
Hari pun berganti. Rencananya hari ini Ghazi akan membawa Cindhi pulang ke Jakarta. Walaupun Cindhi sempat menolak, namun Ghazi tetap memaksanya. Ia tidak mau jauh-jauh dengan sang istri. Apalagi sang istri tengah hamil besar, dan itu akan membuat ia khawatir.
''Aku belum menghubungi Kenan Kak. Aku harus pamit dengan Kenan. Kenan selama ini yang udah bantu aku,'' ucap Cindhi. Ghazi pun mengangguk setuju. Biar bagaimanapun Kenan memang sudah membantu istrinya selama ia kesulitan. Ghazi tidak mau egois, ia juga akan berterima kasih kepada Kenan.
Tut tut tut.
Panggilan pertama tidak di angkat oleh Kenan. Cindhi pun mengulang panggilan kedua.
Tut tut.
''Halo Cin, ada apa?'' tanya Kenan yang terdengar datar.
''Ken, aku ingin bertemu denganmu, bisakah kita bertemu hari ini?'' tanya Cindhi.
''Oke, kirim alamatnya, pasti nanti aku datang,'' ucap Kenan langsung mematikan sambungan teleponnya. Mungkin Kenan merasa kecewa dengan kehadiran Ghazi yang akan mengambil Cindhi dari hidupnya.
Cindhi yang merasa Kenan berubah setelah Ghazi datang pun segera mengirim alamat pertemuan mereka. Ia akan meminta maaf dan berterima kasih kepada Kenan.
Setelah selesai menyiapkan barang-barangnya. Cindhi dan Ghazi segera berangkat menuju tempat dimana mereka dan Kenan akan bertemu. Hampir setengah jam perjalanan, mereka pun sampai di tempat yang telah di tentukan oleh Cindhi.
''Hai Ken!'' sapa Cindhi melambaikan tangannya ke arah Kenan. Kenan hanya tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke arahnya.
''Ada perlu apa ingin bertemu denganku Cin?'' tanya Kenan tanpa basa basi.
''Aku ingin meminta maaf dan berterima kasih kepadamu Ken. Aku minta maaf jika selama ini aku banyak salah sama kamu, maaf jika selama kita pacaran aku pergi tanpa alasan dan menoreh luka di hatimu Ken, aku juga minta maaf tidak bisa menerima cintamu lagi,'' ucap Cindhi menjeda ucapannya.
''Tidak masalah Cin,'' ucap Kenan dengan wajah yang datar.
''Aku juga ingin berterima kasih karna kamu sudah mau membantuku selama ini. Walaupun aku telah membuat hatimu sakit tapi kamu masih saja baik kepadaku Ken,'' ucap Cindhi dengan tulus.
''Aku harap, kamu menemukan gadis yang baik dan cantik melebihi aku Ken. Aku akan selalu merindukanmu sebagai sahabat,'' ucap Cindhi.
''Hati ku bahkan sudah mati untuk wanita lain Cin. Kamu cinta pertama dan terakhirku. Aku bahkan berharap agar kamu tidak bertemu dengan suamimu lagi, apa aku terlalu jahat mendoakanmu seperti itu Cin? Tapi mungkin ini memang sudah jalan dari yang maha kuasa. Aku tidak bisa lagi ada di sampingmu, untuk menjagamu dan memberikan perhatian kecilku padamu. Aku akan merindukan setiap moment yang kita jalani 7 bulan ini,'' batin Kenan yang tidak bisa untuk ia ungkapkan kepada Cindhi.
__ADS_1
''Apa kamu ingin kembali ke Indonesia?'' tanya Kenan yang di balas anggukan oleh Cindhi.
''Jaga diri baik-baik. Aku harap tidak akan ada kejadian seperti ini lagi di hidupmu Cin. Aku harap kamu bahagia dengan keluarga kecilmu,'' ucap Kenan dengan suara berat yang seperti ingin menangis.
''Terima kasih Ken. Bolehkah aku memelukmu untuk perpisahan kita?'' tanya Cindhi kepada Kenan. Kenan malah menatap Ghazi yang tengah berada di belakang Cindhi. Saat Ghazi menganggukkan kepalanya pelan, Kenan langsung memeluk tubuh Cindhi.
''Hati-hati. Aku pasti akan terus merindukan kamu,'' ucap Kenan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang hampir menetes.
