
''Ini udah malam Beib, katanya kamu mau istirahat. Kayaknya Kak Ghazi juga udah tidur deh,'' ucap Galang mencegah Cindhi agar tidak masuk ke dalam kamar Ghazi.
''Kak Ghazi belum tidur. Barusan ia telpon aku suruh ke kamarnya untuk membahas proyek yang ada di kota B,'' ucap Cindhi beralasan.
''Aku masuk dulu!'' ucap Cindhi pergi meninggalkan Galang yang tengah menatapnya. Cindhi tanpa mengetuk pintu langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Ghazi. Untung kamar itu tidak di kunci oleh pemiliknya. Jadi ia leluasa untuk masuk ke dalam.
''Kak Ghazi dimana ya? Apa dia ada di balkon?'' gumam Cindhi pelan. Ia pun melangkah menuju pintu balkon yang sedikit terbuka.
''Kak,'' panggil Cindhi membuat Ghazi terlonjak kaget.
''Ngapain kamu kesini?'' tanya Ghazi dengan ketus.
''Kenapa teleponku nggak di angkat, pesanku juga nggak Kakak baca?'' tanya Cindhi.
''Apa itu penting?'' tanya Ghazi tanpa menatap ke arah Cindhi.
''Itu sangat penting menurutku, namun entahlah menurut Kakak,'' ujar Cindhi bersandar di pagar balkon.
Mereka pun saling diam, berfikir dengan pikirannya masing-masing.
''Bagaimana hubunganmu dengan Galang?'' tanya Ghazi.
''Baik,'' ucap Cindhi, membuat hati Ghazi terasa nyeri.
''Syukurlah,'' ujar Ghazi tanpa menatap ke arah Cindhi.
''Kak, apa Kakak nggak rindu sama aku?'' tanya Cindhi menatap Ghazi yang tengah menatap langit malam. Namun Ghazi tidak menjawab.
''Apa Kakak tau aku di kota B nggak bisa tidur karna Kakak tidak ada di sampingku. Aku rindu pelukan Kakak yang menghangatkan dan buatku nyaman. Apa aku boleh tidur di kamar Kakak lagi?'' tanya Cindhi membuat Ghazi menatapnya dalam-dalam.
Ya, mereka selama ini sering tidur bersama selama Mama Mayang pergi ke luar negeri. Namun hanya sebatas tidur, tidak melakukan aktivitas apapun.
''Kamu kan punya kamar sendiri. Kenapa harus tidur disini?'' ucap Ghazi sedikit ketus.
''Ya udah deh kalau nggak boleh. Aku juga nggak memaksa. Ya udah kalau gitu aku turun dulu, capek mau istirahat!'' ucap Cindhi meninggalkan Ghazi, namun detik berikutnya Ghazi memeluk tubuh Cindhi dari belakang.
''Apa kamu akan memilih Galang daripada aku?'' tanyanya dengan pelan.
__ADS_1
''Entahlah, kalian berdua membuat aku dilema,'' ucap Cindhi sambil menahan tawanya.
''Jika aku bisa mendapatkan keduanya kenapa harus memilih salah satu,'' ucap Cindhi dengan wajah yang memerah menahan tawa.
''Pilihlah! Jika kamu lebih memilih dia, aku akan mundur dari sekarang!'' ucap Ghazi mengurai pelukannya. Cindhi yang tadinya membelakangi Ghazi sekarang menghadap ke arah Ghazi.
''Kak Ghazi pasti sudah tau jawabannya,'' ucap Cindhi.
''Maksud kamu?'' tanya Ghazi penasaran.
''Aku mencintai Kakak. Aku tidak pernah secinta ini kepada pria manapun. Aku sangat nyaman berada di sampingmu Kak,'' ujar Cindhi menatap netra Ghazi yang juga tengah menatapnya.
''Bagaimana dengan Galang?'' tanya Ghazi.
''Itu urusan Kakak. Kakak sendiri kan yang mengakhiri hubunganku dengan mereka semua. Jadi Kakak juga yang harus menjelaskan semuanya kepada Hazel,'' ucap Cindhi enteng.
''Memangnya Kakak nggak mau memperjuangkan cinta kita?'' tanya Cindhi.
''Jika aku boleh egois, aku akan memperjuangkan cinta ini bagaimanapun caranya. Namun aku juga tidak mau berebut wanita dengan adik kandungku sendiri,'' ucap Ghazi tertunduk lesu.
Ghazi mengambil nafasnya dalam-dalam. ''Aku tidak mau kehilangan kamu Cin. Kali ini aku egois, aku akan memperjuangkan semuanya. Aku akan menjelaskan kepada Galang jika kamu milikku,'' ujar Ghazi.
