
Sesampainya di kantor Ghazi dan Cindhi masuk ke dalam ruangannya. Mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing, namun raut wajah Ghazi masih memancarkan kesedihan. Biar bagaimanapun ia tidak mau kehilangan orang yang sangat dia cintai. Apalagi mamanya yang selalu ingin menjodohkan dia dengan gadis lain. Ia tahu jika umurnya sudah hampir menginjak 30 tahun. Namun, Bukankah umur hanyalah angka?.
''Bagaimana kalau kita bicarakan semuanya kepada mama dan Galang. Kita harus jujur Jika kita mempunyai hubungan lebih dari saudara, dengan begitu mereka tidak akan memaksa kamu untuk pergi ke luar negeri bersama Galang dan aku pun tidak akan dijodohkan dengan gadis yang papa pilihkan,'' ujar Ghazi.
''Tapi bagaimana kalau Hazel tidak terima jika kita mempunyai hubungan lebih dari saudara. Aku hanya tidak ingin jika kalian bertengkar hanya gara-gara aku Kak,'' ujar Cindhi lirih.
''Dulu aku sering mengkhianatinya, namun dia selalu memaafkan aku. Entahlah hati Hazel terbuat dari apa, namun aku beruntung telah mengenalnya, dia yang baik dan sangatlah royal, namun hatiku juga tidak bisa dibohongi. Bukankah di suatu hubungan harus ada rasa nyaman dan aman? aku tidak merasakan itu semua di saat Hazel di dekatku, namun sampai saat ini aku sangat sulit bebas darinya,'' ujar Cindhi kemudian.
''Satu-satunya cara memang kita harus jujur kepada Hazel dan Mama Cin,'' ucap Ghazi bertekad jujur daripada ia harus kehilangan Cindhi.
Ting. Bunyi pesan di ponsel Cindhi pun terdengar. Ternyata Hazel yang mengirim pesan ke nomor Cindhi. Dari mana Hazel tahu nomor Cindhi? yang pasti Hazel meminta nomor Cindhi ke mama Mayang, tidak mungkin jika Hazel meminta nomornya ke Ghazi.
📥'' Pulang jam berapa? Hazel!'' bunyi pesan itu.
Alis Cindhi pun berkerut, kenapa Hazel bisa mengirim pesan kepadanya, padahal dia sudah mengganti nomor dan ponselnya, namun seketika ia teringat dengan Mama Mayang yang mendukung hubungannya dengan Hazel.
''Siapa?! Apa itu dari Galang?'' tanya Ghazi.
Cindhi pun mengangguk lemah. ''Iya, Hazel mengirim pesan ke ponselku. Hazel bertanya Aku pulang jam berapa,'' ujar Cindhi.
''Apa dia ingin mengajakmu ke suatu tempat? sampai-sampai ia bertanya dan mengirim pesan kepadamu,'' ucap Ghazi dengan nada setengah kesal.
''Aku juga tidak tahu,'' ujar Cindhi sambil mengedikkan bahunya.
__ADS_1
''Terus kamu ingin membalasnya apa?'' tanya Ghazi. Walaupun dengan adiknya, Ia tetap mempunyai rasa cemburu.
''Kenapa Kakak terlihat begitu kesal? apa kakak cemburu? jadi seperti ini ya cemburunya seorang Ghazi CEO di perusahaan ternama,'' ejek Cindhi.
''Aku lagi serius Cindhi, Kenapa kamu juga ikut menyebalkan begini?'' gerutu Ghazi.
''Cie yang lagi cemburu, tambah ganteng tahu nggak,'' ujar Cindhi sambil tersenyum ke arah Ghazi. Raut wajah Ghazi pun seketika memerah, ia malu tentunya.
''Cie salting,'' ujar Cindhi membuat Ghazi gemas dan mendekat ke arah Cindhi.
''Apa kamu bilang salting? Coba sekarang siapa yang salting,'' ujar Ghazi langsung mengecup bibir Cindhi.
''Ihh, kakak curang deh,'' ucap Cindy dengan bibir yang maju ke depan karena kesal.
