memperlihatkan belakang ponselnya yang benar ada inisial namanya.
Cindhi pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa bahwa lelaki di depannya kali ini sangatlah cinta kepadanya.
''Kenapa harus seperti ini sih Kak? Kalau akhirnya hubungan kita tidak bisa di lanjutkan bagaimana? Aku hanya takut jika suatu saat nanti kita sudah saling mencintai, namun masih ada persaudaraan yang memaksa kita harus mengakhiri semuanya,'' ucap Cindhi serius.
''Hey, kamu tidak perlu khawatir. Percayalah denganku, hubungan persaudaraan kita ini jauh Cin, kita pasti bisa menikah suatu saat nanti. Dan tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita berdua. Tugasmu sekarang, hanya belajar mencintaiku saja. Jangan berfikir yang tidak-tidak Cinta!'' ucap Ghazi menggenggam tangan Cindhi dan menatapnya dengan tatapan serius.
''Baiklah!'' ucap Cindhi pasrah. Mau tak mau ia harus menerima perasaan Ghazi kepadanya. Karna menurut Cindhi, berada di dekat Ghazi membuat ia nyaman dan aman. Bahkan Ghazi bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat daripada bersama dengan para kekasihnya yang hanya biasa-biasa saja.
''Maafkan aku karna tidak ada kata perpisahan untuk hubungan kita,'' batin Cindhi mengingat Hazel, Nail dan juga Kenan yang telah baik kepadanya selama ini.
*
__ADS_1
*
Maaf baru bisa update guys.