''Makasih sayang,'' ujar Cindhi memeluk tubuh Ghazi dengan erat.
''Aku suka panggilan itu,'' bisik Ghazi tepat di dekat telinga Cindhi.
Cindhi pun tersipu malu sambil melepaskan pelukannya. ''Aku harus balik ke kamar Kak, badanku rasanya sangat lelah,'' ujar Cindhi.
''Nggak jadi tidur disini, hem?'' tanya Ghazi.
''Enggak! Di sebelah ada Galang dan Tante Mayang. Aku takut ketahuan, tadi aku pamit sama Hazel kalau aku ada kerjaan sama Kakak. Aku nggak mau kalau Kakak dan Hazel ribut hanya gara-gara aku,'' ujar Cindhi.
''Kita sembunyikan dulu status kita Kak. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Hazel secepatnya,'' ujar Cindhi kembali.
''Iya Cinta, ya udah cepat sana istirahat. Jangan begadang mulu. Aku mencintaimu,'' ucap Ghazi mencium bibir Cindhi sekilas.
''Aku juga,'' ucap Cindhi berjalan meninggalkan Ghazi yang tengah menatapnya. Ia pun keluar dari kamar Ghazi dan ingin berjalan menuruni anak tangga namun Hazel langsung memegang tangannya.
__ADS_1
''Hazel, kamu ngapain?'' tanya Cindhi kaget karna tiba-tiba Hazel memegang tangannya.
''Udah kerjaannya?'' tanya Hazel.
''U udah, lepasin aku mau istirahat!'' ucap Cindhi berusaha melepaskan tangannya, namun Hazel seperti enggan melepaskan.
''Aku pengen bicara sama kamu Beib. Kita udah lama nggak bertemu dan ngobrol bersama, tapi kamu terus menghindar dari aku. Kamu kenapa sih sebenarnya?'' tanya Hazel penasaran.
''Aku nggak pa-pa Zel. Aku hanya lelah karna banyak pekerjaan. Kita bisa ngobrol di lain waktu kan, kan sekarang izinkan aku beristirahat,'' ucap Cindhi.
''Tapi aku benar-benar merindukan kamu Beib. Kita ngobrol sebentar ya. Ini masih pukul 9 malam kok,'' ujar Hazel memohon.
Cindhi mau tak mau mengangguk begitu saja. Ia sebenarnya juga kasihan kepada Hazel yang telah ia beri harapan palsu. Berkali-kali Cindhi ingin mengakhiri hubungan mereka, namun berkali-kali juga Hazel menolaknya.
Saat ini mereka tengah berada di taman samping rumah. Mereka duduk di satu kursi panjang yang ada di taman itu.
''Bagaimana kabarmu selama ini? Kenapa kamu menghilang begitu saja dari hidupku? Apa kamu tidak bisa menghubungi sebentar saja? Kamu membuat aku khawatir Beib. Aku sempat sakit karna memikirkanmu. Aku sempat di rawat di rumah sakit, dan Mama yang menemaniku selama aku sakit,'' ujar Hazel.
''Segitu cintanya kamu padaku Zel. Maafin aku, karna aku begitu jahat kepadamu,'' batin Cindhi.
''Maafin aku,'' ucap Cindhi menunduk.
''Aku selalu memaafkan kamu Beib, karna aku sangat mencintaimu,'' ujar Hazel memegang tangan Cindhi lagi. Tatapan mata Hazel membuat Cindhi teringat dengan Ghazi.
''Hazel, berapa kali aku bilang jika aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku ingin fokus pada pekerjaanku,'' ujar Cindhi melepaskan tangan Hazel yang bertautan dengan tangannya.
''Kamu masih bisa fokus pada pekerjaanmu Beib. Atau kamu mau bekerja di perusahaanku. Biar aku bicara dengan Kak Ghazi,'' ujar Hazel bersemangat.
''Eng----''
''Mama setuju jika Cindhi bekerja di perusahaanmu. Itu artinya kalian bisa bertambah dekat, dan tidak ada lagi jarak di antara kalian,'' ujar Mama Mayang yang tiba-tiba muncul dari arah samping.
''Tapi Tante----''
''Galang sangat mencintaimu Cin. Dia sampai sakit karna tidak ada kabar darimu. Jika kalian satu perusahaan, kalian bisa bertambah dekat dan Galang tidak akan mengkhawatirkan kamu lagi,'' ujar Mama Mayang.
*
__ADS_1