
Seseorang bertubuh tegap berjumlah 3 orang itu melepas tali yang ada di tangan dan kaki Cindhi. Mereka pun segera membawa Cindhi masuk ke dalam jet pribadi milik keluarga Leosantos.
Tubuh Cindhi di rebahkan di atas tempat tidur. Entah apa yang di berikan pada minuman itu, tidak ada pergerakan sama sekali di tubuh Cindhi. Cindhi pun tidak tau jika saat ini ia tengah berada di atas awan.
Setelah hampir 1 jam mereka pun sampai di sebuah kota kecil yang ada di negara Z. Saat ini mereka telah sampai di sebuah rumah tua yang ada di kota itu.
''Ambil ponselnya, dan taruh amplop ini di dalam tasnya,'' perintah seseorang yang bertubuh paling gempal.
''Baik bos,'' ucap salah satu anak buahnya.
Setelah mereka berhasil mengambil ponsel dan menaruh amplop pada tas Cindhi. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
*
Di lain tempat, Ghazi merasakan ada kekhawatiran dalam dirinya. Sejak pagi tadi fikirannya tertuju kepada sang istri.
''Semoga kamu baik-baik saja Cinta,'' gumamnya. Ia pun melanjutkan pekerjaannya di kota P.
Sore hari pun menyapa, Cindhi terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat, merasakan tubuhnya yang terasa sakit.
''Kenapa kasurku terasa sangat keras?'' gumamnya saat matanya masih tertutup. Ia pun meraba-raba sekitar. Biasanya ia menemukan ponselnya di sana, namun ia tidak menemukan apa-apa.
Cindhi segera membuka matanya. Ia nampak bingung dengan ruangan yang ada di depannya. Bukan kamarnya, bukan. Ini seperti ruangan asing yang belum pernah Cindhi pijak.
''Aku dimana?'' ucapnya sambil menoleh ke kanan ke kiri. Ia benar-benar bingung dengan tempat yang saat ini ada di depannya.
Ia pun segera turun dari atas dipan kayu yang hanya beralaskan tikar. Ia berjalan kesana kemari berusaha mengenali rumah kuno tersebut.
''Kenapa aku bisa ada di sini. Dan ini rumah siapa?'' ucapnya lagi. Ia pun segera mencari tasnya. Setelah Cindhi menemukan tasnya ia pun segera membuka dan mencari ponselnya. Namun ia tidak menemukan apa-apa di dalam tas itu selain amplop.
Cindhi pun mengambil amplop itu lalu membukanya. Di dalam amplop itu berisi sejumlah uang yang hampir berjumlah 50 jutaan. Di dalam amplop itu juga berisikan sebuah kertas putih.
Cindhi perlahan membuka kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
''Jauhi Ghazi dan Galang. Aku akan mengirimkan uang setiap bulannya kepadamu!'' bunyi tulisan yang berada di dalam kertas itu.
Cindhi pun langsung meremas kertas itu sampai tak berbentuk lagi. Ia tak menyangka akan di jauhkan dengan suaminya dengan cara seperti ini.
''Bagaimana aku bisa bertahan jika orang tuamu mempunyai rencana yang licik seperti ini Kak? Aku benar-benar tidak menyangka mempunyai saudara seperti kalian,'' batin Cindhi menahan sesak yang ada di dadanya.
Ia akan melanjutkan kehidupannya dengan caranya sendiri. Ia tidak akan kembali ke rumah itu sebelum Ghazi menemukannya dan membawanya pulang.
''Kak, aku disini. Nama Kakak akan selalu ada di hati walaupun kita berpisah jarak yang cukup jauh. Sangat di sayangkan dengan hubungan kita yang berakhir seperti ini Kak,'' ucapnya dengan derai air mata yang tidak mau berhenti.
*
Malam pun telah tiba, di rumah tua itu tidak ada penerangan sama sekali. Cindhi yang memang takut akan kegelapan hanya bisa menangis. Ia teringat saat pertama kali ia dekat dengan Ghazi.
