
Cindhi menggeliat dalam tidurnya kala sang mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar yang ia tempati. Rasa lelah, nyeri di bagian intinya dan rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat ia enggan untuk membuka mata. Ingin rasanya ia menghabiskan waktunya hanya untuk tidur, namun sang mentari seolah tidak mengijinkannya memejamkan mata.
''Hoam,'' Cindhi menguap beberapa kali. Rasa remuk di tubuhnya membuat ia malas untuk bangun.
''Tubuhku,'' keluhnya tanpa membuka mata.
''Pagi Cinta,'' sapa Ghazi membuat Cindhi langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia lupa jika semalam mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.
''Kak Ghazi! Kenapa Kakak ada disini!'' pekik Cindhi membuat Ghazi menutup telinganya karna mendengar ucapan nyaring yang keluar dari mulut Cindhi.
''Pelankan suaramu Cinta,'' ucap Ghazi.
''Maaf, tapi apa yang Kakak lakukan disini?'' tanya Cindhi yang belum sadar sepenuhnya.
''Apa kamu lupa tadi malam kita melakukan hal yang tidak akan mungkin bisa kita lupakan seumur hidup kita, hem?'' tanya Ghazi sambil mengecup bibir milik Cindhi.
Cindhi pun mengingat-ingat kejadian semalam. Ia pun berteriak histeris saat mengingat semuanya.
''Aaaaaaa!! Kak Ghazi jahat!! Kenapa Kakak lakuin ini semua sama Cindhi,'' pekik Cindhi menatap tajam ke arah Ghazi.
''Cinta, tadi malam kamu juga menikmatinya kan,'' ucap Ghazi membuat Cindhi tertunduk malu.
''Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu setelah urusanku dengan keluarga Ayumi selesai. Aku mohon kepadamu untuk sedikit bersabar ya. Aku mencintaimu Cin,'' ucap Ghazi meyakinkan Cindhi.
''Awas kalau kamu bohongi aku. Akan aku potong burung kesayanganmu itu,'' ucap Cindhi mengancam Ghazi.
''Iyaa, kamu tenang aja,'' ucap Ghazi memeluk tubuh Cindhi yang masih sama-sama polos.
Banyak panggilan masuk di ponsel Cindhi. Cindhi sengaja menggunakan mode silent pada ponselnya. Tante Mayang yang sejak pagi tadi mencari keberadaan Cindhi merasa gelisah. Tidak biasanya Cindhi menghilang tanpa mau berpamitan dengannya.
Setelah ia membersihkan diri, Cindhi meraih ponselnya yang berada di meja ruang tamu apartemen tersebut. Ia pun menemukan ada 24 panggilan dan pesan masuk ke ponselnya. Ia pun dengan segera menghubungi Tante Mayang kembali dan mencari alasan yang tepat untuk kepergiannya.
__ADS_1
''Halo Cin, kamu dimana? Kenapa pergi tidak pamit Tante,'' tanya Tante Mayang terdengar khawatir dengan keadaan Cindhi.
''Maaf Tan, tadi malam Cindhi pergi tidak pamit terlebih dulu sama Tante. Cindhi sekarang ada di luar kota bersama dengan Kak Ghazi Tan. Ada sedikit masalah pada perusahaan,'' ungkap Cindhi berbohong kepada Tantenya. Siapa lagi kalau bukan Ghazi yang membuat alasan seperti itu.
''Ya ampun, aku kira kamu kemana Cin. Ya sudah kalau gitu, kalian hati-hati ya,'' ucap Tante Mayang.
''Iya Tan,'' ucap Cindhi lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Cindhi langsung bernafas lega saat Tante Mayang mempercayai ucapannya.
''Untung Tante percaya,'' gumam Cindhi.
Ia pun kembali ke dalam kamar Ghazi dengan langkah tertatih-tatih. Rasa ngilu di bagian intinya membuat ia kesulitan untuk berjalan.
''Gara-gara Kak Ghazi nih. Begini ya rasanya kehilangan keperawanan,'' gumamnya. Saat ia sampai di dalam kamar, Cindhi melihat Ghazi yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah dan hanya memakai handuk di pinggang untuk menutupi asetnya. Tanpa sadar Cindhi menelan salivanya dengan susah saat melihat tubuh Ghazi yang terlihat sangat menggoda.
''Kenapa kamu melihatku seperti itu, heum?'' tanyanya sambil mendekat ke arah Cindhi.
