
Brakk bugh.
Suara keras berasal dari ruangan sebelah, entah apa yang di lakukan Ghazi saat ini, namun Cindhi bisa memastikan jika Ghazi saat ini tengah marah kepadanya. Cindhi tadi melihat Ghazi yang menatapnya dengan tajam, bisa ia pastikan jika Ghazi cemburu saat Nando menggendongnya tadi.
''Siapa suruh mendiamkan aku, biar tau rasa,'' ujar Cindhi tersenyum bahagia karna ia merasa Ghazi masih memiliki rasa kepadanya.
Cindhi pun harus menahan rasa laparnya sampai jam pulang kerja karna tadi tidak sempat istirahat makan siang.
Pukul 4 sore, Cindhi pulang ke rumah Tante Mayang karna kerjaannya sudah selesai. Ia pun memesan taksi online untuk mengantarkannya pulang. Sesampainya di halaman rumah ia mendapati mobil yang tidak pernah terparkir di halaman itu.
''Mobil siapa ini?'' gumamnya sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu ia melihat wajah lelaki yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lelaki itu pun menatapnya dengan tatapan penasaran.
''Cin, tumben udah pulang?'' tanya Tante Mayang.
''I iya Tante,'' ucap Cindhi.
''Kenalin, dia Om Leo, Papa Ghazi dan juga Galang,'' ucap Tante Mayang mengenalkan mantan suaminya kepada Cindhi.
''Halo Om, saya Cindhi. Saudara jauh Tante Mayang,'' ucap Cindhi mengenalkan diri.
''Leo,'' ucap Om Leo tersenyum tipis ke arah Cindhi.
''Selain saudara jauh dia juga kekasih Galang Mas,''ucap Tante Mayang.
''Benarkah? Wah, aku nggak nyangka ternyata Galang lebih dulu menemukan pujaan hatinya ya,'' ucap Om Leo.
Cindhi hanya tersenyum tipis. Ia pun pamit untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia tidak mau di tanya lebih jauh lagi perihal Hazel. Padahal hubungannya dengan Hazel sudah sebulan ini berakhir.
''Dia Om Leo, Papa Kak Ghazi, berarti dia mantan suaminya Tante Mayang dong. Ada perlu apa dia kesini ya?'' gumam Cindhi bertanya-tanya dalam hati.
Ia pun mengabaikan fikirannya terhadap Om Leo yang tiba-tiba datang ke Jakarta, setau Cindhi Om Leo berada di LN, negara yang sama dengannya waktu dulu.
Jam makan malam pun telah tiba, Cindhi lebih dulu ke ruang makan. Di sana ada Bibi yang tengah menata makanan di atas meja.
__ADS_1
''Banyak sekali makanannya Bi,'' ucap Cindhi melihat berbagai macam makanan tersaji di atas meja.
''Iya Non, malam ini katanya ada tamu penting yang datang dari LN,'' ucap Bibi, ART rumah itu.
''Tamu penting? Dari LN? Siapa ya?'' batinnya bertanya dalam hati. Saat ia ingin membantu Bibi menyiapkan makan malam tiba-tiba Tante Mayang memanggilnya.
''Cin, malam ini ada tamu penting. Tante udah siapin baju buat kamu. Kita couplean warna ya satu keluarga. Nih pakai,'' ucap Tante Mayang menyerahkan dress berwarna sage itu.
''Acara apa ya Tante, sepertinya penting,'' ucap Cindhi penasaran.
''Udah cepetan di pakai. Nanti kamu juga tau sendiri,'' ucap Tante Mayang berlalu meninggalkan Cindhi. Cindhi pun langsung bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
''Sebenarnya ada acara apa sih. Kenapa harus couplean segala,'' batin Cindhi sambil memakai dress dengan panjang selutut itu.
Dress itu pun terlihat pas di badan Cindhi. Tak lupa ia memoles sedikit wajahnya dengan make up agar terlihat lebih fresh.
''Udah gini aja kali ya. Percuma kan dandan cantik kalau Kak Ghazi nggak ada,'' ucapnya sambil menatap cermin di depannya.
Setelah selesai berdandan, ia pun keluar dari kamar. Di ruang keluarga terlihat sudah ada Tante Mayang dan Om Leo yang tengah berbincang-bincang.
