
Sesampainya di rumah, Hazel bertemu dengan Mama Mayang yang berada di ruang keluarga. MamavMayang jelas penasaran, mengapa Hazel pulang seorang diri.
''Lhoh, Cindhi mana Lang?'' tanya Mama Mayang yang celingukan mencari Cindhi.
''Cindhi masih mau meeting Ma, ya jadi aku pulang sendiri deh,'' ujar Galang.
''Ohh, ya sudah kamu istirahat aja sana, jangan terlalu kecapean,'' ujar Mama Mayang dengan penuh perhatian kepada putra bungsunya itu.
''Iya Ma, aku ke kamar dulu ya,'' ujar Galang berpamitan dengan Mamanya dan berlalu menuju ke kamarnya.
Mama Mayang menatap anak bungsunya itu dengan raut wajah yang sedih. Entahlah apa yang saat ini di rasakan oleh ibu dua anak itu.
Sesampainya di kamar, Galang langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Ia menatap langit-langit kamar sambil mencari ide bagaimana ia bisa merebut Cindhi dari Kakaknya.
Setelah sekian detik ia mencari ide, akhirnya ia menemukan ide yang menurutnya ide ini tidak akan gagal. Galang pun langsung bangkit dari ranjangnya dan menyambar kunci mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.
Galang menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.
''Lang, kamu mau kemana?'' tanya Mama Mayang yang penasaran.
''Aku mau keluar sebentar Ma, Mama mau nitip apa?'' tanya Galang.
''Mama nggak nitip apa-apa. Kamu mau pergi kemana sih?'' tanya Mama Mayang yang masih saja penasaran.
''Ada deh Ma. Aku berangkat dulu ya Ma,'' pamit Galang sambil mencium pipi sang Mama dan langsung berlari keluar.
''Ishh, anak itu. Mau kemana sih sebenarnya?'' batin Mama Mayang penasaran.
Di lain tempat, Ghazi dan juga Cindy sedang menikmati makanan yang ada di atas meja. Ghazi mengulur-ulur waktu agar mereka tidak segera pulang karna ia tidak mau berdebat kembali dengan sang Mama. Setelah selesai makan, rencananya Ghazi akan mengajak Cindhi untuk menonton film romantis.
''Habis ini kita nonton yuk,'' ujar Ghazi.
''Nonton?'' tanya Cindhi memastikan.
''He em, kayaknya seru deh kalau kita menonton film bersama. Selama ini kan kita sibuk bekerja sampai-sampai kita lupa untuk menjernihkan otak,'' ujar Ghazi tersenyum ke arah Cindhi.
__ADS_1
''Boleh, aku nurut aja sama Kakak,'' ujar Cindhi.
Setelah membayar makanannya. Mereka pun langsung tancap gas ke bioskop yang paling dekat dengan restoran. Setelah membeli tiket dan membeli beberapa makanan dan minuman, mereka pun masuk ke dalam bioskop itu.
''Kak kita mau nonton film apa?'' tanya Cindhi yang was-was karna ia takut dengan hal-hal yang berbau horor.
''Film horor,'' ucap Ghazi santai.
''Ihh, Kak aku takut! Kenapa Kakak pilih film horor sih. Enggak, aku nggak mau. Aku mau pulang aja,'' ujar Cindhi yang sudah panik sendiri.
''Udahlah, kamu duduk aja yang tenang. Di sini ada aku kok, kenapa harus takut,'' ujar Ghazi menarik tangan Cindhi agar kembali duduk di sebelahnya.
''Tapi Kak, aku benar-benar takut,'' ucap Cindhi yang sudah berkeringat dingin.
''Enggak, ini film romantis Cin. Maaf jika membuatmu takut,'' ujar Ghazi menarik tangan Cindhi dengan lembut.
''Beneran ini film romantis?'' tanya Cindhi menatap Ghazi dengan penasaran.
''Iya beneran, cepet duduk filmnya di mulai tuh!'' ujar Ghazi. Akhirnya Cindhi duduk dengan tenang sambil menghayati film romantis yang ada di depannya ini. Saat ada adegan 18+ Cindhi membuang muka ke arah lain.