''A a aku----'' belum selesai Cindhi berbicara, Ghazi sudah menggendong tubuh Cindhi. Ia membawa tubuh Cindhi ke atas ranjangnya.
''Apa kamu mau mengulang kejadian semalam?'' tanya Ghazi menatap lekad wajah cantik Cindhi. Cindhi dengan cepat menggelengkan kepalanya.
''Enggak! Aku nggak mau menambah dosa lagi,'' ucap Cindhi. Senyum di wajah Ghazi seketika sirna. Bagaimana ia tahan tidak menyentuh Cindhi setelah ia merasakan sesuatu yang membuat ia seperti melayang.
''Bagaimana kalau sekarang kita menikah siri. Aku akan urus semuanya,'' ucap Ghazi tiba-tiba mendapat ide konyol seperti itu.
''Apa?! Kakak udah nggak waras ya!'' ucap Cindhi.
''Cin, dengerin aku. Hari ini kita menikah siri kemudian setelah masalah aku dan keluarga Ayumi selesai kita meresmikan pernikahan kita secara agama dan negara, bagaimana?'' tanya Ghazi meminta persetujuan Cindhi.
''Enggak! Aku nggak mau!'' ucap Cindhi memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah Ghazi yang membuat ia kesal itu.
''Cin,,'' rengek Ghazi.
__ADS_1
''Aku ingin menikah sah secara agama dan juga negara Kak,'' ucap Cindhi yang tetap pada pendiriannya.
''Cinta dengerin aku. Semua berkas mu dan berkasku masih ada di rumah. Jika kita pulang terlebih dulu pasti Mama akan curiga. Apalagi menikah secara agama dan juga negara tidak bisa mendadak hari ini kan,'' ucap Ghazi dengan tatapan memohon.
''Tapi Kak Ghazi janji ya nikahin aku setelah urusan Kakak selesai,'' ucap Cindhi dengan wajah yang masih di tekuk.
''Janji Cinta,'' ucap Ghazi sambil mencium wajah Cindhi.
Ghazi pun meminta Alex untuk mengatur semuanya. Ia sudah tidak sabar ingin menikahi wanita yang saat ini bersamanya. Ghazi juga meminta beberapa anak buahnya untuk membelikan pakaian untuk calon istrinya itu.
*
Hari pun telah berlalu. Hari ini Cindhi sudah sah menjadi istri Ghazi. Walau hanya sah secara agama, namun Cindhi merasa lega karna tidak menambah dosa lagi dengan melakukan zina. Cindhi percaya dengan janji yang di ucapkan oleh Ghazi yang akan menikahinya setelah urusannya selesai.
Cindhi keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju dinas malam yang tipis menerawang. Sebenarnya ia sangat malu memakai pakaian itu. Namun, hanya baju itu yang ia punya. Ghazi menyuruh orang untuk membelikan pakaian untuk dirinya. Namun hanya ada beberapa helai lingerie dengan warna yang begitu mencolok.
Ghazi yang menunggu Cindhi dengan duduk di sofa pun langsung bangkit dari duduknya saat melihat Cindhi yang keluar dari kamar mandi. Ghazi melihat Cindhi dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Air liur dari bibirnya hampir menetes saat melihat tubuh mulus dan se*y milik Cindhi.
''Kamu ingin menggodaku, heum?'' tanyanya sambil mendekat ke arah Cindhi.
''Siapa yang menggoda siapa? Aku bahkan bingung harus memakai pakaian apa. Semua baju yang kamu belikan modelan kayak gini Kak. Masa iya aku harus telanjang,'' gerutu Cindhi berjalan ke arah ranjang.
''Udah nggak sabar pengen malam pertama ya?'' goda Ghazi membuat Cindhi bertambah kesal.
Malam pertama? Apa Ghazi saat ini sedang amnesia? Apa ia tidak ingat dengan malam-malam lain saat ia tidur dengan Cindhi. Bahkan tadi malam ia juga tidur bersama sampai-sampai mereka melakukan dosa besar.
Cindhi tidak menanggapi ucapan Ghazi. Ia lebih memilih masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya.
''Hey, kenapa malah di tinggal tidur? Kamu harus tanggung jawab karna telah membuat dia bangun Cin,'' ucap Ghazi menggoyang-goyangkan tubuh Cindhi.
*
__ADS_1
*