
Malam pun telah tiba, saat ini Ghazi sudah berada di kamarnya sendiri setelah ia meminta jatah kepada sang istri. Ia pun baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Setelah berpakaian rapi, ia turun ke bawah untuk makan malam bersama Mama dan istri sirinya.
Di meja makan terlihat Mama Mayang yang tengah menatap makanan di atas meja. Ghazi pun segera menghampiri sang Mama.
''Malam Ma,'' sapanya.
''Malam Zi. Kamu jam berapa sampainya. Kenapa nggak telepon Mama, Mama kan bisa izin pulang dulu ke teman-teman Mama kalau tau kamu udah pulang dari luar kota,'' ujar Sang Mama.
''Aku sampai tadi siang Ma. Aku nggak mau ganggu acara Mama aja. Sampai rumah aku langsung istirahat,'' ucap Ghazi.
Tak sengaja ia melihat sang istri keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lumayan mengundang perhatiannya. Celana hotpants dan kemeja yang kancing atasnya di biarkan terbuka. Dua gundukan kembarnya pun terekspos sempurna.
''Siapa yang suruh berpakaian seperti itu?'' batin Ghazi geram kepada sang istri. Ia pun menatap istrinya dengan tajam.
''Malam Tan,'' sapa Cindhi lalu duduk di kursinya.
''Malam sayang. Tambah hari tambah cantik aja sih kamu. 1 minggu nggak ketemu kalian, tante kangen banget loh,'' ucap Tante Mayang sambil menggenggam tangan Cindhi.
''Cindhi juga kangen sama Tante,'' ucap Cindhi mengelus punggung tangan Tantenya.
''Kita makan malam yuk. Udah laper banget nih,'' ucap Mama Mayang.
''Biar Cindhi yang ambilin Tan,'' Cindhi pun bangkit dari duduknya. Ia pun segera mengambil nasi dan lauk kesukaan Tantenya. Kemudian ia mengambilkan untuk suaminya.
''Galang beruntung banget punya calon istri seperti kamu,'' ucap Tante Mayang tiba-tiba.
Cindhi dan Ghazi hanya saling pandang. Tidak merespon ucapan Tantenya.
''Oh iya Zi, besok Papa kamu akan kembali ke Jakarta karna lusa acara pertunangan kamu dengan Ayumi,'' ucap Mama Mayang membuat Ghazi langsung menghentikan makan malamnya.
''Baguslah jika Papa besok pulang. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kalian,'' ucap Ghazi.
''Tentang?'' tanya Mama Mayang penasaran.
''Besok Mama juga tau,'' ucap Ghazi melanjutkan makan malamnya. Di meja makan itu hanya dentingan sendok yang bersuara. 3 orang berbeda generasi itu sibuk dengan fikiran masing-masing.
__ADS_1
''Kenapa hatiku tidak yakin jika Tante Mayang merestui hubunganku dengan Kak Ghazi. Walaupun Tante Mayang mendukung hubunganku dengan Hazel,'' batin Cindhi.
Setelah acara makan malam selesai. Ghazi meminta Cindhi untuk ikut ke ruang kerjanya karna ingin membahas pekerjaan. Cindhi pun menurut begitu saja karna ia masih menjadi asisten Ghazi sampai saat ini.
''Langsung ke ruangan kerja aja Cin. Biar aku ambil berkas di kamar dulu,'' ujar Ghazi berbicara datar saat di depan Mama Mayang.
''Cindhi ke atas dulu ya Tan. Ada pekerjaan yang harus kami bahas,'' ucap Cindhi kepada Tantenya.
''Iya Cin, maafin anak Tante yang datar itu ya. Mungkin kamu tidak nyaman berada di dekatnya,'' ucap Tante Mayang menyayangkan sikap sang anak. Tante Mayang tidak tau jika Ghazi hanya datar kepada Cindhi saat di depannya saja. Ia akan melakukan drama ini sampai benar-benar selesai.
''Nggak pa-pa kok Tan. Kak Ghazi aslinya baik kok. Walaupun kadang seperti kulkas 2 pintu,'' ujar Cindhi cengengesan.
''Cindhi,'' pekik Ghazi dari lantai atas.
''I iya Kak, bentar ya Tan. Aku takut kalau Kak Ghazi ngamuk nanti,'' ucap Cindhi bergegas menaiki anak tangga. Setelah sampai di lantai atas, ia pun masuk ke dalam ruangan kerja Ghazi.
