
Setelah acara prosesi pemakaman selesai. Semua kerabat pun meninggalkan pemakaman. Namun di atas makam itu masih ada keluarga yang benar-benar belum percaya sepenuhnya atas meninggalnya Papa Leo.
''Kenapa Papa ninggalin Galang secepat ini? Bahkan Papa belum melihat cucu Papa,'' ucap Galang dengan isak tangisnya.
Selama hidupnya ia selalu bersama sang Papa karna mama dan papanya harus pisah. Sang Papa lebih memilih membawa Galang yang waktu itu masih duduk di bangku SMP. Jelas jika Galang sangat terpukul atas meninggalnya Papa Leo hari ini.
''Ikhlaskan Gal, semuanya sudah takdir,'' ucap Ghazi menepuk pundak sang adik.
Setelah cukup lama mereka di atas makam Papa Leo, mereka pun akhirnya memutuskan pulang ke rumah.
''Kamu lelah?'' tanya Ghazi yang melihat sang istri sedikit pucat.
''Sedikit Kak. Aku nggak nyangka Om Leo akan pergi secepat ini,'' ucap Cindhi.
''Doain Papa yang terbaik ya sayang. Maafkan segala kesalahan Papa,'' ucap Ghazi serius.
''Aku sudah memaafkannya Kak. Om Leo sebenarnya orang baik,'' ucap Cindhi.
*
*
2 bulan kemudian.
Hari ini Cindhi dan Ghazi berada di Dokter kandungan yang biasa memeriksa Cindhi. Sejak pagi tadi, perut Cindhi terasa sangat sakit dan bayinya pun tidak se aktif biasanya.
''Bagaimana dok?'' tanya Ghazi merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
''Istri Bapak sebentar lagi akan melahirkan. Kita akan segera memindahkan Bu Cindhi ke ruang bersalin,'' ucap Dokter yang memeriksa Cindhi.
Ghazi pun tidak bisa berkata-kata. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, pikirnya.
Setelah melewati proses yang begitu panjang dan menegangkan, akhirnya bayi mungil yang cantik itu pun lahir dari rahim Cindhi. Ghazi masih terisak karna melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa menyakitkannya perjuangan seorang wanita di depannya ini hanya untuk memberinya gelar seorang ayah.
''Pak Ghazi ini bayi anda, tolong di adzankan ya,'' ucap suster yang menyerahkan bayi itu kepada Ghazi.
Ghazi pun langsung mengusap ingusnya dan menggendong bayi cantiknya.
''Udah Kak nangisnya, nggak malu di lihat banyak orang,'' ucap Cindhi.
''Aku sangat bahagia Cinta,'' ucap Ghazi.
Setelah mengadzani bidadari kecilnya, Ghazi pun duduk di kursi dekat Cindhi yang sedang menyusui anaknya.
__ADS_1
''Terima kasih Cinta. Kamu sudah memberikan banyak kebahagiaan di hidupku. Terima kasih sudah memberiku gelar seorang ayah, walaupun nyawa taruhannya untukmu,'' ucap Ghazi menatap Cindhi dengan intens.
''Iya Kak, ini bukti cintaku padamu,'' ucap Cindhi tersenyum ke arah Ghazi.
Sebenarnya Dokter tadi sudah memberikan pilihan kepada Cindhi. Ingin lahiran normal atau caesar. Namun Cindhi menginginkan normal walaupun resikonya besar.
Selang beberapa saat, Mama Mayang tiba di rumah sakit. Tadi pagi Mama Mayang pamit ingin bertemu dengan temannya. Dan saat-saat Cindhi melahirkan, Ghazi tidak memberitahu Mama Mayang. Ia takut jika Mama Mayang terlalu khawatir dan berbahaya saat ia mengemudi. Ghazi memberitahu Mama Mayang saat anaknya sudah lahir.
''Ya ampun sayang, kamu sudah melahirkan. Kenapa tidak memberitahu Mama?'' ucap Mama Mayang langsung berderai air mata.
''Ghazi nggak mau Mama khawatir dan membuat Mama tidak fokus dalam berkendara,'' ucap Ghazi.
''Dasar ya kamu itu! Menantu mau lahiran, masa kamu nggak kasih tau mama,'' omel Mama Mayang kepada Ghazi.
''Ya maaf Ma,'' ucap Ghazi.
''Maaf maaf. Untung lahirannya lancar,'' ujar Mama Mayang menatap Ghazi dengan tajam.
