
Acara makan malam dan pertemuan dua keluarga itu akhirnya berakhir. Cindhi dengan segera bergegas masuk ke dalam kamarnya karna air mata sulit untuk ia bendung lagi.
Apalagi malam ini Ghazi terlihat sangat perhatian dengan Ayumi, dan begitu pula sebaliknya. Cindhi melihat ada kecocokan di antara mereka yang membuat hati Cindhi kembali terluka.
''Dengan mudahnya kamu menerima perjodohan ini Kak. Kenapa? Kenapa harus orang lain yang menikah denganmu? Kenapa bukan aku, kenapa Kak?'' gumamnya sambil terisak di atas tempat tidurnya.
''Satu bulan aku menunggu, tapi apa balasannya. Kamu lebih memilih menerima perjodohan dari orang tuamu daripada percaya dengan ucapanku,'' ucap Cindhi sambil mengusap air matanya yang tidak mau berhenti.
Sementara Ghazi memilih pulang ke apartemennya yang selama satu bulan ini ia tempati.
''Kenapa nggak menginap di sini saja sih Zi. Ini sudah jam 9, tinggal merem aja kenapa harus di bawa ke apartemen,'' gerutu Mama Mayang.
''Aku harus menyelesaikan pekerjaanku Ma. Kapan-kapan aku akan tidur disini,'' ucap Ghazi berpamitan kepada Mama dan Papanya.
Saat ia mengendarai mobil mewahnya. Tiba-tiba seseorang menelponnya.
''Halo, bagaimana?'' tanya Ghazi.
''....''
''Apa?! Jadi selama ini aku salah karna mempercayai Galang,'' ucap Ghazi.
''....''
''Galang memang br*ngsek!'' umpatnya lalu mematikan sambungan telepon itu.
Ia pun menepikan mobilnya lalu membaca laporan yang di kirimkan oleh anak buahnya tentang hubungan Galang dan juga Cindhi selama ini. Dan ternyata ucapan Cindhi benar, jika ia tidak pernah melakukan hal apapun dengan Galang. Bahkan malah Galang sendiri yang bergonta ganti pasangan untuk memuaskan nafsunya.
''Galang br*ngsek! Di saat aku sudah menerima perjodohan dari orang tuaku, aku malah menemukan fakta baru yang membuat aku sangat bersalah kepada Cindhi,'' batinnya.
Ia pun memukul stirnya berkali-kali. Bagaimana caranya ia meminta maaf kepada Cindhi. Bahkan selama ini ia sangat membenci wanita itu dan selalu berkata kasar kepadanya. Ia pun menghela nafas kasarnya lalu memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
''Cindhi maafkan aku,'' gumamnya lirih.
Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju apartemen setelah hampir setengah jam mengontrol emosinya. Sesampainya di apartemen ia meminta Alex untuk membawakan minuman favoritenya di saat banyak masalah seperti ini.
''Malam Pak, ini saya membawakan apa yang Bapak pesan,'' ucap Alex menaruh minuman beralkohol itu di atas meja. Ghazi pun hanya menatap minuman itu dengan datar.
''Pergi dari sini,'' ucap Ghazi mengusir Alex yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
''Pak, apa Bapak akan menghabiskan minuman itu sendiri? Em, sebaiknya jangan Pak. Karna itu bisa membahayakan kesehatan anda,'' ucap Alex berusaha menasehati Ghazi, namun Ghazi malah menatapnya dengan tajam.
''Aku tidak butuh ocehanmu!! Cepat pergi dari sini daripada aku memotong gajimu,'' ucap Ghazi lagi.
Mau tidak mau Alex keluar dari ruangan itu, ia pun berjaga di depan pintu apartemen Ghazi. Ia tidak mau jika atasannya itu sendiri dengan minuman sebanyak itu.
Tringgg tringg
Tiba-tiba, ponselnya pun berdering.
''....''
''Ibu udah di bandara? Oke-oke, Alex akan segera kesana Bu,'' ucapnya lalu mematikan teleponnya. Alex yang bingung karna harus menjemput ibunya pun akhirnya menelpon Cindhi untuk datang ke apartemen itu.
Berkali-kali Alex menelpon Cindhi, namun tidak ada jawaban sama sekali. Alex tidak menyerah begitu saja, ia pun terus menerus menelpon Cindhi sampai Cindhi benar-benar mengangkatnya.
