
''Tadi malam kita sudah melakukannya Kak, apa Kakak enggak lelah?'' tanya Cindhi dengan wajah kesal.
''Nggak ada kata lelah saat berhubungan dengan istri Cin,'' ucap Ghazi langsung merangkak naik ke atas tubuh Cindhi.
''Apa yang Kakak lakukan!'' pekiknya sambil mendorong dada bidang Ghazi.
''Beneran kamu nggak pengen?'' tanya Ghazi.
Dengan cepat Cindhi menggelengkan kepalanya. ''Aku lelah, aku pengen tidur,'' ucap Cindhi.
''Tidurlah, biarkan aku yang melakukannya,'' ucap Ghazi tersenyum licik. Dengan segera ia mencium b*bir milik Cindhi dengan lembut. Ciuman itu pun turun ke leher dan dada Cindhi, membuat sang empu menggeliat merasakan lidah Ghazi bermain-main di atas benda kenyalnya.
Cindhi menggigit bibir bawahnya saat wajah Ghazi berada di kedua pahanya.
''Kak,'' Cindhi mend*sah merasakan kenikmatan saat lidah Ghazi bermain-main disana.
Saat sesuatu di dalam tubuhnya hampir keluar, Ghazi menghentikan kegiatannya. Ia menatap sang istri dengan wajah sayu penuh dengan ha*rat. Sementara Cindhi sangat kecewa saat Ghazi menghentikan kegiatannya.
''Kak,'' gumam Cindhi dengan tatapan memohon.
''Apa, heum?'' tanya Ghazi pura-pura tidak tau.
''Lakukan Kak, please!'' ucap Cindhi dengan ha*rat yang hampir memuncak.
''Baiklah,'' ucap Ghazi dengan senang hati ia menyatukan miliknya dengan milik Cindhi.
Suara e*angan d*sahan memenuhi ruang kamar itu. Tidak hanya satu kali, Ghazi bahkan memintanya berkali-kali sampai tubuh Cindhi benar-benar lelah.
''Aku lelah Kak,'' rintihnya. Ia benar-benar tidak bertenaga lagi untuk melayani suaminya itu.
''Tidurlah, aku akan memintanya lagi besok,'' ucap Ghazi memeluk tubuh Cindhi yang polos itu. Ghazi menciumi seluruh wajah Cindhi. Ia tidak menyangka akan menikah dengan Cindhi secepat ini. Sementara Cindhi mengabaikan ucapan Ghazi, ia benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk membuka matanya.
''Terima kasih Cinta,'' ucap Ghazi ikut memejamkan mata dan tidur.
Pagi hari pun menyapa, Ghazi bangun dari tidurnya terlebih dulu. Ia melihat Cindhi yang masih terlelap dalam tidurnya. Ghazi menarik selimut dan menutupi tubuh Cindhi yang polos itu. Sebelum bergegas ke kamar mandi, ia mendaratkan ciumannya ke wajah Cindhi.
__ADS_1
Cup.
''Morning kiss Cinta,'' ucapnya. Ia pun turun dari atas ranjang lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah hampir 15 menit melakukan ritual mandinya. Ghazi pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat istrinya yang tengah duduk di atas ranjang sambil melihat ke arahnya.
''Pagi Cinta,'' sapa Ghazi dengan senyuman yang tidak pernah Cindhi lihat.
''Heum,'' jawab Cindhi sambil memalingkan wajahnya. Ia tidak kuat bila melihat Ghazi yang tengah telanjang dada seperti ini.
''Kenapa, masih marah sama aku?'' tanya Ghazi mendekat ke arah Cindhi.
''Pakai baju dulu Kak, ihh,'' ucap Cindhi kesal jika Ghazi sudah seperti ini. Pasti nanti ujung-ujungnya meminta jatah lagi.
''Kenapa, kamu nggak kuat lihat aku kayak gini. Kamu pasti terpesonakan melihat tubuhku ini,'' ucap Ghazi mendekatkan wajahnya ke wajah Cindhi.
''Kak,,, jangan gini, aku belum mandi,'' ucap Cindhi berusaha mendorong tubuh Ghazi agar menjauh darinya. Namun tenaga Cindhi tidak sebanding dengan tenaga Ghazi.
''Walaupun kamu belum mandi, tapi kamu tetap cantik Cintaku. Bolehkan satu ronde lagi pagi ini,'' ucap Ghazi dengan tatapan memohon.
