
Pagi harinya, Cindhi sudah rapi dengan baju kerjanya. Walaupun matanya masih terlihat bengkak, namun ia akan tetap pergi ke perusahaan. Ia tidak mau Tante Mayang curiga dengannya.
Sesampainya di perusahaan, tiba-tiba ada tangan yang menariknya masuk ke dalam ruangan.
''Pak Alex, Bapak apa-apaan sih,'' gerutu Cindhi meraba pergelangan tangannya yang sakit saat Alex menariknya.
''Meja kamu ada di sini. Jadi jangan pernah masuk ke dalam ruangan Pak bos, daripada nanti aku yang kena amuk,'' ujar Alex menunjuk meja kerja Cindhi yang ia pakai sehari-hari.
''Kenapa mejaku di pindahkan. Aku udah nyaman disana Pak,'' ucap Cindhi yang tidak terima mejanya di pindahkan ke tempat awal.
''Ini perintah dari Pak Ghazi. Kalau kamu melanggar, nanti aku juga yang kena,'' ucap Alex berlalu dan duduk di kursinya.
''Segitu bencinya kah kamu padaku Kak?'' batin Cindhi merasa sesak di dalam dadanya.
Ia pun tidak ambil pusing. Cindhi lebih memilih fokus pada pekerjaannya agar bisa melupakan Ghazi dalam fikirannya.
Jam makan siang tiba, Cindhi bergegas keluar dari ruangannya untuk pergi ke kantin, namun Alex menahannya.
''Tunggu Cin!'' ucap Alex.
Cindhi pun menoleh ke arah Alex. ''Ada apa ya Pak?'' tanyanya.
''Mau kemana?'' tanya Alex balik.
''Mau ke kantin lah, kan ini udah jam istirahat,'' ujar Cindhi ingin melanjutkan langkahnya kembali namun Alex menahannya lagi.
''Tunggu Cin! Kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini, walaupun hanya ke kantin,'' ucap Alex.
''Maksudnya?'' tanya Cindhi yang tidak paham ucapan Alex.
''Pak Ghazi membuat aturan baru untukmu. Ia tidak memperbolehkan kamu keluar dari ruanganmu sebelum pulang. Nanti ada OB yang akan mengantarkan makanan kamu,'' ucap Alex.
''Ya ampun, ternyata dia mengurungku. Aku sudah seperti burung di dalam sangkar kalau begini. Kak Ghazi benar-benar,'' gumamnya kesal kepada orang yang di cintainya itu.
''Tapi tunggu deh,, Kak Ghazi tidak memperbolehkan aku keluar ruangan dan meminta OB membawakan makanan untukku kesini. Berarti Kak Ghazi peduli dong sama aku. Dia masih perhatian gini sama aku,'' batin Cindhi tersenyum bahagia.
__ADS_1
Ia pun kembali duduk di kursinya sambil menunggu OB membawakan makanan untuknya.
''Berasa di istimewakan kalau seperti ini,'' batin Cindhi lagi.
Di dalam ruangannya Ghazi sibuk dengan berkas-berkasnya. Cindhi tidak tau jika Ghazi berada di ruangan bersebelahan dengannya. Ia mengira Ghazi pergi ke luar kota. Jika saja Cindhi tau, pasti Cindhi sudah masuk ke dalam ruangan Ghazi.
Ghazi memerintahkan Alex agar Cindhi terus berada di ruangannya karna ia tidak mau bertemu dengan Cindhi saat ini. Jika melihat wajah Cindhi banyak rasa kekecewaan yang tergores di hatinya. Jadi Ghazi lebih memilih menghindar dan fokus pada pekerjaannya.
Jam bekerja pun berakhir. Cindhi membereskan semua pekerjaan dan ingin segera pulang. Rasanya percuma berlama-lama di kantor jika tidak ada sang pujaan hati.
Saat ia sampai di loby perusahaan, Cindhi seperti melihat mobil yang biasa di pakai oleh Ghazi meninggalkan halaman perusahaan. Belum sempat Cindhi mengejarnya mobil itu pun sudah hilang dari pandangan.
''Kayak mobil Kak Ghazi, tapi iya bukan sih?'' gumamnya. Ia pun segera menggelengkan kepalanya cepat, ia tau itu hanya perasaannya saja karna tengah terbayang-bayang Ghazi dalam fikirannya.
