SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 43


__ADS_3

''Benarkah?'' tanya Ghazi dengan wajah yang berbinar. Ia tidak menyangka sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


''Masih tanya lagi, mengesalkan,'' gerutu Cindhi dengan bibir yang manyun. Sejak hamil mood nya sering kali berubah-ubah tidak jelas. Sampai-sampai Kenan di buat pusing oleh tingkah Cindhi.


''Kenapa jadi ngambekan kayak gini sih, hem?'' tanya Ghazi dengan senyum di wajahnya. Cindhi yang melihat Ghazi tersenyum malah ingin sekali menonjok wajah suaminya itu.


''Kamu mau pergi kan? Pergi sana!'' ucap Cindhi. Entah itu bawaan bayinya atau apa. Kata-kata Cindhi persis sekali dengan kata-kata Ghazi waktu dulu.


''Aku minta maaf Cinta. Aku kira kamu selingkuh dan pergi dari hidupku. Aku selama ini sibuk mencari kamu kemana-mana Cin. Namun kamu seperti di telan bumi. Kamu menghilang begitu saja,'' ucap Ghazi meraih tangan Cindhi.


''Bagaimana kamu bisa menemukan aku, sementara musuhmu adalah papamu sendiri. Bukankah Papamu orang hebat. Dia bisa menghilangkan aku tanpa ada orang yang tau,'' ucap Cindhi dengan suara dinginnya.


''Aku akan meminta pertanggung jawaban Papa Cin. Percayalah, semua akan baik-baik saja,'' ucap Ghazi. Namun Cindhi hanya diam saja.


''Kamu tinggal dimana selama ini Cin?'' tanya Ghazi mengalihkan pembicaraan. Ia juga sangat penasaran dimana selama ini istrinya tinggal.


''Di apartemen Ken,'' ucap Cindhi dengan santai.


''Kalian berdua----


''Nggak usah berfikir macam-macam. Selama aku disana, Ken selalu pulang ke rumahnya. Dia tidak tinggal denganku. Di apartemen hanya ada suster El yang nantinya akan membantu aku,'' ucap Cindhi menjelaskan agar Ghazi tidak salah paham.


''Benarkah?'' tanya Ghazi sangat penasaran.


''Terserah mau percaya atau tidak!'' ucap Cindhi dengan raut wajah yang sangat kesal.


''Kenapa sekarang jadi ngambekan kayak gini sih? Apa seperti ini hormon ibu hamil?'' batin Ghazi.


''Ya udah kita pulang yuk. Aku mau mendengarkan ceritamu selama disini,'' ucap Ghazi menarik tangan Cindhi.


''Nggak bisa! Aku harus bantu Kenan memilih kado buat Mamanya. Kakak bisa tunggu aku di luar,'' ucap Cindhi, Ghazi langsung menggelengkan kepalanya.


''Aku akan bantu pilihkan kado buat Mamanya Kenan,'' ucap Ghazi langsung menggandeng tangan Cindhi yang tadi sempat di lepas oleh Cindhi.


''Ayo Ken, kita pilih lagi kado buat Mamamu,'' ajak Cindhi berlalu lebih dulu bersama dengan Ghazi. Sementara Kenan dan Galang menyusul di belakang.

__ADS_1


''Apa dia suami Cindhi? Aku kira Cindhi tidak akan bertemu lagi dengan suami nya. Namun kenyataannya, aku bakal sendiri lagi,'' batin Kenan. Semua yang ia lakukan selama ini akan berakhir sia-sia. Cindhi tidak akan pernah bisa ia genggam lagi.


Setelah selesai memilih kado untuk Mama Kenan. Cindhi merasa cacing di perutnya berontak minta di manjakan. Ia pun segera mengajak suaminya untuk makan siang terlebih dulu.


''Kak, laper,'' ucap Cindhi dengan bergelayut manja di lengan suaminya.


''Kita cari makan ya. Bayi kita pasti kelaparan,'' ucap Ghazi sambil mengelus perut Cindhi.


Kenan yang berada di belakangnya merasa kepanasan. Selama ini ia yang selalu berada di samping Cindhi. Namun sekarang ia tidak bisa lagi jalan bersama dengan mantan kekasihnya itu.


Setelah sampai di restoran siap saji. Cindhi memilih berbagai menu, Ghazi sampai terheran-heran dengan tingkah Cindhi.


