SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 32


__ADS_3

Pagi buta ia pun berangkat menuju kota P. Tidak ada yang tau ia berangkat. Namun Ghazi mengirim pesan kepada sang istri jika ia pergi ke kota P selama 2 hari.


Pagi itu Cindhi bangun dari tidurnya. Mata yang semalaman mengeluarkan air mata pun terlihat masih membengkak. Ia segera turun dari atas ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Setelah beberapa saat, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Cindhi segera mengambil pakaian kerjanya dan memakainya. Tak lupa ia memoles wajahnya dengan make up agar tidak terlihat pucat.


Setelah rapi dengan baju formalnya. Ia meraih ponselnya lalu membukanya sebentar.


📩''Cinta, aku izin ke kota P selama 2 hari. Jaga kesehatan, jika ada yang memperlakukanmu tidak baik segera hubungi aku. Istirahatlah, hari ini dan besok tidak usah pergi ke kantor, aku tidak ingin kamu lelah,'' bunyi pesan itu.


Cindhi menatap layar ponselnya dengan kecewa. Kenapa ia tidak di ajak ke kota P, kenapa ia malah di tinggal sendiri di rumah itu setelah kejadian tadi malam yang membuat Cindhi takut untuk bertemu dengan orang tua Ghazi.


''Kak Ghazi gimana sih, kenapa aku di tinggal sendiri,'' gerutunya.


Setelah uring-uringan sendiri, ia pun keluar dari kamar, ia merasa perutnya sangat perih karna tadi malam ia tidak makan malam. Di meja makan sudah ada Om Leo yang menatap Cindhi dengan tatapan datarnya.


''Pagi Om,'' sapa Cindhi berusaha bersikap biasa saja kepada Papa Ghazi.


''Pagi,'' jawab Om Leo sambil mengoles selai pada rotinya.


Cindhi pun duduk di kursi biasanya. Sebenarnya ia canggung berada satu meja dengan mertuanya itu. Apalagi di meja itu hanya ada mereka berdua.


Om Leo memakan roti selai nya tanpa berucap sepatah kata pun. Cindhi pun segera mengambil roti dan juga di isi selai di dalamnya.


Setelah beberapa menit, roti yang ada di hadapan Om Leo telah habis. Ia pun segera mengusap bibirnya menggunakan tisu.


''Ehm, apa yang sebenarnya yang kamu lakukan kepada kedua anakku sampai-sampai mereka jatuh hati kepada dirimu,'' tanya Om Leo dengan tatapan datarnya.


''Maksudnya Om?''


''Jangan pura-pura bodoh Cin,'' ucapnya.

__ADS_1


''Ghazi sudah menerima perjodohan itu. Maka dari itu dia harus menikah dengan orang yang sudah di jodohkan. Pertunangan mereka akan di adakan besok malam,'' ucap Om Leo.


''Nggak bisa Om. Kami saling mencintai,'' ucap Cindhi dengan tatapan memohon kepada Om Leo.


''Saling mencintai?'' ucap Om Leo dengan tersenyum mengejek. ''Mencintai dalam hal apa? Bagiku tidak ada cinta di dunia ini,''


''Itu menurut Om, berbeda menurut kami. Kami sepasang muda mudi yang saling mencintai. Walaupun Om ataupun Tante tidak setuju dengan hubungan yang kami jalani tapi asal Om tau kita sudah menikah siri 1 minggu yang lalu, jadi tidak ada satupun yang bisa memisahkan kami, selain maut,'' ucap Cindhi menekan ucapannya agar tidak sampai mengeluarkan emosinya di depan mertuanya.


''Aku tau,, sebenarnya kamu tidak mencintai anakku. Kamu hanya mencintai hartanya saja bukan? Sedangkan perusahaan ayah kamu sudah gulung tikar bahkan kamu tidak punya apa-apa,'' ucap Om Leo membuat Cindhi ingin menangis saat itu juga.


