
Saat tengah malam ia membuka matanya, kamar yang ia tempati terlihat gelap gulita. Cindhi yang takut dengan kegepalapan pun hanya duduk sambil menangis. Ia meraba-raba samping ranjangnya namun ia tidak menemukan ponselnya di sana. Malam ini ia benar-benar ketakutan.
''Tante Mayang, tolongin Cindhi Tan. Kak Ghazi tolong Kak,'' ucap Cindhi sambil terisak.
Ghazi yang tengah ke dapur untuk mengambil minum pun mendengar suara orang menangis. Ia berjalan ke arah sumber suara, yang di duga berasal dari kamar Cindhi.
''Cin, Cindhi!'' panggil Ghazi sambil mengetuk kamar Cindhi.
''Cin, kamu nggak pa-pa kan?'' tanyanya lagi.
''Kakak, tolongin Cindhi Kak, Cindhi takut,'' ujar Cindhi dengan tubuh yang bergetar.
Mendengar Cindhi yang menangis ketakutan, Ghazi segera membuka pintu kamar milik Cindhi. Dengan berbekal senter ponsel, ia mendekat ke arah ranjang Cindhi.
''Cindhi kamu kenapa? Kamu takut gelap?'' tanya Ghazi.
Cindhi pun langsung mendongakkan wajahnya ke arah sumber suara, ia langsung bangkit dan memeluk Ghazi dengan erat.
''Kak, Cindhi takut!'' ujarnya dengan tubuh yang bergetar.
''Udah-udah, kamu yang tenang ya. Udah ada aku di sini,'' ucap Ghazi mengelus punggung Cindhi.
Ghazi membawa Cindhi ke ranjang lagi, kali ini Cindhi sedikit tenang karna Ghazi di dekatnya. Namun, Cindhi tetap saja memeluk tubuh Ghazi.
''Haduh, gimana ini. Kenapa aku jadi gemetar kayak gini,'' ujar Ghazi di dalam hati.
''Cin, mending kamu tidur. Aku akan temani sampai kamu tertidur,'' ujar Ghazi sambil melepaskan pelukan Cindhi. Namun lagi-lagi Cindhi malah mengeratkan pelukannya. Rasa takut dan trauma terhadap kegelapan sudah melekat dalam dirinya.
''Nggak mau, pasti nanti Kak Ghazi ninggalin aku sendiri. Aku benar-benar takut Kak,'' ujarnya dengan wajah di sembunyikan di dada Ghazi.
''Huft, cobaan apa ini ya Tuhan,'' batin Ghazi tanpa sengaja melihat gaun yang di pakai Cindhi sangatlah tipis dan menggoda imannya. Tanpa sadar ia pun membalas pelukan Cindhi.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Cindhi dan Ghazi sama-sama menggeliat saat sinar mentari menerobos gorden kamarnya. Saat mereka sama-sama membuka mata, netra mata mereka bertemu. Ada getar aneh di dalam diri mereka. Tanpa sadar mereka telah tidur bersama tadi malam dengan kondisi saling memeluk.
''Ehm, ma makasih Kak karena tadi malam Kakak udah nemenin aku,'' ujar Cindhi dengan duduk di atas ranjangnya. Ghazi yang sejak tadi fokus pada tubuh Cindhi yang terlihat di balik gaun tipisnya pun hanya diam. Tidak menanggapi ucapan Cindhi.
__ADS_1
''Se sebaiknya Kakak kembali ke kamar Kakak sendiri. Aku takut jika ada yang melihat, mereka akan salah paham,'' ujar Cindhi dengan gugup.
Cindhi pun ingin turun dari ranjang, namun Ghazi segera menahannya.
''Tunggu!!'' ujar Ghazi menarik tangan Cindhi hingga tubuh Cindhi membentur tubuhnya. Netra mata mereka pun bertemu, sekian detik mereka saling mengagumi ciptaan Tuhan yang berada di depannya saat ini.
''Apa kamu mempunyai kekasih?'' tanya Ghazi kepada Cindhi saat tubuh Cindhi dan tubuhnya masih saling menempel.
''A ak aku---''
Tringgg tringg.
Belum sempat Cindhi menjawab, ponsel Ghazi terdengar berdering dengan nyaring.
''Halo,'' ucap Ghazi menerima telepon itu.
