SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 38


__ADS_3

''May!!'' bentak Papa Leo saat Mama Mayang mengusirnya di hadapan Ghazi.


''Apa?? Kamu nggak denger apa yang aku katakan. Jangan sekali-kali kamu mengusir Ghazi dari sini. Karna Ghazi adalah anakku, anak kandungku. Dia berhak ada disini. Dan keputusan Ghazi sudah benar, kalau dia lebih memilih istrinya daripada harus bertunangan dengan gadis pilihanmu itu,'' ujar Mama Mayang menatap nyalang mantan suaminya itu.


''Tapi kan dulu kamu juga setuju kalau Ghazi di jodohkan dengan Ayumi. Kenapa sekarang berbalik arah begini?'' tanya Papa Leo tidak habis fikir dengan jalan fikiran Mama Mayang.


''Dulu aku nggak tau kalau Ghazi sudah menikah dengan Cindhi. Jadi aku setuju saja jika dia bertunangan dengan Ayumi. Tapi sekarang ceritanya udah beda. Ghazi sudah memiliki istri,'' ujar Mama Mayang.


''Mau di taruh di mana mukaku May. Papa Ayumi sangat mengharapkan perjodohan ini,'' Papa Leo memijit kepalanya yang terasa ingin pecah. Ia benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini.


''Bukankah anak Mama tidak hanya aku. Masih ada Galang yang single Ma. Kenapa harus aku mulu,'' ucap Ghazi menatap sekilas sang ayah dengan raut wajah yang kesal.


''Iya, kenapa tidak Galang. Galang juga sudah waktunya menikah,'' ucap Mama Mayang setuju dengan Ghazi.


Ghazi pun tersenyum tipis. ''Untung Mama belain aku,'' batin Ghazi.


''Biar aku fikirkan nanti,'' ucap Papa Leo meninggalkan Mama Mayang dan Ghazi.


Mama Mayang menghela nafasnya dengan kasar.


''Ma aku pergi dulu,'' pamit Ghazi.


''Lho, kamu mau kemana. Kamu jangan pergi Zi. Pokoknya Mama nggak izinin kamu pergi. Kamu adalah harta satu-satunya yang Mama punya,'' ucap Mama Mayang menarik tangan Ghazi dengan wajah yang memelas.


''Ma, Ghazi ingin menginap beberapa hari di apartemen. Ghazi nggak mau tiap hari bertengkar dengan Papa hanya masalah perjodohan konyol ini Ma,'' ucap Ghazi.


Dengan terpaksa Mama Mayang pun menganggukkan kepalanya. ''Baiklah. Bagaimana, apa kamu sudah menemukan Cindhi?'' tanya Mama Mayang mengalihkan pembicaraan.


Ghazi pun menggeleng. ''Cindhi seperti di telan bumi Ma. Aku sudah memerintahkan anak buahku, tapi tidak ada yang tau dimana Cindhi berada,'' ucap Ghazi dengan wajah yang terlihat sendu.


''Mama yakin Cindhi segera di temukan,'' ucap Mama Mayang mengusap punggung Ghazi.


''Aku juga berharap begitu Ma,'' ucap Ghazi.


Setelah berpamitan dengan sang Mama, ia pun segera mengendarai mobilnya menuju Apartemen. Disana hati dan fikirannya terasa lebih tenang.

__ADS_1


*


Di negara lain.


Galang menghempaskan semua yang ada di atas mejanya. Bagaimana bisa Papanya mengancamnya jika ia tidak mau di jodohkan dengan wanita pilihannya. Galang tidak habis fikir jika ia akan bernasib sama dengan sang Kakak. Ia tidak mengetahui jika orang yang di jodohkan dengannya adalah orang yang sama dengan orang yang akan di jodohkan dengan Kakaknya.


''Sialllll!! Kenapa harus ada perjodohan seperti ini!'' ucap Galang dengan nafas yang menggebu-gebu.


''Kenapa papa harus mengancam aku segala. Papa tau kelemahanku,'' ucap Galang dengan emosi.


Ia tak menyangka Papanya akan mengancamnya jika ia tidak mau di jodohkan. Apalagi ancaman Papanya akan mengeluarkan ia dan akan mencorek namanya di kartu keluarga. Otomatis semua harta warisannya nanti akan jatuh kepada Ghazi Kakaknya, dan Galang tidak mau itu terjadi.


