SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 37


__ADS_3

''Cin,'' Kenan langsung merangkul tubuh Cindhi ke dalam pelukannya. Ia tahu bahwa saat ini Cindhi tengah rapuh. Bagaimana tidak rapuh, jika ia tengah mengandung anak suaminya, sedangkan saat ini ia tengah berada jauh dan mungkin suaminya tidak pernah bisa bertemu dengannya lagi.


''Aku hamil Ken,'' suara tangisan Cindhi terdengar sangat menyakitkan.


''Kamu yang sabar,'' Ken mengusap punggung Cindhi untuk memberikan kekuatan kepada Cindhi.


''Aku harus bagaimana Ken. Di dalam perutku ada anak suamiku. Tapi sekarang aku tengah jauh darinya. Dan mungkin saat ini ia sudah bertunangan dengan wanita pilihan orang tuanya,'' gumam Cindhi.


Cindhi teringat kepada Ghazi yang akan di jodohkan dengan Ayumi. Ia pun teringat jika beberapa hari yang lalu adalah acara pertunangan Ghazi dan Ayumi.


Kenan menghela nafasnya. ''Apa kamu butuh bantuanku? Aku akan membantumu pulang ke Indonesia jika kamu mau,'' ucap Kenan serius.


Cindhi segera menggelengkan kepalanya. ''Aku tidak mau! Aku akan tetap berada di sini. Jika suatu saat suamiku menemukan aku dan mengajakku pulang, aku akan ikut dengannya,'' ucap Cindhi. Keputusannya sudah bulat jika ia tidak mau kembali ke Indonesia seorang diri.


''Baiklah, jangan sedih lagi. Aku akan melindungimu disini Cin. Kamu tidak perlu khawatir,'' ucap Kenan.


''Terima kasih Ken,'' ucap Cindhi sambil mengusap air matanya. Percuma ia menangis, karna semua itu tidak akan mengembalikan keadaan. Ia menangis bukan karna tidak mau hamil anak Ghazi, tapi ia sedih karna di saat seperti ini tidak ada suami yang siap siaga menjaganya.


''Aku pergi dulu untuk membeli vitamin dan buah-buahan untukmu. Kamu jangan pergi kemana-mana, oke?'' ucap Kenan. Cindhi pun mengangguk.


''Maaf selalu merepotkanmu,'' ucap Cindhi.


''Tidak masalah Cin,'' Kenan berlalu begitu saja meninggalkan Cindhi yang masih berada di atas ranjangnya.


*


Sementara di Indonesia, Ghazi tengah menatap Papanya dengan tajam. Sampai saat ini ia masih belum bisa menemukan keberadaan sang istri, namun Papanya terus menerus mendesaknya untuk bertunangan dengan Ayumi.


''Sampai kapanpun aku tidak akan bertunangan dengan siapapun!'' ucap Ghazi dengan sorot mata yang tajam.


''Kamu sudah mengiyakannya Zi. Kamu jangan permainkan keluarga Ayumi. Dia orang yang berpengaruh di negeri ini,'' Papa Leo menatap Ghazi juga tidak kalah tajam.


''Pa, tolong ngertiin aku. Aku udah punya istri Pa,'' ucap Ghazi.

__ADS_1


''Kamu sama dia hanya menikah siri, dan tidak ada yang tau pernikahan kalian. Jadi kamu mudah untuk menikahi Ayumi,'' ucap Papa Leo.


''Kenapa tidak Papa saja yang menikahi Ayumi. Papa kan sudah bercerai dengan Mama. Dan status Papa saat ini adalah Duda. Tapi kalau aku, aku suami orang Pa,'' ucap Ghazi enteng.


''Kamu!! Kamu sudah berani sama Papa?'' Papa Leo menunjuk Ghazi dengan mata memerah dan rahang yang mengeras.


''Santai dong Pa. Coba fikirkan, disini aku sudah punya istri, sedangkan Papa seorang duda. Yang seharusnya menikah itu Papa, bukan aku,'' ucap Ghazi membuat Papa Leo naik pitam.


''Ghazi!!!'' bentak Papa Leo.


''Kenapa Papa harus marah? Bukankah itu kenyataannya. Atau,,, biar Galang saja yang menikahi Ayumi. Dia juga pantas dengan Ayumi,'' ucap Ghazi tersenyum menanggapi Papanya yang tengah emosi.


''Jika kamu tidak mau menikah dengan Ayumi. Mulai detik ini jangan memanggilku Papa. Dan kamu juga harus angkat kaki dari perusahaan,'' ucap Papa Leo.


