SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 31


__ADS_3

Papa Leo pun tersenyum kecut. ''Hanya gara-gara hubunganmu dengan perempuan itu sedang tidak baik-baik saja, kamu sampai mau menerima perjodohan itu Zi. Dan sekarang kamu ingin membatalkannya. Otak kamu dimana?'' tanya Papa Leo yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


''Maafkan Ghazi Pa, Ma. Tapi Ghazi benar-benar mencintainya. Ghazi tidak mau berpisah dengan dia,'' ucap Ghazi dengan wajah yang memelas.


''Siapa wanita itu?'' tanya Mama Mayang menatap Ghazi dengan tatapan kecewa.


Inilah saat-saat yang di takutkan oleh Ghazi. ''Di dia Cindhi, saudara Mama,'' ucap Ghazi pelan.


''Kamu udah gila, Cindhi kekasih adikmu sendiri Zi!!'' ucap Mama Mayang yang kaget mendengar penuturan sang anak.


''Hubungan Cindhi dan Galang sudah selesai Ma. Sekarang Cindhi milikku, bukan milik Galang. Dan aku akan menikah dengannya,'' ucap Ghazi.


''Sadar Zi sadar!! Galang sangat mencintai Cindhi, dan kamu tega menikung kekasih adikmu sendiri, ha?''


''Kenapa Mama selalu membela Galang, apa hanya Galang disini yang anak Mama. Apa aku hanya anak terbuang yang tanpa sengaja di temukan oleh Mama? bukankah disini aku juga anak kandung Mama, kenapa Mama selalu membeda-bedakan kami?''' ucap Ghazi yang tengah menggebu-gebu karna sang Mama selalu membela sang adik.


''Nggak gitu Zi. Galang yang lebih dulu mencintai Cindhi. Dan kenapa kamu malah mencintai wanita yang sama juga? Apa di dunia ini hanya ada Cindhi seorang?'' tanya Mama Mayang dengan wajah yang memerah menahan amarah.


''Aku tidak tau jika kekasih Galang adalah Cindhi. Aku mengetahuinya saat Galang tiba disini. Dan apa itu aku yang salah?''


Mama Mayang dan Papa Leo memijit pelipisnya yang terasa nyeri. Mama Mayang tak menyangka jika selama ini ada hubungan khusus antara Cindhi dan anak sulungnya.


''Lupakan Cindhi dan menikahlah dengan Ayumi. Dia lebih baik daripada Cindhi Zi,'' ucap Papa Leo pelan, namun membuat hati Ghazi merasa sakit luar biasa.


''Enggak! sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain Cindhi Pa. Aku dan dia saling mencintai. Aku hanya butuh Cindhi bukan wanita lain,'' ucap Ghazi menatap sang Papa dengan perasaan kecewa.


Inilah yang ia takutkan. Galang mendapatkan restu saat ia berhubungan dengan Cindhi. Berbeda dengannya.

__ADS_1


''Tidak ada yang akan menikah dengan Cindhi. Kamu atau pun Galang. Galang akan Papa jodohkan dengan anak rekan bisnis Papa. Jadi adil kan, disini kami tidak pilih kasih ke kalian,'' ucap Papa Leo.


''Terserah Papa mau ngomong apa, tapi yang pasti aku akan tetap menikah dengan Cindhi. Titik!'' ucap Ghazi bangkit dari duduknya. Mereka tidak tau jika ada seseorang yang tengah menangis di pojok ruangan saat mendengar debat keluarga itu.


Hati Cindhi benar-benar sakit saat ia mendengar sendiri jika keluarga Tantenya tidak merestui hubungannya dengan anak sulung mereka.


''Ghazi tunggu!'' Mama Mayang menahan pergelangan tangan Ghazi.


''Apalagi sih Ma?''


''Mama mohon Nak, jangan permalukan keluarga kita. Menikahlah dengan Ayumi, dan lupakan Cindhi. Biarkan Cindhi menikah dengan orang lain,'' ucap Mama Mayang.


''Itu tidak akan pernah terjadi Ma, karna kami sudah menikah siri 1 minggu yang lalu,'' ucap Ghazi dengan tegas.


