SATU ATAP DENGANMU

SATU ATAP DENGANMU
Eps 45


__ADS_3

Setelah sampai di halaman rumah. Ghazi segera keluar dan membukakan pintu untuk Cindhi. Ghazi juga menyuruh Alex untuk mengeluarkan semua barang-barang Cindhi.


''Ini Pak,'' ucap Alex mengantarkan koper-koper itu sampai di dekat pintu.


''Ya sudah terima kasih, dan hati-hati di jalan,'' ucap Ghazi.


''Baik Pak, saya permisi,'' ucap Alex langsung kembali masuk ke dalam mobilnya.


Tok tok tok.


Ghazi pun mengetuk pintu rumahnya. Biasanya ia langsung masuk begitu saja, namun kali ini ia ingin memberikan kejutan untuk sang mama.


''Siapa sih malam-malam bertamu,'' gumam Mayang, mama Ghazi. Mayang segera bergegas menuju pintu utama.


Ceklek.


''Ya ampun Zi. Kenapa harus ketuk pintu segala sih. Biasanya kan langsung ma-----


Matanya terbuka lebar saat ia melihat wajah Cindhi berada di belakang Ghazi.


''Cindhi,'' pekik Tante Mayang.


''Ini beneran kamu kan?'' ucap Tante Mayang langsung memeluk saudaranya itu.


''Tante apa kabar? Kenapa Tante terlihat kurus seperti ini?'' tanya Cindhi sambil melepaskan pelukannya.


''Kabar Tante baik sayang. Badan Tante kurus karna Tante melakukan diet,'' ucap Tante Mayang beralasan. Padahal ia sangat merasa bersalah ketika Cindhi hilang. Tante Mayang merasa tidak bisa menjaga amanah dari papa Cindhi.


''Mama itu nggak diet. Dia setiap hari mikirin kamu. Setiap hari juga ia bertanya kepadaku tentang kamu,'' ucap Ghazi melirik ke Mamanya. Mamanya hanya tersenyum saat Ghazi berkata demikian.


''Eh, kok perut kamu besar?'' tanya Tante Mayang yang baru melihat perut Cindhi yang sudah membesar.


''Ini gara-gara anak Tante. Nitip benih di perutku,'' ucap Cindhi sambil mengusap perutnya.


''Maksudnya kamu hamil? Anak Ghazi?'' tanyanya penasaran.


''Iya Tan. Sebentar lagi Tante akan mempunyai cucu,'' ucap Cindhi.


''Benarkah? Top cer juga ya si Ghazi,'' Tante Mayang juga ikut mengelus perut Cindhi. Raut bahagia terpancar di wajahnya.

__ADS_1


''Masuk yuk, orang hamil nggak baik di luar malam-malam gini,'' ajak Tante Mayang menggandeng tangan Cindhi masuk ke dalam rumah.


''Selamat datang di rumah ini lagi sayang. Jangan pergi-pergi lagi. Kasihan Ghazi, dia seperti kehilangan separuh nyawanya,'' ucap Tante Mayang.


''I iya Tan. Aku janji nggak akan pergi-pergi lagi kok,'' ucap Cindhi menatap Tante Mayang dan Ghazi bergantian.


''Dan kamu jangan panggil Tante lagi. Kamu kan sekarang sudah menjadi menantu Tante. Panggil Mama, sama seperti Ghazi,'' ucap Tante Mayang.


''Baik Ma,'' ucap Cindhi dengan sedikit canggung.


Setelah mengobrol sedikit, Ghazi dan Cindhi pun segera mengistirahatkan badannya di kamar Ghazi.


''Apa seharian ini dia tidak rewel?'' tunjuk Ghazi pada perut Cindhi.


''Sejak di pesawat tadi dia gerak-gerak terus Kak. Mungkin dia senang akan berjumpa dengan neneknya,'' ucap Cindhi menatap perutnya yang sudah tidak kecil lagi.


''Sehat-sehat ya anak Daddy. jadi anak yang hebat,'' Ghazi mengelus perut Cindhi, ia pun berbaring di dekat perut Cindhi. Tanpa sadar ia tiba-tiba tertidur begitu saja.


''Malah di tinggal molor duluan,'' gumam Cindhi yang sejak tadi mengelus kepala Ghazi. Ia pun juga ikut berbaring dan memejamkan matanya.