''Bagaimana keadaan kamu sayang? Ya ampun anakmu cantik banget, sama seperti Mamanya. Tapi kenapa wajahnya malah mirip si kutu kupret ini sih,'' gumam Mama Mayang melirik Ghazi. Membuat Ghazi kesal kepada Mamanya.
''Cindhi sudah baik-baik saja Ma. Ya gimana nggak mirip, memang dia yang buat,'' ujar Cindhi membuat tawa mereka pecah.
Setelah kenyang menyusu, Mama Mayang pun menggendong cucu pertamanya itu. Raut wajah bahagia tercipta di ruangan itu. Setelah 2 bulan berkabung, akhirnya pelangi datang menghiasi kehidupan mereka kembali.
''Ava Cassaundra, bagus nggak Ma?'' tanya Ghazi.
''Bagus, sangat-sangat bagus. Namanya cantik, seperti orangnya,'' ucap Mama Mayang sambil mencubit pelan hidung mancung milik bayi Ava.
*
*
Beberapa bulan kemudian, Galang mengabarkan jika istrinya sudah melahirkan. Dan ternyata Ayumi melahirkan bayi kembar. Mama Mayang yang sudah tidak sabar ingin menjenguk cucunya segera membeli tiket untuk dirinya, Ghazi dan juga Cindhi.
Setelah perjalanan begitu panjang dan melelahkan. Akhirnya mereka sampai juga di negara asal Cindhi. Negara yang selalu Cindhi rindukan walaupun aslinya dirinya adalah keturunan Indonesia.
Setelah sampai di halaman rumah, Mama Mayang langsung turun begitu saja. Ia sampai melupakan tasnya.
Tok tok tok. Teng tong teng tong.
Mama Mayang mengetuk pintu memencet bel. Semua itu dilakukan agar Galang segera membuka pintunya.
Setelah pintu di buka dari dalam. Galang sempat kaget, kenapa Mamanya bisa secepat ini datangnya.
__ADS_1
''Mama!'' ujar Galang.
''Mana cucu Mama?'' tanya Mama Mayang.
''Ada di dalam Ma. Silahkan masuk,'' ucap Galang membuka pintunya lebar-lebar. Galang melihat Ghazi dan juga Cindhi ikut datang bersama bayi mereka.
''Kak Ghazi, Cindhi,'' sapanya.
''Selamat menjadi seorang ayah Zel,'' ucap Cindhi yang belum merubah panggilan namanya kepada Galang. Memang nama Galang ada Hazel nya. Namun Galang lebih terkenal dengan sebutan Galang bukan Hazel.
''Terima kasih. Selamat menjadi ibu dan ayah juga untuk kalian,'' ucap Galang.
Galang pun segera mengajak Ghazi dan Cindhi masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada Mama Mayang yang tengah menggendong bayi, sementara bayi yang satunya di gendong oleh Ayumi.
''Cindhi duduk sini sayang. Lihatlah, mereka sangat mirip dengan Ava. Suatu saat nanti jika mereka jalan bertiga di kira orang kembar 3,'' ujar Mama Mayang menepuk sofa di dekatnya.
Memang baby twins Galang sangat mirip dengan Ava. Namun Baby twins itu berjenis kelamin laki-laki semua.
''Dia laki-laki Ma,'' ujar Galang.
''Trus kenapa? Kan Mama bilangnya mirip,'' ujar sang Mama yang tidak mau kalah dengan anaknya.
''Iya iya Ma. Terserah Mama aja deh,'' ucap Galang yang tidak mau berdebat dengan Mamanya.
Cindhi pun menggendong bayi yang tadi di gendong oleh Mama Mayang. Sementara baby Ava sibuk bermain di gendongan sang Daddy.
''Namanya siapa Ay?'' tanya Cindhi.
''Namanya Aarash sama Aaresh Cin. Yang kamu gendong itu Aarash kalau ini Aaresh,'' ucap Ayumi.
''Nama yang bagus Ay, kamu hebat bisa melahirkan dua bayi kembar,'' puji Cindhi.
''Kita memang wanita hebat Cin. Kita bisa menukarkan nyawa kita untuk memberinya gelar seorang Ayah. Jika suatu saat nanti kita di tinggalkan oleh mereka, berarti mereka buta perjuangan kita,'' ucap Ayumi menatap tajam ke arah suaminya.
''Nggak usah berbicara yang aneh-aneh sayang. Itu semua tidak akan terjadi.
*
*
End.
*
__ADS_1