
''Cindhi,'' gumam Ghazi. Tubuhnya gemetar saat ia melihat sosok istrinya ada di depan matanya. Istri yang selama 7 bulan ini ia cari.
''Dia benar Cindhi Kak,'' ucap Galang masih melihat ke arah Cindhi tanpa berkedip.
Ghazi berkali-kali menepuk dadanya. Rasa sesak itu muncul ketika ia melihat istrinya bersama lelaki lain. Apa ini yang menjadi alasan istrinya pergi meninggalkannya selama ini? pikir Ghazi.
''Kakak nggak pa-pa?'' tanya Galang saat melihat Kakaknya merosot ke lantai.
''Kak!!''
''Aku nggak pa-pa Lang,'' ucap Ghazi berusaha untuk tegar menerima semua kenyataan yang ada di depan matanya.
''Kak, mending kita samperin mereka,'' ajak Galang namun Ghazi langsung menggelengkan kepalanya.
''Enggak Lang. Buat apa? Dia udah bahagia,'' ucap Ghazi.
''Kak, kalau Kakak hanya diam seperti ini, Kakak tidak akan pernah tau alasan Cindhi bisa ada di sini. Ayolah Kak,'' ucap Galang menarik tangan Galang.
''Aku nggak siap Lang. Aku harus pulang sekarang!'' ucap Ghazi berdiri dan berjalan meninggalkan Galang.
''Kak Ghazi!! Bagaimana kalau selama ini Cindhi punya masalah dan tidak ada seorang pun yang tau? Dan bagaimana jika yang ada di perut Cindhi itu anakmu Kak, apa kamu akan membiarkan mereka disini sendiri?'' ucap Galang setengah berteriak karna Ghazi sudah lumayan jauh.
Deg.
Ghazi pun menghentikan langkahnya.
''Apa benar itu anakku?'' batin Ghazi.
''Lalu yang ada di dekatnya itu siapa? Kenapa dia mengaku suaminya Cindhi?'' batin Ghazi.
Dengan segera Ghazi menoleh ke arah Cindhi yang tengah fokus belanja. Sesekali orang yang berada di samping Cindhi sedang menjahilinya.
''Dia bukan anakku kan?'' ucap Ghazi bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia ragu, anak yang tengah di kandung istrinya itu anak siapa.
''Kak, come on. Jangan kayak anak kecil gini napa,'' omel Galang. Ghazi pun menoleh ke arah Galang.
''Maksud kamu apa, ha? Oke, kita samperin dia!'' ucap Ghazi dengan mantap.
__ADS_1
''Beneran? Nah ini memang beneran Kakakku yang top nih,'' ucap Galang langsung menarik tangan Ghazi.
Sesampainya di dekat Cindhi, Ghazi melepaskan tangan Galang yang masih bertautan dengan tangannya. Ia menatap Cindhi dari jarak yang cukup dekat.
''Kenapa berhenti?'' tanya Galang yang sudah tidak sabar untuk mempertemukan Kakaknya itu.
Ghazi meraup wajahnya dengan kasar. Ia takut, sangat takut. Bagaimana jika harapannya hanya tinggal harapan. Bagaimana jika yang bersama Cindhi saat ini adalah suaminya. Bagaimana jika yang ada di dalam perut Cindhi adalah anak seseoarng yang saat ini di dekatnya itu. Banyak pertanyaan yang bersarang di otak Ghazi saat ini.
Galang yang gemas dengan tingkah sang Kakak, langung memanggil nama Cindhi begitu saja.
''Cindhi!'' pekik Galang, Ghazi pun langsung melebarkan matanya menatap sang adik.
Cindhi yang merasa di panggil langsung mencari orang yang memanggilnya, begitu juga dengan Kenan.
''Kak Ghazi, Hazel?'' gumam Cindhi. Baju yang tengah ia pegang jatuh begitu saja dari tangannya.
Netra mereka bertemu, namun kaki mereka enggan untuk melangkah mendekat.
''Cin, apa kamu kenal mereka?'' tanya Kenan membuyarkan lamunan Cindhi. Cindhi mengangguk pelan. Tiba-tiba air matanya luruh begitu saja.
''Apa kita masih lama berada disini? Apa kita hanya ingin menyaksikan kemesraan mereka?'' tanya Ghazi kesal.
''Kak, mendekatlah. Kenapa Kakak malah melihat Cindhi dari sini?'' omel Galang.