*


Pagi pun menyapa, namun pasangan suami istri itu masih terlelap dalam tidurnya. Suara ketukan pintu semakin lama semakin kencang. Mama Mayang sejak tadi berteriak, namun sepasang suami istri itu seperti tuli.


Mama Mayang tidak kehabisan cara. Ia pun menelpon nomor ponsel Ghazi dan selang beberapa detik terdengar suara serak khas bangun tidur.


''Hem,'' ucap Ghazi yang masih memejamkan matanya. Ia tidak tau siapa yang menelponnya.


''Ghazi, Papamu kecelakaan!! Cepat bangun!!'' ucap Mama Mayang dengan suara panik. Ghazi yang mendengar itu suara mamanya langsung membuka mata dan duduk di atas tempat tidur. Apalagi mamanya bilang jika Papanya kecelakaan.


''Apa?? Papa kecelakaan?'' tanya Ghazi memastikan kembali.


''Iya Zi. Tadi malam papamu telpon ingin kesini, dan baru saja mama dapat telpon jika Papamu kecelakaan,'' ucap Mama Mayang.


''Mama jangan panik dulu, semoga papa tidak kenapa-napa,'' ucap Ghazi.


''Papamu meninggal Zi. Sekarang jenazahnya ada di Rs. Welas Asih. Kita harus segera kesana,'' ucap Mama Mayang yang terdengar menangis di telepon. Ghazi langsung mematikan sambungan teleponnya dan turun dari ranjangnya. Ia pun segera keluar dari kamar dan mendapati mamanya yang sedang menangis.


''Kita kesana sekarang Ma. Aku pamit dulu sama Cindhi,'' ucap Ghazi.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Cindhi, Ghazi segera mencuci muka dan berganti pakaian. Mamanya sejak tadi sudah menunggunya di lantai bawah. Walaupun Mama Mayang sudah mantan istri dari Papa Leo. Namun Mereka masih saling menyayangi satu sama lain. Kenangan-kenangan yang mereka bangun dulu tidak bisa di lupa begitu saja.


Ghazi menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


''Ayo Ma!'' ucap Ghazi langsung berjalan keluar dari rumahnya. Ia pun segera mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi.


*


Setelah sampai di Rs. Welas Asih, Ghazi langsung bertanya kepada suster yang berjaga. Dan memang benar, sekitar jam 2 dini hari ada kecelakaan yang menewaskan 3 orang, dan salah satunya adalah papanya.


Setelah sampai di depan ruang jenazah, Mama Mayang sempat lemas. Ia benar-benar tidak percaya jika mantan suaminya akan pergi secepat ini.


''Ma, Mama kuat kan?'' tanya Ghazi merangkul pundak sang Mama agar mamanya tidak terjatuh.


''Mama kuat,'' ucap Mama Mayang berusaha kuat. Mereka pun masuk ke dalam ruang jenazah di temani oleh petugas rumah sakit.


Ghazi membaca papa nama yang ada di blankar itu. ''Leosantos,'' gumamnya. Ghazi sebenarnya tidak percaya jika papanya meninggalkan mereka secepat ini.


''Boleh saya buka?'' tanya Ghazi kepada petugas.


''Silahkan!'' ucap Petugas.


Ghazi pun mendekat dan membuka kain penutup yang menutupi tubuh sang papa yang sudah terbujur kaku. Sedetik kemudian, ia membeku. Sangat jelas, jika yang ada di atas blankar itu adalah papanya. Walaupun ada luka di wajahnya, namun Ghazi sangat mengenali wajah sang papa.


''Pa, kenapa papa pergi secepat ini?'' batin Ghazi menatap jenazah sang papa dengan kesedihan yang mendalam. Papanya memang sangat bersalah karna pernah membuang Cindhi, namun bukankah seorang ayah tetaplah ayah dimata anaknya.


''Papa bahkan belum sempat berjumpa dengan calon cucu papa, tapi papa malah pergi terlebih dulu,'' ucap Ghazi dalam hati.


''Ghazi, sebaiknya kita segera urus semuanya. Galang juga sudah di perjalanan,'' ucap sang mama.


''Baik Ma,'' Ghazi menutup kembali kain yang menyelimuti sang papa. Ia menyeka air mata yang hampir terjatuh.


*


*


Halo bestieku semuaaaaaa.


Novel ini sebentar lagi mau tamat ya.

__ADS_1


Dan in sya allah, author mau lanjutin novel aeleshaa.


Jangan tekan like, coment, fav, vote dan rate nya.🥰🥰🥰


__ADS_2