SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 41


__ADS_3

Malam panjang pun mereka lalui dengan d*sahan dan r*ntihan di setiap penjuru kamar milik Ayumi. Tubuh Ayumi benar-benar sangat lelah, namun berbeda dengan Galang, Galang seperti meminum obat kuat, ia merasa tidak lelah sedikit pun.


''Sudah Zel, aku benar-benar sudah tidak kuat,'' rintih Ayumi yang saat ini berada di bawah kungkungan Galang.


''Sebentar lagi sayang,'' ucap Galang dengan nafas ngos-ngosan.


Maklum jika Ayumi sudah sangat lemas karna ini pertama untuk dirinya, berbeda dengan Galang yang sudah berulang kali celap celup saat berada di negaranya.


*


7 bulan telah berlalu, Cindhi masih sama seperti biasa, bekerja setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan dan biaya lahirannya nanti. Walaupun Kenan sudah melarangnya bekerja namun Cindhi masih tetap berangkat setiap paginya karna ia tidak mau terus menerus merepotkan Kenan.


Saat ini Cindhi sedang berada di perjalanan menuju kantor di antar oleh sopir pribadi Kenan. Setiap harinya sang sopir menjemput dan mengantar Cindhi karna Kenan yang memerintahkan. Kenan tidak mau jika Cindhi naik angkutan umum, apalagi saat ini perut Cindhi sudah bertambah besar.


''Pagi Tuan Kenan,'' sapa Cindhi saat melihat Kenan yang baru sampai di lantai atas dekat ruangannya.


''Pagi Cin,'' jawab Kenan.


''Oh iya Cin, hari ini kamu ikut aku ya. Aku mau ajak kamu ke mall buat pilihin kado untuk Mama ku. Hari ini beliau ulang tahun,'' ucap Kenan.


''Em, oke Ken sekalian cuci mata. Mau berangkat jam berapa?'' tanya Cindhi dengan semangat.


''Nanti jam 10 gimana? Sekarang aku harus meeting dulu,'' ucap Kenan sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


''Oke siap boss,'' ucap Cindhi sambil tangannya di letakkan di dahi membentuk hormat. Kenan dengan gemas mengacak rambut Cindhi sebelum meninggalkannya masuk ke dalam ruangan.


''Ishh, kebiasaan deh!'' Cindhi langsung berubah kesal saat Kenan mengacak rambutnya.


*


Di lain tempat, Ghazi dan Galang sedang berada di pusat perbelanjaan yang ada di negara itu. Mereka baru saja selesai meresmikan mall terbesar di negara itu.


''Makasih ya Kak sudah mau datang ke acara peresmian ini,'' ucap Galang.

__ADS_1


''Hem, nggak masalah,'' ucap Ghazi.


''Aku kira Kakak nggak bakal datang,'' ucap Galang menatap sang Kakak.


''Ya anggap saja aku sedang liburan di sini,'' ucap Ghazi.


Ghazi masih berbicara datar kepada sang adik karna memang sejak dulu mereka tidak pernah akur. Walaupun seperti itu, namun jauh di lubuk hati mereka, mereka saling menyayangi satu sama lain.


''Oh iya, kenapa istrimu tidak ikut peresmian mall ini?'' tanya Ghazi penasaran. Pasalnya Galang bisa mendirikan mall sebesar ini atas bantuan mertuanya, tidak mungkin jika Galang bisa sendiri.


''Dia sedang hamil muda Kak. Dan kandungannya juga sangat lemah, aku nggak mau dia kenapa-napa,'' ucap Galang.


''Berarti sebentar lagi aku bakal punya keponakan dong,'' ucap Ghazi.


''Heem, 5 bulan yang lalu Ayumi positif hamil, tapi saat kandungannya berusia 2 minggu Ayumi keguguran. Dan saat ini usia kandungannya sudah 4 minggu, semoga kali ini tidak seperti di awal Kak,'' ucap Galang berubah menjadi sendu. Bukan Galang yang selama ini Ghazi kenal jika di lihat seperti ini. Ghazi melihat Galang berubah total setelah menikah dengan Ayumi.


''Semoga saja. Dia pasti kuat seperti Daddy nya, bukankah begitu?'' ucap Ghazi menepuk pundak sang adik.


Percakapan mereka pun terhenti saat Galang melihat sosok yang ia kenal berjalan di depannya.