Papa Leo meminta Galang untuk pulang ke Jakarta hari ini. Papa nya sudah tidak sabar ingin melaksanakan pertunangan Galang dan gadis yang akan di jodohkan malam ini. Tidak ada pilihan lain, Galang pun segera berkemas dan pulang ke Jakarta.


''Bagaimana kalau yang di jodohkan denganku berwajah jelek, atau mungkin sudah tante-tante. Akhhh aku nggak bisa!! Masa dari Cindhi ke tante-tante, apa kata dunia coba,'' gumamnya dalam hati.


Setelah perjalanan 3 jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi oleh Galang mendarat di bandara Ibu kota. Di sana sudah ada orang suruhan Papanya yang akan menjemputnya.


''Mari Tuan,'' ucap Seseorang berwajah garang membukakan pintu mobil.


Galang pun mengangguk. Ia segera masuk, lalu melepas kaca matanya dan menyenderkan bandannya di kursi penumpang.


Suara sepatu Galang terdengar memasuki ruang tamu. Papa Leo yang tengah berada di ruang keluarga langsung bangkit dari duduknya karna ia yakin yang datang itu Galang. Ia pun segera berjalan menuju ruang tamu.


''Akhirnya kamu sampai juga,'' ucap Papa Leo dengan wajah penuh senyuman manis.


''Hem,'' Galang pun hanya berdehem pelan. Sebenarnya ia sangat kesal kepada sang Ayah karna perjodohan ini.


''Sebaiknya kamu istirahat dulu. Pertunangan kalian akan di gelar nanti malam,'' ucap Papa Leo menepuk pundak Galang pelan.


''Ck,'' Galang berdecak pelan sebelum ia meninggalkan sang Papa.


''Galang memang anak yang bisa di banggakan. Tidak seperti Ghazi yang bisanya hanya membangkang,'' batin Papa Leo dalam hati.


*

__ADS_1


Di apartemen Ghazi menerima pesan dari sang Mama jika malam ini Galang dan Ayumi harus bertunangan. Ghazi pun tersenyum puas, akhirnya ia lepas dari perjodohan konyol itu.


''Terima kasih Galang, kamu memang adikku yang bisa di banggakan,'' ucap Ghazi dengan tertawa cekikikan. Ghazi yakin Galang juga di ancam oleh sang Papa jika tidak mau di jodohkan. Apalagi Galang tidak bisa hidup susah, pasti Galang langsung menerima begitu saja perjodohan ini.


📤''Maaf Ma, tapi aku tidak bisa datang malam ini. Aku ada urusan di luar kota,'' ucap Ghazi beralasan. Jika dirinya datang pasti akan ada drama, dan itu akan menyudutkan dia pastinya.


📥''Baiklah. Jaga diri baik-baik,'' ucap sang Mama.


Ghazi membaca pesan dari sang Mama hanya tersenyum.


''Terima kasih Ma. Mama memang terbaik,'' ucap Ghazi memasukkan ponselnya ke dalam saku dan bergegas keluar dari apartemennya untuk bertemu dengan Alex.


*


Di negara lain.


Kenan sedang membujuk Cindhi yang tidak mau makan. Bahkan dari kemarin Cindhi belum makan nasi walaupun hanya sesuap.


''Ayolah Cin. Kasihan Baby kamu,'' ucap Kenan menyodorkan sesendok nasi dan lauk.


''Ken, aku kenyang. Perutku rasanya sangat begah,'' ucap Cindhi dengan raut wajah imut dan menggemaskan, membuat Kenan ingin sekali menciumnya.


''Dari kemarin kamu tidak makan nasi Cin,'' ucap Kenan.


''Aku tidak mau! Aku kenyang Ken,'' ucap Cindhi lalu menutup mulutnya rapat-rapat.


Kenan hanya mendengus kesal. Baru kali ini merasakan mengurus wanita hamil susahnya minta ampun.


''Cin, besok malam aku harus pergi ke negara M. Mungkin di sana aku cukup lama. Besok aku akan mengirimkan suster yang akan menjagamu 24 jam,'' ucap Kenan.


''Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu Ken. Aku tidak apa-apa. Aku berani disini sendiri,'' ucap Cindhi meyakinkan Kenan.


''Aku tidak akan tenang disana jika kamu tidak ada yang menemani Cin,'' ucap Kenan.


''Baiklah, aku menurut saja,'' ucap Cindhi tidak ingin berdebat dengan Kenan mengingat hari sudah malam.

__ADS_1


*


*


__ADS_2