''Kamu cantik sekali sayang. Galang memang tidak salah pilih. Sayangnya malam ini dia tidak bisa datang,'' ucap Tante Mayang sedikit tidak bersemangat.
Brum brum.
Suara deru mobil berhenti di halaman rumah. Ia mengira mobil milik Ghazi, namun harapannya tinggalkan harapan karna yang datang bukanlah Ghazi melainkan tamu penting yang di maksud oleh Tante Mayang tadi.
''Sepertinya tamu kita sudah datang, sebaiknya kita menyambutnya di depan,'' ucap Om Leo bangkit dari duduknya dan berjalan menuju luar rumah. Tante Mayang dan Cindhi mengikuti Om Leo dari belakang.
Dua mobil tiba secara beriringan. Mereka pun keluar dari mobil mewah yang Cindhi yakini pemilik mobil itu bukan orang biasa.
''Selamat datang Tuan Daigo, Nyonya Daigo, Nona Ayumi,'' sapa Om Leo.
''Terima kasih Tuan Leo,'' ucap Tuan Daigo tersenyum tipis.
''Perkenalkan, dia Mayang ibu Ghazi, dan ini saudara kami Cindhi,'' ucap Om Leo mengenalkan Tante Mayang dan juga Cindhi.
__ADS_1
''Selamat malam Nyonya, Nona,'' sapa Tuan Daigo lebih dulu.
''Selamat datang di gubuk kami Tuan, Nyonya. Silahkan masuk, udara malam tidak baik untuk kesehatan,'' ucap Tante Mayang membuka pintu dengan lebar agar tamu penting mereka masuk.
''Terima kasih Nyonya,'' ucap Tuan Daigo masuk ke dalam rumah di ikuti istri dan anaknya.
Sesampainya di ruang tamu mereka mengobrol santai masalah pekerjaan. Perusahaan Om Leo dan Tuan Daigo sudah lama bekerja sama. Mulai dari perusahaan kecil sampai perusahaan Om Leo yang sudah bercabang di mana-mana ini berkat perusahaan Tuan Daigo yang menanamkan saham dengan nominal yang besar di perusahaannya.
Saat mereka asik mengobrol tiba-tiba Ghazi datang dengan baju warna senada dengan yang di pakai oleh keluarganya dan juga Cindhi. Cindhi menatap Ghazi dalam-dalam. Tatapan mereka pun bertemu, namun bibir mereka sama-sama bungkam.
''Selamat malam, maaf saya terlambat,'' ucap Ghazi membungkukkan badannya sedikit, lalu ia duduk di samping Papanya.
''Ini dia anak saya yang bernama Ghazi Tuan. Bagaimana, tampan kan?'' tanya Om Leo kepada Tuan Daigo.
''Tampan, sangatlah tampan. Saya sudah tidak sabar ingin menikahkan Ayumi dengan Ghazi,'' ucap Tuan Daigo membuat Cindhi melebarkan matanya.
''Pa, maksudnya apa ini?'' bisik Ghazi di dekat telinga sang Papa.
''Jadi begini Zi, Papa dan Tuan Daigo berencana menjodohkan kamu dengan putri tunggalnya yang bernama Ayumi ini. Bagaimana, apa kamu setuju?'' tanya Om Leo kepada Ghazi.
Ghazi pun melihat ke arah Cindhi yang juga tengah melihat ke arahnya. Cindhi menggelengkan kepalanya pelan, pertanda ia tidak setuju dengan keputusan Om nya itu.
''Ghazi---''
Ghazi masih melihat ke arah Cindhi yang tengah memohon untuk menolak perjodohan itu lewat tatapan matanya.
''Ghazi setuju Pa, siapa sih yang menolak untuk menjadi suami dari wanita cantik ini,'' ucap Ghazi namun matanya masih menatap ke arah Cindhi yang tengah menahan tangisannya.
''Syukurlah jika kamu setuju Zi. Papa Bahagia karna kamu dengan mudah menerima perjodohan ini,'' ucap sang Papa tersenyum bahagia.
Sementara Cindhi tengah menahan air matanya agar tidak keluar. Ia benar-benar merasakan sakit hati saat ini. Dia rela menunggu satu bulan ini di diamkan oleh Ghazi. Cindhi berharap ada pelangi setelah hujan, namun harapannya tinggallah harapan. Bukan pelangi yang datang, namun justru badai beserta angin kencangnya.
*
*
__ADS_1