
''Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku Cin. Aku benar-benar menyesal Cin. Aku berjanji akan mempercayaimu daripada orang lain, aku berjanji,'' ucap Ghazi dengan penuh penyesalan.
''Aku sudah memaafkanmu Kak. Walaupun di hati ini ada rasa sakit, kecewa, benci, namun rasa cintaku mengalahkan segalanya,'' ucap Cindhi membuat hati Ghazi merasa sakit. Ucapan Cindhi membuat ia tersindir. Ia mencintai wanita di depannya ini, namun ia tidak bisa mempercayainya walau hanya sedikit saja. Ia lebih mempercayai adiknya yang hanya tidak lebih dari seorang pembohong.
''Mungkin banyak orang mengira aku ini wanita yang bodoh. Tapi memang itu kenyataannya. Aku cantik, sexy, pintar, namun aku malah mencintai lelaki yang tidak pernah menghargaiku dan mempercayaiku. Bahkan jika aku mencari di luaran sana, aku bisa mendapatkan yang lebih darimu. Namun hati ini lebih memilihmu, lelaki dengan seribu pesona galaknya, judesnya, sombongnya. Aku bahkan heran, mengapa hati ini jatuh cinta kepadamu. Jika kamu di bandingkan dengan Hazel. Kepedulianmu itu tidak ada seujung kukunya Hazel. Dia perhatian, pengertian dia penyayang bahkan dia selalu mempercayai setiap ucapanku,'' ucap Cindhi dengan emosi yang ia luapkan.
''Jangan samakan aku dengan Galang Cin,'' ucap Ghazi dengan tatapan sayunya.
''Apa kamu tau jika Galang yang selama ini berbicara yang tidak-tidak tentangmu. Dia yang berbicara telah tidur denganmu dan mengambil keperawananmu Cin. Dan dengan bodohnya aku mempercayai itu,'' ucap Ghazi tertunduk lesu.
''Aku sudah mengira semuanya ini ide Hazel. Namun aku salut sih dengan perjuangan Hazel untuk mempertahankan hubungannya denganku. Jika di fikir-fikir aku memang lebih pantas dengannya,'' ucap Cindhi membuat Ghazi mendongak menatapnya.
Dengan cepat Ghazi menggeleng. ''Enggak! sampai kapan pun kamu milikku. Tidak ada lelaki lain yang boleh menyentuhmu Cin. Aku akan merebutmu dari Galang. Aku tidak peduli dia adikku atau bukan, karena selama ini dia telah berani bermain-main denganku,'' ucap Ghazi dengan tangan yang terkepal erat.
''Hahaha, apa Kak Ghazi lupa jika Kakak akan menikah dengan Ayumi. Baru saja Kakak menerima perjodohan ini Kak,'' ucap Cindhi tertawa namun hatinya terasa sakit.
''Aku akan membatalkan semuanya karna aku sudah tau kebenarannya. Aku akan berbicara dengan Mama dan Papa. Aku juga akan berbicara kalau aku akan menikahimu,'' ucap Ghazi.
''Enggak Kak. Tante Mayang dan juga Om Leo pasti kecewa dengan keputusan Kakak. Mereka pasti malu jika Kakak membatalkan pernikahan ini,'' ucap Cindhi.
''Aku sudah sering melakukannya Cin. Aku sudah sering di jodohkan seperti ini. Jadi aku akan membatalkannya lagi kali ini, demi kamu Cin. Aku mencintaimu,'' ucap Ghazi meraih tangan Cindhi lalu menciumnya.
''Tapi Kak---''
''Kamu masih cinta kan sama aku? Jadi kita harus berjuang sama-sama. Jangan sampai hubungan kita seperti ini lagi, aku tidak mau Cin,'' ucap Ghazi serius.
Cindhi pun mengangguk lemah. Mau tidak mau ia harus mau karna ia juga mencintai lelaki yang ada di depannya ini.
__ADS_1
''Terima kasih Cinta,'' ucap Ghazi tersenyum bahagia karna Cindhi mau menerimanya lagi dan berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Ghazi. Dengan segera ia memeluk tubuh yang selama satu bulan ini tidak di sentuhnya. Ia rindu, sangat rindu dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
Cup cup cup.
Ghazi berkali-kali mengecup seluruh wajah Cindhi saking senangnya.
''Terima kasih karna telah memaafkan aku,'' ucap Ghazi tersenyum manis.