''Cindhi? Mana Lang?'' Ghazi langsung menoleh kesana kemari mencari sosok yang selama 7 bulan ini ia cari.


''Itu Kak, itu,'' Galang menunjuk seorang wanita dan lelaki.


''Nggak mungkin Lang, Cindhi nggak sebesar itu,'' kilah Ghazi tidak percaya. Pasalnya yang di tunjuk Galang adalah seorang ibu-ibu. Walaupun pakaian ibu-ibu itu modis, tapi Ghazi yakin dia bukan Cindhi.


''Kalau Kakak nggak percaya, kita ikuti mereka!'' Galang langsung menarik jas yang di kenakan Ghazi. Galang tidak mungkin salah lihat, saat orang tadi berjalan di dekatnya wajah orang itu benar-benar mirip dengan Cindhi.


Ghazi dan Galang pun mengikuti orang yang di duga Cindhi itu.


''Dari suaranya memang sangat mirip dengan Cindhi. Apa benar dia Cindhi?'' batin Ghazi yang terus mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Saat mereka asik menguntit, tiba-tiba ada wanita yang mengenali lelaki yang bersama dengan wanita yang di duga Cindhi itu.

__ADS_1


''Kenan! Ya ampun Ken, aku kangen banget sama kamu,'' ucap wanita itu langsung memeluk tubuh Kenan.


''Apaan sih kamu ini!'' Kenan langsung melepaskannya secara paksa hingga wanita itu jatuh ke lantai.


''Kenan!! Aku kangen sama kamu, kenapa kamu malah dorong aku sih?'' pekik wanita itu dengan kesal.


''Aku nggak kenal sama kamu! Dan lihat, ini istriku, istriku bisa mengamuk jika suaminya di peluk wanita sepertimu,'' ucap Kenan langsung merangkul pinggang Cindhi.


''Ken, jangan ngada-ngada deh!'' bisik Cindhi.


''Udah diem aja, nanti aku kasih kamu bonus 50 juta. Ikuti saja alurnya,'' ucap Kenan yang ikutan berbisik.


''Ken!!!!'' wanita itu hanya bisa memekik kesal saat Kenan menggandeng Cindhi meninggalkannya.


''Lang, dia bukan Cindhi. Dia punya suami Lang,'' ucap Ghazi yang sudah tidak mau mengikuti Cindhi dan Kenan lagi.


''Ayolah Kak. Aku sangat yakin jika dia Cindhi. Dia benar-benar mirip Cindhi Kak,'' ucap Galang yakin jika yang di lihat tadi adalah Cindhi.


Sebenarnya di dalam hati Ghazi juga ragu, dari suaranya memang seperti suara Cindhi, namun lelaki yang di sampingnya tadi memanggilnya istri.


''Ayo Kak, jangan sampai kita kehilangan jejak,'' ucap Galang terus menarik sang Kakak, hingga Cindhi dan Kenan masuk ke dalam toko pakaian wanita.


''Lang, kita nggak mungkin masuk ke dalam,'' ucap Ghazi menghentikan langkahnya.


''Kenapa nggak mungkin? Aku akan membelikan baju istriku, dan Kakak harus mengikuti orang tadi,'' ucap Galang langsung mendapatkan ide.


''Ckk, kenapa kamu memerintah aku? Aku ini Kakakmu!'' ujar Ghazi kesal.


''Ini bukan saatnya kita berdebat Kak. Cepat kita masuk!!'' ucap Galang yang lagi-lagi menarik jas Ghazi.


Di dalam toko itu, Cindhi dan Kenan sedang memilih kado untuk Mamanya Kenan, Galang pun memilihkan baju untuk sang istri, sesekali ia melirik ke arah Cindhi dan juga Kenan. Namun sejak tadi Cindhi membelakanginya, menjadikan Galang bimbang jika yang di hadapannya itu adalah Cindhi.


''Ken, sepertinya ini bagus!'' ucap Cindhi menoleh ke arah Kenan yang berada di sampingnya. Saat itu juga Ghazi dan Galang langsung melebarkan matanya karna yang ia lihat sangat jelas.

__ADS_1


''Cindhi,'' gumam Ghazi. Tubuhnya gemetar saat ia melihat sosok istrinya ada di depan matanya. Istri yang selama 7 bulan ini ia cari.


__ADS_2