SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 22


__ADS_3

''Ah iya ini aku habis dari bawah, iya dari bawah Cin,'' ujar Alex sambil gugup.


''Kenapa Pak Alex gugup gitu, aku jadi curiga Pak Alex menyembunyikan sesuatu,'' ucap Cindy menatap Alex penasaran.


''Menyembunyikan apa, Aku sama sekali tidak menyembunyikan apa-apa Cin, kenapa kamu tidak percaya sama aku,'' ujar Alex membela diri.


''Ya mungkin saja Pak Alex menyembunyikan apa gitu, Mana ada yang tahu coba,'' ucap Cindhi kembali fokus pada pekerjaannya.


Sebenarnya dalam hatinya Cindhi begitu penasaran dengan tingkah Alex yang menurutnya tidak biasa saja. Ia akan mencari tau apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Alex.


Jam menunjukkan pukul 5 sore, biasanya Cindhi akan bergegas-gegas untuk pulang. Namun saat ini Cindhi masih duduk anteng di kursinya.


''Kamu nggak pulang?'' tanya Alex merasa heran dengan Cindhi.


''Kerjaanku masih banyak Pak. Aku harus menyelesaikannya hari ini daripada besok bertambah menumpuk,'' ujar Cindhi.


''Ya udah deh, aku ijin pulang duluan, aku mau ketemuan sama gebetan baru,'' ujar Alex membereskan mejanya dan bergegas bangkit dari duduknya.


''Hati-hati Pak. Selamat berkencan,'' ujar Cindhi tersenyum lebar ke arah Alex.


Alex pun tidak menyahut ucapan Cindhi. Ia pun menenteng tas kerjanya dan keluar dari dalam ruangan. Cindhi mengintipnya dari balik pintu saat Alex tidak terlihat lagi dari pandangannya.


''Aku jadi curiga, kenapa Pak Alex melarang aku untuk masuk ke dalam ruangan Kak Ghazi satu minggu ini,'' batin Cindhi. Cindhi pun keluar dari ruangannya menuju ruangan Ghazi. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu ia langsung memutar knop pintu.


Ceklek.


Tatapan mata mereka bertemu. Cindhi tidak menyangka jika Ghazi ada di ruangannya. Ia kira selama ini Ghazi berada di luar kota.


''Kamu!'' ucap Ghazi dengan nada tinggi. Ia pun menatap Cindhi dengan tatapan tajam.


''Kak Ghazi, jadi selama ini Kakak nggak ke luar kota?'' tanya Cindhi langsung masuk ke dalam ruangan Ghazi.


''Kamu ngapain kesini?'' tanyanya dengan suara yang datar.

__ADS_1


''Aku,, aku----''


''Keluarrr!!!'' pekik Ghazi membuat Cindhi kaget.


''Tapi Kak,,,aku rindu sama Kakak,'' ucap Cindhi dengan mata berkaca-kaca. Ghazi yang melihat pun sebenarnya tidak tega.


''Apa kamu tuli? Aku bilang keluar ya keluar!'' ucapnya lagi.


''Kak, sebenarnya Kakak kenapa sih? Kenapa kayak gini sama aku. Semua yang Kakak ucapankan sama sekali tidak benar. Aku berani bersumpah tidak melakukan hal itu dengan Hazel Kak,'' ucap Cindhi dengan air mata yang menetes du pipinya.


''Mana ada maling yang mau ngaku. Udahlah Cin, aku benar-benar tidak ingin di ganggu. Mending kamu pergi dari sini daripada ada satpam yang menyeretmu keluar dari sini,'' ujar Ghazi yang sudah tidak semarah tadi.


''Jika Kakak tega lakukan apa yang Kakak mau. Tapi aku akan tetap di sini, sampai Kakak benar-benar sudah tidak marah lagi denganku,'' ujar Cindhi.


''Jika kamu mau tetap di sini terserah, aku yang akan pergi dari sini,'' ucap Ghazi membereskan semua berkas-berkasnya, lalu ia bergegas keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang.


''Sebenci itukah kamu padaku Kak. Aku berusaha mengatakan semuanya. Tapi kenapa kamu tidak percaya sama sekali denganku Kak,'' ujar Cindhi sambil mengelap air matanya yang jatuh ke pipi.


