SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 17


__ADS_3

Pagi harinya, mereka telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Cindhi yang setiap pagi terbiasa mengambilkan makanan untuk orang-orang yang ada di meja makan itu pun langsung mengambilkan makanan begitu saja. Tante Mayang yang melihat ada cincin yang tersemat di jari Cindhi pun langsung menahan pergelangan tangan Cindhi.


''Cincin baru?" tanya Tante Mayang.


Cindhi hanya tersenyum sambil melirik ke arah Ghazi. Ghazi yang penasaran hanya mengerutkan keningnya.


''Selera kamu bagus juga Lang,'' Puji Mama Mayang.


''Iya dong mah,'' ucap Hazel dengan bangganya.


Raut wajah Cindhi berubah menjadi bingung. Kenapa yang dipuji Tante Mayang malah Hazel bukan Ghazi. Tentu saja yang dipuji Hazel, karena Tante Mayang hanya tahu hubungannya dengan Hazel bukan dengan Ghazi.


''Jangan dilepas ya cincinnya, cincinnya bagus di jari kamu,'' ujar Hazel sambil tersenyum manis ke arah Cindhi. Ghazi yang Mendengar pun langsung menatap tajam ke arah Cindhi.


''Kamu beli cincin ini di mana Lang?" tanya Mama Mayang penasaran.


''Di tempat kemarin Mama beli perhiasan itu jadi aku berinisiatif membelikan Cindhi cincin berinisial G ini,'' ujar Hazel.


''Jadi cincin ini dari Hazel bukan dari Kak Ghazi. Mampus aku,'' batin Cindhi.


Ghazi yang mendengar perkataan Hazel dan Mamanya pun langsung segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Setelah itu ia menyambar jas dan juga tas kerjanya dan pergi dari ruang makan begitu saja tanpa pamit kepada Mamanya. Cindhi yang merasa Ghazi marah padanya pun langsung mengejarnya tanpa pamit kepada Tantenya.


''Kak, Kak tunggu Kak!'' ucap Cindhi berlari mengejar Ghazi. Ghazi menghentikan langkahnya dengan menatap datar ke arah Cindhi.


''Kak ini nggak seperti yang Kakak kira,'' ujar Cindhi. raut wajah Ghazi masih datar dan tidak membalas ucapan Cindy.


''Kak Ghazi aku minta maaf tapi ini tidak seperti yang kakak kira,'' ujarnya.

__ADS_1


''Masuk!'' perintah Ghazi. Cindy pun menurut saja dan masuk ke dalam mobil milik Ghazi, setelah Ghazi ikut masuk Ia pun meraih tangan Ghazi dan meminta maaf, namun Ghazi langsung melepaskan tangan Cindy yang menempel di tangannya.


''Kak,'' rengek Cindhi.


''Aku nggak menyangka kamu akan semudah itu memakai cincin tanpa tau siapa yang memberinya,'' ujar Ghazi dengan senyuman mengejek. Walaupun dirinya tidak berniat sedikitpun mengejek Cindhi.


''Aku kira cincin ini dari Kakak. Lihatlah, disini berinisial G,'' tunjuk Cindhi pada cincin yang di pakainya. Ghazi enggan menoleh, ia sangat tidak suka saat Cindhi memakai barang pemberian dari orang lain. Apalagi bentuk cincin itu sudah seperti cincin pernikahan.


''Kak maafin aku,'' ucap Cindhi dengan memelas. Namun sejak tadi Ghazi lebih memilih fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Sesampainya di kantor, Cindhi berjalan di belakang Ghazi dengan begitu cepat karna langkah Ghazi semakin lebar. Cindhi yang seorang perempuan tidak akan sanggup menyamakan langkah kakinya dengan atasan sekaligus kekasihnya itu.


Saat hampir sampai di dalam ruangannya, Cindhi menarik tangan Ghazi.


''Tolong, maafin aku Kak. Aku nggak bisa Kakak diamkan seperti ini. Aku memang salah, aku akan melepas cincin ini,'' ucap Cindhi berusaha melepas cincin yang tersemat di jari manisnya. Namun cincin itu seperti ada perekatnya dan tidak mau keluar dari jari Cindhi.