''Tapi aku ingin lagi cinta gimana dong? bibir ini buat aku candu tahu nggak?'' ujar Ghazi langsung mendaratkan ciumannya ke bibir s*xy milik Cindhi. Bibir yang awalnya menempel pun sekarang menjadi *******, Ghazi enggan untuk melepaskan bibir milik Cindy, jika berdekatan dengan Cindy nafsu Ghazi meningkat 180°. Entahlah bagaimana bisa, namun Cindhi mempunyai daya tarik tersendiri menurut Ghazi.
Ceklek.
Saat mereka asik dengan ciuman panasnya, tiba-tiba pintu ruangan milik CEO itu pun terbuka lebar. Siapa pelakunya jika bukan Alex sang asisten CEO di perusahaan itu. Mau tak mau, Ghazi langsung melepaskan bibirnya yang bertautan dengan bibir milik Cindhi. Malu? jelas! Bagaimana tidak malu coba, jika dia yang tidak pernah berdekatan dengan wanita akhirnya mempunyai kekasih juga dan itupun saudaranya sendiri.
''Udah nggak pengen kerja di sini lagi ya?'' tanya Ghazi dengan ketus, Ghazi menyembunyikan rasa malunya dengan bertanya demikian.
''Maaf Pak, maaf atas kecerobohan saya, saya pikir-----'' ucapannya pun menggantung ia memikirkan alasan yang tepat untuk diucapkan di depan Bosnya itu.
__ADS_1
''Kamu berpikir apa? Bukankah di pintu sudah bertuliskan jika ingin masuk ketuk pintu terlebih dahulu? Apa kamu tidak bisa membaca atau kamu sudah bosan bekerja di sini?'' tanya Ghazi dengan tatapan mengintimidasi.
''Maaf Pak saya benar-benar minta maaf, lain kali saya akan mengetuk pintu terlebih dahulu,'' ujar Alex dengan menundukkan kepalanya bertanda ia menyesal.
''Cepat katakan Kenapa kamu kesini?'' tanya Ghazi dengan mode galaknya.
''Meeting akan dimulai 5 menit lagi Pak, semua staf sudah menunggu Anda di ruangan meeting,'' ujar Alex.
''Aku sudah tahu cepat pergi dari sini,'' usir Ghazi.
''Ba baik Pak saya permisi,'' Alex pun undur diri dari ruangan bos galaknya itu.
Sesampainya di luar ruangan Alex langsung maraba dadanya karena baru saja ia melihat adegan yang tidak senonoh dari bosnya. ''Astaga Pak Bos kalau bucin sampai segitunya ya?'' gumamnya pelan. ''Dulu aku yang tertarik sama Cindhi eh ternyata malah keduluan bosku sendiri,'' gerutu Alex.
Alex pun lebih memilih pergi dari depan ruangan bosnya dan menuju ke ruangan meeting. Ia akan menunggu atasannya di sana, karena meeting sebentar lagi akan dimulai.
Di dalam ruangan, Cindhi dan Ghazi sudah siap untuk menuju ruangan meeting. Ghazi pun mencium bibir Cindhi sekilas. ''Vitamin Cin biar aku nanti fokus,'' ujarnya. Padahal Cindhi tahu jika itu hanya modus Ghazi saja, Ia pun tak ambil pusing dan membiarkan itu terjadi.
Sesampainya di ruangan meeting, Ghazi menatap Alex dengan tatapan seperti ingin menelannya hidup-hidup. Alex tahu kesalahannya pasti hanya karena dia masuk ke ruangan bosnya tidak mengetuk pintu. Alex pun menelan ludahnya dengan kasar. ''Aku kan sudah minta maaf, Kenapa dia malah menatapku seperti itu? apa dia masih marah denganku atau apa? O M G aku benar-benar pusing mempunyai Bos seperti itu,'' gerutu Alex yang tentunya hanya di dalam hati.
2 jam kemudian meeting pun telah selesai, Ghazi dan Cindhi kembali ke ruangannya, begitu juga dengan Alex.
''Buatlah surat pernyataan, Aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang kembali. Jika sampai terulang satu kali saja. Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan gaji untuk satu bulan ini,'' ujar Ghazi membuat Alex menelan salivanya dengan susah.
__ADS_1
*