''Kamu hanya butiran debu Cin. Kamu tidak akan bisa bersanding dengan keluarga kami. Ghazi sudah aku jodohkan dengan orang yang tepat, begitu juga dengan Galang, jadi jangan pernah mendekati mereka lagi,'' lanjut Om Leo.


Jelas hati Cindhi saat ini sangatlah sakit. Ia tidak menyangka Om nya akan berkata demikian kepadanya. Apa memang nasib orang yang tidak punya akan berakhir menyedihkan seperti ini, batinnya.


''Berapa yang kamu butuhkan?'' tanya Om Leo membuat Cindhi mendongakkan kepalanya menatap sang mertua.


''Maksudnya?'' Cindhi mengerutkan keningnya. Ia tidak paham dengan ucapan mertuanya.


''Cintaku ke Kak Ghazi tidak bisa di tukar dengan uang Om. Kami saling mencintai, bahkan kami tidak bisa di pisahkan begitu saja,'' ujar Cindhi.


''Oh ya? Benarkah?'' ucap Om Leo dengan senyum mengejek.


''Aku mohon sama Om. Restui hubungan kami, dan batalkan perjodohan Kak Ghazi dengan Ayumi Om,'' ucap Cindhi dengan memohon.


''Itu tidak akan pernah terjadi!'' ucap Om Leo menatap Cindhi dengan tatapan tajamnya sebelum ia pergi dari meja makan itu.


Tes.


Air mata Cindhi pun menetes begitu saja saat Om Leo pergi dari hadapannya. Sakit? Jelas! Ini adalah saat-saat yang di takutkan oleh Cindhi selama ini.


''Kak, apa aku sanggup tetap berdiri di tempatku saat kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita?'' batin Cindhi menekan dadanya yang terasa nyeri karna menahan tangisannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berdiam diri di tempatnya. Ia pun segera membereskan bekas makanannya. Setelah itu ia segera berangkat ke kantor karna ia tidak mau terus berdiam diri di rumah. Takutnya Om Leo akan menganggap ia hanya mencintai uang Ghazi saja.


Cindhi pun memesan taksi online untuk mengantarkannya ke kantor. Tak berselang lama, taksi yang di pesan oleh Cindhi tiba di depan gerbang.


Setelah ia masuk ke dalam taksi, taksi itu pun melaju membelah jalanan ibu kota yang sudah ramai. Namun ada hal janggal disini. Taksi itu pun membawa Cindhi lewat jalanan tikus yang lumayan sepi.


''Pak, kok lewat sini?'' tanya Cindhi.


''Iya Neng, soalnya lewat jalan yang biasanya macet. Ada kecelakaan katanya Neng,'' ucap sopir taksi itu. Cindhi pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia pun tidak menaruh curiga sedikitpun kepada sopir taksi itu.


''Silahkan minum dulu Neng. Sepertinya Neng haus ya,'' ucap sopir sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada Cindhi. Cindhi yang terbiasa menghargai pemberian orang pun menerima air itu lalu meminumnya.


''Terima kasih Pak,'' ucap Cindhi.


Selang beberapa menit, Cindhi merasakan kantuk yang luar biasa. Ia pun menguap beberapa kali.


''Kok aku ngantuk banget ya. Apa ini efek menangis semalaman?'' gumamnya lalu memejamkan matanya dan langsung tertidur pulas.


Saat sopir taksi itu melihat Cindhi yang sudah terlelap dalam tidurnya pun langsung menepikan mobilnya.


''Bos, misi pertama berhasil,'' ucap sopir itu menelpon seseorang.


''Bagus! Lakukan misi kedua,'' ucap seorang pria di balik telepon.


''Baik Bos!'' ucap Sang sopir lalu turun dari kursi kemudinya. Ia pun mengeluarkan tali dari dalam bagasinya.


Cindhi yang terlelap dalam tidurnya tidak tau apa yang di lakukan oleh sopir taksi itu. Setelah selesai mengikat kaki dan tangan Cindhi, sopir taksi itu melajukan mobilnya kembali menuju bandara Ibu Kota.


*


*

__ADS_1


Hayo kira-kira Cindhi mau di bawa kemana ya guys.


__ADS_2