''Apa?!!!'' ucap Papa Leo langsung bangkit dari duduknya. Mereka syok dengan ucapan Ghazi barusan.


''Kenapa Papa kaget seperti itu? Apa aku salah bicara?'' tanya Ghazi memancing emosi sang Papa.


''Waow, memang drama kamu sungguh sangat luar biasa Zi. Pantasnya kamu bukan seorang pengusaha, namun seorang bintang film. Kamu kira Papa akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan, Papa bukan seseorang yang gampang di bohongi Zi,'' ucap Papa Leo berusaha tidak percaya dengan semua ucapan Ghazi.


''Terserah Papa mau percaya atau tidak, tapi itu kenyataannya,'' ucap Ghazi lalu meninggalkan Mama dan Papanya di ruang keluarga. Ia pun menaiki anak tangga tanpa menoleh ke arah dapur. Ghazi tidak tau jika di dekat tangga ada istrinya yang mendengar semua obrolan mereka.


''Kenapa ketakutanku menjadi kenyataan. Bahkan Om Leo dan Tante Mayang tidak percaya jika kami sudah menikah, ya walaupun pernikahan kami hanya siri dan tidak ada bukti apapun yang memperkuat ucapan Kak Ghazi,'' batin Cindhi menghapus air matanya yang tidak mau berhenti. Ia pun memilih masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan semua rasa sakitnya di sana.


*


Malam pun telah tiba, semua makan malam sudah tertata rapi di meja makan. Namun tidak ada satupun orang yang duduk di kursi itu. Mereka semua memilih berperang dengan fikirannya masing-masing di kamar mereka.

__ADS_1


''Kenapa Tuan dan Nyonya tidak keluar kamar. Bahkan Non Cindhi dan Den Ghazi pun tidak ada menampakkan batang hidungnya. Percuma kan masak banyak gini kalau tidak di makan,'' gumam Bibi yang sejak tadi mondar mandir karna sang pemilik rumah tidak ada yang keluar kamar untuk makan malam.


Di lain tempat, Ghazi tengah berkutat dengan laptop di depannya. Pabrik yang baru saja di resmikan beberapa bulan lalu mengalami kebakaran hebat. Hampir satu pabrik rata dengan tanah, entah apa penyebabnya. Namun saat ini anak buah Ghazi sudah turun tangan untuk mengatasi masalah ini.


''Akhhhhh, kenapa masalah datang bertubi-tubi gini,'' ucap Ghazi dengan nafas naik turun. Di saat ada masalah pribadi dalam hidupnya, ia pun harus menghadapi masalah pada pekerjaannya.


Tringgg tringgg tringgg.


Ponselnya pun tiba-tiba berdering. Siapa lagi penelponnya kalau bukan Alex sang asisten pribadinya.


''Halo Pak. Ada seseorang yang memang sengaja membakar pabrik yang ada di kota P. Diduga mereka adalah orang-orang suruhan dari rival bapak,'' ucap Alex dari balik telepon.


''Rival? Siapa?'' tanya Ghazi mengerutkan keningnya penasaran. Selama ini ia tidak peduli dengan rival-rivalnya. Hingga kejadian seperti ini bisa terjadi.


''Kami masih menyelidiki siapa dalangnya. Karna orang-orang suruhan itu tidak mau angkat bicara,'' ucap Alex.


''Cari tau siapa dalangnya. Besok pagi aku akan berangkat ke kota P. Persiapkan semuanya,'' perintah Ghazi. Ia pun lalu mengakhiri teleponnya.


''Rival? Siapa?'' Ghazi memikirkan siapa orang yang berani membakar pabriknya. Bahkan selama ini ia tidak mempunyai rival yang menurutnya membahayakan perusahaan dan karyawannya.


Ia pun segera menata beberapa pakaiannya untuk di bawa besok berangkat ke kota P. Rasanya tidak puas jika hanya mendengar laporan dari anak buahnya saja.


''Apa aku harus mengajak Cindhi ikut ke kota P. Tapi sekarang bukan waktu yang pas mengajak dia pergi. Toh aku disana hanya 2 hari,'' gumamnya.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kawan.


Lope you pull gaesss.


__ADS_2