''Kak Ghaziiiii!!'' pekik Cindhi dengan tangisannya yang pecah.
''Kak aku takutt. Aku butuh pelukan Kakak,'' ucapnya lagi. Cindhi memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya disana.
Ghazi pun mencoba menelpon rumah dan kebetulan Bibi yang mengangkat telepon Ghazi.
''Bi, Cindhi kemana ya, kenapa sejak tadi siang nggak bisa di hubungi?'' tanyanya.
''Maaf Den, seharian ini Bibi nggak lihat Non Cindhi,'' ujar Bibi yang memang seharian ini tidak bertemu dengan Cindhi.
''Coba Bibi cek di kamarnya Bi,'' ucap Ghazi khawatir dengan keadaan sang istri.
''Sebentar ya Den,'' ucap Bibi menaruh telepon rumah dan segera bergegas menuju kamar Cindhi.
Bibi pun mengetuk kamar Cindhi berkali-kali, namun tidak ada sahutan di sana. Bibi segera membuka pintu kamar Cindhi begitu saja.
''Non, Non Cindhi,'' panggil Bibi namun kamar itu kosong. Bibi mencari ke kamar mandi, di kamar mandipun juga kosong.
Bibi pun kembali lagi melapor kepada Ghazi jika Cindhi tidak ada di kamarnya. ''Den, Non Cindhi tidak ada di kamarnya. Apa Non Cindhi belum pulang dari kantor ya Den,'' ucap Bibi.
__ADS_1
''Tapi aku sudah menyuruhnya untuk tidak pergi bekerja Bi,'' ucap Ghazi.
''Tapi Seharian ini Bibi memang tidak lihat Non Cindhi Den,'' ucap Bibi yang merasa bingung dengan keberadaan Cindhi.
''Ya sudah kalau gitu. Jika Cindhi sudah pulang tolong hubungi aku ya Bi,'' ucapnya lalu mengakhiri panggilannya.
Ghazi beralih menelpon perusahaannya. Ia menanyakan tentang keberadaan Cindhi. Dan yang membuat Ghazi bertambah khawatir, istrinya itu tidak masuk bekerja hari ini.
''Kemana sih kamu Cin. Kamu membuat aku khawatir,'' ucapnya. Ia bingung harus bertanya kepada siapa lagi. Bibi yang selalu standby di rumah pun tidak melihat Cindhi, apalagi Mamanya yang suka keluyuran.
*
Di negara Z, sinar matahari pagi pun telah menyapa. Cindhi yang semalaman hanya menangis karna ketakutan pun belum membuka mata. Ia masih terlelap di alam tidurnya. Namun saat ia mendengar suara dari luar rumah membuat tidurnya pun terganggu.
Hoam.
''Siapa sih, berisik sekali,'' ucap Cindhi membuka matanya secara perlahan. Ia pun segera duduk dan mengumpulkan nyawanya.
Saat nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya. Ia segera bangkit dan berjalan keluar rumah.
Cindhi mengeryitkan dahinya saat banyak orang yang berlalu lalang di depan rumah yang ia tinggali itu. Di sana juga ada beberapa alat berat yang entah di buat untuk apa.
Cindhi yang bingung hanya menatap orang yang tengah berlalu lalang. Sampai-sampai ada seseorang yang menyapa Cindhi dengan bahasa negara itu.
''Selamat pagi Nona, apa Nona orang baru di kota ini?'' tanya wanita paruh baya dengan bahasa negara itu. Untung saja Cindhi menguasai beberapa bahasa. Jadi ia tidak susah payah untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.
''I iya. Saya orang baru di kota ini,'' jawab Cindhi dengan senyum ramahnya.
''Apa anda tidur di rumah ini? rumah ini sebentar lagi akan ikut di gusur seperti rumah-rumah yang lainnya Nona. Di tempat ini sebentar lagi akan di dirikan pusat perbelanjaan,'' ucap wanita paruh baya itu membuat Cindhi gelisah akan tidur di mana ia setelah ini.
*
*
__ADS_1