''Halo selamat pagi Pak. Hanya sekedar mengingatkan bahwa meeting akan di laksanakan pukul 8 pagi,'' ujar Alex di seberang telepon.
''Baiklah,'' ujar Ghazi langsung mematikan ponselnya.
''Ba baik,'' ucap Cindhi yang masih sedikit gugup.
Ghazi pun turun dari ranjang, begitu juga dengan Cindhi. Setelah Ghazi hilang dari balik pintu, Cindhi pun bergegas ke dalam kamar mandi.
''Ya Tuhan, apa sih yang aku lakukan tadi malam. Kenapa aku malah berakhir tidur sama Kak Ghazi. Untung Kak Ghazi nggak suka wanita. Jika dia lelaki normal, aku nggak yakin jika tubuhku masih utuh seperti sekarang,'' gumam Cindhi merutuki kebodohannya.
Di kamar mandi lain, Ghazi teringat tentang Cindhi yang tidur sambil memeluknya. Tak lupa 2 buah bukit kembar itu pun juga menempel di dadanya. Untung saja ia bisa mengendalikan nafsunya. Jika tidak, mereka pasti sudah melakukan hubungan badan tadi malam.
''Akhhh, jadi ON kan?'' gumamnya saat juniornya menegang, kala mengingat tubuh Cindhi yang begitu mulus dan juga se*y.
Ia pun harus olah raga pagi untuk menyalurkan hasratnya dengan bantuan sabun mandi.
Cindhi pun sudah siap untuk pergi ke kantor. Saat ini ia berada di ruang makan untuk sarapan pagi. Cindhi menunggu Ghazi yang sudah hampir seperempat jam di meja makan. Namun Ghazi belum menampakkan batang hidungnya di sana.
''Apa aku susulin aja ya ke kamar, nggak biasanya Kak Ghazi kayak gini,'' gumamnya sambil bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Ia pun berjalan menuju lantai atas dimana letak kamar Ghazi berada.
Tok tok tok.
''Kak, Kak Ghazi!'' panggil Cindhi namun tidak ada sahutan dari dalam. Cindhi dengan penasarannya membuka pintu yang tidak terkunci itu.
''Kak, Kakak!'' panggilnya lagi. Cindhi pun masuk ke dalam kamar Ghazi. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
''Oh ternyata Kak Ghazi masih mandi,'' ujar Cindhi sambil membalikkan tubuhnya ingin keluar, namun netra matanya melihat bingkai foto yang ada di atas meja.
''Kenapa foto ini mengingatkan aku pada seseorang, tapi siapa?'' batin Cindhi mengingat-ingat orang yang berada di foto itu.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Ghazi yang baru saja selesai mandi pun tak kalah kaget saat melihat Cindhi yang berada di kamarnya.
Cindhi yang melihat Ghazi hanya berlilitkan handuk di pinggangnya membuat ia menelan salivanya dengan kasar. Tubuh sixpack dan dada bidangnya membuat Cindhi ingin menyentuhnya.
''Ngapain Cin?'' tanya Ghazi mengusir kegugupannya.
''Eh eng itu---''
Gugup? Jelas. Apalagi saat Ghazi mendekat ke arahnya.
''Ka Kakak mau ngapain?'' tanya Cindhi yang takut jika Ghazi marah saat ia dengan lancang masuk ke dalam kamarnya.
Ghazi pun mengurung tubuh Cindhi di tembok, wajah mereka pun begitu dekat. Apalagi wajah Ghazi yang masih menyisakan air saat mandi tadi membuat Cindhi seperti terhipnotis.
Cup.
Tiba-tiba saja Ghazi mengecup dengan sekilas bibir ranum milik Cindhi. Cindhi hanya melebarkan matanya saat Ghazi dengan beraninya menciumnya.
''Bayaran untuk menemanimu tadi malam,'' ujar Ghazi membuat Cindhi membeku. Cindhi yang tidak bisa berkata-kata membuat Ghazi gemas dan menciumnya kembali. Namun ciuman itu semakin dalam, dan mereka sama-sama menikmatinya.
Setelah beberapa detik berlalu, mereka pun melepaskan pagutannya, mereka sama-sama memandang satu sama lain. Namun tidak ada yang ingin berbicara, sampai bunyi ponsel membuyarkan lamunan mereka.
*
__ADS_1
*