SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 36


__ADS_3

Kenan membawa Cindhi ke apartemen yang selama ini tidak ditempatinya.


''Terima kasih Ken. Aku sangat berhutang budi padamu,'' ujar Cindhi.


''Jangan bicara seperti itu, Cin. Aku menolongmu dengan tulus, aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman di luar sana,'' ucap Kenan serius.


Cindhi tersenyum. ''Apa besok aku sudah bisa bekerja? Aku tidak ingin terus-menerus merepotkanmu, Ken,'' ucap Cindhi.


''Nanti aku tanyakan dulu kepada sekretarisku. Sebaiknya sekarang kita membeli beberapa keperluanmu. Kamu bahkan tidak membawa baju sama sekali,'' ucap Kenan.


Cindhi menyelinapkan nafasnya dengan kasar. ''Aku memang selalu merepotkanmu, Ken,'' ujarnya.


''Jangan bicara seperti itu, Cin. Aku tidak suka dengan ucapanmu itu. Aku membantumu dengan tulus karena aku mencintaimu,'' ucap Kenan serius.


''Baiklah. Anggap saja saat ini aku berhutang padamu. Jika nanti aku menerima uang gaji, aku akan menggantinya semua, Ken,'' ucap Cindhi penuh semangat.


''Jadi, kamu tidak menyukai benda-benda yang kubeli untukmu?'' tanya Kenan sambil mengangkat alisnya.


''Bukan begitu, aku hanya merasa selalu merepotkanmu, Ken,'' ucap Cindhi.


''Sudahlah, tidak perlu membahasnya lebih jauh. Mari kita pergi belanja,'' ucap Kenan sambil menarik tangan Cindhi. Cindhi mengikuti dari belakang.


''Aku tidak akan merebutmu dari suamimu, Cin. Namun, aku akan memenangkan hatimu lagi,'' batin Kenan.


Kenan mengemudikan mobilnya ke pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Ia memilihkan beberapa baju santai dan baju kerja untuk Cindhi. Mereka juga membeli kebutuhan pokok karena Cindhi ingin memasak sendiri untuk lebih menghemat.


''Apakah ini cukup?'' tanya Kenan saat melihat barang belanjaan mereka yang tidak terlalu banyak.


''Sudah cukup, Ken. Gaji ku selama dua bulan tidak akan cukup untuk membayar semua ini. Tidak apa-apa jika aku membayar dengan dicicil,'' ucap Cindhi dengan candaan namun tetap serius.


''Up to you. Menurutku tidak perlu membayar,'' ucap Kenan.


''Akan kutanggung semuanya, Ken. Terima kasih banyak. Mungkin sebaiknya kamu mengantarku ke apartemen sekarang, aku sudah sangat lelah,'' ucap Cindhi.


''Baiklah,'' ucap Kenan, akhirnya ia mengantarkan Cindhi kembali ke apartemennya. Setelah sampai di apartemen, Kenan pamit untuk pulang ke rumahnya karena hari mulai petang.

__ADS_1


''Terima kasih banyak, Ken. Hati-hati di jalan,'' ucap Cindhi sambil melambaikan tangannya ke arah Kenan. Kenan membalasnya sebelum meninggalkan Cindhi.


Setelah Kenan hilang dari pandangannya, Cindhi segera masuk ke dalam dan merebahkan dirinya di ranjang king size milik Kenan. Ia melihat foto mereka berdua terpajang di dinding kamar dengan ukuran yang cukup besar.


''Aku sangat bersalah kepada mu, Ken. Aku melihat ketulusan di hatimu, namun aku telah mengkhianatimu,'' gumam Cindhi memandang foto dengan seksama.


*


Pagi harinya, Cindhi terbangun dari tidurnya. Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai, Cindhi memakai baju kerjanya dan keluar dari kamar.


''Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?'' tanya Kenan yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


''Astaga, Ken. Kamu mengejutkanku!'' Detak jantung Cindhi berdegup kencang saat mendengar suara bariton Ken dan tiba-tiba Ken duduk di sofa apartemen tempat tinggalnya.


''Hehe, maaf, Cin. Aku terlalu bersemangat ingin bertemu denganmu,'' canda Kenan.


''Hah, rayuanmu tidak berhasil, Ken,'' Cindhi langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


''Butuh bantuan?'' tanya Kenan yang mendekat.