''Mending kita pulang deh! dia udah nggak butuh aku lagi!'' ucap Ghazi berbalik arah untuk meninggalkan Cindhi. Namun Cindhi yang tau Ghazi berbalik langsung berlari melewati Galang dan memeluk Ghazi dari belakang. Perutnya yang sudah membesar membuat ia kesulitan untuk memeluk suaminya itu.
Ghazi hanya membeku di tempatnya. Tubuh yang selama ini ia rindukan saat ini tengah berada di belakangnya. Ghazi bingung harus berbuat apa.
''Kak, aku rindu sama Kakak,'' isak tangis Cindhi terdengar di telinga Ghazi. Ghazi yang mendengar Cindhi menangis langsung melepaskan tautan tangan Cindhi yang berada di perutnya. Ia segera berbalik arah dan menatap lekad-lekad istrinya itu.
''Kak, kenapa Kakak lama sekali menemukan aku? Apa Kakak tau jika setiap malam aku selalu merindukan Kakak?'' ucap Cindhi dengan derai air mata.
''Bagaimana keadaanmu?'' tanya Ghazi datar. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk tubuh yang saat ini berada di depannya. Namun, gengsi Ghazi mengalahkan segalanya.
''Menurut Kakak bagaimana?'' tanya Cindhi balik membuat Ghazi kesal.
''Sepertinya kamu sudah bahagia tanpa aku,'' ucap Ghazi.
__ADS_1
''Apa menurut Kakak seperti itu?'' tanya Cindhi sambil mengusap ingusnya yang keluar karna menangis.
''Heem. Bahkan kamu sudah mempunyai suami lagi dan,,, sudah hamil,'' ucap Ghazi dengan suara beratnya.
''Suami? Maksud Kakak dia?'' Cindhi menunjuk Kenan yang berada tak jauh darinya.
''Selamat ya!'' ucap Ghazi tanpa senyum di wajahnya. Wajahnya datar sama seperti Cindhi pertama kali bertemu dengan Ghazi.
''Dia Kenan. Dia mantan pacar aku. Dia yang udah bantu aku selama ini Kak. Dia yang udah buat---''
''Jadi kamu kembali dengan mantan pacar kamu?betapa bodohnya aku selama ini, mencari orang yang tengah sibuk bahagia dengan orang lain,'' ucap Ghazi memotong ucapan Cindhi.
''Dengerin dulu aku bicara Kak! Kakak udah janji selalu percaya denganku kan?'' Cindhi mengingat kembali ucapan Ghazi waktu lalu.
''Kamu kira aku bodoh? Sejak tadi aku mengikutimu dengan Galang. Aku mendengar sendiri jika dia mengaku suamimu, apa kamu fikir aku buta dan tuli?'' ucap Ghazi dengan emosi yang sudah menguap.
''Kamu salah paham Kak. Kami tidak ada hubungan apapun!'' ucap Cindhi.
''Udahlah Cin. Kalau memang benar dia suamimu, tidak apa-apa. Aku akan-----
''Dengarkan aku dulu Kak, setelah aku bicara kamu boleh berkomentar!'' pekik Cindhi membuat Ghazi langsung merapatkan bibirnya. Ia tidak pernah melihat Cindhi dengan wajah yang kesal seperti ini.
Cindhi pun menceritakan sedetail-detailnya kepada Ghazi di toko itu. Ghazi dan Galang syok saat mengetahui Papanya lah yang membuang Cindhi.
''Jadi-----
''Kakak pasti tidak percaya dengan ucapanku! aku sudah berbicara yang sejujur-jujurnya, jadi sekarang terserah mau Kakak bagaimana,'' ucap Cindhi membuang mukanya ke arah lain. Ia sangat kesal kepada suaminya yang tidak pernah mempercayainya itu.
''Apakah dia anakku?'' tanya Ghazi dengan nada pelan. Ia sangat menyayangkan sikap sang Papa kepada istri yang sangat di cintainya.
''Bukan! dia anakku, karna aku yang mengandungnya, kamu hanya menitipkan benih saja,'' ucap Cindhi membuat bibir Ghazi melengkung ke atas.
''Jadi benar dia anakku. Maksud aku anak kita?'' ucap Ghazi meralat ucapannya.
''Iyalah, anak siapa lagi. Kan hanya kamu yang membuat,'' ucap Cindhi dengan nada jengkel.
*
__ADS_1