''Jangan ulangi lagi Kak. Aku tidak mau kamu abaikan lagi. Rasanya sakit Kak,'' ucap Cindhi.
''Iya Cinta, sekali lagi maafkan aku,'' ucap Ghazi.
Malam semakin larut, namun dua sejoli ini malah asik menonton film sambil bercerita pengalaman masing-masing.
''Kak udah jam 11 aku harus pulang,'' ucap Cindhi.
''Gimana kalau Tante Mayang mencariku. Dia pasti khawatir Kak,'' ucap Cindhi yang harap-harap cemas.
''Enggak, nanti aku bicara sama Mama kalau kamu ada disini,'' ucap Ghazi.
''Gilaa!! Enggak, enggak. Yang ada nanti aku di marahi sama Tante Mayang,'' ucap Cindhi bergidik ngeri membayangkan jika ia kena omel tantenya.
''Bercanda Cinta. Mama nggak bakal tau kok. Besok pagi aku akan mengantarkan kamu pulang,'' ucap Ghazi membuat Cindhi mengangguk patuh. Mereka pun melanjutkan menonton film romantis, sampai akhirnya ada adegan 18+ yang membuat mereka menjadi canggung.
''Apa kamu sudah merasa mengantuk?'' tanya Ghazi. Cindhi hanya mengangguk pelan.
''Kita ke kamar ya. Sudah satu bulan aku nggak di kasih jatah,'' ucap Ghazi bar-bar membuat Cindhi spontan menatap Ghazi.
__ADS_1
''Jatah bibir ini maksudnya Cin,'' ucap Ghazi nyengir kuda.
''Ayo Kak, aku udah ngantuk berat,'' ajak Cindhi. Ghazi pun tak menyia-yiakan kesempatan. Ia menggendong tubuh Cindhi ala bridal style.
Setelah sampai di kamarnya, ia menidurkan tubuh Cindhi di atas ranjangnya pelan.
''Cin, kamu cantik sekali,'' puji Ghazi terpesona dengan kecantikan wajah Cindhi. Cindhi hanya tersenyum manis saat Ghazi memujinya.
Detik berikutnya bibir itu pun saling bertautan. Tangan Cindhi melingkar di leher Ghazi. Posisi mereka saat ini sangatlah intim. Awalnya ciuman yang Ghazi berikan hanya di bibir, sekarang turun menuju leher dan dada. Cindhi yang tidak pernah merasakan itu semua tanpa sadar mengeluarkan suara d*sahannya.
Wajah cantik, tubuh yang S*xy dengan kulit yang mulus membuat Ghazi tidak bisa menahan ha$ratnya. Apalagi saat ini ia sedikit terpengaruh oleh minuman beralkohol yang ia minum tadi. Tidak mabuk, namun saat melihat tubuh Cindhi yang molek ini membuat ia tidak bisa menahannya.
''Ahhh, shhh,'' suara lucnut itu keluar begitu saja dari bibir Cindhi membuat Ghazi tertantang untuk melakukan hal yang lebih.
Tanpa sadar mereka berdua sudah sama-sama t*lanjang bulat.
''Boleh ya,'' ucap Ghazi dengan tatapan memohonnya. Cindhi yang sudah seperti cacing kepanasan hanya mengangguk lemah. Tubuhnya benar-benar mengharapkan semua sentuhan yang Ghazi berikan.
Akhirnya malam itu mereka berdua melakukan penyatuan dengan status yang masih lajang. Mereka benar-benar tidak bisa mengontrol h*sratnya untuk tidak melakukan itu. Sampai akhirnya Cindhi harus kehilangan mahkota yang selama ini ia jaga untuk orang yang di cintainya.
''Terima kasih Cinta. Aku juga minta maaf karna telah berbicara yang tidak-tidak kepadamu. Ternyata aku bisa merasakan mahkota yang selama ini kamu jaga. Dan aku harap, hanya aku lelaki yang menjadi satu-satunya di hidupmu, begitu juga denganku. Kamu adalah wanita yang aku cintai setelah Mamaku,'' ucap Ghazi memeluk tubuh s*xy milik Cindhi yang sudah lemas karna kelakuannya. Tidak hanya puas satu kali, namun Ghazi memintanya berkali-kali membuat Cindhi tidak berdaya.
*
*
Unboxing sebelum halal🙈
__ADS_1