''Akhir-akhir ini Cindhi makan sangat banyak, berbeda saat awal hamil,'' ucap Kenan yang tau raut wajah Ghazi yang heran dengan tingkah Cindhi.


''Terima kasih sudah menjaga istriku selama ini,'' ucap Ghazi dengan tulus. Ya walaupun yang menjaga istrinya adalah mantan kekasihnya, namun Ghazi yakin, Kenan menjaganya dengan ikhlas.


Kenan hanya mengangguk. Raut wajah yang biasa tersenyum bahagia sekarang hanya menyisakan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.


Setelah mereka makan, Cindhi mengajak suaminya pergi ke apartemen yang selama ini ia tempati. Namun Galang tidak ikut mereka karna sang istri tidak bisa di tinggal lama-lama.


''Ayumi?'' tanya Cindhi penasaran.


''Iya Ayumi. orang yang pernah di jodohkan dengan Kak Ghazi. Dia sekarang sudah sah menjadi istriku, dan sekarang dia mengandung anakku,'' ucap Galang.


''Wahhh,, selamat ya Hazel, aku ikut bahagia mendengarnya,'' ucap Cindhi. Galang pun tersenyum sambil mengangguk.


''Ya sudah cepat pulang sana, kasihan Ayumi menunggu kamu terlalu lama,'' ucap Cindhi.


Setelah Galang pergi dari hadapan mereka, Cindhi pun segera mengajak Ghazi dan juga Kenan ke apartemennya.


''Kenapa harus ajak dia Cin, aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu,'' bisik Ghazi dan masih jelas di dengar oleh Kenan.


''Aku juga tau diri, aku akan kembali ke rumah,'' ucap Kenan dengan wajah datar.


''Maaf ya Ken----

__ADS_1


''Nggak pa-pa Cin. Aku pulang dulu,'' ucap Kenan berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan Ghazi.


''Untung dia sadar diri!'' batin Ghazi tersenyum smirk.


Setelah perjalanan hampir 1 jam, akhirnya mereka sampai di apartement yang selama ini di tempati oleh Cindhi. Cindhi pun segera menekan password kamar apartementnya.


''Katamu kamu tinggal dengan seseorang. Tapi sepertinya kamar apartementmu kosong,'' ujar Ghazi melihat sekeliling. Kamar apartemen yang begitu luas dan banyak barang-barang antik di dalamnya.


''Kalau siang suster El tidak tidak ada disini. Dia kesini sore hari,'' ucap Cindhi meletakkan tasnya lalu duduk di sofa depan televisi.


''Oh,,'' ucap Ghazi mengangguk-anggukkan kepalanya.


Cindhi yang merasa lelah membuat pinggangnya terasa sakit. Ia pun segera membaringkan tubuhnya di sofa itu dengan kepala berada di paha Ghazi.


''Pinggangku sangat sakit,'' Keluh Cindhi.


''Apa selama ini sering sakit seperti itu? Apa kita harus ke dokter? Aku takut kamu dan bayi kita kenapa-napa,'' ucap Ghazi dengan raut wajah khawatir.


''Aku hanya lelah saja,'' ucap Cindhi berusaha memejamkan matanya. Namun ia merasa ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Dengan ragu-ragu ia membuka mata, dan benar saja, suaminya itu tengah mencium bibirnya.


Cindhi memejamkan matanya kembali saat Ghazi memainkan lidahnya di sana. Ia pun sangat menikmati sentuhan yang suaminya berikan.


Saat tangan Ghazi sudah berada di atas gunung milik Cindhi. Ghazi pun menghentikan aktivitasnya.


''Kenapa keras sekali?'' tanya Ghazi sambil melepaskan tautan bibir mereka.


''Aku juga tidak tau. Mungkin karna saat ini aku sedang hamil,'' ucap Cindhi.


Ghazi pun segera menyingkirkan tangannya yang ada di atas gunung milik Cindhi.


''Kenapa?'' tanya Cindhi bingung.


''Maaf, aku nggak mau melukai bayi kita. Kita bisa melakukannya setelah bayi kita lahir,'' ucap Ghazi yang tidak tau tentang berhubungan i*tim saat istri sedang hamil.


Cindhi pun menelan salivanya. ''Setelah bayi kita lahir? Apa itu tidak terlalu lama?'' batin Cindhi yang sebenarnya menginginkan sentuhan suaminya.

__ADS_1


*


__ADS_2