
''Kak Ghazi kenapa sih sampai emosi begitu. Udah nggak mau nyapa aku, terus apa katanya tadi? Aku wanita murahan. Gimana maksudnya?'' batin Cindhi bertanya-tanya dalam hatinya.
Ia pun beranjak menuju kamarnya meninggalkan Tante Mayang dan juga Galang yang tengah mengobrol di ruang keluarga.
Malam pun telah tiba. Tante Mayang, Galang dan juga Cindhi sudah berada di meja makan. Makan malam akan di mulai setelah Ghazi turun. Namun hampir setengah jam Ghazi belum menampakkan batang hidungnya.
''Kakakmu kemana sih Lang. Sejak tadi Mama belum lihat batang hidungnya,'' ujar Mama Mayang sambil melihat ke lantai atas.
''Entahlah Ma, Galang juga nggak tau,'' ucap Galang terlihat acuh.
Menit berikutnya Ghazi turun dari lantai atas sambil membawa koper besar. Cindhi yang melihat hanya mengerutkan keningnya.
''Ghazi, kamu mau kemana?'' tanya Mama Mayang penasaran.
''Ghazi mau ke luar kota Ma. Mungkin Ghazi sedikit lama disana karna ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan,'' ucap Ghazi.
''Ke luar kota? Kok aku nggak tau kalau ada rencana ke luar kota?'' batin Cindhi.
''Ini sudah malam Zi. Kenapa tidak besok pagi saja. Dan ada yang ingin Mama tanyakan tentang adikmu,'' ucap Mama Mayang.
''Aku harus berangkat sekarang Ma. Mama bisa tanya langsung ke dia,'' ucap Ghazi langsung meninggalkan ruang makan dan menuju keluar rumah.
Cindhi bangkit dari duduknya dan berlari menyusul Ghazi yang sudah berada di luar.
''Kak Ghazi tunggu!'' ucap Cindhi. Ghazi pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Cindhi.
''Kak Ghazi mau kemana?'' tanya Cindhi.
''Apa kamu tuli? Perasaan tadi kamu berada di meja makan, seharusnya kamu mendengar ucapanku tadi,'' ujar Ghazi ketus.
''Kak Ghazi kenapa sih? Aku kan bertanya baik-baik, kenapa malah ketus seperti itu?'' ucap Cindhi kesal dengan jawaban Ghazi.
__ADS_1
Ghazi pun melanjutkan langkahnya, namun tangannya di tahan oleh Cindhi.
''Apa belum puas membuatku menahan rindu beberapa hari ini? Aku tersiksa Kak!'' ucap Cindhi dengan mata berkaca-kaca.
Ghazi langsung melepaskan tangan Cindhi dengan sedikit kasar. ''Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu Cin. Aku benar-benar jijik dengan wanita yang sok polos seperti kamu ini. Mulai detik ini hubungan kita berakhir. Selamat berbahagia dengan Galang, dan jangan pernah temui aku lagi!'' ucap Ghazi membuat hati Cindhi terasa nyeri.
''Kakak bicara apa?'' tanya Cindhi dengan air mata yang telah menetes.
Ghazi menyunggingkan sebelah bibirnya. ''Jangan sok polos kamu Cin. Aku sudah tau semuanya. Dan aku tidak akan tertipu lagi dengan kepolosanmu itu. Sekali murahan tetap murahan!'' ucap Ghazi.
''Maksud Kakak apa? Murahan? Murahan apa sih Kak?'' tanya Cindhi yang tidak mengerti dengan maksud Ghazi.
Ghazi mendekatkan wajahnya ke telinga Cindhi. ''Kamu punya otak kan? Otak itu di buat mikir! lebih berharga wanita malam daripada kamu. Mereka bekerja untuk uang, sedangkan kamu menyerahkan barang berhargamu hanya untuk kekasih yang tidak tau akhirnya menjadi suamimu atau tidak. Aku benar-benar jijik denganmu!'' bisik Ghazi tepat di dekat telinga Cindhi.
Cindhi tidak bisa berfikir apapun. Setiap kata yang keluar dari mulut Ghazi membuat ia seperti tertikam belati. Sungguh sangat sadis ucapan Ghazi jika ia tengah marah.