''Eng enggak pa-pa,'' ujar Cindhi. Ia berusaha agar tidak gugup di depan Ghazi.
''Mau di praktekin sekarang?'' tanya Ghazi sambil berbisik nakal di dekat telinga Cindhi.
''Apaan sih Kak?'' ucap Cindhi yang tengah malu-malu kucing. Walaupun mereka sudah sering melakukan ciuman bahkan sampai tidur satu ranjang, namun jika melihat film seperti ini jelas Cindhi masih malu.
Dengan gerakan cepat, Ghazi menarik tengkuk Cindhi dan mencium bibir Cindhi dengan lembut. Untung mereka ada di kursi paling belakang yang hanya ada mereka berdua. Jadi tidak akan ada yang tau apa yang mereka lakukan saat ini.
''Ehhmmm,'' Cindhi berusaha melepaskan ciuman Ghazi. Namun lagi-lagi Ghazi menarik tengkuknya hingga ia ikut larut ke dalam ciuman yang penuh dengan kenikmatan itu.
Beberapa saat kemudian, lampu pun menyala. Ghazi langsung melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Cindhi yang mulai membengkak karna ulahnya. Ia pun tersenyum ke arah Cindhi.
''Manis,'' ucap Ghazi membuat wajah Cindhi memerah.
''Pulang yuk, udah jam 8 nih,'' ajak Ghazi langsung menggandeng tangan Cindhi keluar dari ruang bioskop itu.
__ADS_1
Tanpa di sengaja, saat mereka bergandengan tangan ada pasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
''Ohh shitttt, ternyata benar dugaanku kalau mereka ada hubungan spesial di belakangku,'' batin Galang yang juga berada di mall itu. Galang menggenggam barang yang baru saja di belinya dengan erat. Giginya sampai berbunyi saking kesalnya ia dengan kakak dan juga kekasih hatinya.
Sesampainya di rumah, Ghazi dan juga Cindhi masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka, namun jari-jari mereka mengetik saling berbalas pesan.
๐ฅ''Cepat istirahat Cinta, sampai bertemu besok!'' bunyi pesan dari Ghazi.
๐ค''Iya Kak, Kakak juga cepat istirahat,'' balas Cindhi.
๐ฅ''Jangan lupa mimpiin aku ya. Aku mencintaimu Cin,'' ujar Ghazi membuat Cindhi lagi-lagi salah tingkah.
''Aku juga mencintaimu Kak. Sangat-sangat mencintaimu,'' ujar Cindhi tanpa ingin membalas pesan dari Ghazi. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Saat Cindhi masuk ke dalam kamar mandi, Hazel masuk ke dalam kamar Cindhi tanpa sepengetahuan Cindhi. Ia pun menaruh kotak yang berisi cincin di atas nakas samping ponsel Cindhi berada. Ia tidak sengaja melihat isi pesan yang Ghazi kirim kepada Cindhi.
''Aku nggak akan membiarkan kamu menjadi milik orang lain Cin. Karna hanya akulah yang pantas untukmu,'' ujar Hazel tersenyum jahat.
Setelah ia menaruh cincin itu, ia pun keluar dari kamar Cindhi. Tak lama kemudian Cindhi keluar dari kamar mandi hanya menunggunakan pakaian mininya saja. Ia tak sengaja melihat kotak berwarna merah berada di atas nakasnya. Dengan sedikit ragu-ragu ia membuka kotak itu.
Cincin berlian yang berisial G itu pun sangat cantik di lihatnya. Cindhi mengira cincin itu dari Ghazi, ia pun langsung memakai cincin itu di jari manisnya.
''Kak Ghazi romantis banget sih,'' gumam Cindhi sambil menciumi cincin pemberian Hazel itu.
''Cantik banget cincinnya,'' ucap Cindhi yang masih memandangi cincin yang tengah tersemat di jari manisnya itu.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan.
Maaf ya baru bisa update.
Btw, maaf lahir batin ya untuk semua readers setiaku.
__ADS_1
Lope you pull gaesss๐๐๐