''Halo,'' ucap seorang wanita di seberang telepon yang Alex yakini itu Cindhi.
''Cindhi, tolong datang ke apartemen xx nomor 545, sekarang. Pak Ghazi dalam bahaya,'' ucap Alex lalu mematikan teleponnya. Alex sangat yakin jika Cindhi pasti datang ke apartemen itu. Mengingat betapa cintanya Cindhi kepada Ghazi.
''Kak Ghazi? Ada apa dengan Kak Ghazi,'' ucap Cindhi menyambar kunci mobil pemberian Hazel lalu keluar rumah hanya memakai hot pants dan juga tank top tanpa memakai alas kaki. Walaupun baru saja ia sakit hati kepada lelaki itu, namun rasa cintanya mengalahkan segalanya. Tanpa berfikir panjang ia pun segera berangkat ke apartemen itu.
Cindhi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia sangat khawatir dengan keadaan Ghazi saat ini. Apalagi mendengar nada bicara Alex yang setengah panik membuat Cindhi berfikir yang macam-macam. Beberapa saat kemudian ia pun telah sampai di apartemen itu. Cindhi segera mencari kamar nomor 545 yang di beritahu Alex tadi.
__ADS_1
Setelah menemukan kamar nomor 545, Cindhi masuk begitu saja karna kamar tidak di kunci. Bau minuman beralkohol menyengat membuat Cindhi menutup hidungnya. Ia melihat punggung Ghazi yang tengah minum sambil menatap televisi yang ada di depannya. Cindhi pun merasa kesal karna telah di kerjai oleh Alex. Saat ia ingin berbalik, tiba-tiba ia menyenggol vas bunga yang ada di meja, membuat sang pemilik menoleh ke belakang.
''Cindhi,'' ucap Ghazi menatap Cindhi dengan tatapan bersalahnya.
''Maaf,'' ucap Cindhi membungkuk membereskan pecahan vas bunga itu.
''Jangan Cin, nanti kamu terluka,'' larang Ghazi mendekat ke arah Cindhi. Namun Cindhi tetap melakukannya, dan benar saja pecahan itu melukai tangan Cindhi.
''Aw, shhh,'' rintih Cindhi memandang ibu jarinya berdarah.
''Kamu sih di bilangi ngeyel. Sini aku obati,'' ucap Ghazi membuat hati Cindhi bertambah sakit karna kepedulian yang Ghazi tunjukkan. Ghazi membawa Cindhi duduk di atas sofa. Ghazi pun segera mengambil kotak obat yang tidak jauh dari sofa itu.
''Aku bisa sendiri!'' ucap Cindhi merebut obat merah yang Ghazi pegang. Ghazi hanya diam saat Cindhi mengobati lukanya sendiri. Ia hanya menatap Cindhi dengan tatapan bersalahnya.
''Biar aku yang balut lukanya,'' ucap Ghazi meraih tangan Cindhi lalu membalutkan perban ke tangan Cindhi.
''Sampai kapanpun luka ini akan tetap sakit Kak. Karna tidak hanya jariku saja yang terluka, tapi juga hatiku,'' batin Cindhi merasakan sesak di dalam dadanya.
''Udah,'' ucap Ghazi. Ia pun segera membereskan kotak p3k lalu menyimpannya kembali.
Tanpa berkata-kata, Cindhi bangkit dari duduknya ingin pergi dari apartemen itu, namun Ghazi menahannya.
''Ada hal yang ingin aku bicarakan Cin,'' ucap Ghazi lemah lembut, tidak seperti biasanya yang selalu ketus kepadanya.
''Bicaralah, aku tidak punya banyak waktu,'' ucap Cindhi kembali duduk di sofa itu. Ghazi pun meraih tangan Cindhi, namun Cindhi segera melepaskannya.
''Aku minta maaf Cin, karna selama ini aku salah menilaimu. Aku terlalu percaya dengan ucapan adikku yang ternyata kebenarannya hanya nol besar. Aku sangat menyesal karna telah berbicara yang tidak-tidak tentang dirimu Cin. Aku mohon maafkan aku,'' ucap Ghazi sambil berlulut di dekat kaki Cindhi.
''Kak Ghazi apaan sih. Berdiri Kak!'' ucap Cindhi meraih tubuh Ghazi agar berdiri, namun tubuh Ghazi tetap berada di tempatnya, tidak bergeser sedikitpun.
*
__ADS_1
*