Cindhi pun pulang ke rumah dengan taksi yang sudah di pesannya.
''Rumah ini sepi nggak ada kamu Kak, kapan kamu kembali?'' batin Cindhi merasa kesepian tidak ada Ghazi di dekatnya. Walaupun Ghazi telah menuduhnya yang tidak-tidak dan membuat ia sakit hati, namun rasa cintanya mengalahkan segalanya.
*
Hari-hari pun telah berlalu. Setiap hari Cindhi berangkat dan pulang kerja seperti biasanya. Hampir satu minggu ini ia tidak bertemu dengan Ghazi setelah kejadian itu. Rasa rindu di hati Cindhi membuat ia tidak fokus dalam bekerja. Ia berharap Ghazi kembali dari luar kota dan menemui dirinya.
''Ak aku juga tidak tau,'' ucap Alex yang tidak ingin mendapat masalah dengan atasannya jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada Cindhi.
''Kok bisa Pak Alex nggak tau. Kan Pak Alex asistennya,'' ujar Cindhi merasa aneh.
''Kan Pak Ghazi nggak bilang kapan pulangnya. Gimana aku bisa tau,'' ucap Alex sambil fokus pada laptop yang ada di depannya. Alex tidak berani menatap ke arah Cindhi.
''Pak Alex nggak sedang menyembunyikan sesuatu kan dari aku?'' tanya Cindhi dengan tatapan menyelidik melihat ke arah Alex.
''Menyembunyikan apa? Aku sama sekali nggak menyembunyikan apapun dari kamu,'' ucap Alex setengah gugup karna takut jika Cindhi curiga kepadanya.
Cindhi pun menghela nafasnya dengan kasar. ''Kak Ghazi udah bener-bener nggak sayang aku kayaknya,'' gumam Cindhi pelan. Alex yang sedikit mendengar ucapan Ghazi menatapnya dengan kasihan.
''Pak Ghazi tega bener sama Cindhi. Kenapa dia nggak jujur aja kalau dia nggak pernah ke luar kota. Bahkan saat ini dia ada di ruangannya,'' batin Alex.
__ADS_1
Alex pun keluar dari ruangannya membawa berkas ke ruangan Ghazi tanpa sepengetahuan Cindhi.
Tok tok tok.
Alex pun masuk begitu saja tanpa menunggu Ghazi menyuruhnya masuk.
''Selamat siang Pak, ada berkas yang harus anda tanda tangani,'' ucap Alex menyerahkan berkas yang ia bawa.
Ghazi menerima berkas yang di bawa oleh Alex dan memeriksanya sebentar, setelah itu ia membubuhkan tanda tangan di berkas itu.
''Pak, apa Bapak tidak kasihan kepada Cindhi? Setiap hari ia bertanya tentang Bapak, sampai-sampai saya bingung mau menjawabnya,'' ujar Alex.
''Jawablah sesuai dengan apa yang aku perintahkan. Begitu saja bingung,'' omel Ghazi.
''Tapi Pak, setiap hari ia bertanya kapan Bapak pulang. Dia selalu berbicara sendiri di dalam ruangan karena Bapak tidak pernah menelponnya atau sekedar memberi kabar,'' ujar Alex.
''Hubungan kami sudah berakhir Lex. Untuk apa aku memberi kabar padanya, apa itu penting?'' tanya Ghazi menatap Alex dengan datar.
''Sudahlah pergi dari sini, daripada malam ini kamu tidak pulang gara-gara mulut lemesmu itu,'' ucap Ghazi membuat Alex menelan salivanya dengan susah.
''Maaf Pak, saya tidak bermaksud---''
''Pergi!!!'' usir Ghazi sambil menatap Alex dengan tajam.
''Saya permisi Pak,'' ucap Alex langsung pergi dari hadapan Ghazi. Ia tidak mau berakhir lembur sampai pagi hari ini.
''Aduh, kenapa mulut ini lemes banget sih.Jangan sampai Pak Ghazi menyuruhku lembur malam ini,'' gumamnya sambil keluar dari ruangan Ghazi.
Saat Alex kembali ke ruanganya, Cindhi menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
''Pak Alex darimana?'' tanya Cindhi.
Deg.
*
__ADS_1
Ghazi kejam nggak sih menurut kalian guys.
Jangan lupa corat coret di bawah ini ya.