''Aww,'' pekik Cindhi karna jarinya terasa perih saat ia memaksa melepaskan cincin itu dari jarinya.


''Bodoh, kamu memang bodoh Cin. Seharusnya kamu tanyakan dulu dengan Ghazi, apa itu cincin pemberiannya atau bukan. Jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan. Pasti Kak Ghazi sangat kecewa sama aku dan mengira aku masih berhubungan dengan Hazel,'' gumam Cindhi pelan.


Ia pun masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Ghazi. Di sana Ghazi terlihat sudah berkutat dengan pekerjaannya tanpa ingin melihat ke arah Cindhi. Cindhi pun hanya menghela nafasnya dengan panjang.


Setelah hampir setengah hari berkutat dengan pekerjaan, jam makan siang pun telah tiba. Ghazi memilih menghubungi Alex agar memesankan makanan untuknya sendiri.


Setelah makanan itu datang, ia pun membukanya tanpa mau melihat ke arah Cindhi. Cindhi tau betul jika Ghazi masih sangat marah padanya. Ghazi pun menikmati makan siangnya seorang diri tanpa mau ingin berbagi dengan Cindhi.


''Kak Ghazi kalau marah serem banget. Dia membiarkan aku kelaparan seperti ini. Benar-benar sudah keterlaluan!'' gerutu Cindhi hanya berani dalam hati. Ia lebih memilih pergi ke kantin untuk mencari makanan pengganjal perutnya daripada ia tidak konsentrasi bekerja karena kelaparan.

__ADS_1


Di kantin Cindhi duduk di kursi seorang diri. Ia menatap seksama cincin yang tersemat di jarinya. Ingin rasanya ia melepas dan membuang cincin itu jauh-jauh, namun apalah dayanya, cincin itupun tak mau pergi dari jarinya.


''Aku harus bagaimana? Gara-gara kamu aku kena masalah dan kekasihku mendiamkan aku. Kenapa kamu seperti tuanmu yang menyebalkan itu, aku bahkan sudah tidak memiliki rasa apapun kepadanya, tapi dia malah tidak mau mengakhiri hubungannya,'' gerutu Cindhi sambil menggigit roti yang baru di belinya.


Setelah beristirahat di kantin, Cindhi kembali lagi keruangannya. Namun ia tidak menemukan Ghazi di dalam ruangan.


''Kemana Kak Ghazi?'' batin Cindhi lalu masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursinya. Ia pun langsung mengerjakan pekerjaannya.


Setelah hampir 2 jam ia fokus pada pekerjaannya, ia pun akhirnya teringat Ghazi kembali.


''Kak Ghazi kemana sih sebenarnya? Kalau meeting nggak mungkin, kan masih nanti jam 3 meetingnya. Apa aku tanya ke Pak Alex aja ya,'' ujarnya langsung keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan Alex.


Tok tok tok.


''Masuk!'' ucap suara Alex terdengar di telinga Cindhi.


''Siang Pak Alex, Kak Ghazi kemana ya? sejak tadi jam istirahat dia belum kembali ke ruangannya,'' tanya Cindhi.


''Pak Ghazi? Kamu nggak tau Pak Ghazi kemana?'' tanya Alex mengerutkan keningnya. Cindhi pun mengangguk karna ia memang tidak tau kemana Ghazi pergi.


''Pak Ghazi berangkat ke Kota B 2 jam yang lalu,'' jawab Pak Alex.


''Apa?! Kenapa Kak Ghazi nggak pamit sama aku. Kan kami akan berangkat kesana sama-sama,'' ujar Cindhi merasa tidak terima karna telah di tinggal oleh Ghazi.


''Kita di perintah untuk tetap berada di perusahaan. Aku kesulitan mengurus perusahaan seorang diri. Jadi Pak Ghazi meminta kamu untuk tetap tinggal dan hanya beliau saja yang berangkat ke sana,'' ujar Pak Alex.


''Dia sendiri yang bilang ingin mengajakku, tapi kenapa sekarang malah aku yang di tinggal. Akhh Kak Ghazi benar-benar keterlaluan,'' gerutu Cindhi menutup pintu ruangan Alex dengan sedikit kencang saking kesalnya kepada Ghazi.

__ADS_1


*


*


__ADS_2