''Oke bu, siap laksanakan,'' ucap Kenan, langsung mengupas bawang putih sesuai dengan permintaan Cindhi. Saat asyik mengupas bawang, tiba-tiba Cindhi berlari menuju kamarnya.


''Cin, Cindhi! Kamu kenapa?'' tanya Kenan dengan wajah bingung. Kenan tidak tahu mengapa Cindhi tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamarnya.


''Ada apa dengan Cindhi? Aku dia sedang tidak enak badan,'' gumam Kenan. Ia pun pergi ke kamar Cindhi. Setelah sampai di sana, ia mendengar suara gemericik air.


Tok tok tok.


''Cin, kamu kenapa?'' tanya Kenan mengetuk pintu kamar mandi.


''Aku baik-baik saja, Ken. Aku hanya merasa sedikit mual,'' ucap Cindhi dengan suara setengah berteriak dari dalam kamar mandi.


''Mual? Mengapa bisa mual? Apa ia keracunan makanan?'' tanyanya pada dirinya sendiri. Kemudian, ia memilih bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi sambil menunggu Cindhi keluar.


Setelah beberapa menit, Cindhi keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.

__ADS_1


''Cin, kamu kenapa? Kamu terlihat pucat begitu,'' ucap Kenan khawatir sembari meletakkan punggung tangannya di dahi Cindhi, namun suhunya normal.


''Aku baik-baik saja, Ken. Aku hanya merasa sedikit lemas. Bagaimana kalau kita melanjutkan memasak? Aku sangat lapar,'' ucap Cindhi. Kenan mengangguk setuju.


Setelah sampai di dapur, mereka melanjutkan memasak. Namun, kembali lagi, Cindhi berlari ke kamarnya.


''Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Cindhi?'' gumam Kenan bingung. Ia menjadi sangat khawatir dengan kondisi Cindhi yang terus-menerus merasa mual. Kenan pun segera menelpon sahabatnya yang seorang dokter untuk datang ke apartemennya. Setelah ia selesai menelpon, Cindhi keluar dari kamarnya.


''Bagaimana keadaanmu Cin? Apa sudah membaik?'' tanya Kenan.


''Aku benar-benar lemas, Ken,'' ucap Cindhi dengan disertai kesulitan berjalan dan ia pun ditemani oleh Kenan duduk di sebelahnya di sofa.


''Sebaiknya kamu tidak bekerja hari ini, Cin. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit,'' ujar Kenan sambil mengelus lembut dahi Cindhi yang keringat dingin.


Tidak berselang lama, sahabat Kenan yang seorang dokter datang untuk memeriksa Cindhi.


''Tolong periksa dia. Cindhi sudah beberapa kali muntah sejak tadi,'' kata Kenan kepada sahabatnya, Loli.


''Baiklah, setelah aku memeriksanya, aku punya banyak pertanyaan untukmu," ujar Loli saat meninggalkan Kenan di ruang tamu. Loli kemudian mengikuti Cindhi menuju kamar. Setelah beberapa saat, Loli keluar dari kamar Cindhi dan menatap Kenan dengan tajam.


"Apa begini pergaulanmu selama ini? Aku kira kamu lelaki baik. Ternyata...," ujar Loli dengan nada sinis, membuat Kenan mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" tanya Kenan yang tidak memahami maksud ucapan Loli.


"Sejak kapan kamu membawa perempuan itu ke apartemen ini? Sampai-sampai kamu menghamili anak orang tanpa menikah terlebih dahulu," ujar Loli sambil menatap Kenan sinis.


"Apa? Cindhi hamil?" tanya Kenan, ingin memastikan ucapan Loli.


Loli hanya mengangguk. "Jagalah dia dengan baik, sepertinya dia sangat syok dengan kehamilannya ini," ucap Loli sambil berlalu meninggalkan Kenan yang terdiam di tempatnya.


''Cindhi hamil? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa dia hamil,'' gumam Kenan berperang dengan fikirannya sendiri. Ia tidak menyangka jika mantan kekasihnya itu saat ini sedang mengandung.


''Dia punya suami, jadi wajar jika dia hamil Ken,'' gumamnya lagi saat ia sadar Cindhi sudah bersuami. Ia pun segera masuk ke dalam kamar Cindhi dan melihat Cindhi tengah duduk di ranjangnya dengan air mata yang menganak sungai.


*

__ADS_1


__ADS_2