''Ooo tidak bisa. Malam ada jatahnya sendiri Cinta. Pagi siang dan malam. 3 kali sehari,'' ucap Ghazi sambil mengedipkan sebelah matanya.
''Memangnya minum obat 3 kali sehari. Dan kalau siang memangnya Kak Ghazi nggak kerja, heum?'' tanya Cindhi.
''Apa kamu lupa di ruanganku ada kamar pribadinya. Kita bisa melakukannya di sana,'' ucap Ghazi tersenyum nakal.
''Astaga, aku nggak nyangka Kak Ghazi seperti ini. Benar-benar di luar dugaanku,'' batin Cindhi menghembuskan nafasnya kasar.
Tanpa ba bi bu, Ghazi lalu menarik handuk yang tengah melilit di pinggangnya. Lalu ia menarik selimut yang di pakai oleh Cindhi dengan kasar. Tanpa berlama-lama Ghazi dan Cindhi sama-sama menikmati surga dunia di pagi hari.
''Kak, apa boleh aku libur hari ini? Tubuhku benar-benar sakit Kak,'' ujar Cindhi merasakan tubuhnya yang remuk akibat di bolak balik oleh Ghazi, ia berfikir jika dirinya sudah seperti ayam goreng yang tidak di biarkan gosong di dalam wajan.
''Kamu mau kerja ataupun tidak itu terserah kamu Cinta. Apa kamu lupa kalau suamimu ini pemilik perusahaan? Aku bisa membelikan apapun yang kamu minta tanpa kamu harus kerja,'' ucap Ghazi sambil memeluk tubuh istrinya.
''Kalau aku nggak kerja tante Mayang pasti curiga denganku Kak. Kita kan sudah sepakat akan membicarakan ini setelah urusan Kakak dengan keluarga Ayumi selesai,'' ucap Cindhi.
__ADS_1
''Iya-iya. Kamu libur dulu nggak pa-pa. Hari ini aku juga malas berangkat ke kantor. Aku akan bekerja dari rumah saja,'' ucap Ghazi lalu memejamkan matanya.
''Kak,'' panggil Cindhi ingin bertanya sesuatu dengan Ghazi.
''Heum, apa Cinta?'' Ghazi membuka matanya kembali saat Cindhi memanggilnya.
''Bagaimana kalau Tante Mayang tidak setuju dengan hubungan kita? Apa Kakak akan meninggalkan aku?'' tanya Cindhi. Ia sangat penasaran dengan jawaban Ghazi.
''Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu Cinta. Jika suatu saat ada yang membencimu, menolakmu, mencacimu, aku akan menjadi orang paling depan untuk membelamu dan melindungimu. Karna aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama di masa lalu,'' ucap Ghazi menatap Cindhi dengan dalam.
''Makasih Kak,'' ucap Cindhi memeluk tubuh Ghazi dengan erat.
''Jadi jangan berfikir macam-macam ya,'' ujar Ghazi mengelus punggung Cindhi dengan lembut.
''Mama pasti merestui hubungan kita. Contohnya aja hubungan kamu dan Galang. Mama merestui banget kan,'' lanjut Ghazi.
Cindhi menghela nafas beratnya. ''Semoga saja Kak,'' ucap Cindhi.
Satu minggu pun telah berlalu. Hari ini Cindhi memutuskan untuk kembali ke rumah Tantenya. Ghazi sudah menyiapkan barang yang akan di bawanya pulang.
''Kayak habis dari luar kota beneran,'' ujar Cindhi menatap 2 koper besar dengan pakaian yang komplit di dalamnya.
''Kalau mau bohong jangan nanggung-nanggung, nanti mama bisa curiga,'' ucap Ghazi.
Mereka segera berangkat ke rumah Mama Mayang. Ghazi memerintahkan Alex untuk membawa barang-barang bawaannya.
''Pak bos emang udah gila nih. Nikah nggak bilang-bilang sama Nyonya,'' ucap Alex dalam hatinya. Alex segera membawa barang-barang pengantin baru itu dan ia akan menjadi supir pribadi hari ini.
''Kamu sudah tau kan apa tugasmu,'' ucap Ghazi yang sudah berada di dalam mobil.
''Iya Pak, saya sudah tau,'' ucap Alex. Ya, dia akan ikut serta dalam kebohongan yang di buat oleh Ghazi demi pekerjaan yang sudah ia tekuni selama 5 tahun ini.
*
*
__ADS_1