''Aku harus mempercayai siapa?'' batin Ghazi sambil bersandar di stir mobilnya.


''Sulit di percaya jika kamu belum melakukan hal itu Cin. Selama ini pakaianmu selalu terbuka, kadang aku sampai harus senam lima jari di kamar mandi agar tidak melakukan hal itu padamu. Bagaimana dengan para laki-laki di luaran sana yang menjadi kekasihmu. Apalagi selama ini tempat tinggalmu di LN dengan segala kebebasannya itu. Maafkan aku jika aku tidak mempercayaimu,'' gumamnya.


**


**


1 bulan pun telah berlalu, Cindhi berangkat ke kantor seperti biasa. Ia lebih memilih menggunakan taksi online daripada harus memakai mobil pemberian Hazel.


Selama 1 bulan ini Hazel harus bolak balik Jakarta LN untuk menemui sang pujaan hati. Ia selalu merayu Cindhi agar ia mau kembali ke LN bersama dirinya. Namun Cindhi tetaplah Cindhi, ia tetap ingin berada di Jakarta sampai ia bisa meluluhkan hati Ghazi lagi.


1 bulan kemudian.


Selama 1 bulan ini Ghazi tidak pernah pulang ke rumah. Ia selalu pulang ke apartemennya. Bahkan Mama Mayang selalu mengajaknya pulang, namun Ghazi tidak mau. Jelas ini semua karna ia tidak ingin bertemu dengan Cindhi, Cindhi pun paham betul dengan maksud Ghazi.

__ADS_1


''Sudah satu bulan kamu tidak ingin berbicara denganku Kak. Aku jadi ingin membenarkan semua tuduhanmu itu. Aku ingin menjadi wanita murahan seperti yang kamu maksud,'' batin Cindhi merasa frustasi dengan sikap Ghazi selama satu bulan ini.


Cindhi keluar dari ruangannya menuju kantin karna jam istirahat sudah tiba. Ia tidak lagi di kurung di dalam ruangan karna ia sudah tau jika Ghazi selama ini tidak keluar kota. Saat ia berjalan di koridor ia bertemu dengan direktur pemasaran.


''Selamat siang Bu Cindhi,'' sapa Direktur muda yang lumayan tampan itu.


''Siang Pak Nando,'' balas Cindhi. Cindhi tanpa sengaja melihat Ghazi yang tengah keluar dari ruangannya. Ia pun pura-pura sakit kepala dan terjatuh ke dalam pelukan Nando.


''Bu Cindhi nggak pa-pa?'' tanya Pak Nando menahan tubuh Cindhi.


''Kepalaku sakit Pak. Tolong bawa saya ke ruangan Pak. Saya benar-benar pusing,'' ujar Cindhi memijit kepalanya.


Tanpa berfikir panjang Pak Nando menggendong tubuh Cindhi ala bridal style, Cindhi pun mengalungkan tangannya di leher Pak Nando. Saat mereka berpapasan dengan dengan Ghazi, Ghazi pun menatapnya dengan tatapan tajam, namun ia enggan untuk bersuara.


Ghazi melihat mereka sampai hilang di balik pintu, entah apa yang ada di fikiran Ghazi saat ini.


''Berani-beraninya dia seperti itu di depanku,'' batin Ghazi menggeram kesal. Ia pun berbalik ke dalam ruangannya dan membanting pintunya dengan keras.


Di ruangan Cindhi, Pak Nando merebahkan tubuh Cindhi di sofa. Dengan perhatian Pak Nando melepas hils yang tengah di pakai oleh Cindhi.


''Makasih ya Pak,'' ucap Cindhi tersenyum manis ke arah Pak Nando. Ia pun terpesona dengan senyuman manis wanita yang ada di depannya ini.


''I iya sama-sama,'' ucap Pak Nando gugup. Ia benar-benar belum pernah melihat wanita secantik Cindhi selama ini.


''Em, saya permisi dulu ya Bu. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi saya,'' ucap Pak Nando mengundurkan diri.


Cindhi pun mengangguk, senyumannya masih ia tunjukkan kepada Nando yang hilang di balik pintu.


*


*


Maaf banyak typo bertebaran ya guys

__ADS_1


__ADS_2