''Jangan menangis Ken! Kalau kamu menangis aku juga akan ikut menangis,'' ucap Cindhi. Kenan pun segera menarik bibirnya ke atas, ia tidak ingin melihat pujaan hatinya meneteskan air mata.
''Kenan, aku sungguh-sungguh berterima kasih kepadamu, karna kamu sudah melindungi istriku selama aku jauh darinya. Aku juga minta maaf karna aku harus membawa dia kembali ke Indonesia, walaupun aku tau pasti sebenarnya kamu tidak rela melepaskan istriku ini,'' ucap Ghazi memeluk pinggang Cindhi dengan posesif.
Kenan yang melihatnya pun langsung memalingkan wajahnya.
''Aku ikhlas melakukan semua ini,'' ucap Kenan tanpa menatap ke arah Ghazi.
''Syukurlah jika kamu ikhlas. Jadi aku tidak merasa berhutang budi kepada siapa pun,'' ucap Ghazi.
''Kak, aku pengen mampir dulu ke rumah Ayumi sebelum kita pulang ke Jakarta,'' ucap Cindhi.
''Ngapain Cinta? Udahlah kita langsung pulang saja,'' ucap Ghazi yang tidak betah berlama-lama di negara orang.
''Tapi Kak----
''Mau ngapain?'' tanya Ghazi.
''Ya apa salahnya kita mampir kesana. Dia kan juga adik iparmu. Apalagi sekarang Ayumi tengah mengandung,'' ucap Cindhi.
''Itu semua nggak penting Cinta. Mending kita langsung pulang. Apa kamu tidak rindu dengan Mama? Kita bisa lain kali kesini lagi. Apalagi jarak dari sini ke rumah Galang sangatlah jauh,'' ucap Ghazi.
''Baiklah, tapi kamu janji kan lain kali kita kesini lagi. Aku pasti sangat merindukan tanah kelahiranku ini Kak,'' ujar Cindhi.
''Iya Cinta. Kita bakal kesini lagi. Kalau bayi kita sudah besar,'' ucap Ghazi santai.
__ADS_1
''Ihh masih lama bangett!!!'' rengek Cindhi seperti anak kecil yang sedang meminta mainan.
*
Setelah perjalanan hampir 3 jam. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat juga di bandara Ibu Kota. Mereka pun di jemput oleh asisten Ghazi, siapa lagi kalau bukan Alex.
''Selamat malam Pak,'' sapa Alex yang hanya melihat Ghazi saja.
''Malam, tolong bawa koper istriku ini. Kamu bisa menunggu kami di mobil,'' ucap Ghazi yang langsung di angguki oleh Alex.
''Istri? Sejak kapan Pak Ghazi punya istri lagi? Atau jangan-jangan Pak Ghazi menikah lagi di LN. Akh ternyata kesetiaan Pak Ghazi hanya sampai disini saja,'' gumam Alex sambil menyeret dua koper ke dalam mobilnya.
Setelah beberapa menit menunggu bosnya. Akhirnya Ghazi menampakkan batang hidungnya bersama dengan wanita yang sangat di kenali oleh Alex.
''Apa aku sedang bermimpi? Apa itu benar-benar Cindhi?'' gumam Alex menatap Ghazi dan Cindhi yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
''Ya ampun!! Itu benar-benar Cindhi. Aku telah salah menilai Pak Ghazi tadi. Untung saja beliau tidak mendengar ucapanku. Jika beliau mendengar bisa-bisa tamat riwayatku,'' batin Alex.
''Malam Pak Alex,'' sapa Cindhi membuyarkan lamunan Alex.
''Ma malam Cin!'' ucap Alex gugup.
''Apa benar kamu Cindhi? Aku sedang tidak bermimpi kan?'' tanya Alex.
''Iya benar Pak, aku Cindhi. Istri Kak Ghazi,'' ucap Cindhi tersenyum ke arah Alex yang tengah menatapnya dengan tatapan kaget.
''Syukurlah kamu kembali Cin. Akhirnya Pak Ghazi akan kembali normal lagi,'' ucap Pak Alex yang langsung di tatap Ghazi dengan tatapan tajam.
''Maksud Pak Alex apa? Memangnya Kak Ghazi selama ini gila?'' tanya Cindhi dengan kepolosannya membuat Ghazi langsung menatap Cindhi dengan tajam.
*
*
__ADS_1