Ghazi pun memasukkan kopernya ke dalam mobil. Setelah itu ia juga ikut masuk dan meninggalkan Cindhi yang masih mematung di tempatnya.
''Kenapa Kak Ghazi tega berbicara seperti itu? Apa Kak Ghazi sadar dengan semua yang di ucapkan?'' batin Cindhi merasa sakit hati.
''Cindhi kenapa?'' tanya Mama Mayang kepada Galang, Galang hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak tau.
''Pasti Kakak sudah mengakhiri hubungannya dengan Cindhi. Bagus deh, dengan begitu tidak ada lagi penghalang diantara kita. Aku bebas mengajak Cindhi kembali ke LN. Dan aku tidak akan rela Cindhi lepas dari genggamanku,'' batin Galang tersenyum licik dalam hati.
Di sebuah apartemen, Ghazi masuk ke dalam apartemen yang beberapa bulan di belinya untuk Cindhi. Niat hati setelah pulang dari Kota B, ia ingin mengajak Cindhi ke apartemen itu, namun ia mendengar fakta yang membuat ia menjadi benci kepada mantan kekasihnya itu. Dimana sang kekasih pernah berhubungan badan dengan adik kandungnya sendiri saat masih berada di LN.
Ghazi masuk ke dalam kamar sambil menarik kopernya. Di dalam apartemen itu banyak sekali fotonya bersama dengan Cindhi. Ia sengaja memasang foto itu disana.
Ghazi menatap foto yang berukuran besar di dalam kamar itu dengan raut wajah kecewa.
''Cin, kamu cantik, **** dan baik. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya menyerahkan mahkotamu kepada Galang yang belum tentu menjadi suamimu. Aku bisa menerimamu apa adanya. Namun, luka itu akan teringat selamanya karna kamu melakukannya dengan adikku sendiri,''
__ADS_1
''Kita pernah melalui semuanya bersama-sama. Dan aku pernah berjanji akan memperjuangankan kamu walaupun kamu milik orang lain. Namun setelah aku tau jika kamu pernah berhubungan badan dengan adikku, hati ini sangat sakit Cin, bagaimana bisa aku melalui semuanya jika aku masih terbayang-bayang dengan masa lalumu. Aku hanya manusia biasa Cin, aku tidak bisa memaafkan begitu saja,'' ucapnya lirih.
Di lain tempat, Cindhi tengah menangis sesenggukan saat mendengar ucapan Ghazi tadi. Ia tidak menyangka Ghazi akan mencap dirinya wanita murahan. Cindhi tidak tau darimana Ghazi memperoleh informasi yang ia sendiri tidak pernah melakukannya.
''Kamu jahat Kak, kamu jahat!'' pekik Cindhi di dalam selimutnya.
Air matanya terus menerus mengalir seakan tidak mau berhenti. Jika mengingat kata-kata Ghazi tadi hatinya begitu teriris.
Tok tok tok.
Pintu kamar Cindhi di ketuk dari luar. Suara Galang terdengar di telinga Cindhi, namun Cindhi masih enggan untuk beranjak dari atas tempat tidurnya.
''Cin, kamu nggak makan malam? apa perlu aku bawakan makan malam untukmu?'' tanya Galang dari balik pintu.
Cindhi hanya diam, ia malas untuk membuka mulutnya menjawab ucapan Galang. Cindhi lebih memilih membenamkan wajahnya di balik bantal.
Tok tok tok.
''Cin, apa kamu sudah tidur?'' tanyanya lagi. Namun lagi-lagi Cindhi tidak mau menjawab.
Detik berikutnya Galang berhenti mengetuk pintu kamar Cindhi. Mungkin Galang mengira, Cindhi sudah terlelap dalam tidurnya.
''Putus sama Hazel, berharap hubunganku sama Kak Ghazi membaik. Ini malah berakhir begitu saja. Kak Ghazi jahat banget sih!!'' ucap Cindhi sambil terus menerus mengeluarkan air matanya.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan.
Like, coment, fav, vote dan beri hadiah yes😄
__ADS_1
Lope you pull bestiee.
See you next episodee😊