''Kak,'' panggil Cindhi saat ia masuk ke dalam ruangan itu. Ghazi pun tidak terlihat di dalam ruangan.
''Kak Ghazi kemana sih. Perasaan tadi udah masuk ke sini deh,'' gumamnya.
''Apa aku sedingin kulkas 2 pintu?'' tanyanya membuat ia terlonjak kaget.
''Kak Ghazi!'' ucap Cindhi sambil mengelus dadanya. Ia tidak tau jika Ghazi bersembunyi di balik pintu.
''Apa aku sedingin kulkas 2 pintu?'' tanyanya lagi.
''Eng enggak! Kata siapa seperti itu,'' kilah Cindhi.
''Tapi aku mendengarnya dari mulutmu sendiri Cinta,'' ucap Ghazi mendekat ke arah Cindhi. Ia pun mendorong tubuh Cindhi hingga menempel di tembok.
''Kak Jangan disini. Aku takut Tante Mayang tau,'' ujar Cindhi yang sudah tau maksud dari suaminya itu. Apalagi suaminya sudah mendekatkan bibirnya dengan bibir milik Cindhi.
''Aku hanya ingin mengecup bibirmu Cinta,'' ucap Ghazi langsung mendaratkan ciumannya. Ciuman yang awalnya biasa saja menjadi sebuah l*matan.
Tok tok tok.
__ADS_1
Saat mereka tengah asik bertukar saliva, tiba-tiba pintu ruangan kerja Ghazi di ketuk dari luar. Ghazi jelas kesal karna ia belum puas bermain-main di bibir istrinya itu.
''Ghazi, bolehkah Mama masuk? Mama ingin berbicara dengan kamu,'' ucap Mama Mayang dari balik pintu.
''Kami lagi sibuk Ma. Besok aja ya bicaranya. Mending Mama sekarang tidur dan istirahat. Jangan tidur malam-malam Ma,'' teriak Ghazi dari dalam ruangan.
''Hah, dasar anak itu. Kalau soal pekerjaan selalu di nomor satukan,'' gerutu Mama Mayang pergi dari depan ruangan kerja Ghazi.
Cindhi pun mendorong dada bidang Ghazi. ''Kenapa Kakak menyuruhku kemari?'' tanya Cindhi mengalihkan fikiran Ghazi agar tidak melanjutkan adegan seperti tadi.
''Besok Papa pulang. Itu artinya besok aku harus jujur kepada Mama dan Papa,'' ucap Ghazi menatap Cindhi dengan dalam.
''Apa kamu siap dengan resikonya Kak? Aku dengar-dengar perusahaan kamu dan perusahaan Papa Ayumi bekerja sama lumayan lama,'' ucap Cindhi.
''Aku tidak memikirkan perusahaan Cin. Aku hanya memikirkan kamu, aku nggak mau berpisah denganmu. Aku mohon, apapun yang terjadi ke depannya, tetaplah di sampingku. Jangan pernah pergi dari hidupku cinta,'' ucap Ghazi serius.
''Apa ini feeling Kak Ghazi? Kenapa aku juga berfikir sama seperti itu. Tidak, tidak! Kami pasti akan mendapat restu dari Tante Mayang. Aku yakin itu,'' batin Cindhi membuang fikiran negativenya.
''Iya Kak, aku akan tetap berada di sisimu. Aku akan berusaha menjadi wanita satu-satunya di hidupmu setelah Mama mu,'' ucap Cindhi.
''Makasih Cinta. Semoga apa yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan,'' ucap Ghazi sambil memeluk tubuh sang istri.
''Jika tidak ada yang di bicarakan lagi aku harus balik ke kamar Kak. Aku takut jika Tante Mayang curiga,'' ucap Cindhi melepas pelukannya.
''Kenapa nggak satu kamar aja sih Cin. Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu di sampingku,'' ucap Ghazi dengan raut wajah di buat sedih.
''Nggak usah lebay deh. Dulu sebelum ada aku emang siapa yang nemenin kamu tidur, hem?'' tanya Cindhi mengerutkan keningnya.
''Ya ya nggak ada. Kan sekarang udah beda. Kita udah suami istri,'' ujar Ghazi.
''Posisinya belum aman Kak,'' ucap Cindhi.
*
*
__ADS_1