Ghazi pun tersenyum miring. ''Papa ngancam aku? Papa nggak inget siapa yang sudah membuat perusahaan kita sebesar ini, aku Pa. Saat Papa yang memegang perusahaan hanya ada 1 cabang di Indonesia. Dan lihatlah sekarang, perusahaan yang ada disini sudah berjumlah 15 cabang,'' ucap Ghazi santai.


''Kamu hanya meneruskan, kamu tidak tau rasanya membangun perusahaan itu dari nol,'' ucap Papa Leo.


''Aku juga akan keluar dari rumah ini,'' Ghazi pun segera merapikan semua berkas yang ada di depannya.


''Jadi kamu lebih memilih wanita itu daripada perusahaan dan keluarga kamu?'' tanya Papa Leo menatap Ghazi dengan tajam.


''Jika aku boleh memilih semuanya, aku akan memilih semuanya Pa. Tapi disini aku harus memilih salah satunya. Dan aku akan tetap memilih istriku, walaupun sekarang dia entah ada dimana,'' ucap Ghazi.


''Tolong fikirkan baik-baik Zi!'' ucap Papa Leo.


''Tidak perlu terlalu di fikirkan Pa. Aku akan keluar dari rumah dan perusahaan. Aku akan memulai lagi dari nol. Aku akan buktikan bahwa aku bisa,'' ucap Ghazi berlalu dari ruang kerjanya dan membereskan semua barang-barangnya.


''Ghazi!! Ghazi!!'' teriak Papa Leo memanggil Ghazi yang sudah menghilang dari balik pintu.


''Percuma aku membuang Cindhi. Ghazi tetap ngotot tidak mau menikah dengan Ayumi,'' batin Papa Leo sambil mengepalkan tangannya.


Sementara Ghazi berkemas di dalam kamarnya. Setelah keluar dari rumah dan perusahaan ia akan fokus mencari sang istri dan memulai bisnisnya dari nol.

__ADS_1


''Papa kira aku sebodoh itu. Aku sudah menyisihkan banyak uang untuk membangun perusahaan sendiri. Tidak masalah jika Papa mengusirku dari perusahaan. Karna aku akan memulai bisnisku tanpa campur tangan Papa,'' gumamnya saat ia tengah memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya.


Setelah di rasa semua pakaian dan barang-barangnya sudah siap, ia pun segera menarik 2 koper itu keluar dari kamar.


''Lho lho lho, kamu mau kemana Zi. Kenapa bawa koper sebanyak ini?'' tanya Mama Mayang heran.


''Aku di usir oleh Papa Ma. Karna aku lebih memilih Cindhi daripada bertunangan dengan Ayumi. Aku harus pergi dari sini Ma. Aku harap Mama selalu sehat,'' ucap Ghazi merangkul sang Mama. Wajahnya pun di buat se sedih mungkin. Agar Mamanya merasa iba kepadanya.


''Di usir? Papa kamu ngusir kamu? Berani-beraninya dia ngusir kamu. Sekarang ada dimana dia?'' tanya Mama Mayang langsung emosi mendengar ucapan Ghazi.


''Tadi ada di ruang kerja Ma. Ma aku pergi dulu, mama jaga diri baik-baik ya,'' ucap Ghazi melangkah meninggalkan sang Mama.


''Tunggu Zi. Kamu nggak boleh pergi. Mama akan bicara sama Papa kamu,'' ucap Mama Mayang menarik koper Ghazi.


''Tapi Ma---''


Brak brak brakk.


Mama Mayang menggedor pintu ruangan kerja yang selama ini di buat kerja oleh Ghazi. Mama Mayang seperti naik pitam saat mendengar penuturan Ghazi tadi.


''Mas Buka!!!'' pekik Mama Mayang.


Beberapa detik kemudian pintu pun di buka dari dalam. Belum sempat Papa Leo mengeluarkan suaranya, Mama Mayang sudah mengeluarkan suara nyaringnya.


''Kenapa kamu mengusir Ghazi? Apa kamu sadar ini rumah siapa? Ini rumahku, yang berhak masuk atau keluar dari rumah ini hanya seizin aku. Kamu itu cuma numpang disini. Nggak usah banyak tingkah deh Mas,'' ucap Mama Mayang dengan nafas yang menggebu-gebu.


''May---''


''Mending kamu kembali sana ke asalmu. Aku muak lihat kamu disini,'' ucap Mama Mayang menatap Papa Leo dengan tajam. Ghazi pun tertawa dalam hati karna sang Mama lebih membelanya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2